Review Seven Deadly Sins – Knights of Britannia: Penuh Dosa!

Reading time:
February 21, 2018

Setengah Hati

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 37
Ia terasa seperti produk setengah hati.

Jika ada satu hal yang harus Bandai Namco pelajari, setidaknya dari kasus beberapa rilis seri game teranyar terakhir mereka, adalah kebutuhan untuk menentukan target pasar yang jelas. Mengapa? Karena seperti kasus yang terjadi Gintama’s Rumble (yang memang tidak kami review), ia berakhir menjadi sebuah produk setengah hati yang tidak jelas untuk siapa ia dibuat. Ia tidak cukup menarik untuk membuat pendatang baru yang tidak familiar dengan franchise ini untuk jatuh hati dan mencari lebih banyak informasi atau menikmati source originalnya via manga ataupun anime, tetapi di sisi lain juga tidak cukup memuaskan para fans yang sudah mencintainya untuk membelanya sebagai produk interaktif yang fantastis. Hasilnya, adalah sebuah game dengan kualitas setengah hati yang akan membuat Anda lebih banyak, menggaruk kepala karena kebingungan.

Standar atau di bawah standar, hampir semua elemen yang Anda temukan di game ini akan menghasilkan kesan demikian. Sebagai seorang gamer yang begitu menyukai Seven Deadly Sins, ia gagal memenuhi apa yang kami inginkan sebagai fans, tetapi juga terlihat tidak begitu menarik untuk membuat mereka yang non-fans untuk terjun menyelami semestanya. Salah satu kelemahan terbesar yang ada? Tentu saja presentasi. Kita tidak sekedar berbicara soal presentasi visual berbasis cell-shading yang sayangnya, tidak terlihat efektif untuk menawarkan daya tarik sebuah visualisasi anime/manga. Kakunya gerak animasi dan detail yang tidak banyak hadir, membuatnya justru terasa seperti produk ketinggalan generasi, namun sekedar menawarkan tekstur definisi tinggi. Permainan warna yang ditawarkan memang solid, namun tidak lantas menjustifikasinya.

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 51
Gaya visualnya tidak bisa dibilang istimewa, bahkan di bawah standar.
Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 79
Semua momen keren di versi anime berakhir jadi percakapan statis yang sama sekali tidak menggoda.

Salah satu kekurangan terbesar dari game ini adalah kegagalan untuk menawarkan daya tarik yang membuat seri anime-nya begitu fantastis. Hampir semua cut-scene dari cerita yang penting atau momen epik yang seharusnya cukup untuk membuat bulu kuduk Anda merinding, terutama dari scene pertarungan yang ada, tidak tampil di sini. Yang Anda temukan justru karakter-karakter yang sekedar berdiri dengan ekspresi minim, dengan voice act yang tidak sesuai, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada potongan scene dari versi anime atau sekedar usaha untuk mereka ulang momen-momen epik Seven Deadly Sins dalam format visual in-game sama sekali. Ini berakhir jadi proyek setengah hati yang tidak terasa punya daya tarik. Pernahkah Anda membayangkan Seven Deadly Sins dalam format visual novel, namun tanpa detail cerita yang menarik? Ini mungkin terasa seperti itu. Alih-alih mendorong dan menggoda, gamer yang tidak pernah menikmati versi anime / manga Seven Deadly Sins justru bisa berakhir tidak tertarik setelah memainkan versi game yang satu ini. Percaya atau tidak, ada begitu banyak lompatan dari sisi cerita yang bahkan membuat non-fans ini punya waktu atau kesempatan untuk mengenali atau mencintai karakter yang ada. Karena minimnya detail dan konten, bukan tidak mungkin berakhir melihat Elizabeth tidak lebih dari seorang putri dengan pakaian seronok yang tak relevan.

“Tapi, JagatPlay, bisa jadi ini game memang didesain untuk fans yang memang sudah nonton versi anime / manga yang ada!”, beberapa dari Anda mungkin akan langsung berargumen demikian. Namun berita buruknya, sama seperti kami, ini berarti Anda datang dengan informasi yang jelas dan proses komparasi tidak terhindarkan soal apa saja yang tidak ditawarkan oleh versi video game-nya. Pelan tapi pasti, Anda bisa melihat begitu banyak konten yang seharusnya berakhir fantastis, ternyata tidak ditawarkan di sini sama sekali. Bayangkan saja, scene “sesederhana” aksi Meliodas yang menangkap lemparan tombak dari Gilthunder yang membuat banyak orang jatuh hati pada Seven Deadly Sins di versi anime / manga-nya, berakhir absen di versi video game ini. Satu-satunya hal yang cukup menarik bagi gamer yang familiar mungkin hanyalah “fan-service” kecil seperti aksi Meliodas yang mata keranjang dan terus berusaha melihat tubuh Elizabeth, atau kesempatan menikmati aksi Diane ketika bertarung sebagai raksasa.

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 43
Hanya beberapa fan-service yang sepertinya tepat sasaran, seperti kesempatan menggunakan Diane raksasa misalnya.

Maka dengan produk setengah hati seperti ini, sulit rasanya untuk mengerti kemana sebenarnya target Seven Deadly Sins: Knights of Britannia ini. Dan kita, masih belum berbicara soal gameplay sama sekali. Untuk urusan presentasi, baik fans ataupun non-fans untuk franchise ini, akan sulit untuk menikmatinya.

Penuh Dosa!

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 24
Sensasi menggunakan Hawk Mama saat eksplorasi berakhir cukup menyenangkan!

Kekecewaan tersebut pun harus Anda pikul ketika menikmati sisi gameplay yang ada. Seven Deadly Sins: Knights of Britannia sendiri berusaha menawarkan pengalaman yang serupa dengan apa yang Anda temukan di source originalnya. Alih-alih seperti game fighting yang sekedar meminta Anda melompat dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya, ada mode eksplorasi layaknya game RPG di sini. Mengendarai seekor babi raksasa yang disebut sebagai “Hawk Mama” yang juga berfungsi sebagai restoran yang dikepalai oleh Meliodas, Anda bisa menjelajahi Britannia. Akan ada titik kota atau dungeon dimana Anda bisa menyelesaikan misi utama, ada misi sampingan dan tantangan yang bermunculan untuk Anda selesaikan, hingga beragam point rahasia berisikan mata uang in-game untuk Anda temukan sendiri. Setidaknya, di sisi ini, ia tampil tepat sasaran untuk mengikuti source utamanya. Sisanya? Penuh dosa!

Menyebutnya sebagai game fighting tiga dimensi seperti yang ditawarkan oleh Bandai Namco via seri Naruto, sepertinya adalah cara paling sederhana untuk menjelaskan pada itu Seven Deadly Sins: Knights of Britannia, terutama di mode cerita yang ada. Semua kombinasi serangan utama bisa diakses dengan menggunakan satu tombol “Normal Attack” atau “Heavy Attack” yang ditekan berulang-ulang. Anda bisa mengkombinasikan tombol R1 untuk serangan lebih spesial, namun akan memakan sejumlah bar power yang terletak di bawah bar HP. Walaupun bar ini akan terisi secara otomatis setelah menunggu beberapa waktu, mengaturnya menjadi salah satu strategi yang paling esensial. Apalagi mengingat bahwa beberapa jenis karakter, seperti King yang di cerita memang merupakan pengguna “Magic”, mengandalkan resource ini bahkan untuk sekedar menyerang saja. Ia menjadi elemen yang harus diperhatikan. Seperti biasa? Akan ada bar serangan pemungkas juga yang bisa Anda lempar untuk damage super besar begitu bar khusus di samping foto karakter penuh.

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 39
Pada dasarnya, ini adalah game fighting tiga dimensi.
Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 54
Damage muncul dalam bentuk angka.

Maka seperti game fighting tiga dimensi racikan Bandai Namco selama ini, Anda “hanya” perlu mengunci karakter yang ingin Anda lawan, dan kemudian bertarung secara membabi buta. Ada dua kombinasi tombol yang memungkinkan Anda untuk lebih lincah bergerak – dimana satu untuk melakukan dash ke depan karakter, sementara satunya lagi dengan bar power, akan memungkinkan Anda untuk menghilang dan muncul di belakang karakter lawan. Sisanya? Menyerang seintens yang Anda bisa. Bar HP akan diwakili dengan angka seperti layaknya game RPG, dan Anda bisa melihat seberapa efektif serangan kombinasi yang Anda lemparkan. Berita baiknya? Tiap karakter hadir dengan animasi gerak dan serangan yang membuatnya terasa berbeda satu sama lain. Anda akan bisa merasakan beda cukup signifikan antara memainkan Ban atau Gilthunder misalnya, dari sekedar kecepatan animasi serang hingga efektivitas serangan untuk momen-momen tertentu. Tentu saja ada tombol Block untuk menangkis serangan.

Dengan semua konsep ini, menyebutnya sebagai game fighting tiga dimensi memang bukan sesuatu yang berlebihan. Seven Deadly Sins: Knights of Britannia sendiri berusaha menghadirkan daya tarik unik yang berbeda dengan menghadirkan sistem kehancuran lingkungan. Bahwa serangan-serangan kuat yang Anda lontarkan ke ragam objek di sekitar, terutama bangunan, bisa berakhir menghancurkannya dan meratakannya. Efeknya pada gameplay memang tidak terlalu signifikan, namun dari sisi kosmetik, ia berhasil memperkuat sensasi bahwa ini adalah pertarungan antara para karakter yang punya kekuatan jauh di atas manusia rata-rata. Daerah yang hancur biasanya juga akan meninggalkan resource mata uang yang bisa Anda gunakan untuk fungsi tertentu, sekaligus trap yang bisa menghasilkan damage sangat besar jika dimanfaatkan dengan cara yang tepat.

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 89
Efek kehancuran lingkungan berakhir tidak lebih dari sekedar gimmick.
Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 21
Ada ragam misi utama dan sampingan yang bisa Anda selesaikan.
Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 58
Misi sampingan akan menyediakan reward material untuk proses crafting aksesoris dan skill.

Struktur misi sendiri bergerak seperti layaknya game RPG, dimana akan ada misi utama yang menggerakkan cerita dan misi sampingan yang menawarkan reward terpisah tersendiri. Dengan sistem crafting equipment dan skill yang bisa digunakan oleh tiap karakter spesifik, reward untuk mengejar misi sampingan terasa pantas. Reward ini menjadi penting karena ia mempengaruhi kekuatan dan status karakter yang digunakan. Sebagian besar dari mereka menuntut material yang memang hanya bisa didapatkan sebagai “bonus” dari misi-misi sampingan yang ada. Keberhasilan menyelesaikan misi-misi ini juga akan menambahkan resource bernama “Rumor” yang jika berada di titik tertentu, akan membantu Anda memperoleh informasi untuk misi utama atau sampingan yang tersedia.

Berita baiknya? Setidaknya Bandai Namco masih berniat untuk menawarkan variasi di sini. Bahwa tidak hanya sekedar mode fighting yang biasa berakhir dalam pertempuran 1 vs 1 atau 1 vs 2, ada beberapa jenis misi lain yang cukup menarik untuk dijajal. Ada misi pertempuran melawan sekelompok musuh dalam jumlah waktu terbatas ala game Musou. Ada misi tantangan yang meminta Anda untuk mengalahkan musuh tertentu secara spesifik dengan batas waktu pula. Sementara yang lain akan meminta Anda mengendalikan Elizabeth untuk mengumpulkan material dengan posisi ia tidak bisa melawan. Sebagai gantinya, Anda akan ditemani oleh si babi – “Hawk” yang kerennya, berakhir jadi karakter playable penuh di sini.

Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 18
Ada varian misi yang bisa dijajal, termasuk yang meminta Anda untuk berperan sebagai Elizabeth dengan proses gathering sebagai fokus.
Seven Deadly Sins Knights of Britannia jagatplay 71
Online P2P.. *sigh*

Dan “dosa’ itu mulai terlihat. Fakta bahwa Anda akan bergerak menjelajahi Britannia dengan Hawk Mama, desain misinya ternyata sangat terbatas dan terkunci hanya pada mekanisme yang kami bicarakan sebelumnya. Pelan tapi pasti, sensasi repetitif mulai akan terasa di beberapa jam awal permainan. Bahwa untuk kesekian kalinya, Anda harus melakukan tugas yang sama, walaupun di peta ataupun dengan karakter yang berbeda-beda. Ditambah dengan fakta, seperti yang kami bicarakan sebelumnya, bahwa ia tidak menawarkan sisi presentasi yang pantas untuk dibicarakan, semua aktivitas ini pelan tapi pasti, mulai kehilangan daya tariknya. Parahnya lagi? Hampir semua pertarungan, terlepas dari karakter yang Anda gunakan, akan tetap menuntut Anda untuk menempuh strategi yang tidak banyak berbeda. Menghilang dan muncul di belakang mereka, memukul hingga setidaknya kombo tersisa 2 serangan, memicu serangan spesial berbasis Magic di belakang, dan mengulangnya hingga resource Anda untuk serangan pemungkas penuh. Apapun musuh yang Anda hadapi, apapun karakter yang Anda gunakan, strategi ini akan selalu efektif.

Dosa selanjutnya juga terletak pada mode multiplayer yang ia usung. Seperti yang bisa diprediksi, format pertarungan 1 vs 1 ini kembali tercederai dengan format server P2P. Bahwa seberapa nyamannya pertarungan yang Anda jalani akan sangat ditentukan pada seberapa kuat dan stabilnya koneksi internet host. Mekanisme pertarungan yang tidak punya banyak sistem counter atau penghancur guard juga misalnya, membuat gamer yang bersabar menunggu serangan biasanya akan menjadi pemenang di akhir. Mereka hanya tinggal memblok, melempar serangan balik dengan frame cukup lebar, dan kemudian melemparkan kombinasi dan berlari, memutar kembali strategi yang sama. Dari sisinya sebagai sebuah game fighting, sulit rasanya untuk merekomendasikan game yang satu ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…

PlayStation

June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…