Review Army of Two – The Devil’s Cartel: Monoton dan Hambar!
Monoton dan Hambar!

Apa yang sebenarnya bisa Anda harapkan dari sebuah game third person shooter yang memang terkenal karena identitas sisi aksinya yang terhitung murni? Minim, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Gears of War: Judgement dengan jelas memberikan sebuah contoh bagaimana sebuah game action yang hanya sekedar meminta Anda selamat dan bergerak dari satu titik ke titik lainnya mampu menampilkan pengalaman bermain yang menantang dan sekaligus, menyenangkan. Hanya dengan sebuah mode baru, gamer dipaksa untuk meninggalkan zona nyaman dan menjajal banyak hal baru untuk sebuah franchise yang memang sebenarnya berpotensi untuk tumbuh menjadi game yang membosankan. Formula yang sayangnya terlewatkan, atau mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Visceral Montreal ketika mengembangkan game Army of Two – The Devil’s Cartel ini. Mereka mendefiniskan kata “murni” terlalu gamblang.


Sebagai sebuah game third person murni, Army of Two – The Devil’s Cartel hanya menuntut Anda untuk memaksimalkan tiga senjata utama Anda untuk menghancurkan setiap musuh yang terus datang entah dari mana, dan tentu saja, bergerak menuju ke titik tujuan yang ada. Anda akan dibekali dengan sistem cover dan kemungkinan untuk berpindah dari satu tempat berlindung ke tempat berlindung lainnya dengan cepat. That’s it! Mekanisme seperti inilah yang akan Anda temukan di sepanjang permainan Army of Two terbaru ini. Menembak dan membasmi semua musuh yang berada di area, berlindung, menembak lagi, bergerak ke area selanjutnya, menembak, berlindung, dan seterusnya. Variasi musuh yang ada juga begitu minim, mengandalkan kuantitas musuh untuk mempersulit Anda. Anda juga akan bertemu dengan Brute – tipe musuh yang lebih alot namun tidak menawarkan tantangan apapun. Satu hal yang harus mental Anda siapkan hanyalah mental “trigger-happy” untuk menyelesaikan game yang satu ini.
Keunikan pada gameplay ditawarkan dari beberapa fitur pendukung yang ada. Ada T.W.O Vision – sebuah mode yang akan membuka akses UI untuk menentukan jalur gerak terbaik yang bisa Anda tempuh untuk sekedar bertahan atau menyerang gempuran pasukan La Guadana yang ada. Berhasil mengumpulkan point yang didapatkan dari setiap aksi dalam jumlah yang cukup, Anda juga berkesempatan untuk mengakses mode Overkill untuk memberikan damage yang jauh lebih destruktif. Selama mengakses mode ini, Anda tak ubahnya seorang Terminator. Anda tidak dapat dilukai dengan serangan apapun, mampu memuntahkan peluru sebanyak yang Anda inginkan, dan tentu saja menghancurkan begitu banyak benda dengan sangat mudah. Overkill akan menjadi sarana menyerang dan bertahan yang efektif, apalagi jika Anda terdesak oleh jumlah pasukan musuh yang memang harus diakui, seolah tidak pernah ada habisnya. Lewat kedua mode ini, dipadukan beragam senjata yang ada, Visceral berusaha membuat Army of Two – The Devil’s Cartel bersinar.


Game ini disebut sebagai “Army of Two” karena konsepnya yang memang menjadikan pertempuran dan kerjasama antara dua karakter utamanya sebagai salah satu nilai jual yang tidak dapat diganggu gugat. Jika Anda memainkannya sendiri, maka Anda akan berperan sebagai Alpha dengan Bravo yang dikendalikan oleh AI. Untuk sebuah AI, Bravo memang tampil tidak terlalu mengecewakan. Ia tidak hanya mampu menetralisir serangan dan membantu Anda ketika tengah terkapar, Bravo juga mampu mendukung setiap aksi yang Anda inginkan. Bagian terbaiknya? Anda juga bisa memberikan perintah kepada Bravo lewat d-pad untuk memastikannya mengambil tindakan yang Anda inginkan. Walaupun demikian, mekanisme ini sendiri memiliki begitu banyak kelemahan. Kami beberapa kali bertemu dengan glitch yang membuat AI tidak bergerak di satu tempat dan membuat Anda tidak bisa bergerak ke tempat selanjutnya hanya karena hal bodoh seperti ini. Alhasil? Kami harus menyia-nyiakan setidaknya dua granat untuk memancing respon menghindar AI dan membuatnya kembali “aktif”. Anda juga tidak akan bisa bermain secara stealth karena Bravo akan menembak musuh apapun yang ia lihat di depan mata, membuat perang terbuka menjadi hal yang tidak terelakkan. Kehadiran dua karakter ini juga membuat Anda terkadang harus memilih salah satu dari dua jalan yang disediakan dengan tantangan yang berbeda pula. Pilihan ini tidak berpengaruh apapun pada plot yang ada, lebih sekedar sebuah alternatif jalan belaka.




Lantas apa yang sebenarnya membuat Army of Two: The Devil’s Cartel tampil begitu monoton dan hambar? Karena memang ia tidak menawarkan elemen yang cukup kuat untuk menghasilkan pengalaman bermain yang akan membuat Anda betah memainkannya selama berjam-jam. Mekanisme sederhana tanpa inovasi, gameplay yang repetitif, desain lingkungan yang hambar, musuh yang sama sekali tidak menantang, cerita yang tidak terasa kuat, dan kurangnya dramatisasi membuat pengalaman Anda akan terasa sangat monoton. Sepanjang permainan, Anda hanya perlu menembak, berlindung, memilih jalan, menembak, berlindung, mencapai tujuan, menembak lagi, dan seterusnya. Lame.. Anda memang berkesempatan untuk mengkustomisasi tampilan dan senjata yang tengah dikenakan oleh karakter utama Anda, namun harus diakui, tidak menghasilkan pengalaman berbeda yang signifikan setelah melakukannya.
Split-Screen Multiplayer yang Tetap Dipertahankan

Salah satu pesona Army of Two di masa lalu adalah kesempatan bagi Anda untuk menjajal game ini bersama dengan teman Anda, secara offline, dengan mode klasik split-screen. Mode yang untungnya tetap dipertahankan di seri terbaru – Devil’s Cartel yang satu ini. Walaupun kami sendiri sempat berharap mereka akan mengusung sistem split-screen ala seri LEGO yang lebih dinamis dan nyaman, The Devil’s Cartel ternyata lebih memilih bertahan dengan format klasik, dengan memotong layar menjadi dua bagian secara horizontal. Untungnya untuk layar yang besar, potongan setiap Player masih akan cukup untuk memastikan Anda mendapatkan sudut pandang yang nyaman. Namun lagi-lagi ada sebuah masalah besar.
Memainkan game Army of Two: The Devil’s Cartel secara solo untuk sekedar melakukan review, kami memutuskan untuk mencoba mode split-screen yang ada sembari berharap bawah sang player kedua akan langsung dapat ikut bertempur bersama dalam misi terakhir yang tengah kami perjuangkan. Namun apa yang terjadi? Tidak seperti mode split-screen ala arcade yang memungkinkan Anda tinggal menekan tombol Start dan bergabung, Anda ternyata harus memulai kembali petualangan ini dari awal untuk dapat menjajalnya. Benar sekali Anda harus memulainya kembali dari chapter pertama untuk dapat memaksimalkan split-screen ini. Ini tentu saja menjadi bencana jika Anda sudah bermain cukup jauh dan ternyata memiliki teman yang ingin ikut bergabung ke dalamnya.









