Review Erica: Eksekusi Manis Film Interaktif!
Akan Tetapi..

Maka seperti yang bisa diprediksi, Erica sendiri tidak sempurna. Untuk sebuah game interactive story, apalagi untuk Anda yang sudah dimanjakan dengan Detroit: Become Human misalnya, ia memang memuat beberapa masalah, yang bahkan mungkin muncul karena format live-action yang ia usung. Sesuatu yang akan kita bicarakan di sesi ini.
Pertama, ia kekurangan fitur untuk menggali kembali pilihan yang sudah Anda ambil di playthrough sebelumnya untuk tidak hanya memastikan bahwa Anda tidak mengulang pilihan yang sama di playthrough sebelumnya, tetapi juga mendapatkan pengalaman cerita yang lebih menyatu. Begitu Anda selesai menyelesaikan game ini, Anda hanya diberi menu utama untuk mengulang kesemuanya kembali dari awal. Tidak ada kesempatan untuk memeriksa pilihan yang sempat ambil, tidak ada fitur untuk memberikan Anda gambaran garis-garis cerita mana saja yang bisa Anda eksekusi, dan tidak ada fitur untuk menyelami kembali scene spesifik. Untuk sebuah “game” interactive story, ini tentu mengecewakan.


Kedua? Ada beberapa cerita yang harus diakui, terasa tidak inkoheren. Entah karena keteledoran untuk memastikan bahwa semua cabang cerita memang masuk akal atau karena script yang mungkin sudah berganti sejak trailer E3 2017 silam namun berakhir dengan beberapa bagian yang tetap dipertahankan walaupun terasa tidak rasional. Sebagai contoh? Salah satu karakter sempat memarahi Erica misalnya, karena ia kehilangan sebuah medallion penting yang bisa dijadikan kunci. Kalimat ini meluncur penuh emosi dan terasa seperti sebuah momen penting. Namun berita buruknya? Sejak awal permainan hingga titik cerita tersebut, medallion milik Erica ini sama sekali tidak pernah disinggung. Kami juga sempat memilih opsi negatif – dimana kami memilih untuk menolak semua hubungan kerjasama dengan karakter tertentu, bahkan memperlihatkan emosi yang jelas bahwa kami membencinya. Namun hasilnya? Di dekat akhir permainan, Erica tetap berkolaborasi dengannya.
Masalah ketiga, memang tidak signifikan, namun tetap saja menyebalkan. Erica juga sepertinya tidak memikirkan opsi bahwa gamer yang menginginkan playthrough berkali-kali juga butuh fitur spesifik untuk membuat pengalaman mereka lebih maksimal. Salah satunya? Fast Forward. Sebuah fitur yang tidak disediakan Erica sama sekali. Mengingat ada begitu banyak scene yang sama dari satu playthrough ke playthrough yang lain, apalagi ia juga disisipi opsi percakapan yang tidak banyak mempengaruhi cerita, akan sangat menyenangkan jika Anda bisa mempercepat atau melewatinya begitu saja dan tiba langsung di cabang cerita yang belum pernah Anda ambil sebelumnya. Namun sayangnya, Anda dipaksa untuk menonton segala sesuatunya dari awal, bahkan untuk scene yang sudah sempat Anda nikmati sebelumnya.

Maka dengan kombinasi-kombinasi seperti ini, Erica memang masih punya jalan panjang untuk bisa menawarkan pengalaman serupa dengan game interactive story yang lain, apalagi yang memang sudah didukung dengan begitu banyak fitur yang memang membuat pengalaman bermain lebih nyaman. Sesuatu yang harus dipikirkan sang developer lebih jauh, daripada sekedar memastikan pengalaman sinematik yang mumpuni. Mereka harus ingat, bahwa ini juga adalah sebuah “video game”.
Kesimpulan

Terkejut sepertinya adalah reaksi yang tepat untuk menjelaskan pengalaman kami dengan Erica. Ada rasa skeptis bahwa ia akan berakhir menjadi proyek eksperimental setengah hati yang sulit untuk dinikmati. Namun begitu kami terjun, fakta bahwa ia berhasil melebur sebuah konsep film televisi dengan gaya kamera sinematik dan aktor / aktris dengan akting yang pantas diacungi jempol dengan skema gameplay ala game-game Telltale atau Quantic Dreams tentu pantas untuk diacungi jempol. Yang Erica lakukan memang tidak merevolusi apa yang Anda kenal di industri game, namun tetap harus diakui, menawarkan definisi dan standar baru bagaimana sebuah film interaktif seharusnya bekerja terutama di media televisi nantinya. Kami jatuh hati dan berharap konsep seperti ini bisa terus dikembangkan di masa depan.
Namun tentu saja, seperti yang kami bicarakan di atas, ada beberapa kekurangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dari sisi “video game”-nya sendiri, Erica memang belum bisa dibandingkan dengan apa yang sudah ditawarkan Quantic Dreams di Detroit: Become Human misalnya. Tidak ada opsi untuk melihat jalur cerita mana saja yang sudah dilewati dan mungkin bisa dilewati nantinya, tanpa opsi untuk mereka ulang scene spesifik yang mungkin memiliki informasi penting, hingga tidak ada tombol fast forward untuk melewati adegan yang sudah sempat Anda dapatkan sebelumnya. Tapi harus diakui, kesalahan paling fatal tetap terletak pada sisi cerita tidak koheren yang sepertinya muncul tanpa ada latar belakang jelas atau terus bergerak maju terlepas dari pilihan opsi yang Anda yang seharusnya menjauhi kondisi tersebut.
Terlepas dari kekurangan tersebut, kami tetap merekomendasikan Erica untuk Anda yang menikmati game-game interactive story atau film televisi dengan elemen thriller misteri yang kental. Pencapaian yang ia perlihatkan lewat peleburan elemen interaktif yang begitu manis dan mulus menjadi sumber daya tarik tersendiri. Di luar itu semua? Harga yang terjangkau juga pantas jadi highlight.
Kelebihan

- Cerita yang mengundang daya tarik
- Peleburan elemen interaktif yang mulus
- Akting beberapa aktor / aktris terasa pantas
- Terasa seperti sebuah “video game”
- Sudut kamera sinematik
- Replayability
- Trophy mudah
Kekurangan

- Tidak ada tombol fast-forward
- Beberapa bagian cerita terasa tidak koheren
- Tidak ada chart soal opsi yang sudah dan akan bisa Anda pilih
Cocok untuk gamer: pencinta interactive story, mencintai film thriller interaktif
Tidak cocok untuk gamer: yang membenci game yang lebih banyak porsi pasif seperti menonton cut-scene, yang menginginkan elemen action lebih kentara









