Menjajal BETA – The Tomorrow Children: Masih Butuh Diyakinkan!
Sebuah Usaha Bersama

Alih-alih tampil sebagai sebuah game yang berfokus pada aksi dan aktivitas karakter Anda sendiri, The Tomorrow Children berfokus pada satu konsep dasar yang tampaknya juga jadi nilai jual utama – sebuah usaha bersama dengan user lain untuk bertahan hidup. Bahwa semua aktivitas Anda untuk mengumpulkan lebih banyak resource, harus dilakukan untuk sekedar memastikan Anda hidup, tetapi juga mereka semua yang tinggal di satu kota yang sama. User yang sudah punya lisensi untuk membangun rumah selalu punya kesempatan untuk memutuskan menetap, tinggal di satu kota tertentu, dan bekerja keras untuk memastikan kota tersebut hidup bahagia. Namun selalu juga ada kesempatan untuk tampil malas-malasan.
The Tomorrow Children adalah sebuah usaha bersama untuk membangun sebuah tatanan sosial dengan user yang lain, bekerja sekeras mungkin untuk memastikan kota makmur dan selalu “dibanjiri” dengan beragam resource yang memang dibutuhkan, seperti makanan dan kayu misalnya. Jika jumlah sumber daya ini cukup, “penduduk” kota akan punya kesempatan untuk mengembangkan lebih banyak varian bangunan, dari sekedar tong sampah, sebuah pembangkit listrik bertenaga treadmill yang bisa dicharge untuk memastikan kota Anda tetap terang di malam hari, sebuah toko perlengkapan, hingga Kementerian Tenaga Kerja untuk merekrut lebih banyak orang. Resource bisa dikumpulkan dengan menumpang sebuah bis kerja yang akan mendarat secara berkala di tepi kota untuk menuang resource yang sudah dikumpulkan para pekerja di sebuah pulau terpencil atau justru mengangkut pekerja dari kota ke pulau terpencil tersebut.


Elemen utamanya tentu akan sangat bergantung pada kerjasama yang erat antar penduduk yang ada. Mengapa? Walaupun tak intens, namun game ini tetap butuh level koordinasi tersendiri untuk memastikan kota yang dibangun bersama ini bisa bertahan atau bahkan tumbuh, dan alih-alih hancur dengan penduduk yang lebih tertarik untuk bermigrasi ke kota lain dan memulai kembali dari awal. Sebagai contoh? Ketika kota Anda sudah punya 5 penduduk, misalnya.



3 orang bisa bekerja sebagai penambang resource, sementara 2 lainnya berada di kota. 1 nya bisa beraktivitas untuk mengisi terus pembangkit listrik yang ada, sementara 1-nya lagi bekerja sebagai petugas keamanan yang memindahkan resource apapun yang dibawa bis angkut langsung ke dalam gudang penyimpanan. Pekerjaan terakhir pun begitu krusial mengingat penduduk dari kota lain selalu punya kesempatan masuk ke kota Anda, mencuri resource apapun yang mereka temukan tergeletak begitu saja, dan membawanya ke kota mereka masing-masing. Membuat kerja keras semua penambang berakhir sia-sia dan tak punya kontribusi apapun ke kota.


Di level pengumpulan resource, sebagai contoh lain – tentu jadi sesuatu yang rasional bagi para penambang untuk mulai berbagi tugas dan mulai memastikan distribusi resource yang lebih rata dan tak sekedar berfokus untuk mengumpulkan resource yang lebih jarang. Akan jadi pembagian kerja yang tidak efektif jika ternyata ketiga-tiganya di skenario di atas ternyata semuanya berakhir mengumpulkan kayu sementara ada kebutuhan yang lebih mendesak soal makanan, misalnya. Membagi kerja dan tanggung jawab adalah pondasi sebuah kota yang sehat. Kita semua mengerti hal tersebut. Namun yang terjadi di The Tomorrow Children, konsep yang seharusnya jadi kunci utama daya tarik ini justru tak mereka fasilitasi dengan baik dan benar.



Semoga saja jauh lebih baik di versi final, karena konsep “multiplayer” The Tomorrow Children yang seharusnya esensial ini justru tidak difasilitasi dengan baik. Dunia terlihat sangat kosong karena Anda tidak bisa secara konsisten melihat apa yang dilakukan oleh user lain. Hanya setiap kali beraktivitas, misalnya tengah menambang atau mungkin hendak membangun fasilitas tertentu di kota, penampilan karakter mereka akan muncul secara sekejap saja. Ketika semuanya tengah sekedar berjalan, Anda tak akan bisa melihat mereka dan The Void terlihat begitu hampa. Berita yang lebih buruknya lagi? Tak ada jalur yang lebih terbuka untuk melakukan koordinasi satu sama lain. Tidak ada jalur komunikasi yang efektif seperti quick chat atau emoticon yang lebih berarti untuk memfasilitasi dan menggambarkan aktivitas apapun yang hendak Anda lakukan. Bahkan sejak 4 jam permainan kami, kami tak menemukan satupun gamer yang berusaha berbicara via mic untuk mengatur pola kerja dan sebagainya. Hasilnya? Sulit untuk menemukan kota yang bisa bertahan lama dan sejahtera.

Satu hal lainnya yang juga perlu mereka benahi adalah sistem tutorial yang sayangnya, juga tak efektif. Ada begitu banyak elemen permainan yang gagal dijelaskan dengan baik hingga cukup membuat 1 jam awal permainan kami berakhir dengan meraba-raba apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan. Dengan waktu permainan yang singkat, tutorial harus berjalan lebih efektif, setidaknya menjelaskan tanggung jawab seperti apa yang bisa Anda pikul. Semoga saja, hal ini tidak berujung di rilis versi final yang tanggal rilisnya masih misterius ini. Karena jika tetap hadir tanpa sistem komunikasi alternatif yang didesain baik, bukan tidak mungkin The Tomorrow Children hanya akan menarik komunitas gamer Playstation 4 yang memang mengenal satu sama lain sebelum mereka mencicipi game yang satu ini. Sementara user yang asing satu sama lain tak akan punya sarana untuk berkolaborasi secara efektif.
Potensial

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir tanpa potensi sama sekali. Dari semua informasi di atas, Anda tampaknya sudah cukup mengerti apa yang membuatnya terasa seperti sebuah game yang terinspirasi dari Minecraft dan apa yang membedakannya dari game raksasa dari Mojang dan Microsoft tersebut. Untuk sebuah game yang seharusnya menjadikan komunikasi sebagai sarana untuk kerja yang efektif dan gagal menawarkannya di versi beta ini, besar harapan bahwa The Tomorrow Children tak akan berujung sebuah kegagalan. Mengapa? Karena dalam waktu permainan kami yang singkat, ada beberapa konten potensial yang tampaknya baru bisa berjalan jika Anda sudah mencicipinya cukup lama, sesuatu yang tak mungkin dilakukan di uji coba masa beta ini.
Pertama, adalah klasifikasi yang mirip dengan game RPG pada umumnya. Walapun requirementsnya sendiri tidak cukup jelas, namun karakter yang Anda gunakan punya sistem point atribut yang bisa didistribusikan sesuka hati Anda untuk membuatnya lebih efektif di pekerjaan tertentu. Anda juga bisa membuatnya mengganti pakaian untuk efek variasi pekerjaan yang juga lebih efektif. Di masa beta ini, ia mungkin terlihat tidak signifikan. Namun dalam bayangan kami, ada potensi yang besar di sana. Sistem atribut point akan memungkinkan gamer untuk membangun “kelas” karakter yang efektif di varian pekerjaan tertentu, misalnya.


Kedua, adalah beragam fitur sosial yang masih muncul sekedar sebagai “fitur” yang tak mungkin bisa diakses dengan waktu permainan beta yang singkat. Ada dua hal menarik yang kami temukan di sini: Sistem Pemimpin dan Sistem Agama. Di sebuah kota yang ramai, Anda yang sudah memiliki rumah dan sudah dianggap sebagai penduduk kota akan punya kesempatan untuk menyumbangkan suara Anda atau justru mencalonkan diri Anda sendiri sebagai Major untuk kota tersebut. Besar kemungkinan Anda akan punya hak lebih besar untuk menentukan arah gerak kota atau mungkin, memberikan jenis pekerjaan tertentu ke user yang lain. Sementara sistem agama, sayangnya, sama sekali tanpa detail informasi lebih jelas selain melihat bahwa sesi ini memang eksis di salah satu kolom.
Dengan semua fitur ini, makin jelas apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh The Tomorrow Children, sebuah simulasi peradaban dengan range fitur sosial yang sebenarnya masih cukup kompleks dan mungkin, cukup bervariasi untuk dinikmati.










