10 Sumber Kemarahan yang Hanya Dihadapi Gamer!

Reading time:
September 26, 2016
  1. Bad Ending

Undvik

Pernahkah Anda menghabiskan waktu sekitar 100-200 jam untuk sebuah game dan menemukan di dunia maya sebuah informasi yang membuat waktu permainan tersebut seolah tak berharga sama sekali dan justru jadi sumber frustrasi? Ini sepertinya kasus yang sudah pasti dinikmati hampir semua gamer, terutama untuk Anda yang senang mencicipi game-game RPG dengan jalinan cerita bercabang yang solid. Berusaha menghindari spoiler yang ada, Anda berusaha menyelesaikan semua quest dan side-quest seorang diri, berupaya untuk melakukan segala sesuatunya dengan sesempurna mungkin. Namun begitu berakhir? Anda baru menyadari bahwa ending yang Anda dapatkan adalah versi terburuk dari semua alternatif ending yang ada! Parahnya lagi, ending terburuk tersebut dipicu karena hal remeh-temeh seperti pilihan percakapan atau sekedar kegagalan Anda untuk memicu satu event spesifik tertentu, yang tentu saja tak akan pernah Anda tahu tanpa membaca walkthrough atau mengeksplorasi setiap sudut dunia yang ada. Dan ketika Anda hendak kembali? Anda  menemukan bahwa Anda lupa menyimpan save data di titik yang penting dan mau tak mau, harus mengulang segala sesuatunya kembali dari awal jika ingin mendapatkan ending terbaik. Hal inilah yang kami rasakan ketika menemukan bahwa karakter pendukung wanita utama di Suikoden 2 – Nanami, ternyata tak harus berakhir tewas saat perang. God damn it!

  1. Nonton Gamer Lain Memainkan Game yang Sudah Anda Selesaikan!

Inside Jagatplay (50)

Kita semuanya sepertinya tahu bagaimana rasanya memainkan game dengan orang lain yang senantiasa memberikan instruksi di belakang, terlepas dari apakah ia gamer ataupun orang awam yang tak mengerti sama sekali soal apa yang ia lihat. Semakin lama mereka di belakang dan terus “mengajarkan” kepada Anda cara bermain, semakin dipupuk pula rasa amarah Anda. Hasilnya? Dengan tekad bulat, Anda berjanji tak akan menjadi gamer seperti ini. Namun pernahkah Anda menonton langsung sesi gaming teman Anda yang tengah memainkan sebuah game yang sudah Anda selesaikan sebelumnya? Bahwa ia tengah terjebak di sebuah puzzle sederhana selama berjam-jam dimana Anda tahu solusi jelasnya? Atau ketika ia gagal menerapkan satu strategi spesifik yang bisa dengan mudah untuk membunuh boss yang sudah ia lawan selama 30 menit terakhir ini? Ada keinginan untuk membocorkan strategi yang ada, tetapi di sisi lain, Anda mengerti bahwa teman Anda tak akan senang jika mendapatkan perlakuan seperti ini. Hasilnya? Rasa kesal dan amarah ini bahkan melebihi ketika Anda diperintah dari kursi belakang.

  1. Back Tracking

resident-evil-2

Sebagian besar game yang dirilis satu atau dua generasi sebelumnya memang sebagian besar berakhir linear. Bahwa seperti sebuah garis lurus cerita, Anda “tinggal” menikmati perjalanan yang ada dan menyelesaikan setiap tantangan yang dilemparkan kepada Anda untuk menyelesaikannya. Namun tak sedikit pula, yang punya sedikit elemen “puzzle” di dalamnya. Dimana terkadang, Anda harus bergerak bolak-balik ke tempat yang sudah Anda singgahi sebelumnya hanya untuk mencari item ataupun senjata yang dibutuhkan untuk bergerak ke tempat selanjutnya. Satu kali? Okay. Dua kali? Mmmm..okay. Tiga kali? Saatnya mempersiapkan arsenal kata sumpah serapah yang sudah Anda simpan selama ini. Di masa lalu, seri klasik Resident Evil boleh dibilang sebagai yang paling sering melakukan hal seperti ini dan menimbulkan rasa amarah sendiri. Kunci di ruang A untuk mengambil pipa air, bergerak ke B untuk memadamkan api di pintu terdekat, menemukan sebuah tang, ke ruang A untuk membuka baut yang ada, membawa baut tersebut kembali ke ruang B………..Anda sudah kesal membacanya? Bayangkan jika Anda harus menjalankannya.

  1. RNG Item

cryptarch

Untuk membuat sebuah game lebih seru, bergantung pada genre yang ada, tak sedikit developer yang  menyuntikkan sedikit elemen RNG di dalamnya. Bahwa efek serangan yang Anda hasilkan atau kelangkaan item yang Anda dapatkan akan sangat bergantung pada angka random omong kosong yang ditetapkan oleh developer. Bahwa tak menghitung seberapa besar usaha kerja keras atau bahkan uang yang sudah Anda gelontorkan, RNG hanya memberikan probabilitas dan selalu, sekedar probabilitas. Salah satu contoh kasus terburuk adalah di bulan-bulan pertama rilis Destiny beberapa tahun silam. Dengan item yang kelangkaannya berdasarkan warna dan butuh untuk diidentifikasi sebelum ketahuan apa yang Anda dapatkan, Cryptarch – si tukang identifikasi tersebut jadi musuh terbesar yang selalu dimaki-maki oleh gamer Destiny di kala itu. Atau sebagai contoh terbaru, sistem peti untuk game racikan Valve seperti DOTA 2 misalnya? Semuanya didasarkan pada RNG, besarnya uang yang Anda gelontorkan tak menjamin bahwa Anda bisa mendapatkan item dengan tingkat kelangkaan tinggi. Sementara di sisi lain, gamer lain yang baru menghabiskan 1/20 dari uang yang sudah Anda gelontorkan mendapatkan semua item yang Anda inginkan. It’s not fair!

Tags:

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…