10 Kebijakan Gaming yang Paling Dibenci Gamer!
5. DLC-Unlocked

Terlepas dari kerinduan gamer untuk mencicipi kembali format gaming lawas dimana semua konten tersedia dan ditawarkan sejak awal pembelian, DLC memang menjadi konsep yang tidak bisa ditawar lagi di era modern gaming saat ini. Selain memberikan ekstra ruang bagi game untuk bertahan hidup lebih lama selewat rilis, DLC menjadi sumber uang yang menjanjikan bagi para publisher dan developer. Namun ada satu konsep DLC yang paling menyebalkan bagi gamer, yakni “DLC-Unlocked”. Berbeda dengan DLC yang memang membutuhkan Anda untuk mengunduh lebih banyak konten dari developer, konten di DLC-Unlocked sebenarnya sudah tersedia di dalam game yang tengah Anda beli, namun tidak dapat diakses. Untuk mengaksesnya, Anda harus membayar lagi sejumlah uang. Implementasi terburuk ini diterapkan oleh 4A Games yang bahkan memaksa gamer untuk membayar ekstra uang untuk mendapatkan difficulty yang lebih sulit di Metro Last Light. What the..
4. Movie Adaptation

Sebuah game sulit untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dan sebuah film layar lebar tidak dengan mudah dapat disulap untuk dapat dimainkan secara interaktif, ini tampaknya menjadi kenyataan pahit yang harus diterima oleh para pelaku di industri game. Walaupun beberapa franchise terhitung berhasil tampil memesona, namun bukti produk gagal yang mengusung konsep ini jauh lebih banyak, bahkan bertebaran di pasaran. Tidak percaya? Lihat saja apa yang dilakukan Activision ketika memaksa diri menjual Fast & Furious: Showdown ke pasaran. Kritik dan amarah yang meluncur dari para gamer yang sudah membayar penuh dengan ekspektasi luar biasa mengingat nama besar yang diusungnya menjadi bukti yang tidak dapat disanggah.
3. Mobile! Mobile! Mobile!

Alih-alih mengobarkan perang antara PC dan konsol, para gamer justru harus lebih takut dengan eksistensi game casual dan mobile yang kian menguat. Spesifikasi smartphone dan tablet yang kian luar biasa membuka potensi yang besar bagi para publisher dan developer untuk menelurkan lebih banyak game-game “serius” untuk platform yang satu ini. Dengan format distribusi yang menguntungkan, tidak sedikit publisher yang akhirnya menjadi “Mobile” sebagai fokus utama pengembangan game-game teranyar mereka. Proses yang lebih sederhana dengan keuntungan yang menjanjikan, para publisher terus mendorong franchise andalan mereka ke platform ini. Kekecewaan yang Anda dapatkan setelah mendengar berita Deus Ex: The Fall yang meluncur untuk iOS dan Android hanyalah permulaan untuk lebih banyak proyek serupa di masa depan.
2. Melupakan Franchise Lawas

“Kami ingin Megaman!”, “Kami ingin Breath of Fire kembali dihidupkan”, “Berikan kami Suikoden Terbaru”, “Kembalikan Final Fantasy ke akarnya”, pekik gamer yang penuh kekecewaan dan sekaligus harapan ini terus bergaung di industri game. Dengan segudang game-game luar biasa yang sempat dirilis di masa lalu, industri game memang seolah kehilangan tajinya untuk mampu menciptakan game “menggigit” yang serupa saat ini. Tidak mengherankan jika sensasi nostalgia ini terus mendorong gamer untuk menyerukan para developer dan publisher untuk menghidupkan kembali franchise-franchise ini, dalam bentuk seri reboot maupun seri baru. Namun hasilnya? Sebagai konsumen yang notabene menjadi ujung rantai dari keseluruhan bisnis ini, suara gamer justru dihiraukan begitu saja. Kita terus mendapatkan game-game yang tidak pernah kita minta. Sebagian besar darinya berakhir buruk dan mengecewakan, dengan sedikit yang mampu menghasilkan pengalaman epik yang serupa.
1. DRM

Mimpi buruk terbesar industri game? Tiga huruf yang menakutkan: DRM. Didesain sebagai sebuah sistem anti bajakan, kebutuhan untuk secara konsisten terkoneksi ke internet untuk dapat memainkan game tertentu memang boleh terhitung sebuah konsep yang absurd, terlepas dari berbagai alasan yang menyertainya. Konsep ini tentu saja diskriminatif untuk gamer yang memang tidak membekali diri dengan koneksi internet yang memadai, dengan kemampuan untuk terkoneksi dimanapun mereka inginkan. Konsep DRM secara otomatis menyuntikkan limitasi yang sebenarnya tidak krusial, mengingat bagaimana konsol dan platform gaming sebelumnya dapat berfungsi sempurna tanpa fungsi yang satu ini. Berbagai kerepotan yang harus dilalui untuk sebuah “tambahan” pengalaman yang terhitung tidak signifikan membuat DRM tampil tak ubahnya sebuah mimpi buruk besar yang menjelma menjadi musuh bersama di industri game. Untuk anti-bajakan? Para peretas sudah membuktikan bahwa mekanisme yang satu ini tidak pernah efektif untuk menghalangi sepak terjang mereka.
Di atas adalah 10 kebijakan di industri game yang seringkali berakhir konflik dengan gamer, sebagai ujung rantai bisnis ini sendiri. Walaupun kritik dan tekanan terus meluncur, hasrat gaming untuk segera mencicipi game-game teranyar yang dirilis seringkali membuat kita mengabaikan semua kebijakan dan ketidakadilan yang disuntikkan oleh publisher dan developer ke dalamnya. Seperti sapi yang tengah digembala: DLC di hari pertama, DRM penuh masalah, Pay to Win, hingga game-game hasil adaptasi film menjadi sesuatu yang bisa dimaklumi, membuat siklus ini bak lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Dari semua kebijakan yang pernah disuntikkan developer dan publisher untuk game-game yang mereka rilis, manakah yang paling membuat Anda kesal? Feel free to comment and expand the list.










