JagatPlay NgeRacau: 10 Alasan Harus Pacaran Dengan Gamer!

Reading time:
March 12, 2015

Gamer = Low-Quality Jomblo?

waiting

Gua pribadi sebenarnya sangat sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sama gamer, khususnya di Indonesia, khususnya lagi – yang masih berada di kisaran umur remaja? Mengapa status lu sebagai seorang yang cukup “nerdy” untuk permainan hiburan digital ini bisa jadi semacam bumerang buat lu buat dapetin dan nyari gebetan, wanita / pria yang jadi pujaan hati lu? Mengapa seperti seorang tukang obat misterius di Monas yang berteriak keras “Jualan obat mujarab! Jualan obat mujarab!”, kita – gamer terlihat seperti kelompok putus asa yang harus-menerus mendengungkan ke dunia “KAMI INI CALON SUAMI POTENSIAL?”. Mengapa harus terus terlihat seperti low-quality jomblo tanpa nilai jual yang cuman bisa merengek, merengek, dan merengek?

Absurd? Tentu saja. Karena lu enggak pernah pernah ngelihat ada artikel “10 Alasan Kenapa Lu Mesti Pacaran Sama Dokter”, “10 Alasan Kenapa Lu Mesti Kawin Sama Seniman”, atau “10 Alasan Kenapa Lu Mesti Pacaran Dengan Satpam Kompleks”. Yang terus lu dengar adalah, kenapa mesti pacaran dengan gamer, kenapa mesti kawin sama gamer, kenapa lu butuh ngelirik gamer, dll. Kalau ada satu hal yang gua pelajarin dari ilmu ekonomi semasa SMA dulu, ini semacam media promosi. Dan biasanya dua alasan yang akhirnya mendorong kenapa perusahaan akhirnya terus-terusan buat promosiin produk tertentu: Pertama – karena ini produk baru dan butuh dikenalin ke masyarakat biar terasa familiar. Kedua – karena simply, enggak laku aja makanya butuh lebih banyak eksposure.

Kalau ngelihat yang terjadi sama gamer yang udah lama eksis di Indonesia, sepertinya alasan kedua yang lebih ditekanin. Walaupun kisah cinta gua enggak seindah itu zaman SMP atau SMA, namun gua enggak pernah denger ada satupun gamer yang ngerasa jomblo dan butuh justifikasi biar dilirik hanya karena statusnya sebagai gamer. It’s either you out of luck, ada kompetitor yang memang lebih baik buat menangin hati gebetan elu, atau simply lu memang belum pantas aja. It’s that simple.

Lantas, salah siapa status gamer sekarang seolah dilihat sebagai seorang low-quality jomblo? Daripada nyalahin masyarakat, gamer di Indonesia seharusnya lebih bercermin ke kelompok mereka sendiri. Ketika artikel seperti “10 alasan” seperti ini meluncur, dan gamer langsung berpartisipasi aktif dan ikut “mengiyakan”, yang terjadi adalah sebuah pemandangan yang menyedihkan. Sebuah kondisi dimana gamer terasa seperti anak-anak ababil haus kasih sayang, yang cuman bisa ngeluh di dunia maya bagaimana mereka yang “katanya” setia, bertanggung jawab, pinter, dan hemat bisa berakhir enggak punya pacar? Keluhan-keluhan di mulut yang gak pernah diikuti sama aksi, sikap, atau langkah progresif apapun. Semua orang bisa ngeluh, semua orang bisa bacot. Yang benar-benar bisa mastiin dia enggak bakal ngeluh keluhan yang sama? Nah, itu butuh attitude.

Sekarang situasinya kita balik deh. Anggap aja deh yak, elu itu cowok super ganteng di sekolah yang bisa bikin cewek manapun jatuh hati. Kebetulan, ada dua cewek gamer hardcore yang deketin lu, dan lu tertarik sama keduanya. Satunya secara aktif ngobrol sama lu, bantuin lu, berusaha berteman dekat sama lu dengan pendekatan yang sehat, sembari nunjukin betapa menarik dan menyenangkannya game-game yang lagi dia mainin secara proporsional. Sementara yang satunya lagi terlihat seperti singa kelaparan, enggak pernah ada effort buat actually bina hubungan baik sama lu, yang secara terus-menerus ngeluh di media sosial bahwa status gamernya bikin dia gak bisa punya cowok, terus ngeshare artikel “10 alasan mesti pacaran dengan gamer”, ngomong via temen kalau dia suka sama elu, dan secara enggak langsung ngelirik elu dari jauh. Which one did you chose? Gua rasa jawabannya jelas.

So, gamer itu low quality jomblo? Jika lu termasuk gamer yang keep b*tching about it and do nothing, then yes. Tapi kalau lu ngehadapinnya dengan effort, sekecil apapun dan gak sekedar “meratapi nasib”? Then no. High quality atau low quality jomblo? Semuanya bergantung pada cara kita menyikapi kejombloan kita sendiri.

Let’s Talk About Facts!

suicide1

10 Alasan Mengapa Lu Mesti Pacaran sama Gamer? Semua alasan yang sebenarnya enggak lebih dari sekedar nge-drive ego lu ke level yang lebih tinggi, yang justru bisa berakhir bahaya. Kalau lu termasuk gamer “ababil” yang enggak ngecek fakta dulu sebelum setuju, lu bisa aja berakhir tiba-tiba ngerasa kalau lu status “Gamer” itu bikin lu kini termasuk kategori kelompok masyarakat yang lebih superior. Kalau game itu bikin lu lebih bisa multi-tasking, lebih strategis, lebih hemat, pokoknya – lebih sempurna. Padahal nyatanya, enggak. Kadang butuh tamparan kencang, biar lu enggak terbang tinggi enggak jelas, biar elu, bisa mulai belajar mijak tanah lagi.

Let’s talk about facts.

Gua tahu bahwa sebagian besar artikel ini memang ditulis buat sekedar senang-senang doank. Tapi bagaimana kalau diposisikan lebih serius? Maka, lu bisa mengacu ke serangkaian penelitian yang secara scientific memang ngebahas efek positif dari sebuah video game. Sejauh ini, enggak ada satupun video game yang bisa ngehasilin efek di atas. Sejauh yang gua pribadi tahu, beberapa efek positif gaming yang sudah dikonfirmasiin dan disetujuin adalah kemampuan koordinasi mata-tangan yang lebih baik, kemudahan belajar bahasa asing, mudah mengambil keputusan, dan problem solving. Bahkan untuk hal yang esensial macam agresivitas pun, penelitian masih terbagi ke dua kubu – yang setuju bahwa video game bisa mengurangi dorongan tersebut dan yang setuju bahwa video game justru memperkuatnya. Sementara yang lain? Setahu yang gua tahu, nope.

Mengacu pada salah satu list yang dibuat di forum terbesar di Indonesia yang ternyata menyadur dari salah satu media nasional raksasa, kita mungkin harus bertanya sama diri sendiri apa memang benar video game bikin kita jadi manusia yang lebih baik? I tend to disagree kalau ngelihat apa yang terjadi sama hidup gua sendiri sebagai seorang gamer.

1. Gamer Jago Multitasking?

“Menghabiskan waktu berjam-jam memainkan video game memang menjadi salah satu kekurangan gamer. Jangan takut, ia tidak akan menjadikan video game sebagai ‘pacar’nya, meskipun tangan dan matanya sibuk memainkan video game. Ia tetap akan update apa saja kegiatanmu pada hari ini. Pastinya, hal ini akan membuatnya terbiasa melakukan hal secara multitasking. Tak hanya mendengar ceritamu, mungkin ia juga bisa membantumu melakukan hal lainnya sambil bermain game! Hebat, bukan?”

The fact is:

Pacar: “Hey sayang, lagi ngapain?”
Gamer: “Bisa chat entar, lagi war DOTA, entar hubungin lagi”
Pacar: “Okay..”

Pacar: “Yang, kamu tahu enggak, tadi aku tuh..”
Gamer: (pura-pura dengar)
Pacar: “…….gitu yang..”
Gamer: “Oooooo.. terus?”
Pacar: “Ya terus gitu deh, si A……
Gamer: (ngangguk-ngangguk sambil lihat monitor)
Pacar: “….., wajar donk aku kesel!”
Gamer: Wajar banget.. (dengan wajah yang masih liatin monitor)

Yeah, we all sucks at multi-tasking. Mengapa? Karena gaming adalah aktivitas yang butuh perhatian sangat besar untuk dinikmati dan diselesaikan. Kalau lu ngerasa lu bisa main game sambil dengerin celotehan orang tua atau sambil ngerjain PR, kesimpulannya cuman satu – you sucks at gaming.

2. Gamer Belajar Hemat?

Yups, karena beli game original yang bisa ditamatin dengan harga Rp 650.000/ keping adalah tindakan super hemat. Yups, karena keinginan buat upgrade RIG PC dengan VGA baru yang harganya 5 juta / unit itu tindakan hemat. Yups, karena beli televisi HD baru biar game konsol new-gen lebih optimal senilai 7 juta / unit itu tindakan hemat.

3. Gamer Tidak Gaptek?

Punya pacar gamer yang gaptek? Sepertinya Anda harus menanyakan kembali apakah pacar Anda benar-benar suka main game apa tidak, karena pada umumnya para gamer tahu spesifikasi mesin konsol yang mereka mainkan.”. Let me test you guys, berapa banyak dari lu yang tahu spesifikasi Playstation 4 dan Xbox One lengkap? Gua pribadi enggak tahu, that’s why gua gaptek.

4. Gamer Penuh Strategi?

Yups, karena semua jenderal militer di baris depan medan perang semuanya gamer.

5. Gamer Tidak Posesif dan Tidak Cemburu?

Yups, karena semua gamer ngerasa sangat secure ketika gebetan yang ia incar dideketin sama cowok / cewek yang enggak main game, terlihat lebih outgoing, dan lebih baik? Sementara di sisi lain, ia terus menerus terkunci di kamar buat nikmatin game-game baru yang ia baru beli tanpa nyediaiin waktu lebih banyak buat si gebetan? So secure..

6. Gamer itu Penyabar?

GGWP noobs, Pinoy sucks. Valve should make your own server. EZ MMR! Go f*ck your mom!*. Yups, penyabar.

7. Gamer itu “Nyambung” Jika Diajak Ngobrol

Beruntunglah jika Anda juga seorang gamer. Ketika Anda berpacaran dengan gamer dan membicarakan hal yang disukai pasti akan terasa seru dan lupa waktu. Ia dan Anda akan merasakan serunya berpacaran dengan membicarakan game-game yang menarik, membicarakan karakter, gameplay, hambatan apa yang sedang dialami dan banyak hal lainnya.” = bukankah pernyataan ini berlaku untuk semua jenis pasangan dengan hobi yang sama? Fotografer itu nyambung kalau pacaran sama fotografer lain. Animator itu nyambung jika diajak ngobrol sama animator lain. Satpam kompleks juga nyambung kalau diajak ngobrol sama satpam kompleks yang lain. Logic.

8. Gamer itu Pantang Menyerah?

Yups, silakan yang baca artikel ini, yang akhirnya memutuskan terus berjuang untuk dapatin gebetan yang dia incer, gak takut duluan ngeliatin kompetitor lain yang lebih matang, dan berhasil dapetin pujaan hati? SILAKAN TUNJUK TANGAN!

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…

PlayStation

September 14, 2021 - 0

Review DEATHLOOP: Kesenangan Berulang, Berulang, Berulang!

Kami yakin sebagian besar dari Anda tentu saja sudah familiar…
September 8, 2021 - 0

Review Tales of Arise: Dahaga yang Terpuaskan!

Salah satu seri JRPG yang paling konsisten lahir di industri…
August 27, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yasuhiro Kitao (Elden Ring)!

Impresi pertama yang begitu kuat dan mengagumkan, tidak ada lagi…
August 27, 2021 - 0

Impresi Elden Ring: Souls dengan Rasa Berpetualang!

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama From Software saat…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…