JagatPlay di E3 2018: Menjajal Demo Concrete Genie!

Reading time:
June 13, 2018

Antara Puzzle dan Bully

Concrete Genie 10
Puzzle dan para bully adalah dua “masalah” terbesar Anda.

Pertanyaannya tentu saja satu, lalu apa misi utamanya? Misi utama masih mirip dengan game kebanyakan seperti ini, dimana Anda harus menemukan cara untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Di Concrete Genie, setidaknya dari sesi demo singkat yang kami jajal, halangan utama Anda terdiri dari dua hal: puzzle dan para bully yang terus mengejar. Untuk bisa menggerakkan cerita, Anda perlu membuat dan mendorong makhluk hidup yang Anda lukis tersebut (yang juga bisa Anda desain dengan bebas dan kerennya lagi, akan punya animasi dan geraknya sendiri) ke titik tertentu.

Seperti yang bisa diprediksi, makhluk ini tidak suka dengan kegelapan. Oleh karena itu, Anda harus melukis dinding-dinding di sekitarnya agar ia terus bergerak menuju titik tertentu untuk memicu progress. Di sinilah kesulitan muncul. Sang makhluk terkadang punya permintaan spesifik soal bentuk lukisan seperti apa yang ia inginkan agar ia ingin bergerak ke dinding yang seharusnya. Uniknya? Tergantung pada sifat setiap makhluk yang ada, ketidaksengajaan Anda untuk menggambar dan menghiasi lukisan Anda justru bisa berakhir jadi bumerang. Menggambar apel terlalu banyak misalnya di satu dinding, bisa membuat monster yang memang menyenangi buah ini, untuk terus terdistraksi dan melupakan perintah Anda. Proses gambar-menggambar dilakukan berdasarkan pola yang sudah ditentukan sebelumnya, yang jumlahnya bisa diperbanyak jika Anda mengumpulkan rangkaian kertas terbang yang tersebar di dunia Concrete Genie ini. Walaupun berbasis pola, ia bisa disesuaikan dengan gerak kuas Anda, menghasilkan karya seni unik milik Anda sendiri. Di sesi permainan lebih jauh, mereka juga akan punya fungsi tertentu dan membantu perjalanan Anda.

Concrete Genie 8 1
Makhluk hidup yang hidup dari kuas Ash punya kepribadian dan level interaktivas mereka sendiri. Tentu saja, ia juga akan menjadi kuncii rangkaian puzzle yang menghalangi Anda nantinya.
Concrete Genie 1
Karena Anda tidak bisa melawan balik para bully, satu-satunya langkah yang bisa Anda lakukan adalah dengan berlari. Ke tempat vertikal merupakan strategi paling efektif.

Tantangan kedua tentu saja muncul dari segerombolan bully yang sepertinya tidak pernah lelah untuk mengganggu Ash. Aksi Ash untuk melukis dinding kota demi menggerakkan makhluk ajaib di dalamnya ini akan terus terancam dengan kelompok bully yang akan secara konsisten berusaha untuk mendorong dan membatalkan aksi melukis apapun yang sedang Anda jalani. Jika terus dibully berkelanjutan, kuas Ash bisa dicuri dan kemudian dilempar jauh dengan arah tak jelas, yang notebene membuat Ash harus kembali mencari posisi kuas tersebut sebelum bisa melanjutkan cerita. Sayangnya, Ash tidak punya kemampuan untuk melawan balik. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah melarikan diri ke tempat lebih tinggi menggunakan gerakan parkour standar yang ada. Di posisi tinggi sekalipun, Anda bisa tetap memicu tombol melukis untuk Ash dengan dukungan jarak yang terhitung cukup mumpuni.

Sayang seribu sayang, sesi demo singkat ini tentu tidak menjelaskan atau mengkonfirmasikan apakah pengalaman bermain Concrete Genie Anda akan berujung “terbatas” hanya pada konsep gameplay serupa namun dihadapkan pada setting yang berbeda saja. Karena jika memang mirip adanya bahwa setiap misi akan berujung dengan kebutuhan untuk meracik para monster dan kemudian mendorong mereka ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, sembari memerhatikan gerak lucu dan imut mereka, maka bukan tidak mungkin, Concrete Genie akan terasa membosankan dan repetitif dalam waktu dekat.

Tidak untuk Semua Gamer

Concrete Genie 5
Terlepas dari ide unik yang hendak ia tawarkan, Concrete Genie terasa seperti pengalaman gaming yang memang, tidak didesain untuk semua jenis gamer.

Dengan semua konsep yang ia tawarkan, akan sangat bisa dimengerti bahwa terlepas dari begitu banyak misteri yang belum kami buka terutama dari sisi cerita, bahwa Concrete Genie memang tidak didesain untuk semua gamer. Bahwa gamer yang tidak terlalu senang dengan pendekatan artistik yang memang menjadi intisari dari game ini ataupun potensi ceritanya yang kuat, tidak akan bisa menikmatinya sama sekali. Bagi gamer pencinta produk mainstream yang biasanya didominasi oleh genre action yang penuh dengan pertempuran intensif dan sensasi layaknya Anda adalah seorang pahlawan, game ini mungkin tidak terasa memuaskan sama sekali. Concrete Genie lebih diarahkan untuk pasar yang memang punya apresiasi khusus pada keberanian developer untuk mengambil resiko, sekaligus meracik sebuah game dengan pendekatan artistik yang kental di dalamnya. Kami bisa melihat potensi dimana Anda bereksperimen dengan ragam pola dan gerak kuas, menciptakan karya seni Anda sendiri, dan berbaginya lewat sosial media.

Alternatif pasar kedua adalah melihatnya sebagai game keluarga yang bisa diarahkan untuk dua hal: menikmati momen keren bersama ketika membangun sebauh seni dari kuas Anda, atau memicu pembicaraan lebih serius terkait kasus bullying yang memang masih marak di dunia nyata. Sebuah game yang hadir tanpa kekerasan eksplisit adalah sebuah barang “langka” di industri game, membuat proyek seperti Concrete Genie punya potensi besar untuk masuk ke dalam pasar seperti ini. Dimana ia diracik untuk memicu pembicaraan terkait salah satu masalah sosial pelik yang satu ini.

Apakah ini berarti Anda, seorang core atau bahkan, hardcore gamer tidak bisa menikmatinya? Selama Anda datang dengan pikiran cukup terbuka bahwa game yang berada di hadapan Anda ini bukanlah game pada umumnya yang menjual aksi intensif dan kekerasan eksplisit. Ini adalah sebuah game yang menawarkan sisi lain dunia game yang bisa berakhir membuat Anda jatuh hati, terutama lewat keindahan lukisan atau sekedar tingkah laku para makhluk dua dimensi yang Anda desain dengan kuas Anda sendiri.

Concrete Genie masih belum punya tanggal rilis pasti, namun dipastikan akan eksklusif untuk Playstation 4.

Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…