Review 1-2-Switch: Seharusnya Gratis!

Reading time:
March 15, 2017
1-2-Switch jagatplay (8)

Mengejar inovasi adalah sebuah misi yang sepertinya memang “giat” dilakukan oleh Nintendo dalam persaingan platform generasi terbarunya, sesuatu yang sudah mereka lakukan untuk waktu yang cukup lama. Bahwa alih-alih menghadirkan sesuatu yang sudah bisa ditebak untuk tiap iterasi – yakni sekedar peningkatan performa untuk mengakomodasi game-game dengan kualitas visualisasi yang lebih mumpuni, mereka selalu menyuntikkan sesuatu yang baru dan berbeda. Dan kemudian langkah selanjutnya? Melemparkan satu atau dua buah game spesifik yang didesain untuk memanfaatkan fitur tersebut secara maksimal dengan dua tujuan utama – memperlihatkan teknologi yang berdiri di belakangnya sekaligus membangun pondasi untuk sebuah identitas konsol yang baru.

Hal yang sama juga dilakukan Nintendo dengan Switch. Sebagian besar dari kita mungkin akan langsung mengasosiasikan “inovasi” tersebut dengan fakta bahwa ia merupakan sebuah konsol hybrid, yang bisa digunakan sebagai sebuah handheld pula jika dibutuhkan. Namun teknologi lain yang ia usung bersumber dari implementasi kontroler baru miliknya – Joy-Con. Bahwa di kontroler kecil yang bisa digunakan secara konvensional ataupun dengan sensor gerak ini memuat banyak teknologi di dalamnya. Dari gyro, accelerometer, sensor jarak, hingga yang yang paling dijual Nintendo – HD Rumble.

Untuk memperlihatkan kepada dunia teknologi yang mereka tawarkan ini, Nintendo memutuskan untuk merilis setidaknya dua buah game yang akan berfokus padanya. Ada ARMS – sebuah game tinju yang meminta Anda untuk memeragakan gaya bertinju dengan masing-masing tangan menggenggam sebuah Joy-Con. Satu lagi? Game yang juga diposisikan sebagai  judul rilis – 1-2 Switch. Di beberapa region, termasuk Indonesia, hampir “mustahil” untuk menghindari game yang satu ini mengingat ia masuk ke dalam bundle penjualan. Masuknya ia bersama dengan Zelda: Breath of the Wild sebagai game “wajib” beli tentu berkontribusi pada tingginya harga Switch itu sendiri.

Sementara di region lain dimana ia bisa dibeli secara terpisah, Nintendo memutuskan untuk menjual game yang satu ini dengan harga sekitar USD 50, setingkat dengan sebagian besar game AAA yang ada. Lantas, pengalaman seperti apa yang ia tawarkan? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang seharusnya gratis? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Apa itu 1-2-Switch?

1-2 Switch merupakan sebuah kompilasi mini-game yang didesain Nintendo untuk memperlihatkan kemampuan Joy-Con.
1-2 Switch merupakan sebuah kompilasi mini-game yang didesain Nintendo untuk memperlihatkan kemampuan Joy-Con.

Jadi, pertanyaan pertama yang mungkin muncul dari benak Anda mungkin satu – “Apa itu 1-2-Switch?”. Ada dua cara paling sederhana untuk menjelaskan game yang satu ini. Pertama, ia adalah sebuah game yang didesain untuk mempertontonkan dan membuktikan potensi Joy-Con sebagai kontroler Nintendo Switch. Bahwa dengan semua teknologi yang disematkan Nintendo di dalamnya, kontroler kecil yang satu ini bukanlah kontroler yang “biasa” Anda temukan di mesin gaming lainnya. Kedua? Ia adalah sebuah game PARTY yang diklaim Nintendo dibangun dengan satu pemikiran dasar – sebuah game menyenangkan yang justru meminta gamer untuk tak melihat televisi. Fokusnya adalah membuat para pemain melihat satu sama lain.

Konsep yang “dikejar” oleh Nintendo tersebut kemudian dieksekusi dengan 28 buah mini-game yang masing-masing memiliki tema dan gaya gameplay yang berbeda, dengan atmosfer kompetitif yang kentara. Siapa yang menang berakhir ditentukan oleh dua standar penilaian – antara skor atau siapa yang lebih cepat menyelesaikan objektif yang ada. Satu hal yang setidaknya berhasil dieksekusi dengan manis oleh game yang satu ini? Bahwa ia memang memperlihatkan aspek kemampuan Joy-Con secara menyeluruh. Bahwa Nintendo memastikan bahwa Anda bisa menikmati setiap sudut teknologi yang ia suntikkan ke dalam kontroler kecil tersebut.

Nintendo menyebutnya sebagai game
Nintendo menyebutnya sebagai game “unik” yang membuat player justru harus melihat satu sama lain dan bukannya layar televisi seperti game-game pada umumnya.
Dengan 28 buah game, ia berhasil menyulap konsep sederhana menjadi
Dengan 28 buah game, ia berhasil menyulap konsep sederhana menjadi “pertunjukan” teknologi Joy-Con dengan tepat.

Maka yang Anda temukan adalah varian mini-game dengan konsep absurd, yang uniknya, bekerja dengan sangat baik sebagai sebuah game yang sekedar ingin Anda cicipi untuk bersenang-senang dengan teman Anda. Atau jika Anda ingin sekedar pamer ke teman terdekat Anda soal apa itu Nintendo Switch dan seberapa “keren”-nya konsol hybrid yang satu ini. Kreativitas membangun tema yang ada memang pantas untuk diacungi jempol, dari aksi memerah susu sapi, bertinju, bermain baseball, bermain tenis meja, menembak, hingga membobol brankas sekalipun. Nintendo berhasil membuat hal-hal “sederhana” ini menjadi sebuah game kompetitif yang memang berpotensi membawa sedikit keceriaan ke ruang tamu.

Ini adalah sebuah game party, tanpa plot dan sejenisnya.
Ini adalah sebuah game party, tanpa plot dan sejenisnya.

Maka seperti game party pada umumnya, tak ada tujuan akhir apapun di sini. 1-2-Switch didesain sebagau game “cepat” yang bisa Anda nikmati ketika bersama teman, dan itu saja. Tidak ada plot, tidak ada achievement, tidak ada target yang harus Anda kejar. Semua mini game ini bisa dinikmati secara terpisah tanpa masalah.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…