Menjajal BETA Battlefield 1: Tak Sekedar Ganti Kulit!

Reading time:
August 31, 2016

 

Battlefield 1 open beta jagatplay (1)

Battlefield 1 saat ini memang harus diakui berada di atas angin, setidaknya jika melihat kompetisinya melawan si “musuh abadi” – Call of Duty yang tahun ini, memutuskan untuk membawa tema perang futuristiknya ke luar angkasa via Infinite Warfare. Trailer perdana yang diklaim diambil langsung dari engine in-game dengan remix Seven Nation Army dari The White Stripes yang menyempurnakan atmosfer yang ada, Battlefield 1 langsung membuat banyak gamer jatuh hati. Ia memenuhi harapan dan mimpi untuk kembalinya cita rasa perang klasik namun visualisasi baru, sesuatu yang sudah didengungkan selama beberapa tahun terakhir. Popularitas tersebut tercermin dari jumlah Like untuk trailer perdana yang bahkan berhasil menembus rekor Youtube.

Hype tak mudah mati begitu saja dan semakin banyak informasi yang mengemuka soal Battlefield 1 ini justru membuat banyak gamer semakin mengantisipasinya. Dari sekilas pandang, DICE sepertinya berusaha untuk memastikan perang dunia I yang diusung ini berakhir tak sekedar tema saja, tetapi juga mempengaruhi core gameplay yang ada. Battlefield 1 memang baru akan diriilis pada akhir Oktober 2016 mendatang, namun Anda yang penasaran sudah bisa menjajal dan menangkap sendiri sensasi multiplayernya lewat masa open beta yang dibuka selama satu minggu – hingga 8 September 2016 mendatang.

Lantas, bagaimana impresi kami terhadap masa open beta Battlefield 1 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai gameyang tak sekedar berganti kulit saja dibandingkan seri sebelumnya? Berikut adalah impresi dari kami:

Kekuatan Frostbite

Diperkuat dengan Frostbite, visual Battlefield 1 terlihat memesona.
Diperkuat dengan Frostbite, visual Battlefield 1 terlihat memesona.

Untuk urusan visual, nama besar Frostbite memang sudah tak perlu lagi diragukan. Menjadi andalan banyak game terbaru EA, bahkan FIFA 17 sekalipun, ia memperlihatkan tajinya di Battlefield 1 ini. Walaupun tak bisa banyak melihat detail seperti apa yang ia tawarkan, mengingat hanya satu peta saja yang tersedia – Sinai yang berisikan padang pasir di dalamnya, ia tetap memperlihatkan jati diri sebagai sebuah game shooter yang tak hanya seru, tetapi juga siap untuk membuat mata Anda termanjakan. Pendekatan tekstur, warna, dan tata cahaya yang ada mungkin akan langsung mengingatkan Anda pada kualitas sama yang sempat ditawarkan Star Wars Battlefront tahun lalu. Tapi bukan berarti, Battlefield 1 tak menawarkan sesuatu yang istimewa.

Kekuatan Frostbite? Tak sekedar detail tekstur, tapi juga efek kehancuran yang bisa Anda lakukan. Melawan tim musuh di balik rumah? Hancurkan saja rumahnya!
Kekuatan Frostbite? Tak sekedar detail tekstur, tapi juga efek kehancuran yang bisa Anda lakukan. Melawan tim musuh di balik rumah? Hancurkan saja rumahnya!
Rongsokan tank yang dilalap api hingga sekedar lubang di permukaan tanah karena ragam peledak yang ada memperkuat atmosfer pertempuran yang ada.
Rongsokan tank yang dilalap api hingga sekedar lubang di permukaan tanah karena ragam peledak yang ada memperkuat atmosfer pertempuran yang ada.

Hampir semua gamer Battlefield tampaknya paham bahwa kehancuran selalu jadi bagian yang tak terpisahkan dari franchise yang satu ini. Dengan Battlefield 1, mereka membawanya ke level yang lebih jauh. Dengan peta besar yang dibagi ke dalam beberapa area, Sinai juga memiliki satu area desa dengan beberapa bangunan rumah di dalamnya. ia tentu bisa dimanfaatkan untuk ekstra keuntungan strategis, seperti menjadikannya “sarang” untuk sniper misalnya. Namun bersembunyi seperti ini bukanlah solusi, karena beragam kendaraan dan senjata berat yang ada akan mudah membuatnya luluh lantak. Situasi perang juga terlihat begitu kuat lewat rongsokan tank yang bertahan di peta setelah hancur dengan api yang menyala begitu ganas, hingga sekedar lubang cekung hampir di beragam tempat karena ledakan granat atau senjata berat yang lain. Atmosfernya terasa epik.

Cuaca jadi elemen acak yang tak bersifat scripted. Anda bisa menemukan satu cuaca yang mungkin tak lagi Anda temukan di pertempuran yang lain, terlepas dari lokasi yang sama.
Cuaca jadi elemen acak yang tak bersifat scripted. Anda bisa menemukan satu cuaca yang mungkin tak lagi Anda temukan di pertempuran yang lain, terlepas dari lokasi yang sama.
Badai pasir membuat sudut pandang semakin terbatas.
Badai pasir membuat sudut pandang semakin terbatas.

Satu yang menarik, setidaknya dari versi Playstation 4 dan PC yang kami coba adalah sistem cuaca yang ada. Seperti yang sempat diumumkan sebelumnya, DICE memang menghadirkan cuaca yang dinamis untuk Battlefield 1 untuk tak hanya membuat suasana pertempuran menjadi lebih dinamis, tetapi juga membuatnya terasa berbeda satu sama lain. Namun tak seperti game kebanyakan yang membuat sistem cuaca seperti ini sebagai sesuatu yang scripted, yang biasanya akan terpicu otomatis begitu Anda masuk dalam periode waktu atau memicu event tertentu, cuaca menjadi elemen acak Battlefield 1. Ada kalanya Anda bertemu dengan badai pasir yang membuat sudut pandang menjadi terbatas, Anda menemukan hujan dengan angin kencang di pertempuran yang lain, sementara tak sedikit pula situasi dimana Anda sekedar berhadapan dengan cuaca mendung tanpa ada cuaca apapun yang mengikuti. Uniknya lagi? Kami sempat menemukan cuaca hujan dI PS4, namun tidak sama sekali di versi PC setelah sekitar lima kali pertempuran.

Tampil indah di Playstation 4, visual Battlefield 1 masih punya potensi tampil lebih sempurna di PC. Di atas adalah contoh SS versi PC yang kami tangkap sendiri di setting mentok kanan.
Tampil indah di Playstation 4, visual Battlefield 1 masih punya potensi tampil lebih sempurna di PC. Di atas adalah contoh SS versi PC yang kami tangkap sendiri di setting mentok kanan.

Untuk urusan visual, Battlefield 1 dan Frostbite Engine memang tak perlu diragukan. Jika ia berhasil mencapai kualitas visualisasi yang cukup memanjakan mata seperti ini di Playstation 4, maka Anda bisa mengantisipasi kualitas yang lebih baik di versi PC, apalagi jika Anda punya rig dengan spesifikasi yang mumpuni. Namun tak sekedar efek visual dan tekstur saja, namun keberhasilan DICE untuk membuat Anda merasa berada di tengah sebuah perang yang penuh kekacauan.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

May 11, 2022 - 0

Review Rogue Legacy 2: Banyak Anak, Banyak Masalah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Rogue Legacy 2 ini?…
April 21, 2022 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Jeremy Hinton (Xbox Asia)!

Menyambut rilis PC Game Pass untuk Indonesia, kami berkesempatan untuk…
April 18, 2022 - 0

Review Grammarian Ltd: Indo Versus Inggris!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Grammarian Ltd ini? Mengapa kami…
January 13, 2022 - 0

Review God of War PC: Dewa di Rumah Baru!

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa Sony kini memang mulai…

PlayStation

March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…
March 21, 2022 - 0

Review Elden Ring: Cincin Menuntut Nyawa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan Elden Ring? Lantas, mengapa kami menyebutnya…
March 4, 2022 - 0

Preview Elden Ring: Senyum Merekah di Balik Tangis Darah!

Elden Ring akhirnya tersedia di pasaran dengan beberapa formula baru…

Nintendo

April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…