Review Final Fantasy XV: Lubang yang Sulit Diabaikan!

Reading time:
December 27, 2016
final-fantasy-xv-jagatplay-1

Pernahkah Anda berakhir menantikan hadirnya sebuah game selama 10 tahun? Namun bukan penantian dengan penuh harapan atau optimisme yang Anda temukan, tetapi sebuah proyek yang justru kian terlihat mustahil untuk bisa rampung dan dirilis sebagai sebuah produk komersial. Kita tak hanya berbicara soal beberapa kali rumor pembatalan yang sempat mengemuka ke permukaan, tetapi juga absennya informasi, perubahan karakter, ketidakjelasan sistem gameplay, ketidakyakinan pada platform, hingga pada batas kesangsian bahwa game bernama “Final Fantasy XIII Versus” ini memang masih tengah sibuk dikerjakan oleh Square Enix. Namun percaya atau tidak, 10 tahun setelahnya, sebuah game yang mengusung intisari dari game yang sempat menelan hype tersebut akhirnya tiba di tangan gamer. Sebuah game yang kini mengusung nama – Final Fantasy XV.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu sudah mendapatkan gambaran yang cukup jelas soal apa itu Final Fantasy XV. Sesi open-world yang ditawarkan oleh Hajime Tabata memang hadir dengan kualitas yang pantas diacungi jempol, dengan keindahan visual, atmosfer, dan begitu banyak monster yang bisa Anda bunuh. Cerita juga hadir dengan impact emosional yang cukup untuk membuat air mata Anda menetes, namun sayangnya dicederai dengan kekurangan yang sulit diabaikan begitu saja. Penantian 10 tahun yang akan membuat Anda senang di satu sisi, namun juga kecewa di sisi yang lain.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Final Fantasy XV ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game dengan lubang yang sulit diabaikan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Untuk mendapatkan gambaran cerita yang lebih jelas, Anda harus menonton Kingsglaive dan Brotherhood terlebih dahulu sebelum mencicipi FFXV itu sendiri.
Untuk mendapatkan gambaran cerita yang lebih jelas, Anda harus menonton Kingsglaive dan Brotherhood terlebih dahulu sebelum mencicipi FFXV itu sendiri.

Berbeda dengan game-game pada umumnya dimana ia didesain untuk dimengerti dengan hanya memainkan gamenya itu sendiri, Square Enix mendesain Final Fantasy XV sebagai satu semesta yang lebih luas. Oleh karena itu, sebelum mencicipinya, Anda “diharuskan” untuk mencicipi seri film CGI – Kingsglaive: FFXV dan seri anime – Brotherhood untuk mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa yang terjadi. Jika tidak, Anda akan dipaksa untuk mencicipinya dengan lebih banyak tanda tanya dengan tanpa jawaban yang jelas.

Untuk melindungi dari sang anak dari invasi negara Niflheim, King Regis meminta Noctis berangkat menuju Altissia.
Untuk melindungi dari sang anak dari invasi negara Niflheim, King Regis meminta Noctis berangkat menuju Altissia.
Bersama dengan tiga kawannya yang lain - Gladioulus, Ignis, dan Prompto, Noctis memulai perjalanannya.
Bersama dengan tiga kawannya yang lain – Gladiolus, Ignis, dan Prompto, Noctis memulai perjalanannya.

Kisah Final Fantasy XV sendiri berpusat pada sosok seorang pangeran dari kerajaan bernama Lucis – Noctis Lucis Caelum, di sebuah dunia bernama Eos. Oleh sang ayah, King Regis, Noctis diminta untuk pergi ke Altissia untuk menemui sang calon pengantin- Lunafreya. Namun satu hal yang tak diketahui Noctis, Regis melakukan hal tersebut untuk melindunginya dari bencana yang tak terhindarkan mengingat posisi Lucis yang kini tak lagi berkutik di bawah invasi dan tipu muslihat negara dengan kekuatan militer tinggi – Niflheim. Noctis pun berangkat bersama dengan tiga kawan seperjuangannya – Gladiolus, Prompto, dan Ignis tanpa kecurigaan sama sekali.

Di tengah perjalanan, Noctis justru mendapatkan berita buruk soal jatuhnya Lucis ke tangan Niflheim.
Di tengah perjalanan, Noctis justru mendapatkan berita buruk soal jatuhnya Lucis ke tangan Niflheim.
Noctis diminta untuk mengumpulkan serangkaian senjata para leluhurnya - Royal Arms untuk merebut kembali Lucis.
Noctis diminta untuk mengumpulkan serangkaian senjata para leluhurnya – Royal Arms untuk merebut kembali Lucis.

Namun di tengah perjalanan menuju Altissia, Noctis harus berhadapan dengan berita buruk. Ibukota Lucis – Insomnia dan kerajaan Lucis itu sendiri dikabarkan jatuh ke tangan Niflheim. Untuk alasan yang tak bisa ia mengerti, kristal yang seharusnya melindungi kerajaan tercintanya tersebut ternyata tak menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mendengar bahwa Regis dan Lunafreya tewas di invasi tersebut. Namun Noctis tak punya waktu untuk bersedih. Dengan tanggung jawab eksistensi Lucis yang kini berpindah di pundaknya, dibantu oleh sang mentor – Cor, ia kini harus berjuang untuk mencari senjata-senjata Lucii – yang merupakan warisan dari raja-raja Lucis dari masa lalu. Di tengah perjalanan, mereka juga bertemu dengan Ardyn Izunia yang tak mereka kenali sebagai penasehat penting dari Niflheim. Dengan tipu muslihatnya, Ardyn berhasil membawa Noctis dkk untuk mengumpulkan para Astral yang ia sebut akan membantu usaha Noctis untuk merebut kembali Lucis.

Dengan bantuan Ardyn Izunia, Noctis mulai mengumpulkan kekuatan dari para Astral.
Dengan bantuan Ardyn Izunia, Noctis mulai mengumpulkan kekuatan dari para Astral.
Satu hal yang cukup mengejutkan adalah malam yang pelan tapi pasti, berlangsung lebih lama daripada siang hari.
Satu hal yang cukup mengejutkan adalah malam yang pelan tapi pasti, berlangsung lebih lama daripada siang hari.

Petualangan untuk merebut kembali Lucis pun dimulai. Namun seperti yang bisa diprediksi, ini bukanlah perjalanan yang mudah. Karena tak hanya pasukan Niflheim yang harus ia lawan, Noctis juga menyadari bahwa ada hal aneh yang terjadi dengan Eos, dunia itu sendiri. Bahwa siang kini berlangsung lebih singkat, dan malam kini terjadi jauh lebih lama dan sering. Malam sama yang membawa ancaman baru berupa monster-monster lebih kuat yang disebut sebagai Daemons.

Lantas, tantangan seperti apa yang harus dihadapi oleh Noctis dkk? Mampukah ia berhasil merebut Lucis dari Niflheim? Karakter-karakter penting mana saja yang akan bersinggungan dengannya? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan Final Fantasy XV ini.

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…
April 22, 2021 - 0

Review NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Cerita Indah Penuh Derita!

Dengan popularitas yang ia raih, hampir sebagian besar gamer memang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…