NostalGame : Final Fantasy VIII

Reading time:
November 10, 2011

Gamer mana yang tidak mengenal seri Final Fantasy? Nama besar Final Fantasy sebagai salah satu franchise game RPG terbesar dan terbaik yang pernah dibuat memang tidak dapat dipungkiri. Game buatan Squaresoft (Square Enix saat ini) memang merupakan tolok ukur perkembangan game RPG itu sendiri. Bagi mereka yang pernah mencoba memainkannya, Final Fantasy mampu menghadirkan berbagai kenangan dan kesan yang unik. Bagi mereka yang belum pernah memainkannya sama sekali, daya magis Final Fantasy mampu menyentuh mereka melalui berbagai desain karakter yang menawan. Bagi saya sendiri? Final Fantasy VIII lah yang mampu menghadirkan kesemuanya itu untuk pertama kalinya.

Plot dan Setting

Final Fantasy VIII memiliki setting di sebuah dunia fantasi yang terbagi atas beberapa region besar. Ada Galbadia, Ester, Trabia, dan Balamb dengan teritori kekuasaannya masing-masing. Karakter utama di dalam seri ini, Squall Leonheart, merupakan salah seorang mahasiswa di Balamb Garden, semacam pusat pelatihan kemiliteran yang didesain untuk menjaga wilayah tersebut. Dengan menggunakan nama SeeD, organisasi elite kemiliteran, Squall bersama beberapa karakter lain seperti Quistis, Zell, dan Selphie menjadi fokus dari plot permainan di awal game ini.

Kompleksitas cerita dibangun dari serangan tiba-tiba Galbadia terhadap berbagai wilayah di sekitarnya, mengundang campur tangan dari Balamb untuk menyelidiki dan mencegah hal tersebut terulang kembali. Dari “tuntutan” tugas ini lah, Squall kemudian berkenalan dengan beberapa karakter lain seperti Rinoa dan Irvine. Singkat cerita, Squall mulai memahami bahwa Galbadia berada di bawah pengaruh seorang penyihir kuat bernama Edea dan ia lah alasan utama mengapa Galbadia menjadi agressor yang kejam. Tetapi seperti biasa, cerita game yang terpecah menjadi 4 disc permainan ini tidak mungkin akan sesingkat itu. Edea ternyata hanyalah boneka yang digunakan oleh penyihir yang jauh lebih kuat. Perjuangan untuk mencari kebenaran itu pun terus berlanjut.

Apa yang Paling Saya Sukai dari Final Fantasy VIII?

Saya memang jatuh cinta dengan game ini sejak pertama kali melihatnya. Ketika baru memiliki konsol PlayStation, Final Fantasy VIII merupakan salah satu game RPG pertama yang saya mainkan. Waktu itu, saya belum begitu familiar dengan sistem permainan yang disebut Role Playing Game dan ketertarikan saya hanya dipicu oleh satu hal : Gosip!

Ketika masa sekolah dulu, semua teman gamer akan berkumpul sebelum jam masuk sekolah untuk membahas game-game yang sedang mereka mainkan. Well, tidak jarang juga yang kemudian meminta tips dan trik permainan. Nah, dari berbagai informasi itulah kemudian banyak yang mengemukakan dan sependapat bahwa game terbaik yang sedang mereka mainkan saat itu adalah Final Fantasy VIII. Ada yang bilang kalau kualitas grafisnya mantap, desain karakter yang keren, skill yang brutal, dan tentu saja monster summon yang memesona. Dan reaksi saya ketika itu, “Masa sih?!”

So, singkatnya – saya akhirnya memutuskan untuk membeli game dengan 4 disc pertama yang benar-benar menguras kantong saya. Reaksi pertama yang muncul saat saya mencoba game ini hanyalah tertegun dengan mulut yang ternganga sembari mengucapkan berbagai nama binatang dari mulut yang masih polos kala itu. Man, this is awesome!

Full Motion Video (FMV)

Siapa yang bisa melupakan adegan pertarungan antara Squall dan Seifer di awal permainan Final Fantasy VIII? Kualitas FMV (Full-Motion Video) yang dihadirkan di kala itu memang merupakan yang terbaik di masanya, begitu halus dan dramatis. Apalagi disuguhi dengan soundtrack “Liberi Fatali” karya Nobuo Uematsu yang membuat segalanya menjadi mudah terbakar di ingatan. Dentingan gunblade yang keras, kelembutan wajah Rinoa yang halus, sosok Edea yang kelam, dan Seifer yang keren (saya sampai sekarang masih lebih menyenangi Seifer dibandingkan Squall). Dalam pikiran saya waktu itu, game ini akan tampil sangat keren.

FMV memang menjadi nilai jual dari game ini. Berbagai FMV super keren dihadirkan di dalamnya, bahkan beberapa di antaranya disisipkan di tengah permainan dan mampu membuat jalinan plot yang hadir menjadi jauh lebih solid. Adegan ballroom dance antara Squall dan Rinoa, plus pertarungan antara Balamb dan Galbadia Garden menjadi adegan saya yang paling favorit.

Desain Karakter

Anda pasti berbohong jika mengatakan bahwa desain karakter di keseluruhan game Final Fantasy VIII adalah sebuah kegagalan. Anda boleh bertanya kepada setiap pemilik Playstation generasi pertama, baik yang merupakan penggemar RPG maupun yang tidak, apakah mereka mengenal sosok Squall atau tidak. Saya yakin sebagian besar darinya pasti mengatakan iya. Kemampuan Squaresoft saat itu untuk mendesain berbagai karakter memorable di game ini memang pantas diacungi jempol.

Dari begitu banyak karakter yang dihadirkan di dalamnya, saya hanya jatuh cinta pada dua karakter saja. Yang pertama tentu saja Seifer, si bocah sombong pemberontak yang tampil cool dan kejam ini memang selalu menarik hati saya secara pribadi. Apalagi rivalitasnya dengan Squall membuat plot cerita semakin kompleks. Karakter kedua yang saya puja adalah Quistis Trepe. Orang lain mungkin menyanjung Rinoa hingga ke ubun-ubun mereka, but for me, Quistis adalah cinta pertama saya. Seorang guru seksi, berkacamata, menggunakan cambuk, berbadan proporsional, cantik, kuat dalam bertarung, dan cerdas benar-benar seorang gadis yang sempurna. Can you ask for more?

Limit Break

 

Setiap karakter yang memiliki HP yang sudah kritical di Final Fantasy VIII memiliki “hak” untuk melancarkan finishing move mereka yang lebih dikenal sebagai Limit Break. Untuk mereka yang pernah memainkan game ini pasti sependapat bahwa tidak ada Limit Break yang tidak memorable di game ini. Melihat berbagai serangan brutal yang cepat dengan jumlah angka damage yang terus berbaris mengikuti setiap serangan yang mengenai musuh adalah suatu kepuasan di kala itu. Apalagi Limit Break milik Squall dan Seifer yang “dramatis”.

Jika harus menentukan Limit Break yang menjadi favorit saya di game ini, saya akan menunjuk pada jurus “The End’ milik Selphie. Ini adalah Limit Break pertama yang membuat saya tahan untuk melihat layar televisi dalam waktu yang cukup lama, melakukan skip pada setiap skill milik Selphie dan berusaha menemukan The End di dalamnya. Ketika pertama kali saya mendapatkannya dan melakukan cast untuk musuh yang saya hadapi, perasaannya begitu menyenangkan dan meluap. Seperti orang yang baru mencapai kesuksesan luar biasa, saya terus berteriak “I Got it! I Got it!” dan tidak sabar untuk berbagi dengan teman gamer di sekolah. Walaupun The End sebenarnya adalah skill dengan visualisasi paling aneh di Final Fantasy VIII.

Guardian Forces (GF)

Nah, ini adalah bagian terfavorit saya sebenarnya. Melihat berbagai summon yang disebut Guardian Forces (GF) melakukan berbagai atraksi mereka adalah salah satu mengapa saya mencintai game ini. Summon-summon yang hadir ini didesain dengan sangat apik hingga setiap darinya tampil begitu kokoh. Belum lagi berbagai efek serangan yang mampu dihadirkan dengan wah. Varian GF ini juga cukup banyak dengan cara yang unik untuk mendapatkan masing-masing darinya.

Dari begitu banyak GF yang dihadirkan, saya akan memilih DIABLOS sebagai yang terfavorit. Ada kesan yang begitu mendalam di GF yang penuh dengan aura kegelapan ini. Kemunculan hingga momen ia melepaskan tembakan yang super besar itu menjadi salah satu momen yang paling mengagumkan bagi saya. Tidak heran juga, ada kalanya saya melepaskan GF ini ke dalam pertarungan walaupun saya pribadi tahu serangannya tidak akan menghasilkan damage apapun.

Omega Weapon!!

 

Salah satu monster paling memorable di game ini adalah Omega Weapon, tentu saja! Boss tersulit di game ini memiliki HP lebih dari angka 1 juta dan memiliki serangkaian serangan mematikan yang dapat membuat karakter Anda menemui ajalnya dalam satu kali serangan. Butuh beberapa kali percobaan dan strategi untuk melawannya, dan salah satu yang terbaik adalah menggabungkan berbagai limit break dengan item hero’s drink untuk membuat karakter invincible untuk sementara waktu. Elemen penting yang lain? Keberuntungan dan kerja keras.

Apa Yang Membuat Saya Membenci Final Fantasy VIII?

Hampir sesuatu yang tidak mungkin untuk game tampil sangat sempurna hingga tidak memiliki kekurangan sama sekali. Begitu juga dengan seri “klasik” ini. Saya mungkin sudah membahas cukup banyak aspek yang saya sukai dari Final Fantasy VIII, namun tidak sedikit juga yang cukup membuat saya kesal dan uring-uringan.

Sistem Junction

 

Squaresoft mungkin berpikir untuk menghadirkan sebuah sistem yang revolusioner untuk Final Fantasy VIII, namun untuk para gamer, sistem ini benar-benar sebuah kegagalan. Saya sendiri mendapati diri sulit untuk memahami bagaimana sistem ini bekerja ketika saya memainkannya pertama kali. Akibatnya? Saya terlihat bodoh.

Saya mengerti bagaimana cara melakukan equip GF pada diri masing-masing karakter dan sistem AP untuk mendapatkan skill yang bisa kita gunakan, namun menggunakan magic untuk memperkuat status? Totally fail! Sistem junction mungkin memiliki efek yang cukup berbeda untuk setiap gamer yang pernah memainkan game ini, for me? It’s stupid!

Draw Magic

Adalah sebuah keharusan bagi setiap game RPG yang hadir untuk menyertakan magic sebagai salah satu elemen serangan yang tidak akan pernah usang. Beberapa game RPG yang konvensional mungkin akan menyertakan magic ini sebagai “hadiah” jika kita berhasil mencapai level tertentu, dengan menggunakan MP untuk menggunakannya. Di Final Fantasy VIII? Anda harus menariknya dari beberapa draw point magic yang tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar di antaranya memang rechargeable, namun beberapa di antaranya membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi kemampuan magic karakter kita ditentukan oleh jumlah magic yang kita miliki tanpa menggunakan sistem MP sama sekali. Benar-benar sistem yang menyulitkan.

Hilangnya Sistem Equipment

Yang membuat Final Fantasy VIII “kehilangan” sisi RPG nya adalah sama sekali tidak diterapkannya sistem equipment yang notabene merupakan elemen terpenting di dalam game RPG. Saya sendiri cukup kesal dengan kelemahan ini. Walaupun Squaresoft menyediakan sarana untuk melakukan upgrade senjata yang dibawa oleh karakter kita masing-masing, namun hal tersebut tidaklah cukup. Saya merindukan quest-quest yang sering kita lakukan untuk sekedar mendapatkan senjata yang lebih kuat. Harapan saya muncul ketika berharap mendapatkan sesuatu dari upaya keras mengalahkan Ultima dan Omega Weapon yang sayangnya harus berakhir pada kekecewaan yang lain.

Plot Yang Terasa Dipaksakan

Tidak ada yang salah dengan cara penyampaian plot yang dibawakan oleh Final Fantasy VIII. Jika Anda memahami keseluruhan cerita yang ditawarkan, maka Anda mulai mengerti jika game ini sebenarnya menawarkan sebuah plot yang bagus. Namun, berbagai timeline yang twisted membuatnya sulit untuk dimengerti. Ditambah lagi kurang kuatnya cerita yang dibangun melalui interaksi yang dibangun antar karakter. Terasa ada sesuatu yang hilang. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali?

Final Fantasy VIII mungkin memang menjadi primadona pada masa awal peluncurannya, namun bagaimana jika kita memainkannya kembali saat ini, seperti yang saya lakukan?

Yang menakjubkan, sensasi yang pernah kita rasakan dahulu ternyata tetap tidak jauh berbeda. Walaupun kualitas grafis game saat ini sudah mencapai batas yang sangat mengagumkan, namun Final Fantasy VIII yang lahir pada tahun 90-an tetap mampu mempertahankan “kekaguman” yang pernah saya rasakan dulu. FMV nya masih tampak mengagumkan, walaupun tidak sebagus seperti kacamata saya dahulu melihatnya. Gameplay dan desain karakter nya menurut saya pribadi, masih merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ada.

Saya masih senang melihat Quistis dan Seifer. Saya masih menikmati alunan Liberi Fatali di awal game yang masih mencenangkan itu. Saya masih menikmati berbagai limit break yang tak pernah berhenti membuat saya kagum. Overall? Final Fantasy VIII masih pantas dimainkan hingga saat ini dan tidak tertutup kemungkinan akan menyita waktu hidup Anda kembali. Benar-benar sebuah game yang epik.

Editor Said

David Novan said, “Overall FF8 itu RPG yang keren. Pas keluar dulu, FF8 selalu bikin saya ternganga kagum karena kecanggihan grafiknya. Namun, entah kenapa saya tidak begitu terkesan dengan FF8. Mungkin karena game ini masih ada di bawah bayangan FF7 yang sukses berat. Karakternya forgettable, sistem stok yang ngehabisin waktu, dan kustomisasi yang sedikit. Kalo disuruh pilih apa yang paling saya suka dari game ini, jawabannya pasti Quistis!! She’s so hot!! Glasses girls rules!
Deliusno said, “Yang berkesan menurut saya adalah momen dimana Squall berdua bersama Rinoa di Ragnarok. Romantisme yang menarik!”
Ernest Dimitria said, “Setelah sempat bermain FF7, ekspektasi terhadap cerita dan gameplay FF8 menjadi sangat tinggi. Tidak ada banyak perbedaan selain grafis dan desain karakter yang lebih real. Awalnya enjoy, tetapi dengan tampilannya yang lebih real itu justru membuat FF8 lebih boring (less eye catching). I simply stopped playing ‘cause I’m not a big fan of the genre..”
Dimas Galih Windujati said, “Untuk saya, FF8 begitu berkesan. Yang pertama karena ini adalah kali pertama Square memakai form yang non deformed. Semua karakter dibuat sesuai dengan bentuk manusia asli. Lalu grafik yang sebegitu memukau yang bisa dibuat pada sebuah mesin gaming Playstation pertama. Kita dapat melihat semua mahluk yang di panggil oleh tiap karakter seperti Bahamut, Leviatan, Odin, dan lain sebagainya. Selain grafis yang menarik, cerita romantismenya juga sangat memukau. Didukung dengan lagu Eyes On Me yang menjadi sukses pula bersamaan dengan gamenya. Dan terakhir, tidak lupa Quistis yang masih menjadi karakter wanita dewasa favorit saya. Sekali lagi, semua itu bisa dimainkan hanya dengan mesin Playstation generasi pertama saja lho :)”
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 20, 2021 - 0

Review Outriders: Loot-Shooter Memuaskan!

Tidak mudah dikembangkan, jarang memuaskan, dan akan ikut tewas bersama…
April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…