Review Resident Evil 2 Remake: Mengembalikan Kengerian Zombie!

Reading time:
February 8, 2019

Atmosfer Mencekam

Resident Evil 2 jagatplay part 2 13
Sudut pandang fixed camera dari seri original tentu tak lagi relevan.

Kamera adalah salah satu strategi yang digunakan oleh Capcom untuk menghasilkan atmosfer super mencekam di setidaknya, tiga seri pertama Resident Evil. Dengan menggunakan fixed camera yang tetap dan tidak bisa diubah-ubah, selain untuk mengakomodasi keterbatasan teknologi Playstation pertama di masa lalu, ia menciptakan suasana yang tidak bisa diprediksi gamer. Ketidakmampuan untuk melihat apa yang tengah terjadi di depan mata sembari samar-samar mendengarkan clue audio yang muncul terlebih dahulu selalu menghasilkan ketegangan tersendiri. Ada rasa was-was yang intens, dari sekedar membuka pintu hingga bergerak melawati sudut ruangan tertentu.

Menerjemahkan konsep yang sudah “lawas” ini ke platform generasi terkini tentu saja bukan perkara mudah. Capcom tidak mungkin mempertahankan kamera tetap seperti ini lengkap dengan pendekatan kontrol ala tank khasnya di platform generasi terkini. Tidak hanya tidak lagi terasa relevan, mempertahankannya bisa membuat proyek remake ini justru dijauhi oleh calon gamer pendatang baru yang tertarik untuk masuk dan mencicipi sensasi RE yang sesungguhnya. Kami sendiri termasuk gamer yang menyenangi dan menyambut dengan tangan terbuka kamera over-the-shoulder ala RE4 yang mereka aplikasikan di seri Remake ini.

Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 46
Horror dari sudut pandang terbatas di seri original kini digantikan dengan efek kegelapan dan cahaya minim yang mampu menghasilkan sensasi intens yang serupa.

Lantas, bagaimana dengan sensasi horror yang ada? Di luar kemampuan RE Engine yang memperlihatkan tajinya sebagai engine yang fleksibel untuk beragam genre dan pendekatan kamera yang ada, Capcom melakukan tugas yang fantastis untuk membangun atmofer mencekam di RE2 Remake ini. Kuncinya adalah kegelapan dan suara. Mereka tetap mengembalikan “keterbatasan jarak pandang” yang menegangkan tersebut lewat ruangan gelap dan sumber cahaya minim dari senter yang Anda pegang. Dikombinasikan dengan zombie yang kini tersebar dalam berbagai posisi, dimana tidak hanya yang berdiri saja yang kemungkinan aktif dan hidup, rasa tegang tersebut tidak akan pernah sedikit pun memudar.

Yang lahir dari kombinasi teknologi dan pendekatan baru ini adalah cita rasa horror “baru” Resident Evil yang begitu fantastis. Apalagi teknologi RE Engine juga memungkinkan sistem bayangan yang cukup realistis. Tidak jarang ketakutan dan paranoia yang menyelimuti Anda membuat Anda terkejut atau bahkan mengangkat senjata karena sekedar melihat bayangan yang di otak Anda, terlihat seperti zombie, Mr. X, atau bahkan Licker. Ditambah dengan efek dramatisasi di luar arena permainan, seperti hujan, petir, hingga sekedar zombie yang terkunci di belakang pagar misalnya, Anda akan mudah memahami bahwa Anda kini terjebak di situasi yang tak ubahnya neraka di atas bumi.

Resident Evil 2 jagatplay part 2 73
Efek cahaya dan bayangan yang dihasilkan terkadang menciptakan halusinasi soal ancaman yang sebenarnya tidak ada. Membuat Anda paranoid.
Resident Evil 2 jagatplay part 2 42
Audio memainkan peran penting untuk mengetahui soal bentuk ancaman dan posisi mereka.

Namun pujian tertinggi sepertinya pantas untuk diarahkan pada kemampuan Capcom meracik audio di game yang satu ini. Karena seperti seri originalnya, erangan para zombie hingga sekedar aksi mereka memukul-mukul pintu misalnya akan membuat adrenalin Anda otomatis terpacu. Anda tahu Anda harus waspada dan terus mengangkat senjata sembari berupaya untuk menghindari atau bahkan menetralisir sumber ancaman ini.

Kontribusi audio kepada pengalaman bermain Anda semakin intens ketika Mr. X muncul ke dalam permainan. Monster bertubuh bongsor yang tidak bisa Anda bunuh ini akan secara konsisten mengejar dan berupaya menghajar Anda. Selama proses Anda berlari, Anda akan terus mendengar gaung derap kakinya. Derap kaki yang akan menjelaskan dimana posisinya. Ketika suara derap kaki itu kian keras, ditambah dengan bunyi pintu yang dibuka paksa satu per satu, Anda paham bahwa itu adalah saat yang paling tepat untuk mulai bersembunyi atau melarikan diri. Pelan tapi pasti, efek psikologis derap kaki Mr. X ini akan Anda asosiasikan dengan bahaya, membuat proses eksplorasi yang tadinya sudah mencekam kini punya level bahaya yang bahkan lebih tinggi lagi.

Resident Evil 2 jagatplay part 2 20
Lewat suara derap kaki Mr. X yang tak bisa ditundukkan ini, Anda akan secara konsisten merasa berada di ujung tanduk.
Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 140
Desain “realistis” model karakter yang baru terasa membaur begitu Anda sudah menjalankan progress permainan dan terbiasa dengannya.

Salah satu keluhan yang sempat terjadi di awal pengenalan seri Remake ini adalah perubahan model karakter utama seperti Leon, Ada, dan Claire yang kini disesuaikan untuk mengejar feel yang lebih realistis. Berita baiknya? Terlepas dari betapa anehnya perasaan memainkan model karakter ini di awal, Anda akan mudah terbiasa seiring dengan progress permainan yang ada. Perubahan mereka tidak banyak mengubah sensasi Resident Evil yang Anda kejar itu sendiri. Pujian justru pantas diarahkan pada cara mereka menangani para zombie yang kini hadir dengan beragam model. Tidak lagi dibedakan secara pakaian, para zombie ini kini hadir dari beragam etnis, pekerjaan (dilihat dari pakaian), hingga bentuk tubuh. Walaupun tidak banyak berpengaruh pada sisi gameplay, namun setidaknya membuat RE2 Remake terasa lebih realistis.

Apa yang berhasil dicapai Capcom dengan RE2 Remake tidak hanyalah kemampuan untuk menerjemahkan pesona seri lawasnya ke dalam bentuk baru, menyegarkan tetapi setia di saat yang sama saja. Tetapi memperlihatkan taji RE Engine yang ternyata tidak hanya cocok untuk game FPS ataupun VR saja, tetapi juga mumpuni untuk meracik game survival horror third person dengan presentasi visual dan ragam efeknya di level yang memesona.

Zombie yang Kembali Mengerikan

Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 5
Satu hal yang berhasil dilakukan RE2 Remake? Kembali membuat zombie relevan!

Salah satu hal yang paling mengejutkan dari Resident Evil 2 Remake yang kami temukan adalah akar survival horror-nya yang ternyata tetap ditonjolkan. Sempat mengira bahwa Capcom akan mengambil pendekatan yang serupa dengan Resident Evil 4 yang harus diakui lebih “action” dibandingkan seri Resident Evil sebelumnya, mereka justru mempertahankan cita rasa original dari versi Playstation pertamanya. Ini berarti, Anda harus berupaya menyelesaikan game ini dengan resource yang terbatas. Tidak ada lagi peluru berlimpah ataupun merchant yang siap menyediakan apapun kebutuhan Anda untuk menghabisi semua musuh yang Anda temui. Resident Evil 2 Remake akan menuntut Anda untuk memilih pertempuran Anda sendiri.

Resource terbatas yang diusung oleh Resident Evil 2 Remake ini memang tidak main-main. Dengan hanya beberapa senjata dan kumpulan peluru yang tersebar di titik titik yang sudah pasti, game ini tidak akan “memanjakan” Anda dengan menyuntikkan mekanisme yang adaptif di belakang layar. Mereka tidak akan otomatis misalnya, memberikan kepada Anda ekstra peluru atau health tambahan misalnya jika Anda kekurangan atau kehabisan. Tanpa ampun, mereka akan memaksa Anda untuk berlari atau mencari solusi yang lain jika resource Anda habis bahkan jika itu harus berakhir dengan Anda berlari menghindari semua ancaman yang bisa Anda hindari sekalipun. Di playthrough pertama, kami bahkan nyaris memulai kembali progress dari awal karena tidak lagi punya peluru sama sekali setelah melewati RPD.

Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 176
Game ini tidak akan “memanjakan” Anda. Resource benar-benar terbatas dan Anda bisa berujung kehabisan jika tidak mengaturnya dengan baik.
Resident Evil 2 jagatplay part 2 4
“Headshot” kini tidak lagi banyak berarti. Zombie tetap membutuhkan 5-7 peluru di kepala untuk benar-benar tewas.

Salah satu alasan mengapa cita rasa survival horror Resident Evil 2 Remake begitu kental juga mengalir dari keputusan Capcom untuk membuat zombie – yang notabene merupakan mayat hidup kembali menjadi sosok yang mengerikan. Setelah di banyak seri game dengan konsep serupa, zombie berujung jadi sekedar musuh dengan mobilitas rendah yang bisa diberantas dengan mudah, mereka akhirnya menemukan “posisinya” kembali di RE2 Remake ini. Bahwa ancaman dari makhluk-makhluk yang ingin memangsa ini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Bukan saja karena gigitan mereka yang kini bisa membuat Anda kritis secara instan dan kemudian berujung pada layar game over saja, tetapi juga karena tubuh mereka yang kini lebih alot. Salah satu alasan mengapa sensasi survival horror RE2 Remake jauh lebih terasa dibandingkan seri sebelumnya karena hal yang satu ini.

Bayangkan saja, di tengah peluru yang super terbatas, butuh sekitar 5-6 peluru di kepala 1 zombie saja untuk bisa menundukkan mereka. Anda memang punya kesempatan acak untuk memuntahkan peluru critical yang bisa membuat kepala mereka pecah dan tidak bangkit kembali, namun sebagian besar pertempuran akan menyita resource yang sudah Anda siapkan. Lebih parahnya lagi? Tidak semua zombie yang tumbang berarti mati permanen. Tidak sedikit dari mereka yang masih membutuhkan hentakan ekstra peluru di kepala untuk benar-benar tewas. Memastikan 1 zombie tidak akan mengancam Anda lagi di masa depan saja sudah bisa menghabiskan begitu banyak resource. Tidak mengherankan jika setiap peluru ini akan terasa begitu berharga. Cukup untuk membuat Anda menyesali setiap peluru yang berakhir meleset saat dimuntahkan. RE2 Remake berhasil menciptakan sensasi yang unik tersebut.

Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 88
Begitu pentingnya resource yang ada, Anda akan merasa berduka untuk setiap peluru yang meleset.
Resident Evil 2 jagatplay part 2 37
Tidak ada invicibility frame yang bisa Anda eksploitasi, zombie bisa melakukan serangan kombinasi!

Sekarang bayangkan sebuah skenario dimana para zombie ini tidak akan menyerang satu per satu saja, tetapi bergerombol. Karena berbeda dengan seri Resident Evil lawas yang akan langsung memperlakukan tiap serangan grab dari zombie sebagai invicibility frame yang tidak bisa diganggu-gugat oleh serangan zombie yang lain, RE2 Remake memungkinkannya untuk memicu serangan kombinasi. Ini berarti jika Anda berada dalam proses dicengkeram oleh satu zombie dan zombie lain memicu animasi serangan yang sama, keduanya akan masuk ke animasi menyerang Anda secara bersamaan dan menghasilkan damage yang lebih besar. Oleh karena itu, ancaman menghadapi para zombie ini secara bergerombol juga meningkat.

Kerennya lagi? Capcom berhasil membuat Anda sulit memprediksi dimana sebenarnya sumber ancaman tersebut bisa muncul. Zombie yang Anda hadapi tidak kesemuanya berdiri dan bergerak aktif. Tidak sedikit yang terbaring atau terduduk, “menyamar” menjadi sekedar mayat yang terlihat tidak begitu mengancam. Namun begitu momen tersebut tiba, jangan kaget jika mayat-mayat tertidur dan terduduk yang sempat Anda abaikan ini tiba-tiba bangun dan menghabisi Anda dari belakang tanpa Anda sadari sebelumnya. Ruangan sepi yang sebelumnya bisa Anda lewati dengan damai bisa tiba-tiba menjadi ruang penuh mimpi buruk jika Anda lalai “memeriksa” setiap dari mereka.

Untungnya, Capcom menyuntikkan beberapa mekanik baru yang akan mempermudah sekaligus meningkatkan kesempatan Anda untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan beberapa resource seperti flashbang, granat, ataupun pisau yang bisa Anda temukan di sepanjang permainan, Anda bisa melakukan counter secara otomatis. Ini tidak hanya menihilkan damage serangan para zombie ataupun monster saja, tetapi juga menghasilkan serangan balik secara otomatis. Menyimpan senjata seperti ini seolah menjadi jaminan pelindung tersendiri. Ia kini juga menghadirkan sistem limb-damage ala Dead Space, dimana Anda bisa menghancurkan bagian tubuh setiap zombie dengan berfokus menembak atau memotongnya dengan pisau. Membuat kaki mereka putus yang berakhir dengan zombie yang merangkak dan bergerak lebih lambat misalnya, bisa jadi solusi alternatif jika Anda takut menghabiskan terlalu banyak peluru untuk terus menembak kepala mereka dan membuat setiap dari zombie ini, mati permanen. Kebebasan di tangan Anda.

Resident Evil 2 jagatplay part 2 40
Untungnya, ada sistem limb-damage. Dengan lebih sedikit peluru, Anda bisa menghancurkan kaki para zombie untuk membuat mereka lebih lambat dan jadi ancaman yang sedikit lebih bisa dihindari.
Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 37
Anda juga bisa memblokade jendela untuk mencegah lebih banyak zombie masuk ke dalam RPD.

Bersama dengan menu equipment yang sederhana dan cepat ala Resident Evil 7, Anda juga akan menemukan papan blokade yang bisa disematkan di beberapa jendela yang pecah di RPD. Dengan memblokirnya, Anda bisa memastikan tidak ada zombie yang akan masuk dari luar yang tentu saja, akan mempersulit perjalanan Anda. Tentu saja ada sistem Gunpowder yang bisa dikombinasikan untuk menambahkan varian jenis peluru hingga Item Box yang akan secara “magis” memungkinkan Anda mengakses item yang sudah Anda simpan sebelumnya dari posisi Item Box manapun.

Sedikit perubahan juga disuntikkan untuk sistem herb yang kini memiliki buff di kombinasi tertentu. Tidak seperti seri-seri Resident Evil lawas dimana Blue Herb hanya punya konotasi sebagai herb penyembuh status Poison saja, RE2 Remake menambahkan satu ekstra fungsionalitas jika Anda mengkombinasikannya dengan Green Herb + Red Herb. Kombinasi R+B atau G+R+B Herb sekarang akan menambahkan buff defense yang membuat Leon / Claire kini menjadi lebih “tahan banting” terhadap serangan musuh. Pukulan Mr. X yang biasanya bisa membuat Anda jatuh ke dalam status “Caution” bisa berujung tidak lagi berbahaya berkat buff ini. Anda bisa melihat masa aktifnya lewat ikon berbentuk pelindung yang akan muncul di layar.

Resident Evil 2 Remake jagatplay part 1 78
G+R+B Herb kini juga menawarkan buff defense dalam waktu tertentu.

Maka dengan resource super terbatas dan zombie yang begitu alot ini, Capcom tidak hanya berhasil membuat Resident Evil 2 Remake tampil sebagai game survival horror yang fantastis saja, tetapi juga membuat zombie yang di industri game mulai tak ubahnya lelucon, kembali menjadi makhluk super menyeramkan dan mengerikan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…