Review GTA V (New-Gen): Game Sama, Pengalaman Beda!

Reading time:
November 27, 2014
Grand Theft Auto V_20141118205634

Rasa skeptis tentu saja selalu menyelimuti setiap usaha publisher untuk merilis ulang game andalan  mereka dalam format “HD Remaster” yang selama ini diasosiasikan dengan sekedar peningkatan kualitas visual. Namun reaksi pasar membuat semua kritik ini terasa tidak lagi relevan, apalagi setelah kesuksesan Tomb Raider: Definitive Edition dan The Last of Us: Remastered yang disambut dengan respon positif. Beberapa developer seperti 4A Games, misalnya, bahkan merombak ulang game lawas – Metro 2033 dengan engine ternyar dan berhasil tampil sangat memukau. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika antisipasi sama besarnya ditujukan bagi mahakarya dari Rockstar – GTA V yang akhirnya tiba di Playstation 4 dan Xbox One, dengan versi PC menyusul awal tahun 2015 mendatang. Kesempatan untuk mencicipi game open-world terbaik dengan kualitas visual yang lebih optimal.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah mendapatkan sedikit gambaran nilai jual seperti apa yang ditawarkan oleh GTA V versi new-gen ini. Kemampuan Playstation 4 dan Xbox One yang lebih mumpuni memungkinkan Rockstar untuk merombak kualitas visual yang cukup signifikan, dengan ekstra tekstur definisi tinggi dan detail karakter yang lebih baik. Tidak hanya itu saja, hadirnya elemen depth of field, padatnya kota, dan semakin kayanya eksosistem di alam liar Los Santos kian memperkuat sensasi generasi terbaru ini. Namun ada yang berbeda dari GTA V versi new-gen dari sekedar GTA V yang pernah Anda cicipi di versi Playstation 3 dan Xbox 360 dulu. Dari kulit luar ia mungkin terlihat sebagai game yang sama, namun begitu dicicipi, Anda akan berhadapan dengan pengalaman yang cukup berbeda.

Lantas apa yang sebenarnya ditawarkan oleh GTA V new-gen ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game sama dengan pengalaman berbeda? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Our Review

GTA V jagatplay PART 2
Perbedaan konten dan mekanik gameplay dasar yang tidak banyak berbeda dibandingkan dengan versi generasi sebelumnya membuat review versi generasi sebelumnya dari JagatPlay tetap relevan untuk menjelaskan kekuatan dan kelemahan game ini.

Untuk Anda yang cukup mengikuti sepak terjang JagatPlay, GTA V sendiri sudah sempat kami review di akhir tahun 2013 yang lalu – dengan impresi yang sangat positif pula. Kami juga tidak segan untuk menobatkannya sebagai game open-world terbaik yang kami cicipi, bahkan mampu menawarkan kualitas yang belum mampu disentuh oleh proyek serupa seperti Watch Dogs dari Ubisoft sekalipun. Dengan konten cerita dan varian misi yang tidak banyak berbeda dibandingkan versi sebelumnya, review tersebut tampaknya masih sangat relevan dengan versi new-gen ini. Review GTA V versi Playstation 3 dan Xbox 360 ini sendiri meluncur pada 23 September 2013 yang lalu.

“GTA V tidak perlu diragukan lagi merupakan game open-world terbaik yang pernah hadir di industri game. Ia bahkan bisa dikatakan mendefinisikan ulang genre ini secara keseluruhan, menawarkan sebuah standar baru akan konsep “dunia yang bebas” dengan kualitas yang tidak mudah untuk ditundukkan. Kehadiran tiga karakter utama tidak hanya menawarkan inovasi gameplay yang baru, tetapi juga cara bercerita dan menawarkan plot yang terhitung unik. Kesempatan untuk menghadirkan pengalaman bermain yang lebih intens juga hadir lewat aksi kejahatan dengan skala yang lebih besar di Heist, dimana tidak hanya mengeksekusi, Anda juga dilibatkan dalam proses perencanaan dan pemilihan kru di dalamnya. GTA V melemparkan semua formula kejahatan skala besar ala film Hollywood dalam genggaman tangan Anda. Dipadukan dengan visualisasi mumpuni penuh detail, musik, dan segudang aktivitas yang bisa Anda lakukan di dalamnya, GTA V memfasilitasi harapan dan keinginan Anda untuk menikmati sebuah game open-world sesungguhnya.

Namun sayang seribu sayang, GTA  V tidak sesempurna yang dibayangkan. Ada beberapa elemen yang justru menyimpang dari ekspektasi yang ada, apalagi setelah “kemewahan” yang ia tawarkan dari sejumlah screenshot dan trailer yang memesona. Salah satu yang paling fatal? Heist sendiri. Walaupun mekanisme ini menghadirkan ilusi peran tiga serangkai yang lebih signifikan di dunia kriminal, namun fakta bahwa ia hadir sebagai bagian dari misi dan tidak bisa secara bebas dieksekusi menjadi pukulan tersendiri. Padahal sejak awal, trailer GTA V seolah memberikan impresi bahwa Anda memiliki kebebasan untuk memulai dan merencanakan Heist untuk merampok Bank atau toko perhiasan manapun yang Anda inginkan dan tentu saja mengumpulkan darinya. Sayangnya, Heist justru menjadi bagian progress cerita saja dan tidak ditawarkan sebagai bagian dari side mission.

Kelemahan lainnya ada pada usaha Rockstar untuk menyuntikkan sedikit “kegilaan” di dalam GTA V, yang menurut kami, justru mencederai usaha mereka untuk membangun sebuah konsep dunia yang mengakar pada realitas. Alien dan badut-badut menyeramkan sebagai akibat dari konsumsi narkotika masih terhitung sebuah konsep yang bisa diterima. Namun begitu Anda masuk ke dalam misi Rampage dari Trevor, semua ilusi plot yang mengakar pada dunia yang realistis seolah sirna begitu saja. Apa pasal? Sekuat, segila, dan se-badass apapun Trevor, ia tetap tidak mungkin cukup kuat untuk menahan gempuran ratusan peluru senapan mesin bahkan menaklukkan beberapa tank seorang diri dengan pelontar granat. Sebuah blunder yang terhitung fatal, walaupun misinya sendiri memang cukup menyenangkan untuk ditaklukkan.

Namun terlepas dari dua kekurangan utama ini, Rockstar berhasil membuktikan bahwa biaya produksi sebesar USD 256 juta yang mereka gelontorkan memang menghasilkan sebuah mahakarya yang luar biasa, sebuah game open-world yang tidak diragukan lagi, merupakan yang terbaik di kelasnya. Sebuah definisi kebebasan yang baru, sebuah standar kualitas yang tidak mudah ditundukkan, sebuah monumen bagaimana inovasi selalu menjadi nilai jual game yang efektif. Bravo Rockstar, Bravo GTA V!”

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…