Stop Killing Games Kritik Keputusan Sony Hapus Disc PlayStation
Stop Killing Games mengkritik keputusan Sony menghentikan disc PlayStation dan menuntut jaminan hak konsumen atas game digital yang dibeli.
Tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan Sony untuk mengakhiri produksi game PlayStation dalam format disc mulai 2028 telah memicu perdebatan yang jauh lebih besar daripada sekadar soal media penyimpanan. Bagi sebagian gamer, langkah ini hanya menandai percepatan ke era digital. Namun bagi kelompok yang selama ini memperjuangkan hak konsumen dan preservasi game, keputusan itu dianggap menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar.
Melalui pernyataan resminya, gerakan Stop Killing Games (SKG) menanggapi langkah Sony dengan menegaskan bahwa masalah utamanya bukanlah hilangnya disc fisik, melainkan tidak adanya jaminan bahwa game yang dibeli konsumen akan tetap bisa dimainkan di masa depan.

Menurut mereka, jika industri semakin bergantung pada distribusi digital, maka publisher juga harus memberikan kepastian bahwa akses terhadap game tersebut tidak bisa hilang begitu saja akibat perubahan kebijakan atau penghentian layanan.
Stop Killing Games menilai transisi menuju distribusi digital sebenarnya tidak menjadi masalah selama hak konsumen tetap terlindungi. Masalahnya ada pada kondisi ketika pembeli membayar harga penuh untuk game, tetapi hanya memperoleh lisensi yang sewaktu-waktu dapat kehilangan fungsinya.
Karena itu, organisasi itu kembali menekankan pentingnya regulasi yang mewajibkan publisher memastikan game tetap dapat dimainkan, misalnya melalui mode offline atau solusi lain ketika dukungan resmi telah berakhir.
Pernyataan ini sejalan dengan tujuan utama Stop Killing Games sejak pertama kali dibentuk setelah penutupan server The Crew pada 2024. Selama ini, gerakan tersebut memang lebih berfokus pada isu preservasi game dan hak kepemilikan digital, bukan semata-mata mempertahankan media fisik. Karena itu, keputusan Sony dipandang sebagai contoh terbaru yang memperlihatkan mengapa perlindungan konsumen menjadi semakin penting di era distribusi digital.
Komentar SKG juga menjadi pengingat bahwa perdebatan mengenai disc fisik sebenarnya hanyalah permukaan dari persoalan yang lebih besar. Ketika industri semakin mengandalkan toko digital dan lisensi online, hubungan antara publisher dan konsumen ikut berubah. Gamer tidak lagi hanya mempertanyakan apakah mereka akan mendapatkan disc di dalam boks, tetapi juga apakah game yang mereka beli hari ini masih bisa diakses lima atau sepuluh tahun mendatang.
Terlepas dari apakah Sony akan mengubah keputusannya atau tidak, pernyataan Stop Killing Games menunjukkan bahwa diskusi kini mulai bergeser. Isunya bukan lagi sekadar “fisik versus digital”, melainkan bagaimana memastikan hak kepemilikan dan preservasi game tetap terjaga ketika industri terus melangkah menuju masa depan yang sepenuhnya digital.
Bagaimana menurut Anda sendiri terkait perdebatan mengenai hak kepemilikan di era game digital?









