Review AC Unity – Dead Kings: Untung Saja Gratis!
Tambahan Konten yang Tidak Signifikan

Untuk sebuah DLC yang sempat direncanakan akan berbayar, dengan harga yang cukup tinggi, tentu saja menjadi sesuatu yang rasional bagi kita untuk mengantisipasi konten yang bermakna kuat untuk Dead Kings ini. Tidak harus menawarkan perubahan gameplay signifikan atau sejenisnya, sebuah cerita yang memperluas peran dan identitas Arno sebagai seorang Assassin saja seharusnya sudah cukup untuk memberikan justifikasi bagi gamer untuk melirik DLC yang satu ini. Namun apa yang akan Anda dapatkan? Sebuah kelegaan. Kelegaan yang muncul bukan karena DLC ini memenuhi semua harapan Anda, tetapi fakta bahwa Anda terhindar dari upaya Ubisoft untuk menarik uang lebih banyak tanpa konten yang sepadan. Ada kelegaan bahwa Anda bisa menikmati konten ini secara cuma-cuma, dengan perspektif yang lebih negatif.


Dengan kota yang lebih kecil dan konten side mission yang lebih sedikit, AC Unity – Dead Kings ini masih menawarkan nilai jual yang sudah menjadi kekuatan di seri utamanya. Kualitas visualisasi mumpuni dan tata cahaya yang memanjakan mata masih Anda temukan di sini, apalagi dengan beberapa detail landmark yang ada. Namun dari sisi konten, Anda tidak bisa banyak berharap lebih. AC Unity – Dead Kings ini bisa dibilang sebagai pot peleburan antara beragam nilai jual Unity di dalam satu misi yang sama. Anda masih akan berhadapan dengan misi yang berfokus pada aksi stealth, menguntit target tertentu, bertempur terbuka, dan tentu saja – segudang puzzle yang bisa diselesaikan dengan sedikit memeras otak. Side mission tambahan yang ditawarkan juga tidak memberikan nilai tambah yang signifikan. Dead Kings masihlah Assassin’s Creed Unity yang Anda kenal, hanya dengan setting dan cerita yang berbeda.



Ubisoft memang terlihat berupaya untuk menawarkan sesuatu yang baru lewat konsep Lantern. Dengan misi yang lebih berfokus pada sosok Arno yang kini dipaksa untuk berpetualang di terowongan bawah tanah dan makam yang gelap, ia kini akan dilengkapi dengan sebuah lentera sebagai sumber cahaya. Namun bukan sekedar untuk cahaya, lentera juga bisa dihidupkan atau dimatikan secara manual untuk mengusir beragam binatang kecil yang mungkin menghalangi gerak jalan utama Anda, seperti tikus, serangga, hingga kelelawar. Lentera ini juga jadi ujung tombak beberapa mekanisme puzzle terbaru, dari sekedar menyalakan sumber cahaya dalam runtut tertentu, hingga mencari jalan alternatif agar memastikan lentera Anda tidak jatuh ke dalam air. Sebuah mekanisme sederhana yang sayangnya, tidak berkontribusi banyak. Lentera ini tidak memberikan dampak apapun.



Sementara dari sisi aksi Arno, tidak banyak hal juga yang bisa Anda harapkan. Satu-satunya yang keren dari DLC ini adalah hadirnya senjata baru yang lebih mematikan untuk Anda gunakan – Guillotine Gun. Persepsi Anda salah besar jika Anda membayangkan sebuah senjata dengan ujung tajam untuk memenggal kepala musuh yang sayangnya, tidak diperkenankan di gameplay AC Unity. Guillotine Gun adalah perpaduan kapak dua tangan dan sebuah senjata mortar mobile, layaknya grenade launcher untuk mencederai musuh dalam skala besar secara instan. Desain yang keren dan fungsi yang menyenangkan untuk digunakan adalah nilai jual senjata ini. Namun jika Anda berharap sebuah sensasi historis Revolusi Perancis yang lebih rasional, eksistensi senjata ini justru kian menjauhkan AC Unity dari kesan tersebut.


Tambahan konten yang tidak signifikan ini kian diperparah dengan tantangan yang juga tidak sebanding. Varian musuh baru di AC Unity: Dead Kings, para Raiders yang diposisikan sebagai penjarah makam justru tampil jauh lebih mudah dibandingkan musuh-musuh yang Anda hadapi di seri Unity original. Hadir dengan jumlah HP yang lebih kecil dan aksi block yang jarang, Anda bisa membunuh setiap dari Raiders ini secara instan tanpa mengalami kesulitan berarti. Tantangan ekstra baru muncul jika mereka hadir dalam jumlah banyak dan menyerang Anda dengan serangan yang timing Counter-nya, memang jauh lebih pendek daripada varian musuh Arno yang lain. Satu yang pasti, tidak ada seru-serunya membunuh para “penduduk” yang hadir seolah tanpa perlawanan ini.

Jadi apa yang bisa ditarik dari AC Unity – Dead Kings ini? Bahwa ini adalah usaha Ubisoft untuk mendapatkan ekstra uang yang gagal. Penambahan pengalaman yang tidak signifikan, konten yang tidak banyak berubah, cerita yang terkesan dipaksakan, tidak ada satupun elemen yang akan membuat Anda jatuh hati dengan DLC yang satu ini. Jika ada satu komentar yang bisa keluar dari DLC ini? “Untung saja gratis!”. Karena jika Anda harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan hal seperti ini? Ada begitu banyak game indie atau lawas yang lebih pantas untuk menerima “sumbangan” uang Anda tersebut.
Dua Bulan Setelahnya..

Pertanyaan lain yang juga memancing rasa penasaran tentu berkisar pada seberapa efektif proses perbaikan yang dilakukan oleh Ubisoft untuk Assassin’s Creed Unity ini. Memainkannya di Playstation 4, beberapa patch berukuran besar memang sudah sempat dilontarkan, termasuk yang berukuran lebih dari 6 GB beberapa waktu yang lalu. Size Dead Kings sendiri berkisar 8 GB, data yang cukup besar untuk sebuah game yang sebenarnya bisa diselesaikan di bawah 3 jam, jika Anda termasuk gamer yang lebih senang mengejar cerita utama. Lantas, bagaimana sensasi Unity setelah kami kembali ke Paris? Apakah ada perbaikan yang signifikan seperti yang selama ini dijanjikan?
Sayangnya, semua jawaban ini harus berakhir dengan kata “Tidak”, terutama dari sensasi kami mencicipi Dead Kings hingga selesai. Framerate mungkin terasa lebih stabil, namun tetap mengalami penurunan yang membuat permainan tidak nyaman ketika memosisikan Arno di tengah pertempuran atau aksi tertentu. Masalah-masalah klasik AC Unity seperti gerak para NPC yang tidak realistis, seperti berjalan di atas tumpukan barrel atau muncul di permainan tiba-tiba, masih terlihat. Salah satu yang paling menyedihkan adalah munculnya beberapa glitch dalam permainan. Kami sempat bertempur melawan salah satu musuh yang memutuskan untuk diam dan sekedar melihat, ketika kapak Guillotine Gun kami bersarang di leher teman-temannya. Agak mengecewakan melihat bahwa masalah masalah seperti ini masih muncul setelah beragam klaim yang dilemparkan Ubisoft selama beberapa bulan terakhir ini.


Dua bulan setelahnya, dan mereka juga masih belum punya formula yang tepat untuk menawarkan sensasi Assassin’s Creed yang berbeda. Dead Kings masih soal membuka peta, menyelesaikan side mission yang masih berkisar soal membuntuti atau membunuh orang, dan konklusi cerita yang tidak kuat. Jika mereka ingin mengembalikan supremasi Assassin’s Creed sebagai salah satu game open world terbaik di pasaran, Ubisoft punya banyak pekerjaan rumah yang besar. Assassin’s Creed Victory akan jadi ajang pembuktian, sebuah medan perang yang menarik untuk diikuti di tahun 2015 ini.










