JagatPlay di TGS 2017: Wawancara dengan Scott Whitney (Call of Duty: WWII)!

Author
Jey Nelson
Reading time:
September 23, 2017

Bagi gamer yang sudah menikmati seri COD rutin setiap tahunnya, apa yang dilakukan Activision dan Sledgehammer Games untuk seri Call of Duty tahun ini lewat seri COD: WWII memang terhitung melegakan. Mereka akhirnya siap untuk kembali ke tema perang klasik yang menjadi akar franchise in dan berusaha membangun sesuatu yang baru dan berbeda darinya, baik dari sisi teknologi, mekanik gameplay, hingga tentu saja, cerita yang akan diusung. Sony Interactive Entertainment sendiri memberikan kami kesempatan untuk berbincang-bincang langsung dengan Sledgehammer Games terkait game yang satu ini.

Kami bertemu dengan Scott Whitney – sang Narrative Director untuk Call of Duty: WWII dan membicarakan banyak  hal, dari konten gameplay hingga film apa saja yang menginspirasi mereka, termasuk salah satu pertanyaan yang selalu menghantui tiap gamer – “Bisakah kita berperan sebagai Nazi kali ini?”. Seperti apa wawancaranya? Ini dia:

Kami sempat ngobrol dengan Scott Whitney - Narrative Director untuk COD: WWII.
Kami sempat ngobrol dengan Scott Whitney – Narrative Director untuk COD: WWII.

JagatPlay (Ask): Ini bukan pertama kalinya Call of Duty mengambil tema perang dunia kedua. Apa yang membuat seri ini berbeda dengan seri yang lawas, baik dari sisi fitur ataupun mekanik gameplay, atau mungkin teknologi dan cerita?

Scott: Teknologi sudah pasti. Seri terakhir Call of Duty yang mengusung perang dunia kedua itu sudah 10 tahun lamanya. Dan itu termasuk jangka waktu yang panjang untuk teknologi. Apa yang bisa kita lakukan sekarang dibandingkan dengan dulu tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bagi kami, ini tentu menghasilkan konsekuensi tersendiri. Ketika kami mengerti bahwa teknologi kini memungkinkan kami untuk menangkap ekspresi karakter yang lebih baik, ia mengarahkan kami untuk menciptakan cerita yang memang berfokus ke mereka. Jadi jika berbicara soal apa yang bisa kami lakukan di 2017 berbanding dengan masa lalu, itu jadi area yang bisa kami gali lebih dalam.

JagatPlay (Ask): Apakah ada mekanik gameplay baru yang diperkenalkan di seri ini?

Scott: Yeah, terutama di bagian single-player, yang memang menjadi area fokus saya. Dari sisi cerita, ada penekanan yanng kuat pada tema “Brotherhood” (persaudaraan). Bagaimana kita harus mengandalkan anggota skuad yang lain untuk melewati ancaman yang ada. Jadi dari sisi mekanik, satu hal yang kita tambahkan untuk tahun ini, adalah Squad Ability.

Anda bisa melihatnya sebagai Score Streak untuk mode single-player, dimana Anda akan mengumpulkan point dan menyimpannya. Ketika Anda berada dalam kondisi terdesak, point tersebut bisa digunakan untuk memanggil skuad Anda yang lain untuk ammo, health kit, hingga serangan udara untuk mempermudah Anda melewati beberapa area yang mungkin terlalu sulit jika dilewati sendiri. Di titik inilah, cerita dan mekanik gameplay melebur untuk memperkuat tema Brotherhood  dan bagaimana Anda harus mengandalkan skuad Anda untuk bisa hidup.

JagatPlay (Ask): Apakah ada prajurit perang dunia II yang asli atau veteran yang terlibat dalam proses pengembangan game ini?

Scott: Dalam pengertian konsultan? Bahkan di dalam studio kami sendiri, kami punya orang-orang yang terus mengawasi, jadi ini jadi keuntungan besar untuk kami. Mereka akan langsung menunjuk jika kami melakukan kesalahan, memperbaikinya sebelum banyak orang melihat di ruang publik. Sebagai tambahan untuk itu, kami juga bekerjasama erat dengan Ahli Sejarah Militer yang memang berfokus di era ini. Karena ada banyak hal, dari detail, bahasa, teknologi, dan perlengkapan yang ingin kami hadirkan secara tepat.

Jadi kami bekerja dengan Martin Morgan, yang sudah menulis secara ekstensif terkait era ini, sebagai seorang penulis, sejarawan, dan sudah mendedikasikan hidupnya untuk ini. Dan dia menjadi sumber yang begitu penting sekaligus membimbing kami dalam proses pengembangan.

JagatPlay (Ask): Saya kira sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk setiap seri baru COD yang meluncur ke pasaran dan bertema Perang Dunia II, selalu ada permintaan untuk cerita dari perspektif Axis (Nazi). Apakah COD:WWII akan memenuhi permintaan ini? Ataukah kita hanya akan bermain sebagai Allies di sini?

Scott: Kalau berbicara dari mode multiplayer, Anda tentu bisa bermain dari dua sisi. Karena itu memang pengalaman multiplayer yang kompetitif. Untuk mode single-player, Perang Dunia II adalah subyek yang sangat besar, hingga kami sendiri tidak yakin bisa memberikan detail dari semua aspek dan membuatnya terasa pantas. Jadi mau tidak kami, kami harus memperkecil fokus yang ada. Jadi untuk saat ini, Anda akan bermain dari kacamata Allies. Agak sulit untuk membicarakan masa depan, mungkin kami akan menawarkan perspektif Axis nantinya untuk memperluas cerita yang ada.

Walaupun demikian, kami tetap berusaha untuk menawarkan pandangan yang lebih luas untuk konflik ini. Bahwa  di dalam pasukan Jerman yang diperangi oleh Sekutu, tidak sedikit dari mereka yang sebenarnya bukan Nazi. Sebagian dari mereka adalah orang Jerman baik yang terperangkap dalam konflik besar ini. Dan itu akan terproyeksikan lewat cerita dan momen yang akan Anda dapatkan di mode single-player nanti.

JagatPlay (Ask): Berbicara soal multiplayer, kami benar-benar suka dengan mode WAR. Jadi, ada rencana untuk memperluasnya? Atau mungkin mengadaptasikan skenario pertempuran dunia nyata?

“Jika antusiasme terhadapnya memang besar, maka konten baru akan meluncur untuk mode WAR”

Scott: Lega mendengar Anda menyukainya. Saya juga mendengar bahwa sebagian besar gamer yang mengikuti beta kemarin juga senang dengannya. Jadi, tentu saja, semakin banyak orang yang suka biasanya akan berujung pada lebih banyak konten untuknya. Kami memang sudah berencana untuk menambahkan lebih banyak konten lewat expansion. Jika memang ada antisipasi dan antusiasme untuknya, maka bisa diprediksi akan ada lebih banyak lagi untuk mode WAR ini.

Salah satu hal keren dari Mode WAR ini, seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, terutama untuk gamer-gamer yang memang menggemar era perang dunia kedua ini, adalah kesempatan untuk memanfaatkannya untuk mereka ulang skenario perang ternama atau momen penting selama perang. Jadi Anda akan merasa bahwa apa yang Anda jalankan tidak fiktif, melainkan diambil dari sesuatu yang terjadi di dunia nyata.

JagatPlay (Ask): Ini akan jadi pertanyaan yang sulit, bagi saya pribadi. Perubahan dari perang futuristik ke perang klasik, mau tak mau, akan membuat Anda dibandingkan dengan game lain yang juga mengusung hal yang sama. Bagaimana menurut Anda?

Scott: Kami semua adalah gamer. Kami mendapatkan inspirasi dari banyak game di luar sana, tetap di sisi lain, ini juga menekankan kami untuk membuat produk sebaik mungkin. Jadi, tidak pernah ada perasaan bahwa kami berkompetisi secara langsung dengan mereka. Jika ada, kami justru merasa terinspirasi dengan media yang kami nikmati, baik game ataupun film. Dan di akhir, membuat kami meningkatkan kualitas produk kami sendiri.

JagatPlay (Ask): Berbicara soal film, film mana yang menjadi sumber inspirasi Anda?

Scott: Oh gosh, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Ada banyak jawaban yang sepertinya sudah pasti, seperti Saving Private Ryan, Band of Brothers. Tetapi kami sendiri berjuang, seperti yang kamu tanyakan sebelumnya, untuk menawarkan perspektif yang lebih luas. Kami juga menonton film yang mengeksplorasi hal itu. Jadi, kami juga menonton film dari kacamata Jerman, kami juga menonton film dari grup yang mungkin tak pernah Anda dengar sebelumnya. Ada sebuah film keren jika Anda punya kesempatan untuk menontonnya, berjudul KANAL (1957), yang berfokus pada Warsaw Uprising. Film keren. Walaupun tidak menjadi fokus untuk COD tahun ini, namun detail dan tekstur, serta cara mereka menanganinya memperluas perspektif kami. Pada akhirnya, membuat kami menciptakan game yang lebih baik.

JagatPlay (Ask): Jika Anda bisa merekomendasikan satu film saja, apa yang akan Anda pilih?

“Daripada film fiktif, saya lebih merekomendasikan film dokumenter dari Inggris – The World at War” – Scott Whitney.

Scott: Jujur saja, jika saya harus melakukannya, saya akan lebih memilih film dokumenter daripada fiktif. Ada satu film seri dokumenter dari Inggris berjudul THE WORLD AT WAR (1973) yang terdiri dari 26 – 27 bagian. Jadi itu sebuah komitmen. Ketika pertama kalinya menangani proyek ini, satu hal pertama yang saya lakukan, adalah menonton film ini sampai selesai. Satu hal keren dari film seri ini adalah fakta bahwa ia diracik 15-20 tahun setelah Perang Dunia kedua berakhir. Jadi banyak orang yang sempat terlibat dalam perang tersebut masih hidup. Mereka berbicara langsung di kamera, berbagi pengalaman mereka. Jadi kita mendapatkan pengalaman tak biasa dari cerita orang-orang yang sempat berperang di pihak Nazi, berbicara ke kamera, berbagi sudut pandang mereka. Itu benar-benar membuka mata dan menginspirasi di saat yang sama.

JagatPlay (Ask): Kembali ke presentasi. Saya sudah melihat Zombie Mode dan ia terlihat keren, apa yang mendasari ide ini? Apa yang melatarbelakangi mode zombie yang baru ini?

Scott: Tentu saja, kami adalah tim yang berpengalaman menangani game horror sebelumnya. Ada banyak orang yang sempat mengerjakan Dead Space di masa lalu. Termasuk saya, yang juga mengerjakan Dead Space pertama dan sebagian Dead Space 2. Jadi, ada passion yang tinggi untuk genre yang satu ini. Dan bagi kami, ini jadi kesempatan baik untuk masuk dan menggali lebih dalam cerita fiktif yang tidak sepenuhnya fantastis, tetapi mengambil inspirasi dari apa yang terjadi di sejarah yang asli, kejadian nyata, hingga mitologi yang sesungguhnya. Dan akan merasakan itu saat memainkannya nanti, bahwa ia tidak terasa “dibuat-buat” seperti seri mode Zombie yang sudah-sudah.

Kami seperti penikmat dari genre ini, mengambil inspirasi dari beragam  sumber, baik dari barat ataupun timur. Beragam film horror juga yang jadi inspirasi kami. Semua film “gila” yang dipaksa Glenn (Gleen Schofield – GA Sledgehammer Games) untuk saya tonton selama bertahun-tahun terakhir ini.

JagatPlay (As): Apakah ada mekanik baru di zombie mode?

Mode zombie COD: WWII tidak akan terasa dibuat-buat karena akar yang juga terinspirasi dari kisah dunia nyata.
Mode zombie COD: WWII tidak akan terasa dibuat-buat karena akar yang juga terinspirasi dari kisah dunia nyata.

Scott: Berbicara soal zombie mode, saya harus jujur, saya tidak terlibat banyak di dalamnya. Jadi saya tidak tahu apakah saya bisa berbicara soal itu atau tidak. Yang saya tahu, seperti semua mode kami yang lain, ia akan melebur fitur-fitur yang mungkin sudah Anda rasa familiar dari seri-seri COD sebelumnya tetapi juga menawarkan hal dan inovasi baru untuknya.

JagatPlay (Ask): Ini mungkin akan jadi pertanyaan yang sangat spekulatif. Apa proyek Anda selanjutnya setelah COD: WWII ini?

Scott: Oh c’mon, kamu tahu itu spekulatif sekali. Kami sudah menghabiskan waktu sekitar 3 tahun, mencurahkan jiwa dan raga kami untuk game ini, dengan begitu banyak pekerjaan. Dan rasanya kami akan rehat sebentar setelah semua ini rampung, mungkin beristirahat beberapa hari. Lalu mungkin mulai berpikir keras. Tapi untuk saat ini, masih belum ada yang bisa dipastikan saat ini.

Ask: Jadi, sebagian besar game Anda yang laku sebenarnya berasal dari era perang modern. Saya hanya penasaran dengan basis pemikiran yang membuat Anda berpindah dari 1980 dan kemudian kembali ke akar?

Scott: Anda tahu, seperti beragam keputusan yang ada, selalu ada banyak faktor yang mempengaruhi. Agak menarik, karena ketika kami berbicara kepada fans, soal apa yang paling ingin mereka lihat, jawaban yang meluncur adalah Perang Dunia kedua. Memang jelas ada antusiasme yang tinggi untuk era perang modern, tentu saja, memang jadi tema yang fantastis selama sejarah franchise ini. Tetapi jika Anda melihat data angka yang ada, antusiasme untuk perang dunia kedua bahkan lebih tinggi lagi, terutama setelah beberapa seri terakhir ini. Ada kesempatan untuk merepresentasikan pengalaman baru dan segar darinya berkat generasi platform saat ini.

Ask: Bisakah Anda menjelaskan lebih dalam bagaimana caranya Anda mendapatkan aspek historis yang tepat? Apakah Anda juga mewawancara veteran dan sebagainya?

Scott: Seperti yang sempat saya bicarakan sebelumnya, Martin Morgan, historian yang bekerjasama dengan kami, sudah bekerja bertahun-tahun di Museum Perang Dunia Kedua di New Orleans, Amerika Serikat. Dan salah satu hal terbaik dari hal tersebut, dari bekerja dan fakta bahwa ia juga menulis buku, adalah fakta bahwa ia punya jaringan para veteran yang sempat bekerja dengannya. Jadi lewat Morgan, kami mendapatkan cerita dan pengalaman mereka. Tetapi juga saat kami mengunjungi mereka dan menikmati isi Museum yang ada, ia juga akan memperlihatkan hal-hal penting. Ia bahkan membawa kami tur ke European Front, tempat sama di perang dunia kedua, sembari memperlihatkan sejarah itu sendiri. Ia membawa sejarah yang sekedar gambar menjadi benar-benar hidup.

Dan berikut, pesan Scott untuk fans Call of Duty di Indonesia:

Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…