Akun Xbox Berusia 25 Tahun Sempat Dihapus Microsoft Pasca Kena Hack
Akun Xbox berusia 25 tahun milik seorang streamer sempat diblok dan dihapus oleh Microsoft setelah diretas, sebelum akhirnya dipulihkan setelah viral.
Pertanyaan besar yang belakangan ini selalu digemakan, terutama setelah semakin besarnya dominasi distribusi digital kembali memanas, yaitu apakah gamer benar-benar memiliki game digital yang mereka beli? Selama semuanya berjalan normal, pertanyaan tersebut mungkin terasa berlebihan. Namun, ketika akun terkena masalah dan seluruh koleksi digital ikut menghilang, maka kekhawatiran itu menjadi realitas yang mencekam.
Hal itulah yang dialami seorang streamer bernama Joshua Khane. Melalui media sosial, ia mengaku kehilangan akses ke akun Xbox miliknya yang telah digunakan selama sekitar 25 tahun, setelah akun tersebut diretas. Ironisnya, meski Microsoft mengakui bahwa akun tersebut memang telah kena serangan, sistem keamanan dari Xbox justru memutuskan untuk memblok akun itu secara permanen. Dampaknya bukan hanya hilangnya koleksi game digital senilai ribuan Dollar di Xbox, tetapi juga berbagai file pribadi yang tersimpan di OneDrive, termasuk foto-foto masa kecil putranya.

Kasus tersebut dengan cepat menjadi viral dan memicu kritik terhadap sistem pemulihan akun Microsoft. Banyak pemain menilai bahwa keamanan memang penting, tetapi mekanisme yang berujung pada penghapusan akses terhadap seluruh pembelian digital justru membuat konsumen berada pada posisi yang sangat rentan. Apalagi, akun tersebut telah menjadi tempat penyimpanan pembelian game selama lebih dari dua dekade.
Untungnya, perkembangan terbaru membawa kabar yang lebih positif. Setelah kasus ini menjadi viral, Xbox Support menyatakan telah menghubungi Joshua Khane dan sedang bekerja untuk memulihkan akses ke akun beserta seluruh pembeliannya. Beberapa hari kemudian, Khane mengkonfirmasi bahwa Microsoft akhirnya berhasil mengembalikan akun, koleksi game digital, serta file OneDrive miliknya. Meski demikian, ia mempertanyakan mengapa penyelesaian tersebut baru terjadi setelah kasusnya menjadi viral di internet.
Terlepas dari akhir yang relatif baik, insiden ini kembali menyoroti persoalan yang lebih besar mengenai kepemilikan digital. Saat membeli game melalui toko digital, pemain pada dasarnya memperoleh lisensi untuk mengakses konten tersebut melalui akun mereka. Ketika akun mengalami masalah, akses terhadap seluruh koleksi juga dapat ikut terdampak. Perdebatan ini semakin menguat setelah sejumlah perusahaan game seperti Sony mulai mendorong masa depan yang semakin minim media fisik.
Bagi gamer, kejadian ini juga menjadi pengingat penting untuk mengaktifkan multi-factor authentication (MFA), menggunakan metode login yang lebih aman seperti passkey jika tersedia, serta menyimpan cadangan data penting di lebih dari satu lokasi. Langkah-langkah tersebut memang tidak menjamin masalah serupa tidak akan terjadi, tetapi setidaknya dapat mengurangi risiko kehilangan akses akibat pembobolan akun.
Kasus Joshua Khane mungkin telah berakhir dengan pemulihan akun. Namun, diskusi mengenai siapa yang benar-benar “memiliki” game digital tampaknya masih akan terus menjadi salah satu isu terbesar di industri game dalam beberapa tahun ke depan.
Bagaimana menurut Anda mengenai insiden yang mengerikan ini, terutama untuk gamer yang keseluruhan koleksi gamenya berada di katalog digital?










