Review Dragon Ball Xenoverse: Melelahkan!

Reading time:
March 18, 2015

Berfokus Karakter Racikan Sendiri

Ada beragam variasi ras dengan kelebihan dan kekuatan mereka masing-masing sebagai basis karakter racikan Anda sendiri.
Ada beragam variasi ras dengan kelebihan dan kekuatan mereka masing-masing sebagai basis karakter racikan Anda sendiri.

Salah satu konsep yang secara mengejutkan berhasil dieksekusi dengan baik oleh Dragon Ball Xenoverse adalah fakta bahwa tidak seperti seri-seri sebelumnya yang meminta Anda untuk berperan sebagai karakter protagonis utama dalam cerita, Anda kini diminta untuk menyelamatkan semesta dengan karakter racikan Anda sendiri. Dengan modifikasi penampilan yang cukup bervariasi, Anda bisa membangun karakter yang cukup terasa personal. Bagian terbaiknya? Dragon Ball Xenoverse juga menyediakan cukup banyak variasi ras seperti Earthlin, Majin, Namekian, Saiya, dan Frieza yang masing-masing hadir dengan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri-sendiri. Kami sendiri memilih seorang karakter Saiyan wanita untuk memuaskan rasa penasaran yang tidak pernah bisa didapatkan dari versi manga atau anime-nya.

Karakter ini adalah nyawa Anda, kunci dari semua pengalaman yang ingin ditawarkan oleh Dragon Ball Xenoverse. Sangat menarik untuk melihat bagaimana karakter “asing” yang keluar dari imajinasi Anda ini ternyata berhasil menemukan tempatnya sendiri dalam saga Dragon Ball yang epik. Berjalan melintasi waktu dan berusaha membenahi cerita Dragon Ball yang selama ini Anda kenal, Anda juga akan bertemu dengan beberapa intepretasi plot “baru” yang mengundang tawa. Kebebasan yang dimiliki oleh Dimps untuk memodifikasi cerita sekehendak hati mereka berujung pada banyak momen memorable yang pantas diacungi jempol. Sebagai contoh? Ketika Ginyu berhasil mendapatkan tubuh Vegeta, misalnya, dengan menggunakan jurus tukar tubuhnya yang ikonik. Melihat Vegeta bergaya ala Ginyu Forces cukup untuk membuat kami tersenyum lebar.

Menarik melihat bagaimana karakter Anda bisa masuk ke dalam saga cerita Dragon Ball itu sendiri.
Menarik melihat bagaimana karakter Anda bisa masuk ke dalam saga cerita Dragon Ball itu sendiri.
Dimps juga tampaknya tidak menahan diri untuk mengeksploitasi kebebasan cerita yang bisa mereka tawarkan. Beberapa menghasilkan momen yang cukup mengundang tawa dan memorable.
Dimps juga tampaknya tidak menahan diri untuk mengeksploitasi kebebasan cerita yang bisa mereka tawarkan. Beberapa menghasilkan momen yang cukup mengundang tawa dan memorable.

Namun tidak hanya sekedar dari sisi cerita saja, bahkan semua elemen gameplay yang ditawarkan Dragon Ball Xenoverse berujung pada satu muara yang sama – memperkuat karakter utama yang Anda racik sendiri. Serangkaian quest dan side quest yang ditawarkan akan berujung pada akumulasi jumlah experience points dan uang yang diperlukan untuk memperkuat karakter Anda ini. Untuk setiap kenaikan level, Anda bisa mendistribusikan skill points ke beragam atribut yang ada.

Sayang seribu sayang, dari sini rasa frustrasi ketika memainkan Dragon Ball Xenoverse sudah muncul. Apa pasal? Terlepas dari ragam atribut yang bisa dibangun untuk karakter Anda, DB Xenoverse terhitung gagal mengkomunikasikan kepada Anda sebenarnya efek seperti apa yang dihasilkan oleh setiap atribut ini. Ini bukan seperti game action RPG, dengan elemen seperti Strength, Luck, atau Dexterity yang sudah dikenal dan digunakan secara luas. Bagaimana caranya Anda membangun karakter Anda sesuai dengan kebutuhan dan gaya bermain Anda jika Anda sendiri tidak tahu efek seperti apa yang sebenarnya dihasilkan jika berfokus pada gaya min-max untuk satu dari 6 atribut yang ada: Health, Ki, Stamina, Basic Attacks, Strike Supers, & Ki Supers.

Memperkuat karakter Anda adalah inti dari Xenoverse. Yang sayangnya, gagal dikomunikasikan secara efektif oleh game ini sendiri.
Memperkuat karakter Anda adalah inti dari Xenoverse. Yang sayangnya, gagal dikomunikasikan secara efektif oleh game ini sendiri.
Beragam equipment yang bisa Anda kumpulkan untuk memperkuat diri.
Beragam equipment yang bisa Anda kumpulkan untuk memperkuat diri.

Walaupun Anda bisa menggunakan karakter yang berbeda untuk menyelesaikan beragam side quest yang ada, progress cerita utama tetap hanya bisa diselesaikan dengan karakter yang Anda racik. Oleh karena itu, memperkuat mereka menjadi sesuatu yang esensial. Selain meningkatkan atribut, Anda juga bisa menyematkan variasi equipment dengan efek unik masing-masing untuk mendukung atribut yang Anda prioritaskan. Tidak hanya itu saja, ada serangkaian variasi jurus yang Anda sematkan dan item untuk menyembuhkan status tertentu yang bisa Anda bawa setiap kali bertarung. Pada intinya, Dragon Ball Xenoverse akan berputar pada satu kata kunci – penguatan karakter racikan Anda. Itu saja. Semua proses grinding yang terpaksa Anda lewati berujung ada pada satu tujuan ini.

Mengesalkan dan Melelahkan!

Gameplay Xenoverse sendiri sebenarnya solid dan menyenangkan, tapi.......
Gameplay Xenoverse sendiri sebenarnya solid dan menyenangkan, tapi…….

Secara garis besar, Dragon Ball Xenoverse sebenarnya menawarkan mekanisme gameplay yang cukup mumpuni untuk merepresentasikan genre fighting yang ia usung. Anda memang tidak akan bertemu dengan pendekatan sinematik seperti di seri Dragon Ball sebelumnya, dimana pertarungan kini berjalan lebih cepat dan aktif. Ia mudah dikuasai, namun juga bisa didalami dengan tingkat kompleksitas tertentu. Seperti biasa, ada beberapa elemen bar yang perlu diperhatikan seperti Stamina untuk menghindar dari serangan musuh atau Ki yang butuh dikorbankan untuk mengeluarkan serangan ultimate yang destruktif atau sekedar serangan Ki biasa. Pertempuran sendiri berjalan di sebuah arena tiga dimensi yang terhitung luas, dengan kebebasan untuk bergerak secara horizontal maupun vertikal.

Mekanisme pertarungan yang ia usung memang terhitung menyenangkan. Anda dipaksa untuk melancarkan kombinasi serangan kreatif Anda sendiri untuk menghasilkan damage besar sesingkat-singkatnya. Sementara bagi yang diserang, mencari timing untuk melakukan serangan balik menjadi sesuatu yang esensial. Namun apakah ia berhasil menangkap atmosfer pertempuran ala anime Dragon Ball dengan tepat? Secara kecepatan, iya. Namun secara visual? Sayangnya, tidak. Peralihan menuju ke konsol generasi terbaru tidak lantas membuat Xenoverse bisa menangkap esensi dramatis setiap pertempuran dengan tepat. Beberapa efek yang seharusnya tampil dalam format yang “wah”, seperti serangan kamehameha atau peralihan menjadi Super Saiyan yang harusnya menggemparkan terlihat begitu biasa. Parahnya lagi? Peningkatan performa tetap tidak memungkinkan efek kehancuran pada arena “bermain” Anda. Bangunan tidak hancur, gunung tidak runtuh, tidak ada lubang raksasa ketika serangan bola sinar Anda meleset. Mengecewakan, tentu saja.

Pertarungan berjalan cepat seperti seharusnya sebuah game Dragon Ball.
Pertarungan berjalan cepat seperti seharusnya sebuah game Dragon Ball.
Namun sayangnya secara visual, ia gagal menangkap atmosfer Dragon Ball yang seharusnya. Kehancuran  besar permanen yang seharusnya ditawarkan performa platform generasi terbaru yang lebih kuat sama sekali tidak diimplementasikan.
Namun sayangnya secara visual, ia gagal menangkap atmosfer Dragon Ball yang seharusnya. Kehancuran besar permanen yang seharusnya ditawarkan performa platform generasi terbaru yang lebih kuat sama sekali tidak diimplementasikan.

Namun sumber kekecewaan mengakar dari mekanik yang lain. Mekanik yang cukup untuk membuat Anda kesal dan lelah dalam waktu yang sangat singkat. Seperti yang sempat kami bicarakan di artikel preview sebelumnya, secara mengejutkan, Dragon Ball Xenoverse sangat menitikberatkan mekanisme grinding bagi karakter utama untuk melanjutkan cerita yang ada. Sensasi layaknya Destiny tercermin jelas, namun dalam format yang lebih “ringan”. Setidaknya, untuk setiap misi sampingan yang Anda selesaikan, reward yang Anda dapatkan memang jelas dan terasa memang pantas untuk menyita waktu. Namun dari aspek yang lain, desain Dragon Ball Xenoverse terhitung “cacat”.

Masalahnya, grinding di Dragon Ball Xenoverse mulai muncul tidak sebagai kebebasan, sebuah rutinitas yang biasanya dilakukan gamer untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Di DB Xenoverse, Grinding adalah keharusan. Apa pasal? Karena percaya atau tidak, bagi Anda yang bahkan sekedar ingin menikmati jalan cerita yang ada, mau tidak mau didorong untuk menempuh proses yang satu ini. Game ini didesain dengan tingkat kesulitan yang tidak masuk akal setiap kali Anda bertemu dengan chapter cerita yang baru. Ia melonjak tinggi, membuat setiap musuh baru ini muncul dengan damage dan kekuatan yang hampir mustahil diatasi dengan kekuatan karakter Anda sekarang. Hasilnya? Anda “dipaksa” untuk menempuh side quest yang ada untuk mengumpulkan level dan equipment yang kira-kira dibutuhkan untuk memperkuat karakter Anda. Masih belum cukup kuat? Ulangi proses yang sama, hingga selesai. Melelahkan.

Grinding di Xenoverse adalah keharusan, bukan kebebasan. Proses yang harus Anda tempuh untuk menyelesaikan mode cerita sekalipun.
Grinding di Xenoverse adalah keharusan, bukan kebebasan. Proses yang harus Anda tempuh untuk menyelesaikan mode cerita sekalipun.
Bertarung dengan karakter hingga belasan / puluhan kali berturut-turut? Anda siap dengan sensasi repetitif yang terjadi?
Bertarung dengan karakter hingga belasan / puluhan kali berturut-turut? Anda siap dengan sensasi repetitif yang terjadi?

Parahnya lagi, semua elemen lain yang seharusnya dibangun untuk mendukung aksi grinding Anda justru berakhir membuatnya semakin menjengkelkan. Ada saatnya, Anda harus menempuh misi yang sama berulang kali hanya untuk sekedar mendapatkan experience points. Hal ini tidak akan bermasalah jika variasi misi sampingan yang ditawarkan memang beragam dan unik satu sama lain. Namun, tidak dengan DB Xenoverse. Sebagian misi ini sangat serupa, sehingga menghasilkan sensasi gameplay yang sangat repetitif. Biasanya berujung pada menghajar rangkaian karakter yang muncul berurutan hingga akhir. Memukul dan menghajar musuh yang karakteristiknya tidak berbeda selama 15 menit? Bahkan terkadang meminta Anda untuk melakukannya 20 musuh berturut-turut? Daripada sesuatu yang menyenangkan, grinding di DB Xenoverse terasa seperti segudang pekerjaan rumah yang guru Anda lemparkan di masa liburan. Terasa tidak tepat, terasa tidak memberikan kontribusi pada pengalaman yang seharusnya Anda dapatkan, atau bahkan bisa dikatakan – mencederainya.

Masih belum cukup? Selamat datang pada fakta bahwa tidak ada satupun AI yang bisa andalkan di game ini. Beberapa side quest yang disebut “Parallel Quest”  memang memungkinkan Anda untuk membawa dua karakter pendamping. Beberapa quest utama juga terkadang meminta Anda untuk melindungi satu karakter AI  hingga ia tidak boleh tewas sampai cerita beralih ke tahap selanjutnya. Apakah AI ini mendukung Anda? Mereka adalah ekstra beban! AI-AI “pendukung” ini tidak pernah bisa memberikan kontribusi signifikan apapun dan lebih banyak menjadi korban. Pada akhirnya, Anda jugalah yang harus membunuh semua musuh yang ada sementara AI Anda melakukan aksi tidak jelas yang bahkan tidak cukup becus untuk menurunkan 25% total HP musuh. Sementara di sisi lain, musuh memperlakukan karakter pendukung AI Anda seperti sebuah sasak tinju.

Parahnya lagi? Karakter AI pendamping Anda yang seharusnya jadi bantuan justru seringkali berakhir beban. 2 karakter Vegeta Super Saiyan 4 dan Anda berharap mereka lebih pintar? Maaf, sayangnya, tidak. Anda tetap harus melakukan segala sesuatunya sendiri.
Parahnya lagi? Karakter AI pendamping Anda yang seharusnya jadi bantuan justru seringkali berakhir beban. 2 karakter Vegeta Super Saiyan 4 dan Anda berharap mereka lebih pintar? Maaf, sayangnya, tidak. Anda tetap harus melakukan segala sesuatunya sendiri.
Bahkan untuk urusan kematian, DB Xenoverse masih menjengkelkan!
Bahkan untuk urusan kematian, DB Xenoverse masih menjengkelkan!

Sudah terdengar menjengkelkan untuk Anda? Tunggu dulu, DB Xenoverse masih belum berhenti beraksi di situ. Dengan kuantitas musuh yang bisa mencapai 2-4 musuh sekaligus ketika berhadapan dengan Anda, kematian seharusnya jadi konsekuensi yang seringkali Anda hadapi. Berita buruknya, sistem checkpoint DB Xenoverse juga tidak kalah buruknya.

Dengan pertempuran dalam satu chapter yang biasa terbagi dalam beberapa sesi runtut, hampir mustahil untuk memastikan bar HP Anda tetap penuh hingga akhir, apalagi dengan kuantitas musuh yang Anda hadapi. Namun alih-alih memberikan checkpoint di setiap cut-scene, DB Xenoverse lebih memilih untuk memaksa Anda mengulang progress kembali dari awal jika tewas di tengah pertempuran, terlepas dari fakta bahwa Anda sudah mencapai sesi cerita tertentu dalam chapter. Hasilnya? Anda harus menempuh semua pertempuran yang Anda lakukan 10 menit yang lalu kembali. Jika Anda masih tewas di tempat yang sama? Anda harus melakukan hal yang sama lagi!! Satu-satunya cara untuk meminimalisir rasa frustrasi karena mekanisme ini adalah dengan mempersiapkan banyak item penyembuh sebelum bertarung, itu saja.

20 menit bertarung dan mati? Selamat mengulang semua pertempuran melelahkan itu dari awal!
20 menit bertarung dan mati? Selamat mengulang semua pertempuran melelahkan itu dari awal!
Stock item penyembuh Anda seperti orang kesurupan!
Stock item penyembuh Anda seperti orang kesurupan!
Setidaknya di Destiny, Anda bisa menyelesaikan cerita utama tanpa grinding berlebih!
Setidaknya di Destiny, Anda bisa menyelesaikan cerita utama tanpa grinding berlebih!

Tingkat kesulitan yang terasa mengada-ngada, pertempuran yang selalu berat sebelah baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, grinding yang menjadi keharusan, gameplay yang sangat repetitif, diperkuat dengan minimnya informasi yang ditawarkan dalam game, Dragon Ball Xenoverse bukanlah game yang bisa dinikmati, setidaknya dari kacamata kami. Yang ada justru lebih banyak kesal dan lelah, bahwa Anda dipaksa untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang. Lebih buruk dari Destiny? Setidaknya di Destiny, sesi cerita utama bisa diselesaikan walaupun Anda hanya berada di level yang terhitung rendah. Di DB Xenoverse? Jangan harap.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 26, 2021 - 0

Review NBA 2K21 (Next-Gen): Nombok Dong! Nombok Dong!

Anda yang secara aktif mengikuti JagatPlay sepertinya sudah mengetahui bagaimana…
February 25, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Hardware): Si Bongsor yang Buas!

Berapa banyak dari Anda yang masih ingat soal kekhawatiran tidak…
February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…