Review MGS V – The Phantom Pain: Puas dan Kecewa di Saat yang Sama!

Reading time:
September 8, 2015

Quiet – Tak Sekedar Sensual

Ada banyak keraguan yang mengitari diri Quiet ketika ia diperkenalkan pertama kali oleh Kojima. Ia menuai banyak cibiran.
Ada banyak keraguan yang mengitari diri Quiet ketika ia diperkenalkan pertama kali oleh Kojima. Ia menuai banyak cibiran.

Absurd, mustahil, eksploitasi seksual berlebih, inilah tiga buah jenis komentar yang terus mengitari sosok Quiet – ketika sniper dengan pakaian super minim tersebut diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Hideo Kojima. Kojima di kala itu berusaha mati-matian membela pilihan desainnya ini. Terlepas dari  keinginannya untuk memastikan lebih banyak wanita untuk melakukan Cosplay Quiet yang sudah pasti akan membantu mempopulerkan produknya, ia juga menegaskan bahwa pilihan pakaian minim tersebut juga datang dengan alasan kuat yang didasarkan pada cerita yang ada. Lantas, apa yang kami rasakan ketika melihat, bertemu, dan beraksi dengan Quiet secara langsung ketika game ini dirilis? Satu yang pasti, ia akan membuat banyak suara kritikan tanpa dasar di masa lalu bungkam. Quiet adalah salah satu kunci pengalaman MGS V: The Phantom Pain yang utama. Tanpanya, game ini akan terasa super hambar.

Kita tentu saja tidak hanya berfokus pada visual sensual nan memanjakan mata yang ia “hidangkan” di MGS V: The Phantom Pain yang memang tak punya karakter wanita lain untuk mendukung hal tersebut. Posisi Quiet di seri terbaru ini bisa disejajarkan dengan fungsi Paz di Peace Walker, Meryl di Metal Gear Solid pertama, EVA di Snake Eater dan tentu saja – para Beauty and the Beast Unit di Metal Gear Solid 4, menghadirkan faktor lain yang bisa menjadi pengalih perhatian sementara untuk para penikmat franchise ini. Dengan semua hal yang dilakukan Kojima dengan karakter-karakter wanita yang ia usung selama ini, tidak ada yang berlebihan dengan Quiet, dari karakter hingga desain pakaiannya sendiri yang memang lebih terbuka dibandingkan karakter-karakter wanita MGS V yang lain. Menariknya lagi? Ia bukan sekedar representasi dari otak kotor Kojima yang hadir tanpa alasan.

Wanita dengan daya tarik seksual yang kuat bukanlah barang baru di franchise ini. Meryl, Eva, dan Paz jadi bukti nyata.
Wanita dengan daya tarik seksual yang kuat bukanlah barang baru di franchise ini. Meryl, Eva, dan Paz jadi bukti nyata.
Quiet juga bisa diandalkan sebagai buddy yang mumpuni di dalam medan pertempuran.
Quiet juga bisa diandalkan sebagai buddy yang mumpuni di dalam medan pertempuran.

Dari sisi gameplay, Quiet adalah salah buddy yang paling bisa diandalkan. Berbeda dengan D-Horse atau D-Dog yang lebih banyak mengandalkan perintah Anda untuk beraksi, Anda bisa menggunakan Quiet untuk fungsi Recon dan Attack yang lebih menyeramkan. Kemampuan Recon-nya mungkin tidak sebaik D-Dog, namun Quiet akan menawarkan fungsi yang sama minus scouting resources. Sebagai gantinya, ia terkadang akan melemparkan supply secara random di tempat tertentu jika ia menemukannya. Kerennya lagi? Anda bisa memerintahkan Quiet ke mode Attack – dimana ia bisa melindungi Snake setiap kali Reflex Mode terpicu, atau bahkan sendirian “membersihkan” markas dengan senapan jitunya, sementara Anda tengah sibuk menempuh misi yang lain. Ia mematikan, berfungsi sebagai scout ataupun decoy, dan bisa diandalkan untuk beragam fungsi, dari infiltrasi hingga serangan terbuka.

Maka seperti yang dijanjikan sebelumnya oleh Kojima, pilihan pakaian tersebut punya latar belakang yang kuat.
Maka seperti yang dijanjikan sebelumnya oleh Kojima, pilihan pakaian tersebut punya latar belakang yang kuat.
Semakin dekat hubungan Anda, semakin jelas pula niat Quiet untuk menggoda Anda. Ia seperti berusaha berkomunikasi, namun tanpa kata-kata.
Semakin dekat hubungan Anda, semakin jelas pula niat Quiet untuk menggoda Anda. Ia seperti berusaha berkomunikasi, namun tanpa kata-kata.

Seperti yang dijanjikan oleh Hideo Kojima di awal, pakaian yang dipilih oleh Quiet memang mendasarkan diri pada latar belakang yang kuat. Untuk mencegah spoiler lebih jauh, kami hanya bisa berbicara dua hal: Pertama, Quiet bukanlah sosok seperti dimana ia terlihat secara fisik. Kedua? Ia berbagi kekuatan dan fungsi tubuh yang hampir sama dengan The End – salah satu boss sniper yang juga muncul di MGS 3: Snake Eater. Kedua premis yang akhirnya mendorong Quiet mengusung pakaian yang selama ini kita kenal. Menariknya lagi? Dari semua buddy yang bisa Anda gunakan, ia menjadi satu-satunya yang terasa punya hubungan personal yang lebih dekat dengan Big Boss. Terlepas dari absennya kata-kata, Anda bisa melihat ketertarikan yang jelas dari sisi Quiet, apalagi jika hubungan Anda sudah maksimal. Di helikopter, Quiet akan mulai memperlihatkan aksi-aksi menggoda dengan tatapan mata yang seolah hendak berbicara dengan Big Boss, tanpa kata-kata.

Kisahnya akan siap untuk membuat hati Anda remuk dan hancur berkeping-keping.
Kisahnya akan siap untuk membuat hati Anda remuk dan hancur berkeping-keping.
METAL GEAR SOLID V: THE PHANTOM PAIN_20150906195649
Oh Quiet..

Namun peran Quiet tidak berhenti di sana saja. Dari semua cerita yang ditawarkan oleh MGS V: The Phantom Pain, kisahnya yang paling akan membuat Anda terenyuh. Tidak malu, kami harus mengakui, ia menjadi satu-satunya alasan kami menitikkan air mata, sesuatu yang tidak pernah bisa kami prediksi akan meluncur dari game action dengan atmosfer science-fiction yang kental ini. Perlahan namun pasti, Anda akan mulai mengerti apa yang sudah ia korbankan dan terus ia korbankan, hanya untuk semata-mata, membuat perasaannya sampai di orang yang ia cintai. Quiet akan menonjok hati dan perasaan Anda begitu keras, cukup untuk membuat Anda menarik napas panjang dan terdiam untuk waktu yang lama.

Tapi Sayangnya….

Sayangnya, ada banyak kekurangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sayangnya, ada banyak kekurangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Secara garis besar pengalaman yang ada, apalagi setelah preview kami yang bombastis, MGS V: The Phantom Pain terdengar seperti sebuah game yang sempurna. Bahwa fakta besar kemungkinan ia menjadi seri terakhir yang diracik oleh Hideo Kojima memang berujung pada kualitas game yang tidak terbantahkan. Bahwa dengan review luar yang begitu positif, ia berhak menjadi salah satu pesaing Game of the Year yang mumpuni, terlepas dari eksistensi The Witcher 3: Wild Hunt yang memesona dan Fallout 4 yang punya chance besar untuk menarik hati yang sama. Namun sayangnya, semakin jauh permainan berjalan – dimana kami menghabiskan 100 jam untuk menyelesaikan setiap misi yang ada – masalah terkait game ini perlahan namun pasti, muncul ke permukaan, satu demi satu. Kojima terasa seperti kurang waktu untuk menyelesaikan game ini. Apa saja? Kami akan berusaha menjabarkannya lewat sesi terpisah ini.

Pertama, soal cerita. Ketika Anda membayar mahal untuk sebuah game, apalagi yang disebut-sebut akan menjadi jembatan cerita untuk sebuah franchise yang masif, Anda berhadap akan mendapatkan konklusi cerita yang memuaskan. Beberapa game gagal melakukan hal tersebut, seperti Batman: Arkham Knight, misalnya. Sayangnya, MGS V: The Phantom Pain juga demikian. Konklusi cerita yang ia tawarkan ternyata masih menyisakan lebih banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama soal eksistensi Eli, “senjata curiannya”, dan pasukan anak-anak yang ia bawa. Secara mengejutkan, MGS V: The Phantom Pain memutuskan untuk tidak membahas arc cerita yang menggantung tersebut. Berita yang lebih buruknya lagi? Ketika Anda menemukan bahwa seharusnya ada “Episode 51” yang tidak pernah rampung dan hanya dirilis sebagai konten ekstra eksklusif untuk para pemilik Collector’s Edition Playstation 4. Anda terus bertanya-tanya, mengapa cerita fantastis ini justru tidak menjadi fokus dan Anda justru harus berhadapan dengan konten yang lebih banyak menyisakan tanda tanya. Fakta bahwa mereka “menjual” cerita lewat kombinasi audio di cassette dan bukan lagi cut-scene seperti seri-seri Metal Gear sebelumnya juga sangat disayangkan.

Memotong cerita sepenting ini? Seriously?
Memotong cerita sepenting ini? Seriously?
Dengan Chapter 1 yang didesain begitu fantastis, Anda berharap Chapter selanjutnya bisa menawarkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang berakhir dengan kekecewaan.
Dengan Chapter 1 yang didesain begitu fantastis, Anda berharap Chapter selanjutnya bisa menawarkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang berakhir dengan kekecewaan.

Kedua, berbicara soal Chapter. Ketika kami bertemu dengan ending dan menyadari bahwa credits yang berjalan tersebut hanyalah berfungsi sebagai akhir untuk “Chapter 1” setelah 70 jam permainan, kami gembira dan menggila di saat yang sama. Mengapa? Karena semua cerita fantastis dengan begitu banyak karakter keren yang Anda temukan selama kurun waktu lama tersebut HANYALAH Chapter 1 saja. Lalu Anda bertemu dengan fakta bahwa cerita soal perjalanan Big Boss ini belum lah selesai. Masih ada konflik yang belum selesai, masih ada tanda tanya yang harus dijawab. Apa yang Anda lakukan ketika menemukan setelah Chapter 1 sebegitu fantastisnya? Anda tentu mengantisipasi bahwa Chapter berikutnya akan jauh lebih keren dan gila, penuh pertempuran yang lebih epik. Berita buruk, Anda tidak akan menemukan hal tersebut. Selain beberapa momen emosional yang cukup menyentuh hati, Chapter 2 hadir dengan desain Main Mission yang begitu buruk dan menyimpang dari daya tarik Chapter 1. Bayangkan saja, alih-alih membawa Anda ke misi-misi dan jalinan cerita baru, beberapa misi yang ia tawarkan di sesi ternyata menuntut Anda untuk mengulang misi yang sudah Anda jalani di Chapter 1, namun hanya dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Keputusan yang sangat aneh.

Ketiga, Boss Fight. Cerita dan Boss Fight adalah nilai jual Metal Gear Solid sebagai franchise. Mengapa? Karena otak gila Hideo Kojima seringkali berakhir dengan konsep Boss yang super keren dan terkadang butuh solusi di luar nalar untuk diselesaikan. Anda masih ingat dengan pertempuran Psycho Mantis di MGS satu? Atau The End di MGS 3? Atau bahkan – lusinan Metal Gear Ray di MGS 2? Kita berharap bahwa level kualitas pertempuran Boss di MGS V akan melewati semua kualitas tersebut. Namun apa yang kita dapatkan? Pertarungan tidak epik yang terasa sangat mainstream layaknya game-game action pada umumnya. Selain pertempuran area terbuka melawan Sahelanthropus dan pertarungan melawan Quiet, hampir tidak ada pertarungan yang cukup untuk membuat Anda terpukau dan cukup untuk membuat otak Anda tidak mudah melupakannya begitu saja. Pertarungan tangan kosong melawan Eli? Meh. Pertarungan melawan Man on Fire? Lebih Meh. Pertarungan melawan para Skulls yang hanya datang, menunjukkan sedikit kekuatan, tanpa personality? Super Meh. Pertarungan melawan Skull Face yang seharusnya menjadi otak di balik semua konflik yang ada dengan rencana yang mampu mengancam stabilitas internasional? Lelucon. Anda akan garuk-garuk kepala karenanya.

Pertarungan boss yang sama sekali tidak memorable.
Pertarungan boss yang sama sekali tidak memorable.
*sigh*
*sigh*

Keempat, soal microtransactions, tentu saja. Keputusan untuk menyuntikkan sistem seperti ini di dalam MGS V: TPP tampaknya menjadi tanggung jawab Konami, yang sejak awal kontroversinya dengan Kojima, memang semakin memperlihatkan sifat beringasnya yang haus akan uang. Beberapa berita sempat muncul dan membahas hal ini, yang kemudian dibantah Konami dengan alasan klasik – bahwa Anda tidak pernah punya keharusan untuk membeli sesuatu di game ini dan segala sesuatunya bisa dicapai  tanpa perlu mengeluarkan sepeserpun uang. Secara konsep, Konami tidak berbohong. Tapi dari sisi aplikasi? Anda memang tidak bisa lepas dari jeratan setannya.

Microtransactions untungnya, tidak muncul untuk mempercepat progress R&D Mother Base Anda atau memungkinkan Anda untuk membeli item langsung secara permanen, yang tentu saja – terasa lebih curang. Namun ia menjadi benteng tak tertundukkan ketika Anda berusaha membeli area baru untuk FOB dan melakukan ekspansi Mother Base Anda. Region kedua untuk Mother Base Anda memang gratis, namun region selanjutnya, dengan resource lebih kaya yang bisa ditambang, ternyata hanya bisa dibeli dengan menggunakan koin khusus “MB” yang hanya tersedia via microtransactions. Apakah koin ini bisa didapatkan dengan cara lain? Satu-satunya cara lain untuk mendapatkan MB Coins hanyalah dengan mendapatkan Reward dari Daily Login mode online MGS V: TPP dan tidak ada cara lain. Anda hanya bisa mendapatkan maksimal 50 koin MB dengan skedul pemberian bonus yang sangat bergantung pada kemurahan hati Konami sendiri. Sementara di sisi lain, Anda tahu berapa banyak koin yang harus dihabiskan untuk membeli satu region baru Mother Base? 1.200 koin MB! Selamat mengumpulkan 50 koin entah sampai kapan tanpa microtransactions jika Anda tertarik melakukan ekspansi Mother Base.

Kelima dan yang paling aneh? MGS V: The Phantom Pain tidak terasa seperti game Metal Gear Solid, terlepas dari fakta bahwa elemen stealth masih memainkan peran penting di dalamnya. Perlu diingat, bahwa semua teknologi ini terjadi di era tahun 1980-an atau sebelum era Metal Gear Solid pertama. Mengapa Sahelanthropus terlihat lebih maju secara teknologi dibandingkan Metal Gear Rex di MGS pertama? Tenang, kita tidak akan membicarakan hal tersebut karena ada penjelasan masuk akal di sana, termasuk limitasi informasi dan teknologi yang mulai terjadi ketika The Patriots aka La-Li-Lu-Le-Lo aktif di bawah tangan Cipher. Kita membicarakan teknologi lain yang membuat game ini terasa menyimpang dari akarnya. Di sebuah era dengan teknologi terbatas, Anda bisa mengenakan pakaian bernama Parasite Suit untuk Snake yang tampilannya tidak hanya mirip Crysis, tetapi juga menyediakan kemampuan untuk menghilang secara permanen, melapisi diri dengan armor khusus, hingga menciptakan kabut. Namun yang paling menyimpang dari kesemuanya? Tidak lain dan tidak bukan – adalah teknologi Wormhole. Benar sekali, dengan R&D level tinggi, Anda bisa menggantikan sistem Fulton klasik Anda dengan Wormhole, yang memungkinkan Anda untuk mengangkut benda apapun, seberat apapun, dimanapun dengan menggunakan lubang hitam ini secara langsung ke Mother Base. Teknologi yang bahkan tidak bisa diimplementasikan di MGS IV: Guns of the Patriots. What the..

Oke.....
!
Okeeeee...
!!
Dunia yang ditawarkan MGS V memang luas. Kaya? Tunggu dulu.
Dunia yang ditawarkan MGS V memang luas. Kaya? Tunggu dulu.

Keenam, sekaligus omelan kami yang terakhir? Dunia yang ditawarkan oleh Hideo Kojima itu sendiri. Anda akan berganti-ganti lokasi dari Afghanistan dan Afrika bergantung pada misi yang Anda pilih. Dengan ruang area misi utama yang terbatas, kedua lokasi ini terasa padat dengan musuh yang senantiasa siap untuk mencegah Anda mampu menyelesaikan misi yang ada dengan mudah. Wilayah-wilayah yang ditawarkan Kojima terasa begitu fantastis dan indah. Namun begitu Anda mengeksplorasinya secara bebas? Semua hal magis tersebut seolah lenyap begitu saja. Selain post-post yang Anda temui di dalamnya, dunia MGS V: TPP benar-benar kosong. Yang Anda temukan hanyalah pemandangan, pohon, dan tanah kosong dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan jalan kosong yang juga minim aktivitas. Tidak ada rahasia yang bisa Anda cari atau temukan. Semua tanah lapang tersebut hanya berfungsi sekedar sebagai media Anda bergerak dan tidak lebih. Tidak ada civilian, tidak ada aktivitas hidup, tidak ada misi sampingan lain yang bisa dilakukan atau rahasia tersembunyi yang bisa Anda temukan. Sesuatu yang tentu saja, sangat disayangkan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…
July 22, 2022 - 0

Review As Dusk Falls: Ini Baru Game Drama Berkualitas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh As Dusk Falls ini?…
June 28, 2022 - 0

Review My Lovely Wife: Pilih Istri atau Iblis-Iblis Seksi!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh My Lovely Wife ini?…

PlayStation

August 15, 2022 - 0

Review Digimon Survive: Seru Iya, Bosan Juga Iya!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Digimon Survive? Mengapa kami menyebutnya…
July 18, 2022 - 0

Review STRAY: Kocheng Oren Mah Bebas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh STRAY? Mengapa kami menyebutnya…
March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…

Nintendo

August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…