Review Metro Last Light: Konflik Post-Apocalyptic yang Memesona!

Reading time:
May 30, 2013

Bertahan Hidup di Dunia Post-Apocalyptic yang Memesona!

Metro Last Light 1261
Sebagai sebuah game FPS, tidak ada inovasi yang membuat Last Light berbeda dibandingkan dengan game bergenre sama lainnya di pasaran.

Mempertahankan akarnya sebagai sebuah game FPS, hampir tidak ada inovasi yang bisa diperhatikan dari Metro: Last Light dari sisi mekanik gameplay yang ditawarkan. Anda hanya harus bergerak dari satu titik ke titik lainnya, sembari berusaha bertahan hidup. Tidak ada kewajiban untuk melakukan konfrontasi secara langsung dengan semua ancaman yang berada di depan mata, terutama ketika berhadapan dengan manusia bersenjata. Anda bisa melakukan infiltrasi dan bergerak menuju ke tempat tujuan tanpa harus membunuh siapapun, atau memilih bermain secara stealth – sekedar melumpuhkan atau menghabisi nyawa mereka. Perang secara terbuka memang memacu adrenalin, namun menghasilkan resiko yang lebih besar, apalagi mengingat jumlah peluru yang terbatas.

Tidak hanya berhadapan dengan pasukan Red Line maupun Nazi yang memburu Anda untuk agenda masing-masing mereka, Anda juga tetap harus bertempur melawan serangkaian makhluk mutasi yang menghinggapi dunia luar yang berbahaya. Berbeda dengan manusia yang mampu menyerang Anda dari jarak jauh, sebagian besar makhluk ini akan memberikan tantangan lewat serangan jarak dekat, dan tentu saja lewat kuantitas mereka yang masif. Lebih mampu menghadirkan tekanan psikologis karena panik, ketenangan dan beberapa peluru shotgun akan membantu Anda akan menjadi jawaban terbaik. Metro: Last Light juga menyuntikkan beberapa “boss fight” untuk kian memuaskan suasana.

Metro Last Light 110
Daripada memulai konfrontasi secara terbuka, gaya permainan stealth untuk sekedar melakukan infiltrasi atau menundukkan setiap ancaman yang ada menjadi gaya bermain yang lebih dapat diandalkan.
Metro Last Light 180
Dengan dunia luar yang dipenuhi debu dan radiasi nuklir, Artyom harus mengenakan masker gas untuk dapat bertahan hidup. Mengumpulkan filter dan mencari penggantinya ketika mulai rusak menjadi kebutuhan krusial.
Metro Last Light Part 2 17
Anda juga akan terlibat dalam berbagai boss fight yang menantang.

Namun bagian terbaik dari Metro: Last Light adalah konsistensi 4A Games untuk menjadikan kondisi dunia post-apocalyptic ini serealistis mungkin. Tidak hanya sekedar dibekali senjata, Anda juga akan dibekali dengan beberapa perangkat dasar untuk bertahan hidup, dari sebuah lighter berbentuk peluru, kompas dan peta, hingga topeng gas yang memainkan perang paling krusial. Dengan debu nuklir dan radiasi yang masih mengotori dunia luar, Anda memang harus bergantung pada topeng yang satu ini untuk dapat bertahan hidup. Lewat sebuah jam real-time yang tertera di pergelangan tangan kiri Anda, Anda bisa melihat berapa banyak waktu yang disediakan oleh filter masker Anda. Habis dan tanpa pengganti, maka Anda akan tewas karena sesak napas. Tidak hanya filter, setiap masker gas ini juga memiliki daya tahan tertentu. Rusak karena seringkali diserang juga akan menghasilkan efek yang sama.

Jika ada satu kalimat yang bisa menggambarkan masyarakat yang terbentuk dari franchise Metro selama ini, maka “obsesi terhadap peluru” mungkin menjadi kata yang paling tepat. Tidak hanya lighter Anda yang berbentuk peluru, keterbatasan sumber daya yang satu ini juga memaksa Anda untuk menjalani pertempuran terbuka dengan jauh lebih efektif. Bagian terbaiknya? Peluru-peluru ini bahkan diposisikan sebagai mata uang di dunia Metro: Last Light. Peluru berkualitas tinggi yang langka ini akan menjadi daya tarik transaksi, tidak hanya ketika Anda membeli item-item untuk bertahan hidup, atau sekedar peluru, tetapi juga melakukan modifikasi untuk memperkuat senjata-senjata utama yang tengah Anda bawa.

Metro Last Light 98
Dengan menjadi peluru kualitas tinggi sebagai mata uang, Anda tidak hanya bisa berbelanja item-item untuk bertahan hidup, tetapi juga memperkuat senjata Anda dengan segudang upgrade yang ada.
Metro Last Light 1771
A 4-barrels shotgun? Eat that!
Metro Last Light 1911
Konflik perang melawan para mutant dan pasukan bersenjata tentu saja menjadi bumbu super manis untuk menikmati game yang satu ini. Anda akan dibawa untuk terlibat dalam sebuah dunia penuh kehancuran yang memesona.

Berbeda dengan sebagian besar game bertema sama yang mungkin merepresentasikan dunia post-apocalyptic dari sekedar desain lingkungan yang ditawarkan, Metro: Last Light mengintegrasikannya ke dalam sisi gameplay – terutama lewat mekanisme topeng gas dan peluru sebagai mata uang yang berharga. Konflik perang melawan para mutant dan pasukan bersenjata tentu saja menjadi bumbu super manis untuk menikmati game yang satu ini. Anda akan dibawa untuk terlibat dalam sebuah dunia penuh kehancuran yang memesona.

Sistem Moralitas yang Tersembunyi

Metro Last Light Part 2 9
Salah satu fitur Metro Last Light yang paling menarik? Fakta bahwa game yang satu ini ternyata memuat sistem moralitas yang tersembunyi.

Kesempatan untuk tumbuh bersama dengan karakter utama memang akan membantu gamer membangun keterikatan emosional dengan game yang mereka mainkan, sebuah konsep yang memang tidak asing lagi di industri game. Beberapa game RPG Barat bahkan secara terang-terangan memberikan kebebasan untuk menentukan moralitas sang karakter utama lewat serangkaian pilihan dan konskuensi yang ada. Sebuah konsep yang juga ternyata diterapkan oleh 4A Games secara “tersembunyi” di dalam Metro: Last Light yang satu ini. Sebuah “rahasia” yang mungkin tidak diketahui oleh sebagian besar gamer yang bahkan sudah menyelesaikannya dalam waktu singkat.

Terselubung sempurna dalam keseluruhan gameplay yang Anda mainkan, 4A Games memang tidak secara jelas memperlihatkan opsi dan misi apa saja yang akan mempengaruhi tingkat moralitas dari karakter Arytom yang tengah Anda gunakan. Diintegrasikan dalam gameplay dengan begitu tersembunyi, beberapa dari aksi dan misi ini bahkan tidak terlihat signifikan. Ia bahkan tidak memuat indikator jelas untuk mengindakasikan apapun. Anda mungkin akan secara tidak sengaja bertemu dengan NPC yang tengah tertangkap dan menyelamatkannya, atau mengembalikan sebuah boneka beruang untuk anak kecil, atau sekedar meaminkan sebuah alat musik. Namun siapa yang menyangka bahwa semua tindakan ini  ternyata memiliki konsekuensi moralitas tersendiri.

Metro Last Light Part 2 18
Terintegrasi secara sempurna dan tersembunyi di dalam gameplay, hal-hal kecil yang Anda lakukan di sepanjang permainan akan menentukan seberapa baik moral sosok Artyom sendiri. Hal kecil seperti apa? Menembak pergi pemangsa yang tengah mengerubungi “makanan” seperti gambar ini, contohnya.
Metro Last Light Part 2 25
Lantas apa konsekuensi dari sistem moral ini? Percaya atau tidak, Last Light memiliki dua ending berbeda – good dan bad. Mereka yang tidak berhasil meraih moralitas yang baik lewat quest dan pengambilan keputusan yang ada akan mendapatkan ending buruk, dan begitu juga sebaliknya.

Ada beberapa misi kecil, acak, dan tindakan yang akan membentuk Arytom ke arah sisi moral yang baik, termasuk menginfiltrasi beberapa misi tanpa membunuh siapapun atau apapun, mendengarkan cerita NPC yang ada, hingga memberikan peluru berharga Anda untuk pengemis di salah satu kota. Lantas konsekuensi apa yang membuat semua “side quest” yang satu ini menarik untuk dikejar? Fakta bahwa Metro Last Light ternyata memiliki dua ending yang berbeda. Mengacuhkan sebagian besar misi ini, maka Anda kemungkinkan besar akan mendapatkan bad ending untuk Metro: Last Light. Berhasil menyelesaikan sebagian besar darinya, maka Anda akan mendapatkan akhir cerita dari pertempuran post-apocalyptic ini yang sebenarnya.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…