Razer Prio Sulap Controller Mobile Gaming Jadi Sekecil Kartu Kredit
Razer luncurkan controller mobile Razer Prio berbasis USB-C yang bisa dilipat seukuran kartu kredit, dengan bobot 101 gram dan analog capacitive.
Ketika mayoritas produsen controller mobile belakangan ini mengikuti tren semakin besar dan nyaman seperti gamepad console, Razer justru mengambil arah yang berlawanan. Perusahaan tersebut memperkenalkan Razer Prio, controller untuk smartphone yang dapat dilipat hingga memiliki ukuran kurang lebih seperti kartu kredit. Konsep ini tampaknya bertujuan untuk berikan gamer mobile aksesori gaming yang mudah dibawa dan disimpan.
Razer Prio kini dipasarkan dengan harga US$99,99 atau sekitar 1,7 jutaan Rupiah, dan bisa mencapai harga 2,7 jutaan bila Anda membelinya via Amazon. Saat dilipat, perangkat ini hanya berukuran sekitar 107 x 67 x 23 mm dengan bobot hanya 101 gram, sementara konstruksinya dapat menampung smartphone hingga ukuran 7 inci.


Meski ukurannya kecil, Prio tetap membawa susunan controller yang cukup lengkap. Ada dua analog stick simetris, D-pad, tombol aksi, bumper RB/LB, serta trigger yang cukup dalam sehingga bisa digunakan untuk game balap yang membutuhkan kendali akselerasi, semuanya dihubungkan ke smartphone via USB-C. Razer juga menggunakan analog stick capacitive tanpa kontak fisik, bukan sensor Hall Effect atau TMR seperti yang sering kali digunakan controller premium belakangan ini.
Menariknya, Razer menyebut desain ini ditujukan untuk mengurangi risiko stick drift, karena tidak mengandalkan komponen kontak seperti potentiometer yang dapat mengalami keausan. Namun, teknologi tersebut tidak berarti stick dijamin bebas drift atau terbukti memiliki umur pakai tertentu, sehingga klaim ketahanannya sebaiknya dipahami sebagai keunggulan desain, bukan jaminan durabilitas jangka panjang.


Prio juga menunjukkan perubahan strategi Razer di pasar controller mobile. Sebelumnya, lini seperti Kishi Ultra dan Kishi V3 Pro lebih berusaha menghadirkan pengalaman controller kelas console untuk kendalikan game di smartphone, lengkap dengan bodi besar dan fitur tambahan. Prio justru sengaja memangkas pendekatan tersebut. Tidak ada tombol belakang maupun fitur pro tambahan, karena sasaran produknya adalah gamer yang membutuhkan controller sederhana untuk perjalanan, atau sekadar berjaga-jaga ketika ingin bermain tanpa membawa perangkat gaming besar.
Namun, inovasi portabilitas tersebut harus berhadapan dengan satu persoalan yang cukup serius, yaitu harganya terasa mahal untuk controller yang diposisikan sebagai perangkat sederhana. Saat ini, Razer Kishi V3 bahkan tersedia dengan harga lebih rendah, sementara GameSir G8 Galileo berada di kisaran US$60 dan menawarkan kompromi yang lebih seimbang antara kenyamanan, fitur, dan portabilitas.
Bagaimana menurut Anda akan ringkasnya Razer Prio? Apakah Anda sendiri tertarik untuk memilikinya bila nantinya rilis resmi di Indonesia?










