Review Erica: Eksekusi Manis Film Interaktif!

Reading time:
August 30, 2019

Akan Tetapi..

Erica jagatplay 32
Seperti yang bisa diprediksi, ada beberapa kekurangan yang pantas dicatat.

Maka seperti yang bisa diprediksi, Erica sendiri tidak sempurna. Untuk sebuah game interactive story, apalagi untuk Anda yang sudah dimanjakan dengan Detroit: Become Human misalnya, ia memang memuat beberapa masalah, yang bahkan mungkin muncul karena format live-action yang ia usung. Sesuatu yang akan kita bicarakan di sesi ini.

Pertama, ia kekurangan fitur untuk menggali kembali pilihan yang sudah Anda ambil di playthrough sebelumnya untuk tidak hanya memastikan bahwa Anda tidak mengulang pilihan yang sama di playthrough sebelumnya, tetapi juga mendapatkan pengalaman cerita yang lebih menyatu. Begitu Anda selesai menyelesaikan game ini, Anda hanya diberi menu utama untuk mengulang kesemuanya kembali dari awal. Tidak ada kesempatan untuk memeriksa pilihan yang sempat ambil, tidak ada fitur untuk memberikan Anda gambaran garis-garis cerita mana saja yang bisa Anda eksekusi, dan tidak ada fitur untuk menyelami kembali scene spesifik. Untuk sebuah “game” interactive story, ini tentu mengecewakan.

Erica jagatplay 62
Anda tidak bisa memeriksa ulang opsi yang sudah Anda ambil atau memeriksa chart opsi yang bisa Anda ambil nantinya.
Erica jagatplay 53
Beberapa bagian cerita terasa tidak koheren satu sama lain.

Kedua? Ada beberapa cerita yang harus diakui, terasa tidak inkoheren. Entah karena keteledoran untuk memastikan bahwa semua cabang cerita memang masuk akal atau karena script yang mungkin sudah berganti sejak trailer E3 2017 silam namun berakhir dengan beberapa bagian yang tetap dipertahankan walaupun terasa tidak rasional. Sebagai contoh? Salah satu karakter sempat memarahi Erica misalnya, karena ia kehilangan sebuah medallion penting yang bisa dijadikan kunci. Kalimat ini meluncur penuh emosi dan terasa seperti sebuah momen penting. Namun berita buruknya? Sejak awal permainan hingga titik cerita tersebut, medallion milik Erica ini sama sekali tidak pernah disinggung. Kami juga sempat memilih opsi negatif – dimana kami memilih untuk menolak semua hubungan kerjasama dengan karakter tertentu, bahkan memperlihatkan emosi yang jelas bahwa kami membencinya. Namun hasilnya? Di dekat akhir permainan, Erica tetap berkolaborasi dengannya.

Masalah ketiga, memang tidak signifikan, namun tetap saja menyebalkan. Erica juga sepertinya tidak memikirkan opsi bahwa gamer yang menginginkan playthrough berkali-kali juga butuh fitur spesifik untuk membuat pengalaman mereka lebih maksimal. Salah satunya? Fast Forward. Sebuah fitur yang tidak disediakan Erica sama sekali. Mengingat ada begitu banyak scene yang sama dari satu playthrough ke playthrough yang lain, apalagi ia juga disisipi opsi percakapan yang tidak banyak mempengaruhi cerita, akan sangat menyenangkan jika Anda bisa mempercepat atau melewatinya begitu saja dan tiba langsung di cabang cerita yang belum pernah Anda ambil sebelumnya. Namun sayangnya, Anda dipaksa untuk menonton segala sesuatunya dari awal, bahkan untuk scene yang sudah sempat Anda nikmati sebelumnya.

Erica jagatplay 8
Tanpa tombol fast-forward, Anda harus menikmati kembali semua scene yang sudah Anda ketahui di playthrough sebelumnya.

Maka dengan kombinasi-kombinasi seperti ini, Erica memang masih punya jalan panjang untuk bisa menawarkan pengalaman serupa dengan game interactive story yang lain, apalagi yang memang sudah didukung dengan begitu banyak fitur yang memang membuat pengalaman bermain lebih nyaman. Sesuatu yang harus dipikirkan sang developer lebih jauh, daripada sekedar memastikan pengalaman sinematik yang mumpuni. Mereka harus ingat, bahwa ini juga adalah sebuah “video game”.

Kesimpulan

Erica jagatplay 25
Kami tetap merekomendasikan Erica untuk Anda yang menikmati game-game interactive story atau film televisi dengan elemen thriller misteri yang kental. Pencapaian yang ia perlihatkan lewat peleburan elemen interaktif yang begitu manis dan mulus menjadi sumber daya tarik tersendiri. Di luar itu semua? Harga yang terjangkau juga pantas jadi highlight.

Terkejut sepertinya adalah reaksi yang tepat untuk menjelaskan pengalaman kami dengan Erica. Ada rasa skeptis bahwa ia akan berakhir menjadi proyek eksperimental setengah hati yang sulit untuk dinikmati. Namun begitu kami terjun, fakta bahwa ia berhasil melebur sebuah konsep film televisi dengan gaya kamera sinematik dan aktor / aktris dengan akting yang pantas diacungi jempol dengan skema gameplay ala game-game Telltale atau Quantic Dreams tentu pantas untuk diacungi jempol. Yang Erica lakukan memang tidak merevolusi apa yang Anda kenal di industri game, namun tetap harus diakui, menawarkan definisi dan standar baru bagaimana sebuah film interaktif seharusnya bekerja terutama di media televisi nantinya. Kami jatuh hati dan berharap konsep seperti ini bisa terus dikembangkan di masa depan.

Namun tentu saja, seperti yang kami bicarakan di atas, ada beberapa kekurangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dari sisi “video game”-nya sendiri, Erica memang belum bisa dibandingkan dengan apa yang sudah ditawarkan Quantic Dreams di Detroit: Become Human misalnya. Tidak ada opsi untuk melihat jalur cerita mana saja yang sudah dilewati dan mungkin bisa dilewati nantinya, tanpa opsi untuk mereka ulang scene spesifik yang mungkin memiliki informasi penting, hingga tidak ada tombol fast forward untuk melewati adegan yang sudah sempat Anda dapatkan sebelumnya. Tapi harus diakui, kesalahan paling fatal tetap terletak pada sisi cerita tidak koheren yang sepertinya muncul tanpa ada latar belakang jelas atau terus bergerak maju terlepas dari pilihan opsi yang Anda yang seharusnya menjauhi kondisi tersebut.

Terlepas dari kekurangan tersebut, kami tetap merekomendasikan Erica untuk Anda yang menikmati game-game interactive story atau film televisi dengan elemen thriller misteri yang kental. Pencapaian yang ia perlihatkan lewat peleburan elemen interaktif yang begitu manis dan mulus menjadi sumber daya tarik tersendiri. Di luar itu semua? Harga yang terjangkau juga pantas jadi highlight.

Kelebihan

Erica jagatplay 81
Caranya melebur objek dunia nyata dan interaktivitas ala video game pantas diacungi jempol.
  • Cerita yang mengundang daya tarik
  • Peleburan elemen interaktif yang mulus
  • Akting beberapa aktor / aktris terasa pantas
  • Terasa seperti sebuah “video game”
  • Sudut kamera sinematik
  • Replayability
  • Trophy mudah

Kekurangan

Erica jagatplay 90
Beberapa pilihan cerita bisa berakhir menghasilkan cerita yang tidak rasional.
  • Tidak ada tombol fast-forward
  • Beberapa bagian cerita terasa tidak koheren
  • Tidak ada chart soal opsi yang sudah dan akan bisa Anda pilih

Cocok untuk gamer: pencinta interactive story, mencintai film thriller interaktif

Tidak cocok untuk gamer: yang membenci game yang lebih banyak porsi pasif seperti menonton cut-scene, yang menginginkan elemen action lebih kentara

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…