Lonjakan harga memori GDDR6 dan GDDR7 dikabarkan naikkan harga GPU NVIDIA dan AMD di China, membuat gamer PC kembali waswas.
Ketika harga kartu grafis mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah sempat melonjak dalam beberapa tahun terakhir, kabar terbaru justru membawa angin yang kurang menyenangkan bagi gamer PC. Bukan karena kelangkaan GPU, melainkan akibat komponen penting yang kini ikut mengalami lonjakan harga.
Laporan terbaru via WccfTech menyebut NVIDIA kembali menaikkan harga paket GPU yang dijual kepada para mitra AIB (Add-in Board) di China, mencakup GPU beserta memori GDDR6 maupun GDDR7. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya DRAM di pasar global, membuat para produsen kartu grafis praktis tidak memiliki banyak pilihan selain meneruskan beban biaya tersebut ke harga produk akhir.
Situasi serupa juga terjadi di kubu AMD. Berdasarkan laporan dari rantai pasok di China, perusahaan tersebut dikabarkan telah menaikkan harga paket GPU dan memori sekitar 10% untuk para partnernya. Dengan biaya produksi yang ikut meningkat, peluang harga Radeon terbaru ikut terdorong naik menjadi semakin besar.
Bagi gamer, dampaknya tentu cukup jelas. Selama ini, banyak yang berharap harga GPU generasi terbaru akan semakin terjangkau seiring membaiknya pasokan. Namun ketika harga memori GDDR6, terutama GDDR7 terus meningkat akibat tingginya permintaan industri AI dan pusat data, produsen GPU harus menghadapi biaya produksi yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, kartu grafis yang seharusnya mulai turun harga justru berpotensi kembali mengalami kenaikan.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa sejumlah rumor menyebut peluncuran varian GPU baru, termasuk model RTX 50 SUPER, belum juga terealisasi. Salah satu penyebab yang disebut-sebut adalah mahalnya harga memori GDDR7, sehingga NVIDIA harus mempertimbangkan kembali biaya produksi sebelum memperluas lini produknya.
Tren ini memperlihatkan bagaimana industri gaming kini ikut terdampak oleh ledakan kebutuhan AI. Komponen memori berkecepatan tinggi yang sebelumnya identik dengan GPU gaming kini juga menjadi incaran perusahaan AI dan data center. Ketika permintaan dari sektor tersebut terus meningkat, gamer menjadi pihak yang harus menerima konsekuensinya dalam bentuk harga hardware yang semakin sulit dijangkau.
Bagi pasar Indonesia, dampaknya berpotensi terasa lebih besar dibandingkan negara-negara dengan rantai distribusi yang lebih pendek. Pasalnya, harga kartu grafis di tanah air tidak hanya dipengaruhi oleh banderol dari NVIDIA maupun AMD, tetapi juga nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS, biaya impor, logistik, hingga margin distributor dan retailer. Akibatnya, kenaikan harga komponen di mancanegara berpotensi diterjemahkan menjadi lonjakan harga yang lebih signifikan saat produk tersebut tiba di etalase toko lokal.
Kondisi ini tentu menjadi kabar kurang menggembirakan bagi gamer PC Indonesia, terutama mereka yang mengincar GPU kelas menengah untuk membangun atau upgrade sistem gaming. Jika harga kartu grafis generasi terbaru terus merangkak naik, sebagian konsumen kemungkinan akan memilih menunda pembelian, beralih ke pasar GPU bekas, atau mempertahankan kartu grafis yang dimiliki lebih lama.
Pada akhirnya, tren tersebut dapat memperlambat siklus upgrade PC gaming di Indonesia, meski permintaan terhadap hardware baru sebenarnya masih cukup relatif tinggi.
Bagaimana menurut Anda sendiri mengenai adanya kenaikan harga di region China itu? Apakah kenaikan harga GPU seperti ini akan membuat Anda menunda upgrade PC gaming, atau tetap membelinya demi mengejar performa terbaru? Masih bicara soal pasokan komponen, jangan lewatkan prediksi CEO SK Hynixyang suram untuk 2027.