Review Gears of Wars 3: Penutup Trilogi yang Sempurna!

Reading time:
November 10, 2011

Seri Gears of Wars harus diakui merupakan salah satu contoh game Third Person Shooter yang mampu menghadirkan kualitas dengan level yang sangat tinggi. Game buatan EPIC Games yang dihadirkan eksklusif untuk pemilik XBOX 360 ini memang menghadirkan pengalaman bermain yang maksimal. Gameplay, plot, dan dramatisasi yang diusung di dalamnya meninggalkan kesan pertempuran yang epik. Setidaknya cukup untuk membuat adrenalin Anda terpompa keras sepanjang permainan. Singkat namun selalu padat dengan aksi yang tak pernah berhenti.

Apa yang membuat gamer mencintai sebuah seri Gears of Wars? Pada awalnya adalah sistem gameplay-nya yang inovatif. Mengedepankan sistem cover untuk mengembangkan pertempuran yang lebih taktis, gamer dituntut untuk membaca situasi dan bersikap lebih adaptif. Desain karakter protagonis dan antagonis yang terlihat tangguh dengan senjata besar dan berbagai efek destruktif yang dihasilkan juga menghadirkan pengalaman unik tertentu. Kesemuanya ini mampu menarik gamer dalam perang masif yang mengalir dan bergerak cepat.

Gears of Wars (2006) dan Gears of Wars 2 (2008) tumbuh menjadi fenomena tersendiri. Ketertarikan gamer terlihat dengan jelas lewat tingkat penjualan yang luar biasa untuk setiap seri yang dihadirkan. Tidak hanya menghasilkan keuntungan yang besar untuk EPIC Games, tetapi juga menjadi buah yang manis bagi Microsoft. Bulan perilisan Gears of Wars selalu identik dengan lonjakan penjualan XBOX 360 yang cukup signifikan. Sebagai sebuah fenomena, GOW juga mulai berkembang menjadi standar game third person shooter yang diikuti oleh para kompetitor setelahnya. Namun, harus diakui, belum ada yang mampu mengekor kualitas yang dihasilkan game ini. Tidak heran jika gamer menaruh ekspektasi yang besar kepada game ini.

Setelah menunggu cukup lama, tiga tahun dari seri keduanya, para gamer akhirnya berkesempatan untuk menjajal seri terakhir dari trilogi Gears of Wars. EPIC tentu akan mati-matian menjadikan seri ini sebagai yang paling berkualitas di antara semuanya. Membawanya ke sebuah level yang baru? Atau ini akan menjadi Gears of Wars yang tak banyak berubah? Bagi Anda yang sudah membaca preview kami tentu sudah memiliki persepsi awal akan game ini, setidaknya membantu memberikan sedikit gambaran. Namun, visualisasi tentu saja tidak cukup untuk membuat Gears of Wars 3 tampil sebagai sebuah game yang sempurna. Bagaimana dengan elemen lain yang ditawarkan di dalamnya?

Plot

Akibat perang, pengorbanan menjadi nilai yang harus dibayar.

Tidak pernah ada yang tahu mengapa Emergence Day dapat terjadi. Hari di mana Locust, sebuah ras yang sudah lama berdiam diri dalam Sera – dunia di GOW – mendadak muncul ke permukaan dan mendeklarasikan perang melawan manusia. Dalam perang yang terjadi selama 14 tahun, manusia awalnya mengeksploitasi Sera untuk Imulsion, sebuah bahan bakar yang berharga harus menghadapi ujung kepunahan eksistensi. Ketika negara-negara mulai collapse satu per satu, hanya tinggal The Coalition of Ordered Governments (COG) yang menjadi tumpuan harapan manusia. Perang pun dikobarkan untuk memusnahkan Locust, bagaimana pun caranya.

Manusia semakin terdesak. Walaupun sudah mengorbankan banyak harta benda, nyawa, bahkan kota, Locust seperti tak terbendung. Satu-satunya cara untuk melawan balik? Serangan mendadak! COG merencanakan sebuah serangan balasan, mematikan Locust tepat di jantung, di “rumah bawah tanah” mereka. Marcus Fenix, sang karakter utama, ditugaskan untuk memimpin serangan ini. Manusia akhirnya berhasil menenggelamkan semua terowongan dunia Locust dengan air, namun juga harus merelakan kota basis pertahanan manusia yang terakhir – Jacinto. Apakah perang lantas berakhir? Marcus Fenix menemukan banyak misteri tanpa jawaban dari serangan ini. Kehadiran ras baru Locust yang disebut Lambent, ratu para Locust – Myrrah, yang muncul lewat suara, serta peran ayah Fenix yang tampak signifikan harus berakhir tanpa jawaban.

Adam Fenix menjadi kunci jawaban dari semua pertanyaan di GOW.
Lambent dalam ukuran masif mulai mengambil alih Sera.

Di Gears of Wars 3, semua misteri ini akan mulai terkuak satu-per satu. Dua tahun setelah event terakhir Jacinto, manusia berusaha membangun hidup baru kembali di pulau bernama Vectes. Locust yang sudah kehilangan basis pertahanan tak lagi menjadi ancaman yang serius dan digantikan oleh Lambent yang kini berevolusi dengan cepat dan mulai menguasai Sera. COG sendiri juga mulai tersebar tanpa terorganisir, mempertahankan eksistensi manusia dengan cara mereka sendiri. Marcus Fenix sekali lagi harus menjalani sebuah takdir besar setelah rekaman tentang ayahnya yang masih hidup didapatkan. Sang ayah, Adam Fenix, ternyata ditahan oleh Queen Myrrah, ratu para Locust untuk sebuah alasan yang dapat membantu manusia memenangkan perang untuk selamanya. Tak diragukan lagi, Marcus Fenix siap mati untuk menolong ayahnya di Azura, sebuah fasilitas rahasia pemerintah manusia yang kini sudah dikuasai oleh para Locust.

Apakah Marcus Fenix akan berhasil? Solusi apakah yang ditawarkan Adam Fenix untuk menghentikan perang? Siapakah para Lambent dan mengapa mereka begitu ditakuti? Anda harus mencari jawabannya sendiri dengan memainkan Gears of Wars 3 ini. Anda akan dibawa dalam perperangan besar dan epik melawan para Locust dan Lambent sepanjang perjalanan. Sayangnya, Anda juga harus kehilangan salah satu sosok penting Gears of Wars di seri kali ini.

Gameplay yang Tak Banyak Berubah

Cover dan shoot tetap jadi strategi paling mantap untuk memenangkan pertempuran.

Gamer yang sudah memainkan dua seri Gears of Wars sebelumnya sudah pasti tidak akan kesulitan untuk segera beradaptasi dengan Gears of Wars 3 ini. Pada dasarnya, tidak banyak kontrol dan skema gameplay yang berubah. Anda tetap diminta untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya, tetap bertahan hidup dan memastikan setiap Locust dan Lambent yang berusaha menghalangi mati di ujung senapan Anda. Untuk mencapai hal tersebut, menentukan waktu yang tepat untuk melakukan cover dan menembak akan menjadi strategi kunci untuk meraih kemenangan. Pastikan saja tidak ada lambang COG berwarna merah menyala terlalu terang di tengah layar Anda, Anda pun akan baik-baik saja. Salah satu perubahan yang cukup dirasakan adalah sistem pertarungan yang kini lebih team-based dengan bantuan 3 AI lainnya. Anda juga dapat memberikan komando bagi mereka untuk menyerang musuh yang Anda bidik dengan menekan analog kiri.Walaupun inovatif, akan jarang Anda gunakan karena AI sendiri sudah cukup pintar untuk memilih target mereka sendiri.

Iron sight di Hammerburst!
Tombol yang sama akan memicu zoom yang lebih besar di sniper rifle.

Jika di dua seri sebelumnya, Anda hanya dapat melakukan dua pose menembak, bidik dan tanpa bidik, kini EPIC Games menghadirkan satu mode baru lagi di dalamnya. Dengan menekan tombol analog kanan, Anda kini dapat mengakses mode iron-sight. Benar sekali, Anda kini dapat melihat musuh melalui ujung bidikan senjata Anda layaknya sebuah game FPS. Namun mode ini hanya berlaku untuk beberapa senjata saja seperti Hammerburst, misalnya. Jika Anda menerapkan hal yang sama di senjata seperti Longshot Sniper Rifle dan beberapa jenis handgun, Anda akan menemukan crosshair dengan zoom lebih besar.

 

Anda kini dapat menggunakan Cole Train di misi tertentu.

 

Anya dan Sam = Female Power!

Perubahan gameplay juga dihadirkan dari karakter yang bisa Anda kendalikan di mode single player. Jika di masa lalu Marcus Fenix adalah satu-satunya karakter yang bisa Anda kendalikan di Gears of Wars, kali ini EPIC juga menjadikan Cole Train sebagai karakter yang playable di misi-misi tertentu. Tidak hanya sebagai penggembira, Cole juga mendapatkan porsi cerita yang cukup signifikan – termasuk latar belakang kehidupannya. Apa lagi yang berubah dari segi karakter? Gamer yang pernah memainkan GOW sebelumnya sudah pasti memerhatikan yang satu ini. Benar sekali, entah mengapa Gears of Wars 3 menambahkan begitu banyak pejuang wanita yang menjadi tangan kanan Marcus Fenix dan Cole Train di barisan depan pertempuran. Anda akan menemukan Anya Stroud dan Sam Bryne yang menambahkan sedikit sisi feminim di game penuh maskulinitas ini.

Messy!

Anda yang lebih senang membunuh musuh dengan brutal juga tak perlu khawatir. Senjata andalan para COG – Lancer juga masih membawa chainsaw supernya. Anda hanya tinggal menyalakannya, mendekati musuh, dan melihat Locust dan Lambent terbelah dua dengan indahnya. Gerakan eksekusi juga masih dihadirkan untuk mengirim musuh yang sekarat ke tempat peristirahatan terakhirnya. Gerakan unik untuk setiap serangan akhir ditentukan dari senjata yang Anda pilih untuk mengeksekusinya. Satu yang pasti, it will get messy!

Bigger Enemies, Bigger Gun!

Panggang sampai matang selalu jadi strategi yang bagus, apa pun musuhnya!

Menjadikan Lambent sebagai ras utama yang harus dihadapi oleh manusia berarti membuka kesempatan yang lebih besar bagi EPIC untuk menciptakan beragam ras monster yang baru. Percayalah, mereka tidak akan menambahkan lebih banyak monster kecil untuk menghibur Anda. Semakin besar, semakin baik bukan? Anda akan menemukan varian Lambent yang tidak hanya sekadar memiliki ukuran dua kali tubuh Marcus Fenix, tetapi juga dibekali dengan berbagai senjata mematikan yang belum ada sebelumnya. Lemparan api, tubuh yang memanjang secara tiba-tiba yang mampu meninggalkan potongan tubuh berbahaya, hingga yang tak dapat ditembus peluru dihadirkan di sini. Untungnya dengan sedikit kerja keras dan stok peluru Lancer dan Hammerburst yang cukup, semua masalah ini dapat teratasi. Namun, masalah lain muncul ketika musuh yang datang tidak hanya dua kali besar Marcus Fenix, tetapi 10 hingga 100 kali lebih besar.

Pertempuran melawan Leviathan. Untung ada Silverback!
Bigger enemies need bigger gun!

Anda akan menemukan varian monster seperti ini di beberapa titik permainan di Gears of Wars 3. Salah satu yang paling brutal adalah Leviathan yang memiliki ukuran sebesar gunung. Menembaknya dengan sebuah Lancer tentu hanya akan memberikan sensasi geli nan lucu. Untungnya, ada beberapa varian senjata baru yang hadir dengan kemampuan serangan yang lebih destruktif. Senjata yang tidak hanya digenggam dengan tangan, tetapi juga dikenakan secara langsung. Di Gears of Wars 3, untuk pertama kalinya – SilverBack – sebuah konsep mecha suit diperkenalkan. Anda akan sedikit banyak tertolong melawan Leviathan dengan suit ini. Selama perjalanan melintasi udara dan laut untuk menuju Azura, Anda juga akan ditemani dengan berbagai senjata mounting yang didesain untuk menghancurkan musuh-musuh besar. Anda akan merasakan sensasi perang dramatis dan epik dari senjata-senjata ini.

Perubahan Terrain yang Signifikan

Cuaca yang cerah. Saat yang tepat untuk membunuh beberapa Lambent dan Locust.

Selama ini, Gears of Wars selalu dikenal dengan beragam konsep terrain yang sebagian besar bertema gelap, seperti gua atau pertempuran malam, mengikuti habit Locust yang berasal dari dunia yang sama. Selain itu, Anda akan menemukan kota-kota yang hancur berantakan dengan tanpa tanda kehidupan sama sekali selain para anggota COG. Namun di Gears of War 3, semuanya berubah 180 derajat. Anda akan menemukan perubahan terrain dan wilayah pertempuran yang signifikan di seri terbaru ini, menghadirkan pengalaman perang yang berbeda.

Kini Marcus Fenix dan anggota timnya lebih sering beroperasi dan berperang di siang hari yang cerah dan di dataran yang lebih terbuka. Alasan di baliknya? Karena Locust sendiri kini memang beroperasi di permukaan Sera setelah tenggelamnya Jacinto. Sang musuh utama – Lambent juga sudah menginvasi Sera secara terbuka, memungkinkan skenario perang seperti ini untuk terjadi. Satu hal yang pasti, semua terrain ini mampu ditampilkan dengan visualisasi penuh detail yang pantas untuk diacungi dua jempol besar. Usaha EPIC untuk menyorot The Stranded – kelompok resistance yang tak percaya lagi dengan COG – membuat kondisi Sera jauh lebih hidup. Setidaknya cukup untuk meninggalkan kesan bahwa manusia masih cukup mampu untuk membangun masa depannya kembali.

Apakah Carmine akan Hidup Atau Mati?

Bagaimanakah nasib Carmine? Hidup atau mati?

Jika Anda membicarakan karakter GOW yang lebih terkenal selain Marcus Fenix dan Dom, Carmine pantas menjadi yang paling populer. Keluarga yang terdiri dari tiga anak laki-laki ini: Anhony Carmine, Benjamin Carmine, dan Clayton Carmine adalah anggota COG dan selalu bersanding dan bertempur bersama dengan Marcus Fenix. Mereka memang tidak memegang peran yang signifikan dalam perang melawan Locust, namun drama yang dihadirkan oleh keluarga ini menjadi nilai tersendiri bagi seri Gears of Wars.

Bagi Anda yang belum tahu, Carmine selalu tampil menjadi cameo di setiap seri Gears of Wars. Dengan helmnya yang unik dan gayanya memperkenalkan diri, ia selalu tampil sebagai prajurit kacangan yang miskin pengalaman. Sebagai keluarga dengan hanya tiga anak laki-laki dan semuanya pergi berperang, kelanjutan generasi keluarga ini seolah tak lagi memiliki harapan. Nasib yang mengenaskan terjadi kepada dua Carmine di dua seri awal Gow. Anthony Carmine tewas di tangan sniper Locust di House of Sovereign – GOW pertama. Adik bungsunya, Benjamin Carmine, tewas dengan sebuah lubang besar di dada akibat cairan asam Riftworm di GOW 2. Kini giliran sang kakak tertua, Clayton Carmine, yang akan menghadapi nasibnya.

Apakah Carmine di GOW 3 akan mati mengenaskan seperti saudaranya dan mengakhiri tali keluarga Carmine? Atau ia akan dapat bertahan hidup hingga akhir? Nasib hidup dan matinya Carmine juga menjadi salah satu elemen yang cukup menarik untuk disimak di Gears of Wars 3.

Kesimpulan

MUST PLAY!

Sebagai penutup trilogi GOW, Gears of Wars 3 harus diakui menjadi penutup cerita yang sempurna. EPIC menghadirkan sebuah pengalaman yang jauh labih berkesan di seri terbaru ini, menjadikannya klimaks yang tidak mungkin mudah untuk dilupakan. Walaupun mengusung sistem gameplay yang tidak banyak berubah, namun berbagai perubahan dari segi karakter dan plot menjadi kunci utama untuk sebuah pengalaman yang baru. Apalagi game ini menghadirkan musuh yang jauh lebih besar dan bervariasi, menghasilkan pertempuran yang lebih destruktif namun juga mengalir cepat. Menjadikan game ini wajib dimainkan oleh gamer XBOX 360!

Dari semua elemen gameplay yang dihadirkan, saya pribadi tidak menemukan kekurangan yang berarti di Gears of Wars 3. Segalanya seolah terbangun dengan baik. Visualisasi yang maksimal dan penuh detail, desain monster, skala pertempuran, hingga senjata yang disediakan. Jika selama ini kita selalu berpendapat bahwa game baru seharusnya menghadirkan banyak hal baru, hal ini tidak berlaku untuk Gears of Wars. Justru minimnya hal baru inilah yang membentuk kesinambungan yang kuat dengan seri sebelumnya. Seperti Anda terlibat aktif dalam sebuah novel panjang yang kini sudah mencapai akhirnya. Satu kekurangan yang cukup terasa hanyalah di jeda checkpoint yang cukup jauh untuk misi-misi tertentu. Jika tak sengaja tewas, Anda harus mengulang cukup jauh.

Karena keterbatasan tertentu, saya tak mampu menjajal mode pemainan online yang seharusnya menjadi kekuatan game yang satu ini. Dengan berbagai mode multiplayer online yang dihadirkan, Anda yang mampu terkoneksi dengan XBOX Live pasti tidak akan dengan mudah dapat meninggalkan Gears of Wars 3 begitu saja. Suasana kompetitif, kooperatif, dan variasi pertempuran yang bisa dipilih akan menghadirkan adiksi yang sulit dilepaskan. Pasti!

Ada sedikit kegembiraan dan kesedihan melihat sebuah franchise third person shooter akhirnya menemui ujung perjalanannya. Kegembiraan karena ia berhasil menghadirkan kesan fenomenal di industri game dan ditutup dengan sempurna, kesedihan karena tak akan ada lagi Marcus Fenix dan COG di masa yang akan datang. Semoga saja EPIC akan melahirkan game dengan kualitas sama suatu saat nanti. Semoga saja.

Kelebihan

 

Eat this!
  • Gameplay yang tetap orisinal.
  • Pertempuran yang cepat dan adaptif.
  • Plot yang epik.
  • Varian Lambent dan Locust yang baru.
  • Terrain yang berubah signifikan.
  • AI yang cukup pintar untuk menghasilkan pertempuran team-based.
  • Ekspektasi ending yang terpenuhi.

Kekurangan

 

Help me!!
  • Jeda Checkpoint yang cukup jauh di beberapa misi.

Cocok untuk Gamer: Pemilik XBOX 360 yang suka genre game apa pun.

Tidak cocok untuk Gamer: yang hanya punya Playstation 3 atau PC di rumah. *kidding*

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…