Review Gone Home: Mendobrak Industri Game!
Mendobrak Tradisi Game Mainstream

Lebih banyak ledakan, kematian, dan bagian tubuh yang terpotong, industri game saat ini memang harus diakui mendefinisikan kesenangan dan adiksi dari seberapa eksplisit konten kekerasan yang diusung. Pengalaman yang menggugah didefinisikan lewat akrobat plot sinematik dan berapa banyak darah yang terkucur di dalamnya. Perlahan namun pasti, tren ini sendiri berubah. Beberapa game hadir dengan kekuatan cerita sebagai nilai jual absolut, yang dipercantik dengan kekuatan visualisasi yang realistis. Walaupun demikian, game-game seperti ini masih seringkali memuat sisi aksi sebagai konten “ekstra” dan esensial untuk memperkuat pengalaman yang ada. Sekarang bayangkan, bagaimana jika sebuah game tidak memuat sisi ini sama sekali? Inilah yang berusaha didobrak oleh Gone Home.
Hadir dengan kualitas visualisasi yang terbilang lumayan untuk mepresentasikan detail lingkungan yang cukup realistis, Anda akan disuguhkan sebuah atmosfer gameplay yang intens sejak awal Anda memulai Gone Home ini. Hujan besar, suara angin dan petir yang terus menemani, kondisi rumah yang gelap, dan kesunyian akan menjadi “teman” perjalanan Anda. Kesan horror begitu kental, seolah sesuatu siap untuk menyergap dan menerkam Anda di setiap sudut penuh kegelapan. Ditemani dengan kualitas audio yang menawan, adrenalin Anda akan memompa Anda untuk terus waspada dan cemas, sebuah formula horror yang sempurna. Sayangnya, bukan genre yang ini yang dijual oleh Gone Home.


Kesan pertama yang ditawarkan game ini mungkin akan langsung membuat Anda mengasoasikan game ini dengan kelas genre setara Slender atau Amnesia. Namun begitu Anda memasuki game ini perlahan dan pasti, Anda justru akan berhadapan dengan sebuah genre yang berbeda. Tidak ada genre yang lebih pantas untuk mendefinisikan Gone Home selain “Interactive Story”, sebuah genre yang juga diusung oleh game sekelas Heavy Rain. Namun berbeda dengan Heavy Rain, tidak ada adegan aksi sinematik ala film Hollywood atau genre gaming mainstream di Gone Home ini. Tugas Anda sangat sederhana dan begitu “damai”.
Selamat datang di kediaman keluarga Greenbriar, sebuah mansion mewah dua tingkat, super luas dengan segudang jalan rahasia di beberapa titik ruang. Tugas Anda sebagai Kaitlin sangat sederhana – mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Anda selama setahun kepergian Anda dari rumah, terutama pada sosok sang adik tercinta – Samantha. Setting utama tahun 1990-an tercermin jelas dari teknologi hingga beberapa produk yang disuntikkan di dalamnya. Televisi cembung, Nintendo, hingga beberapa band awal tahun 1990-an menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi Anda yang menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja dalam kurun waktu yang satu in.


Seperti yang sempat kami sampaikan sebelumnya, tidak ada sisi aksi di Gone Home. Usaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi hanya direpresentasikan dari segudang item yang tercecer di keseluruhan rumah. Jalinan surat, foto, majalah, file, hingga beberapa rekaman audio akan menjadi satu-satunya clue Anda untuk mengetahui nasib Samantha dan kedua orang tua Anda. Yang Anda harus lakukan hanyalah membaca, membaca, membaca, mendengar, dan kemudian lebih banyak membaca. Aktivitas ini perlahan namun pasti akan berujung pada satu ujung reward yang sama – mengenal seorang Samantha.
Tak kenal maka tak sayang, ini mungkin ungkapan yang cocok untuk mendefinisikan pengalaman Gone Home yang sebenarnya. Ada begitu banyak tanda tanya di awal permainan, ketika Anda masuk ke dalam rumah. Kebebasan untuk masuk ke dalam ruang yang ada dan sudut berbeda memaksa Anda untuk membangun analisa pemikiran, setidaknya untuk menemukan benang merah dari setiap rangkaian clue yang ditawarkan – khususnya berkaitan dengan sosok Samantha maupun kedua orang tua Anda. Sang developer tampaknya ingin mengalihkan perhatian Anda dengan berusaha menciptakan atmosfer horror yang kental. Tidak hanya kondisi rumah yang menyeramkan, beberapa clue seolah didesain untuk menarik opini dan pemikiran Anda pada kesimpulan yang mistis atau bahkan cenderung, thriller. Pikiran gila mengemuka, mungkinkah Samantha dibunuh oleh hantu penunggu? Atau bunuh diri? Atau jangan-jangan telah terjadi perampokan dan ia tewas di suatu tempat? Pertanyaan-pertanyaan ini secara konstan hilir mudik di pikiran Anda, sampai Anda akhirnya menangkap esensi yang sebenarnya.


Gone Home adalah sebuah kisah untuk mengenal sosok Samantha secara personal, apa yang sebenarnya ia hadapi, apa yang tengah terjadi, dan apakah kita harus khawatir atau tidak. Secara menakjubkan, konsep gameplay yang ditawarkan Fullbright ini berhasil mencapai tujuan utama tersebut. Seperti tengah berusaha mengenal sosok saudara kandung Anda sendiri, kacamata Kaitlin membawa Anda pada sebuah konflik keluarga realistis yang mungkin harus dihadapi oleh orang-orang terdekat di sekitar kita.
Sebelum Anda Memainkannya…….

Sebuah game tanpa sisi aksi sama sekali dan hanya sekedar membaca clue dari satu tempat ke tempat lainnya bukanlah formula yang mungkin terdengar dan terasa menyenagkan bagi gamer-gamer mainstream. Tidak ada peluru yang harus Anda muntahkan atau pukulan yang harus Anda lontarkan, tidak ada pula potongan tubuh atau kolam darah di Gone Home ini. Ini adalah sebuah perjalanan dramatis yang personal untuk mengenal satu sosok karakter fiktif yang bahkan tidak pernah terlihat sosoknya sama sekali. Keunikan inilah yang dijual Gone Home.
Oleh karena itu, untuk memastikan diri Anda dapat menikmati game yang satu ini dan menuai pengalaman dramatis optimal yang ia usung, ada beberapa catatan yang pastinya harus Anda penuhi terlebih dahulu:
1. Memahami Bahasa Inggris.
Standar ini mungkin tidak terlalu esensial ketika Anda mencicipi game action yang memang menekankan pada sensasi gameplay yang ada. Apalagi plot divisualisasikan matang lewat cut-scene sinematik, sehingga Anda masih bisa mengerti walaupun tidak fasih berbahasa Inggris. Namun di Gone Home? Untuk sebuah game yang dibangun dari jalinan surat dan clue tertulis, tidak mengerti apa yang diceritakan sama saja dengan tidak memainkan game ini sama sekali.
2. Pastikan Headset yang Mumpuni.
Atmosfer mencekam, kesunyian, dan alunan musik yang menemani Anda sudah pasti akan memperkuat pengalaman Gone Home ini.

3. Open-minded.
Apa hubunganya berpikiran terbuka dengan sebuah video game? Karena pada dasarnya game ini mengandung tema utam kontroversial yang mungkin tidak cocok dengan “nilai” yang selama ini ditanamkan kepada kita, sebagai manusia Indonesia.
4. Sabar dan teliti.
Tidak ada paksaan untuk membaca setiap clue yang ada di dalam sebuah ruangan. Anda hanya butuh beberapa clue standar untuk dapat melanjutkan progress cerita yang ada. Walaupun demikian, tergesa-gesa justru akan menghancurkan potensi unik yang ditawarkan oleh Gone Home. Akan jauh lebih baik jika Anda secara teliti menyisir setiap sudut ruangan, membaca setiap clue dengan sabar, dan menciptakan benang merah untuk menangkap Gone Home secara maskimal.
5. Habiskan dalam Sekali Jalan.
Kebutuhan untuk menciptakan atmosfer yang immersive juga terhitung esensial. Dengan waktu gameplay yang begitu singkat, akan jauh lebih menggugah jika Anda langsung menyelesaikan game ini begitu Anda memutuskan untuk memulainya. Berhenti dan kemudian melanjutkan lagi di masa depan akan mencederai pengalaman yang Anda inginkan. Semakin sunyi, semakin terserap, semakin Anda merasa bahwa diri Anda adalah Kaitlin, semakin kuat juga sensasi ini.









