10 Omelan yang Pasti Pernah Didengar Gamer Indonesia!
-
“Keluar main, jangan di kamar terus!”

“Real world: The visual is good, but the gameplay sucks,”, salah satu ungkapan gamer yang terkenal ini tidak akan pernah dimengerti oleh orang awam. Ada anak-anak, remaja, atau orang dewasa lain yang penuh dengan energi dan menyalurkan hal tersebut lewat interaksi sosial, berteman, bertemu dengan lebih banyak orang, dan bersenda gurau di sana-sini. Normal sosial melihat orang-orang seperti sebagai orang dengan kemampuan sosial yang “sehat” dan direkomendasikan, yang kemudian membentuk persepsi orang awam terhadap masalah tersebut. Mereka lalu mengabaikan bahwa kita termasuk orang-orang yang berada di sisi kebalikan, bahwa kita jauh lebih nyaman dengan video game di depan mata, kipas angin di sebelah kiri yang meniup pelan, dan sedikit snack untuk cemilan di area gapaian tangan. Keinginan kita untuk menikmati hari kemudian dilihat sebagai sesuatu yang tidak sehat. Oh c’mon, i’m just trying to enjoy my life here!
-
“Kamu kalau main game terus, gedenya mau jadi apa?”

Pertanyaan terberat, terbesar, yang seolah meluncur dari boneka Susan milik Ria Enes (anak tahun 2000-an mungkin tidak kenal dengan sosok ini) namun dalam format yang lebih psikotik. Sebuah stigma yang susah diubah, yang bahkan sempat menjadi panas karena jadi prejudice yang juga didukung oleh salah satu motivator ternama dengan jutaan pendukung di media sosial. Gamer seringkali dilihat sebagai calon orang gagal. Mengapa? Karena kita dlihat sebagai orang yang selalu hanya berada di depan layar televisi tanpa mengembangkan ketertarikan pada aspek hidup yang lain sama sekali. Kita dilihat tidak produktif dan tidak punya kehidupan sosial yang sehat. Dua hal yang dianggap sebagai komponen paling krusial untuk sukses luar biasa secara finansial di masa depan. Ketakutan ini memang bukan tidak beralasan, namun hanya terjadi jika dilakukan secara berlebihan. Sementara sebagian besar dari kita yang menikmati game sebagai pelarian dari dunia nyata, berfantasi, dan kembali lagi menghadapi kerasnya dunia dengan logis harus bertarung dengan stigma yang sama. Jadi, gedenya mau jadi apa?
Di atas adalah 10 omelan yang tampaknya sudah pasti pernah didengar oleh gamer dimanapun, khususnya di Indonesia. Kami, JagatPlay, tentu saja tidak langsung berakhir menyimpulkan bahwa semua omelan ini penuh dengan rasa benci yang mendalam. Sebagian besar dari mereka mengakar pada absennya pengetahuan soal industri game, cara game bekerja, dan gamer itu sendiri. Sementara tidak sedikit yang juga dipengaruhi oleh stigma-stigma yang terus menerjang, bahkan dari media-media ternama sekalipun, apalagi jika ia diasosiasikan dengan sesuatu yang negatif. Berita baiknya? Jika ia meluncur dari orang tua, pacar, atau teman hidup, tidak sedikit darinya yang justru mengakar pada kepedulian dan rasa kasih sayang. Sesuatu yang tentu saja, pantas kita syukuri.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Dari semua omelan yang pernah Anda terima sebagai gamer, omelan apa yang menurut Anda sudah pasti pernah didengar orang lain yang juga memikul identitas yang sama? Feel free to comment and expand the list!










