NostalGame: Resident Evil 2 Dual Shock Ver.

Reading time:
December 6, 2011

Jika kita membicarakan salah satu franchise survival-horror terbaik yang pernah lahir di industri game, maka sebagian besar dari kita tentu tanpa ragu menyebut nama Resident Evil dari Capcom. Terlepas dari inkonsistensi franchise ini untuk bertahan di genre klasik ini, game ini harus diakui menjadi sebuah pencetus sekaligus juga standar bagi game-game bergenre sama yang lahir setelahnya. Pada masa awal perilisannya, Resident Evil berkembang dari sekedar sebuah game menjadi sebuah fenomena unik di industri game. Horror, puzzle, dan aksi di dalam satu paket? Jenius!

Seri pertama Resident Evil sendiri berhasil meraih kesuksesan yang luar biasa. Kesan survival-horror begitu terasa kental lewat tingkat kesulitan yang dihadirkan. Walaupun semua zombie bergerak dengan lambat, skema kontrol dan keterbatasan amunisi membuat mereka menjadi ancaman yang serius. Melahirkan sebuah seri yang sukses, tidak mengherankan jika Capcom kemudian melahirkan sebuah sekuel untuk meneruskan cerita yang sudah terbangun dengan baik di Resident Evil pertama. Lahirlah Resident Evil 2, salah satu seri RE terbaik yang pernah lahir di industri game. Capcom memoles game ini dengan kualitas yang luar biasa, bahkan ketika Anda memainkannya saat ini. Nostalgia dalam kekaguman.

Berbeda dengan seri pendahulunya, Resident Evil 2 sudah mulai mengusung sistem gameplay lebih ke arah action. Setidaknya Anda kini diperkuat dengan senjata-senjata berkekuatan destruktif sejak awal permainan dengan amunisi yang lebih mudah ditemukan. Kesan survival muncul dari ragam musuh dan Boss yang kini hadir dengan ukuran dan kekuatan yang lebih besar. Gamer yang sudah berpengalaman dengan RE pertama sudah pasti melihat Resident Evil 2 sebagai game yang lebih menyenangkan dan mudah dinikmati. Apalagi jika Anda bisa memanfaatkan salah satu cheat termudahnya. Anda masih ingat? Sesuatu yang berhubungan dengan warna merah menyala? Jika tidak, akan kita bahas nantinya.

Jika Anda termasuk salah satu gamer yang pernah memainkan Resident Evil 2 sebelumnya, maka tidak diragukan lagi game yang satu ini akan meninggalkan kesan yang mendalam. Sebuah game yang tidak mudah terhapus dari memori begitu saja. Walaupun ia tidak menghadirkan kesan horror yang kental dan menakutkan, namun jalinan cerita, karakter, puzzle hingga beragam senjata yang dibawa di dalamnya benar-benar memorable. Apalagi ini juga menjadi kali pertamanya Anda dipertemukan pada karakter-karakter ikonik di franchise RE.

Jadi untuk Anda yang pernah memainkan game ini sebelumnya, jangan ragu untuk membuka memori kembali dan menggali sedikit gambaran di masa lalu. Mari bernostalgia!

Plot

Resident Evil 2 sendiri mengambil timeline 2 bulan setelah seri yang pertama. Setelah tim investigasi di Resident Evil pertama berhasil memberantas sebuah virus berbahaya bernama T-Virus dan semua makhluk yang sempat bermutasi karenanya, mereka menemukan kebenaran yang lebih mengejutkan. Chris Redfield dan Jil Valentine yang merupakan bagian dari tim tersebut berhadapan dengan skenario yang jauh lebih berbahaya. Umbrella Corporation yang berada di balik pengembangan virus ini ternyata juga sedang mengembangkan varian yang lebih berbahaya: G-Virus. Virus ini dikembangkan di bawah lab rahasia mereka, di laboratorium bawah tanah Raccoon City. Seperti yang dapat ditebak, laboratorium ini ternyata mengalami kebocoran dan menyebar. Raccoon City menjadi kota mati yang dipenuhi zombie.

Waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke Raccoon City

Berbeda dengan seri RE sebelum dan setelahnya yang linear, Resident Evil 2 memiliki dua karakter utama yang bisa digunakan. Anda bisa berperan sebagai Leon, petugas muda di jajaran RPD atau Claire Redfield yang sedang berusaha mencari kakaknya – Chris. Tiap karakter ini memiliki rute perjalanan yang berbeda dengan yang lainnnya, walaupun mengusung plot yang sama. G-Virus sendiri telah menjangkiti beragam makhluk hidup yang ada, membuat mereka bermutasi menjadi makhluk baru dengan ukuran dan kekuatan yang luar biasa. Adalah Dr. William Birkin yang bertanggung jawab atas pengembangan virus ini. Saat Umbrella berusaha datang dan menghancurkan setiap bukti yang ada, William dalam keadaan terdesak menyuntikkan virus ini ke tubuhnya sendiri. Ia bermutasi menjadi sosok yang kita kenal sebagai Tyrant.

Mata selalu jadi pertanda buruk di Resident Evil

Gameplay yang diusung sendiri memang tidak banyak berubah. Skema kontrol gerak pun tidak berubah dari seri pertama, dimana tombol unik d-pad atas digunakan untuk bergerak maju. Anda tetap dibekali dengan senjata, herb, dan beragam jenis amunisi untuk melewati setiap rintangan yang ada, dari sekedar zombie yang berdiri “manis” hingga buaya raksasa yang menyeramkan. Salah satu peningkatan yang terlihat jelas dari seri pertama adalah visualisasi dan kualitas grafis di Resident Evil 2 yang tampil begitu memesona pada zamanya. Lingkungan yang dibangun dari teknologi pre-render menghasilkan efek yang begitu details dan halus. Proporsi desain karakter juga dibangun dengan lebih baik. Sayangnya, voice acting yang dihadirkan tetap saja sama buruknya, datar tanpa emosi. Namun secara keseluruhan, Resident Evil 2 mampu menghasilkan pengalaman bermain yang begitu maksimal dan sempurna, di masa lalu dan masa kini.

Apa yang Saya Suka Dari Resident Evil 2?

Multiple Scenario

Dua karakter - empat skenario yang bisa diselesaikan. Luar biasa!

Salah satu hal yang paling membuat saya jatuh cinta dengan Resident Evil 2 adalah skenario beragam yang ia hadirkan. Dirilis dalam 2 keping CD, Anda berkesempatan untuk berperan sebagai Leon atau Claire. Walaupun berujung pada satu titik plot yang sama, kedua karakter ini boleh dikatakan menghadirkan pengalaman yang berbeda. Tidak hanya dari segi desain karakter, tetapi keseluruhan perjalanan. Baik Leon maupun Claire akan berhadapan dengan rute gerak, puzzle, dan solusi, musuh, serta perkembangan cerita yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan senjata yang dihadirkan untuk keduanya juga berbeda. Lebih hebatnya lagi, game ini tidak hanya menawarkan dua skenario ini saja. Begitu Anda berhasil menamatkannya, Anda juga berkesempatan menjajal Skenario B untuk Leon dan Claire, dimana kunci, puzzle, dan musuh yang dimunculkan diletakkan di daerah yang berbeda. Ini berarti Anda harus kembali bermain dengan gaya yang berbeda dan mengeksplorasi lingkungan sekali lagi. Bayangkan saja, 4 skenario dalam satu game! Luar biasa!

Claire Redfield

Look at the.........lockpick

Dari kedua karakter yang disediakan oleh Resident Evil 2, Claire Redfield tampil sebagai karakter yang lebih menarik dibandingkan Leon. Bukan semata karena karakter yang satu ini wanita yang manis dan berbadan bagus (walaupun tidak dipungkiri sangat berperan juga dalam menentukan pilihan), ia menjadi pilihan utama semata karena alternatif senjata yang ia dapatkan sepanjang perjalanan. Di awal permainan, Claire sudah berkesempatan menjajal Crossbow yang super-kuat. Tidak sampai 3 jam permainan, ia sudah memperoleh Grenade Launcher nya sendiri dan siap untuk menghajar siapapun yang berusaha menghalangi. Ini menjadi pilihan yang lebih bagus daripada bergantung pada shotgun milik Leon.

Bertemu dengan Buaya Raksasa

OMG OMG OMG OMG OMG OMG OMG OMG OMG..

Resident Evil 2 memang menyediakan beragam musuh untuk dihadapi, dari zombie, anjing, gagak, hingga mutant dengan kekuatan super yang sepertinya sulit mati. Walaupun tampilan mereka cukup mengesankan horror, namun Anda tidak akan ragu untuk bertarung dan membunuh mereka dengan segala cara. Hal yang paling membuat saya takut dan panik saat memainkan game ini justru terjadi ketika Claire sedang berjalan-jalan santai di sewer bawah tanah. Ketika suasana begitu hening, ketika air hijau di terowongan tampak tak mengancam, seekor buaya raksasa melompat begitu saja. Siapa yang tidak panik melihat ukurannya? Saya masih ingat bagaimana saya langsung lari ke ujung jalan sembari memuntahkan semua peluru yang saya miliki untuk membunuh sang buaya ini. Untungnya berhasil dengan baik? Tetapi ketika menceritakan “kisah sukses” ini ke teman-teman sekelas dulu, saya justru ditertawakan. Dari sinilah saya tahu bahwa Anda hanya perlu menjatuhkan satu tabung gas dan satu peluru yang tepat untuk membunuhnya. Maka saya terlihat begitu tolol saat itu. #facepalm

R1 + Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak, Kotak

Warna merah paling indah di industri game

Ini mungkin menjadi alasan paling utama Resident Evil 2 tampak begitu mudah, terutama bagi gamer yang langsung memahami apa maksud dari kombinasi di atas. Resident Evil harus diakui memuat satu cheat yang paling mudah dieksekusi dan memorable sepanjang masa. Bagi Anda yang merasa bahwa peluru untuk setiap senjata tidak cukup untuk bertahan hidup, maka Capcom menyediakan solusi yang brillian untuk menyelesaikan masalah ini. Anda hanya tinggal ke menu config kontroller, dan menekan tombol di atas. Ketika Anda menahan tombol R1 dan menekan tombol kotak terus secara berulang-ulang, Anda akan menemukan kotak yang berada di tengah gambar kontroler bertulisakan Manual / Auto bersinar merah. Ini berarti Anda baru saja berhasil mengaktifkan cheat untuk “Unlimited Ammo”, atau bahasa Indonesianya “Sudah Pasti Menang”.

Peningkatan Kualitas Grafis

Tampil dengan visualisasi yang jauh lebih baik

Jika kita membandingkan visualisasi yang ditawarkan oleh RE pertama dan Resident Evil 2, maka peningkatan yang signifkan terlihat dengan jelas. Setting yang dibangun dengan teknologi pre-render terlihat lebih halus dan penuh dengan detail. Desaing karakter juga tidak terlihat seperti polygon kasar seperti di Resident Evil pertama, dimana details pada pakaian dan wajah Claire dan Leon terlihat jauh lebih baik. Full Motion Video (FMV) juga hadir dalam frekuensi yang lebih sering dengan kualitas yang juga lebih sempurna. Mereka yang pernah memainkan RE pertama dan menjajal RE 2 akan seketika jatuh hati karena nya.

Apa yang Saya Benci dari Resident Evil 2?

Tanpa Gerakan Menghindar

Jago menembak tapi tak bisa menghndar? Rambo!

Ini mungkin bukan salah satu keluhan yang mungkin terlontar ketika memainkan game ini untuk pertama kalinya. Namun harus diakui, menjajal kembali Resident Evil 2 setelah menyelesaikan seri selanjutnya seperti RE 3, 4 dan 5 menawarkan tantangan tersendiri. Pada seri ketiga, sang karakter utama – Jill sudah dibekali dengan manuver menghindar otomatis jika ia melihat serangan yang datang dari depan. Hal ini belum dimunculkan di seri kedua ini. Cukup menyulitkan ketika Anda bertemu dengan sekolompok anjing yang datang dengan cepat atau melawan ancaman yang tidak terlihat akibat sudut pengambilan gambar yang buruk. Karakter Anda hanya akan berdiri dengan manis ketika para anjing atau gagak datang menyerbu dan menggigit. Manuver menghindar harus diakui merupakan salah satu inovasi seri Resident Evil yang terbaik.

Stupid Sherry!

Seandainya saja karakter yang ini bisa diikat dan dilempar ke selokan

Dari semua karakter yang hadir di Resident Evil 2, besar kemungkinan gamer yang pernah memainkannya akan membenci karakter yang satu ini. Benar sekali, di samping harus menghajar semua monster dan zombie yang ada, Anda juga harus berperan sebagai seorang babysitter untuk anak perempuan yang sebenarnya tidak banyak berguna. Ketika sedang memerankan Claire, pada beberapa titik, Anda “dipaksa” untuk memerankan Sherry untuk mengakses beberapa daerah yang sulit untuk dijangkau oleh Claire. Cherry berangkat dengan penuh senyuman, tanpa senjata, dan hanya satu first aid spray. Apa yang harus ia lawan? Zombie dan anjing yang sudah menatapnya dengan penuh nafsu dan air liur. Tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain berlari kencang. Ketika Sherry berada di samping Anda dan Anda mengendalikan Claire, anak yang satu ini tidak kalah menyebalkannya. Ketika Anda berlari cepat, ia akan terus tertinggal di belakang sambil mengeluh. Seandainya saja game ini menyediakan opsi “Tampar, tendang, dan ikat”, masalah ini tidak akan terjadi.

Voice Acting

"Are you okay?", "Menurut lu?!"

Entah ada apa dengan seri Resident Evil, namun tampaknya mereka tidak mampu menemukan voice actor bahasa Inggris yang tepat untuk setiap game mereka. Resident Evil tampil begitu datar, Resident Evil juga tidak banyak berubah. Kualitas yang dibawa tak berbeda dengan akting yang dibawa oleh para pemula ketika melakukan latihan drama untuk pertama kalinya. Menemukan satu intonasi  penuh emosi saja dalam satu kalimat sudah menjadi anugerah yang tidak terlukiskan. Tidak hanya dari intonasi, pilihan kalimat yang dilontarkan juga tidak jarang konyol. Bayangkan saja, Anda bertemu dengan satu polisi luka parah dengan darah mengucur dari sebagian besar tubuhnya. Anda ngobrol panjang lebar tanpa emosi, lantas baru bertanya, “Are you okay?”. How rude!

Kejutan yang Tak Lagi Berhasil

Mengingatkan diri pada tentakel

Setiap gamer yang pernah memainkan Resident Evil pertama tentu ingat bagaimana anjing yang melompat dan memecahkan jendela bisa membuat Anda melempar kontroler hingga jarak meteran. Resident Evil 2 juga ternyata berusaha menghadirkan sensasi yang sama, namun harus diakui tak berhasil sama sekali. Tidak jarang ketika Anda sedang berjalan-jalan, tiba-tiba hadir beberapa tangan zombie yang berusaha menggapai Anda. Bukannya menyeramkan, adegan ini justru lebih mengingatkan pada adegan tentakel di beberapa anime Jepang yang sudah pasti Anda kenal. Dari semua adegan yang dihadirkan di game ini, kemunculan sang buaya raksasa benar-benar menjadi satu-satunya bagian yang mengejutkan dan membuat panik. Selebihnya? Tidak berpengaruh apapun.

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali

Ini pertama kalinya saya begitu lega melihat sebuah mesin ketik dan tinta

Resident Evil 2 mungkin lahir di masa lalu, untuk konsol lawas yang bahkan tak lagi menarik untuk saat ini. Namun kualitas yang ia hadirkan benar-benar menembus batas waktu dan tidak tergantikan sampai kapanpun. Dengan gameplay yang masih orisinil Resident Evil, seri kedua ini mampu menawarkan beragam fitur dan cerita yang sulit untuk dilupakan. Konsep untuk membawa empat skenario dalam dua karakter yang memiliki elemen permainan yang berbeda benar-benar menjadi nilai plus terbaik. Anda tidak mungkin menemukan hal yang sama di seri-seri setelahnya. Cheat sederhana untuk Unlimited Ammo juga terekam begitu jelas di otak. Setidaknya saya tidak perlu lagi khawatir dengan ammo grenade launcher yang terbatas. Nostalgia yang sudah pasti fun!

Untuk game yang sudah lahir begitu lama, visualisasi yang ditampilkan RE 2 di emulator masih memukau, terutama dari segi setting pre-render nya yang masih terhitung halus bahkan untuk teknologi saat ini sekalipun. Anda mungkin akan menemukan kesulitan karena RE 2 belum menyediakan manuver untuk menghindari serangan, namun tidak berpengaruh terlalu signifikan untuk sekedar mendapatkan lagi sedikit rasa nostalgia dalam otak. Anda bahkan akan menemukan voice acts yang jelek sebagai lelucon yang seolah tak lekang oleh waktu. Bukan ide yang buruk untuk mencoba memainkan game ini kembali dan berusaha menamatkan empat skenario yang tersedia di dalamnnya. Saya bahkan sempat merasa game ini lebih baik daripada seri Resident Evil 4 atau 5. Mungkin sebuah kerinduan untuk sebuah kualitas yang sudah lama tidak ditampilkan Capcom.

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…

PlayStation

April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…
March 9, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Housemarque (RETURNAL)!

Housemarque dan rilis konsol terbaru Playstation memang jadi kombinasi tidak…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…