Pemain Valorant Kena Blokir Game Karena Wariskan Prosesor Bekas
Seorang gamer dilaporkan terkena blokir Valorant setelah memakai Ryzen 7 5800X3D bekas yang diduga terkait hardware ban pemilik sebelumnya.
Masalah yang muncul ketika membeli CPU bekas biasanya hanya berkisar pada kondisi chip, umur pemakaian, atau riwayat overclocking. Namun, seorang gamer PC asal Jerman dilaporkan menemukan masalah yang jauh lebih tidak biasa. Pasalnya, Ryzen 7 5800X3D bekas yang dibelinya membuat Valorant langsung menolak akses karena hardware tersebut diduga pernah terkait dengan aksi curang pemilik sebelumnya.
Kasus ini bermula ketika gamer tersebut membeli Ryzen 7 5800X3D melalui Kleinanzeigen, platform iklan baris di Jerman. CPU itu disebut berfungsi normal dan tidak menunjukkan masalah ketika digunakan untuk aktivitas PC biasa. Masalah baru muncul setelah chip dipasang dan Valorant dijalankan. Menurut keterangan Riot Support, hardware tersebut telah masuk daftar hitam pada 12 Agustus, sementara ia baru membeli CPU itu pada 21 September 2026.

Situasinya menjadi lebih rumit karena pembeli mengklaim bahwa mengganti CPU kembali ke prosesor sebelumnya tidak menyelesaikan masalah. Melalui komunikasi lanjutan dengan Riot, ia mengatakan motherboard dan media penyimpanan di dalam PC-nya juga kemudian ikut teridentifikasi dalam sistem blokir Vanguard. Riot dilaporkan menolak menghapus pembatasan hardware tersebut secara manual.
Masalah ini menjadi menarik, karena Vanguard bisa mengaitkan satu unit Ryzen 7 5800X3D dengan pemilik sebelumnya. Wccftech mencatat bahwa identitas hardware CPU konvensional umumnya mengidentifikasi model atau keluarga prosesor, bukan setiap chip fisik secara unik.
Karena Riot belum menjelaskan mekanisme yang digunakan dalam kasus ini, belum bisa dipastikan bahwa nomor seri CPU sendirilah yang menjadi dasar pemblokiran. Ada kemungkinan sistem menggunakan kombinasi fingerprint hardware atau identifier lain, termasuk informasi yang berkaitan dengan TPM.
Riot sendiri memang memiliki sistem hardware ban sebagai bagian dari solusi Vanguard terhadap cheater. Pada penjelasan resminya, Riot menyebut Vanguard dapat menerapkan pembatasan berdasarkan karakteristik keamanan dan hardware tertentu, sementara sistem anti-cheat tersebut juga menggunakan driver kernel untuk mendeteksi serta mencegah berbagai metode kecurangan.
Bagi pasar komponen bekas, kasus semacam ini tentunya menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama untuk pembeli yang kena peluru nyasar bahkan sampai menjalar ke semua hardware yang dimilikinya. Terlebih lagi pihak developer game Valorant juga tidak mau ambil pusing untuk menolong korban dalam memperbaiki masalah semacam ini.
Bagaimana menurut Anda mengenai kasus yang cukup memprihatinkan ini?









