Review Farpoint: Batu Loncatan!
Dunia yang Sayangnya, Hambar

Walaupun ia memainkan peran yang cukup penting di game-game konvesional, dunia dan setting permainan yang ditawarkan developer memainkan peran yang bahkan lebih esensial lagi di game berbasis VR. Mengapa? Karena dunia ini tak lagi sekedar Anda nikmati jauh, tetapi menjadi “arena permainan” Anda secara langsung dalam format VR. Detail menjadi sesuatu yang akan Anda perhatikan dengan lebih seksama, dengan mata yang akan secara konstan bertemu dan berhadapan dengan setiap objek yang ditawarkan. Ada hal yang berhasil dilakukan Impulse Gear di sini dan sayangnya, ada yang gagal. Untuk urusan terakhir ini, sensasi monotonnya sendiri masih kentara.
Memainkan Farpoint dengan menggunakan Playstation 4 Pro sepertinya menjadi jaminan pasti bahwa Anda akan mendapatkan sebuah game VR dengan kualitas visual yang lebih dari sekedar memadai. Walaupun sulit untuk diproyeksikan melalui screenshot yang kami sertakan, namun detail dunia, dari sekedar efek visual hingga tekstur batu dan tanah yang ada di Farpoint terlihat begitu jelas. Namun harus diakui, ia gagal membuatnya terasa seperti sebuah dunia yang menarik. Mengapa? Karena bisa dibilang, hampir sebagian besar porsi permainan Anda akan diisi oleh gurun gersang dengan bebatuan tinggi di sana sini. Ia kehilangan kesempatan untuk menawarkan sesuatu yang terasa “Wah” di dalamnya.


Walaupun harus diakui, ada usaha untuk menawarkan variasi setting tersebut. Beberapa di antaranya memang terasa memukau, apalagi ketika Anda memasuki sebuah gua dengan versi “kunang-kunang” yang unik di dalamnya atau ketika Anda berhadapan dengan sebuah monster berukuran masif, yang cukup untuk mengirimkan sinyal bahwa Anda tengah berhadapan dengan sebuah bahaya yang tak lagi bisa dianggap remeh. Namun di sisi lain, kami merasa bahwa porsi konten-konten “mengejutkan” ini bisa dibilang terlalu minim untuk gamer merasa tertarik dan penasaran dengan apa yang hendak ditawarkan oleh dunia Farpoint itu sendiri.
Namun setidaknya, dengan presentasi visual dari sisi teknis yang baik seperti ini, ilusi bahwa Anda tengah terjun ke dalam sebuah dunia asing yang tengah berusaha mencabut nyawa Anda dengan seefektif mungkin berakhir jadi sesuatu yang akan dipercaya oleh otak Anda, sejak pandangan pertama.
Batu Loncatan!

Dari sisi gameplay, Farpoint memang tidak bisa dibilang sebagai sebuah game FPS yang revolusioner. Mengapa? Karena pada dasarnya, ia menawarkan sebuah mekanik First Person standar yang sudah sering Anda temukan di game-game konvensional sejauh ini. Sebuah game aksi yang meminta Anda untuk mencicipinya dari perspektif orang pertama, membunuh musuh beragam ukuran yang Anda temui dengan varian senjata yang Anda miliki, dan terus bergerak untuk mencapai progress cerita. Sesuatu yang sudah pasti, terasa familiar untuk seorang gamer.


Bahkan, Farpoint bahkan bisa disebut lebih sederhana dari perspektif yang satu ini. Bahwa hampir sebagian besar game-game FPS modern saat ini mulai berusaha menyuntikkan beragam elemen genre lain untuk membuatnya lebih kaya, kompleks, dan menarik. Selalu ada konten progress karakter, atau sekedar pohon skill untuk mendukung gaya bermain Anda, hingga terkadang – angka damage untuk membuktikan bahwa karakter Anda memang sudah bertambah kuat. Farpoint tidak menawarkan hal ini sama sekali, dan muncul sebagai sebuah game FPS yang lugas. Game FPS yang sekedar meminta Anda untuk menembak apapun yang berada di hadapan Anda dan tak butuh untuk memikirkan hal atau elemen yang lain. Apakah ini konsep yang masih terasa relevan? Iya dan tidak. TIDAK, karena pada akhirnya, sense of progress memang penting untuk membuat game FPS “hambar” seperti ini lebih menarik.
Namun di sisi lain, IYA, karena ini adalah sebuah konsep fenomenal untuk sebuah game VR. Karena seperti yang kami bicarakan sebelumnya, hampir sebagian besar game berbasis FPS action seperti ini berakhir antara menjadi game rail-shooter, atau sekedar game dengan konten eksperimen yang super pendek. Namun tidak di Farpoint ini. Ini adalah sebuah game VR FPS dimana Anda mengendalikan kemana karakter Anda harus bergerak, Anda mengendalikan kemana ia harus menembak, Anda mengendalikan senjata apa yang ingin atau tidak ingin Anda ambil, Anda mengatur ritme permainan Anda sendiri, seperti layaknya sebuah game FPS konvensional. Sebuah konsep sederhana yang jarak diimplementasikan game-game aksi VR yang biasanya hanya sekedar meminta Anda sekedar diam dan menembaki ancaman yang datang dari segala arah. Farpoint mengeksekusi konsep sebuah game FPS AAA yang seharusnya dalam format VR.


Dan mereka melakukannya dengan baik, membuatnya terlihat seperti batu loncatan untuk lebih banyak game FPS di masa depan yang mungkin akan berujung menawarkan sesuatu yang lebih baik atau menyempurnakan kekurangan yang masih terjadi di Farpoint ini. Ia menjadi bukti yang jelas bahwa VR, dengan implementasi teknologi yang tepat, bisa menawarkan sesuatu yang serupa dengan scene gaming konvensional. Bahkan kehadiran ekstra konten teknologi perangkat keras di atasnya bisa membuat pengalamannya menjadi lebih imersif. Di Farpoint, ia bahkan jadi salah satu tulang punggung untuk mencapai hal tersebut. Benar sekali, kita berbicara soal Aim Controller yang bisa dibeli gamer Playstation 4 sebagai bagian dari bundle.










