Fortnite Dituduh Mendorong Pemain Belia Untuk Belanja Microtransaction
Fortnite digugat hukum di negeri Belanda atas dugaan beri tekanan mental bagi pemain muda untuk belanja microtransaction gunakan teknik FOMO.
Sistem transaksi dalam Fortnite kembali menemui masalah hukum di negeri Belanda. Kali ini, kelompok konsumen Stichting Massaschade & Consument (SMC) mengambil langkah hukum terhadap Epic Games dengan tuntutan yang nilainya mencapai lebih dari €100 juta atau sekitar 2 triliun Rupiah, menuduh Fortnite gunakan mekanisme yang beri tekanan mental kepada pemain muda untuk membeli item menggunakan uang sungguhan. Kasus ini juga menyentuh persoalan data pribadi anak dan terjadi setelah regulator Belanda sebelumnya sudah menjatuhkan sanksi kepada Epic.
Pada pernyataan kasusnya via laporan Gamesindustry.biz, SMC menilai pemain yang masih berusia di bawah 21 tahun perlu mendapatkan pengembalian uang atas pembelian yang dilakukan ketika mereka berada dalam kondisi yang disebut sebagai tekanan untuk segera membeli atau Fear of Missing Out (FOMO).

Salah satu contoh yang dipermasalahkan adalah penggunaan hitung mundur atau tampilan penawaran terbatas, yang menurut kelompok tersebut dapat menciptakan kesan bahwa kesempatan membeli sebuah item akan segera berakhir. SMC juga meminta kompensasi tambahan atas pengajuan kasus itu, sehingga total nilai klaim disebut melampaui €100 juta.
Dasar lainnya berasal dari penelitian terhadap lebih dari seribu orang remaja di Belanda. Menurut SMC, enam dari 10 pembeli mata uang virtual seperti V-Bucks mengatakan mereka tidak merasakan pembelian tersebut seperti mengeluarkan uang sungguhan, sementara sekitar separuh responden mengaku pernah menyesali pembelian yang dilakukan karena tekanan waktu. Data tersebut digunakan untuk mendukung argumen bahwa mekanisme transaksi dalam game dapat mempengaruhi cara pemain muda mengambil keputusan pembelian.
Epic Games membantah tuduhan tersebut dan mengatakan Fortnite sudah memiliki sejumlah perlindungan untuk pembelian dari pemain usia belia. Perusahaan itu menyatakan Item Shop Fortnite tidak menggunakan timer, sementara pemain di bawah 18 tahun di Belanda tidak dapat melihat atau membeli item yang tersedia kurang dari 48 jam.
Sedangkan untuk pemain dengan usia di bawah 16 tahun, akun game mereka juga masuk kategori Cabined Account ketika dibuat di Belanda, dan pembelian dengan uang sungguhan tidak dapat dilakukan sebelum mendapatkan persetujuan dari orang tua atau wali yang bertanggung jawab atas anak itu.
Epic juga menunjuk keberadaan fitur keamanan lain seperti PIN pembelian, konfirmasi dua langkah, pembatalan pembelian secara langsung, pengembalian item melalui sistem mandiri, serta pilihan eksplisit untuk menyimpan informasi pembayaran.
Perusahaan gaming itu sebelumnya memang sudah mengubah sistem pembayaran dan perlindungan pemain setelah penyelesaian kasus melawan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat pada 2022 senilai total US$520 juta, yang mencakup US$245 juta terkait sistem pembayaran/refund dan US$275 juta terkait persoalan privasi anak.
Kasus terbaru di Belanda juga bukan muncul tanpa latar belakang. Pada 2024, regulator konsumen Belanda, ACM, menjatuhkan denda €1,2 juta kepada Epic terkait praktik komersial yang dinilai tidak adil terhadap anak di Fortnite. Pengadilan Rotterdam kemudian mempertahankan denda tersebut pada Januari 2026. SMC kini menggunakan perkembangan tersebut sebagai bagian dari dasar tuntutannya terhadap Epic.
Untuk saat ini, SMC telah memberikan pemberitahuan resmi kepada Epic dan membuka kemungkinan penyelesaian. Jika negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, kelompok tersebut menyatakan akan membawa perkara ini ke pengadilan. Epic sendiri tetap mempertahankan bahwa Fortnite sudah menyediakan berbagai alat untuk membantu orang tua mengendalikan pembelian dan waktu bermain anak.
Menurut Anda, seberapa jauh publisher game perlu mengatur desain transaksi agar pemain muda tidak terdorong melakukan pembelian secara impulsif?









