Review Heavy Rain & Beyond Two Souls Collection: Bagi yang Kelewatan!

Reading time:
March 8, 2016
Heavy Rain PS4 (23)

Bagi gamer yang sempat mengenal sepak terjang mereka di masa lalu, bukan sesuatu yang mengherankan jika nama Quantic Dream diasosiasikan begitu kuat dengan game-game interactive story super keren yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Sang otak – David Cage memang menjadikan studio ini sebagai “pabrik” untuk game yang selalu menawarkan daya tarik unik, sebuah game yang menjadikan narasi sebagai kekuatan utama di atas implementasi visualisasi yang bisa dibilang, memesona. Beberapa dari Anda mungkin mengenal nama studio ini sejak masa “Fahrenheit” – sebuah game penuh misteri yang hadir dengan konklusi cerita yang cukup mengejutkan atau justru dari judul terbaru “Detroit: Become Human” yang rencananya akan meluncur untuk Playstation 4. Terlepas apakah Anda mencintai produk mereka atau tidak, Quantic Dream punya jejak yang kuat di industri game.

Bagi para gamer Playstation 3, nama Quantic Dream terikat kuat pada dua produk game eksklusif yang sempat menghiasi konsol hitam milik Sony tersebut. Benar sekali, kita membicarakan Heavy Rain dan Beyond: Two Souls yang waktu rilisnya berbeda 3 tahun satu sama lain. Keduanya punya tempat istimewa di hati para pemilik Playstation 3.

Quantic Dream merilis dua game
Quantic Dream merilis dua game “eksklusif” andalannya di Playstation 3 – Beyond: Two Souls dan Heavy Rain untuk Playstation 4 dalam bentuk kompilasi.

Heavy Rain tampil sebagai game psychological thriller dengan garis cerita yang tak hanya solid, tetapi juga menjadi pondasi gambaran kekuatan visual seperti apa yang bisa dicapai oleh mesin Sony tersebut. Kemampuan menawarkan cabang cerita dengan akhir yang berbeda jadi daya tarik tersendiri, apalagi ia dibangun dari begitu banyak perspektif karakter yang terhitung kuat. Tema dewasa dengan konten yang cukup eksplisit mulai membuat gamer melihat potensi video game tak lagi sekedar sebagai media hiburan interaktif yang menyenangkan, tetapi ruang cerita yang potensial.

Sementara Beyond: Two Souls membawa pondasi gameplay Heavy Rain dan menyempurnakannya ke dalam UI yang lebih intuitif, lengkap dengan kualitas visualisasi yang terhitung luar biasa untuk sebuah konsol yang hampir “tewas” di tahun 2013 yang lalu. Walaupun ceritanya sendiri tak seperti yang dibayangkan sebelumnya, ia berhasil jadi bukti ketangguhan Quantic Dream yang lain.

Dan kini, kedua game andalan Quantic Dream tersebut – Heavy Rain dan Beyond: Two Souls dirilis ulang untuk konsol Sony generasi saat ini – Playstation 4. Pertanyaannya kini, apakah keduanya pantas untuk dilirik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda!

Peningkatan Visual yang Signifikan

Peningkatan visual yang ia tawarkan bisa dibilang signifikan.
Peningkatan visual yang ia tawarkan bisa dibilang signifikan.

Sebuah game tak akan punya nilai jual sama sekali jika rilis ulangnya di platform generasi saat ini berakhir tak hadir dengan kualitas visualisasi yang lebih baik. Karena secara logika, ekstra performa yang ditawarkan Playstation 4 dibandingkan Playstation 3 seharusnya memberikan ruang lebih banyak bagi sang developer untuk membangun sebuah game dengan versi yang lebih sempurna – sebuah versi dimana mereka tak perlu mempertimbangkan begitu banyak keterbatasan yang membuat begitu banyak hal yang perlu disesuaikan. Berita baiknya? Quantic Dream tak main-main dengan kualitas visualisasi Beyond Two Souls dan Heavy Rain versi Playstation 4.

Detail yang lebih memesona. Kulit karakter yang terlihat lebih realistis, bahkan dengan pori-pori yang terlihat jelas.
Detail yang lebih memesona. Kulit karakter yang terlihat lebih realistis, bahkan dengan pori-pori yang terlihat jelas.
Lingkungan yang terlihat lebih tajam dengan efek blur yang lebih minim.
Lingkungan yang terlihat lebih tajam dengan efek blur yang lebih minim.
Tak hanya berlaku untuk karakter utama saja.
Tak hanya berlaku untuk karakter utama saja.
Sayangnya, cut-scene di Heavy Rain tampil dalam video resolusi rendah yang terlihat buruk, seolah bertabrakan dengan apa yang berusaha dilakukan Quantic Dream di sisa game yang ada.
Sayangnya, cut-scene di Heavy Rain tampil dalam video resolusi rendah yang terlihat buruk, seolah bertabrakan dengan apa yang berusaha dilakukan Quantic Dream di sisa game yang ada.

Dibandingkan dengan versi awalnya, keduanya mengalami peningkatan visual terutama di sisi detail dan efek cahaya yang jauh lebih tajam dibandingkan sebelumnya. Model wajah karakter kini terlihat jauh lebih baik, yang bahkan penuh dengan pori-pori dan tekstur kulit yang terasa realistis jika didekatkan. Ini tentu saja menghasilkan pengalaman visual yang lebih memanjakan mata, terutama ketika mereka mengeluarkan ekspresi tertentu ketika berbicara atau berargumen satu sama lain. Kerennya lagi? Peningkatan tekstur ini tak hanya berlaku untuk karakter-karakter yang signifikan saja. Beragam objek di lingkungan serta NPC yang ada juga mengalami perlakuan yang sama. Sayangnya, hal ini tak berlaku untuk cut-scene di Heavy Rain yang berakhir muncul dalam bentuk video resolusi rendah dan bukan pre-rendered.

Tata cahaya yang terlihat lebih baik.
Tata cahaya yang terlihat lebih baik.
Bayangan lebih tajam.
Bayangan lebih tajam.

Efek visual lain seperti tata cahaya lebih baik ataupun bayangan yang lebih tajam terlihat jelas, jauh lebih baik dari versi Playstation 3. Baik Beyond: Two Souls maupun Heavy Rain versi Playstation 4 ini berjalan di resolusi 1080p 30fps dengan framerate yang terhitung stabil di sepanjang permainan. Sayangnya, betapa “bersihnya” Beyond Two Souls harus dicederai dengan sebuah bug aneh di Heavy Rain. Mengunduhnya secara digital, aksi kami memainkan game ini untuk pertama kalinya disambut dengan layar yang terus berkedip tanpa alasan yang jelas, plus framerate yang kacau balau. Kami harus mematikan Playstation 4 kami, menghidupkannya kembali, untuk mendapatkan pengalaman bermain yang seharusnya. Untungnya, untuk dua game ini, sepanjang permainan yang kami jajal, tak memperlihatkan bug apapun.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…