JagatPlay di TGS 2019: Menjajal Project REsistance!

Reading time:
September 18, 2019

Bermain sebagai Survivors

Setiap Survivors akan dibekali kemampuan dan spesialisasi perannya masing-masing.

Kami berkesempatan untuk bermain sebagai Survivors, dimana di awal permainan, Anda harus memilih 1 di antara empat karakter yang ada. Anda tidak bisa memilih karakter yang sama dua kali, hingga 1 tim selalu terdiri dari 4 Survivors yang berbeda sesuai dengan cerita. Tidak sekedar bertahan hidup saja, Capcom memosisikan setiap karakter ini dengan spesialisasi mereka sendiri-sendiri. Ada Valerie dengan kemampuan Healing, January – seorang hacker yang mampu mematikan kamera Master Mind untuk sementara waktu, Tyrone yang berperan sebagai tank, dan Samuel yang mampu menghasilkan damage serangan melee yang besar.

Keempat karakter ini tentu harus saling bekerjasama untuk bertahan hidup, menyelesaikan tantangan demi tantangan untuk keluar dari “rumah” super menyeramkan tersebut. Akan ada UI yang akan memberikan Anda informasi secara instan soal misi yang harus Anda selesaikan saat ini dan bagaimana kondisi HP karakter yang lain. Tenang saja, karakter yang “tewas” masih punya ruang untuk dihidupkan kembali selama satu karakter masih hidup. Valerie misalnya, juga bisa menaruh item healing AOE-nya untuk melakukan hal yang sama, sembari memulihkan karakter-karakter yang lain.

Dimainkan dengan kacamata orang ketiga, kolaborasi dan komunikasi secara aktif melalui voice chat memang jadi sesuatu yang esensial di Project REsistance. Mengapa? Karena koordinasi akan sangat menentukan apakah Anda akan bisa bertahan hidup atau meregang nyawa dengan cepat. Hampir semua kemampuan yang dimiliki oleh Master Mind akan menuntut Anda untuk tidak bergerak terlalu jauh satu sama lain, tetapi di sisi yang sama, juga tidak terlalu dekat untuk memastikan serangan tidak terkonsentrasi di satu titik saja. Anda tidak ingin melihat kondisi dimana semua Survivors berusaha bertarung di ruangan sempit, dengan ancaman yang datang mengepung dari 2 arah berbeda, tanpa jalan keluar. Berita baiknya? Ada sistem progress di sini.

Walaupun tidak ada sistem level dan penguatan skill misalnya, seperti layaknya seri Resident Evil yang seharusnya, para Survivors juga tetap memiliki kesempatan untuk memperkuat diri mereka sendiri. Kuncinya terletak pada dua konsep – “Umbrella Credits” dan “SHOP”. Umbrella Credits merupakan mata uang yang bisa Anda temukan dan dapatkan di sepanjang permainan, yang juga terkadang tersebar bersama dengan Ammo dan item penyembuh yang ada. Anda bisa menyebut Umbrella Credits sebagai resource utama untuk memperkuat karakter, karena ia bisa digunakan untuk membeli ragam item di Shop berbentuk kotak-kotak yang ada di titik tertentu. Darinya Anda bisa membeli sekedar ammo, granat, atau item penyembuh saja, atau membuat diri Anda lebih mematikan dengan senjata senapan mesin atau senjata melee yang lebih brutal.

Namun di sesi demo kami, ada dua masalah yang membuat permainan menjadi Survivors ini masih terasa buruk, di luar absennya sistem lock-on yang memang membuat sensasi bertarung melawan monster tertentu menjadi sulit. Walaupun sistem lock-on memang bukan sesuatu yang identik dengan Resident Evil, namun di sini, kami melihatnya sebagai sesuatu yang esensial.

Masalah pertama yang cukup buruk adalah feedback. Bahwa tidak seperti game Resident Evil single-player, terutama untuk seri “7” dan “2 Remake”, feedback serangan di Project REsistance memang terasa begitu minim dan tidak memuaskan. Sebagai contoh? Ketika Anda menggunakan pemukul bisbol sebagai senjata melee misalnya. Ketika Anda mengayunkannya sebagai Samuel sekalipun, senjata kayu ini akan lebih sering menembus tubuh sang zombie dan monster dengan damage yang sekedar dipresentasikan dengan angka damage di depan layar saja. Ayunan super kuat tersebut tidak menawarkan feedback memuaskan, terutama dari animasi musuh. Terkadang, terutama saat zombie atau licker terjatuh di lantai, posisi strategis dimana Anda bisa menyerang mereka berturut-turut justru berakhir menjadi pukulan ke lantai yang tidak mengenai apapun sama sekali.

Kedua dan jadi masalah yang terpenting adalah fakta bahwa proses pertarungan antara para Survivors dan Master Mind memang terasa timpang di demo ini. Master Mind punya banyak ruang untuk mempengaruhi Anda, sementara Survivors tidak banyak bisa mencegah atau mempersulit Master Mind itu sendiri. Satu-satunya aksi yang bisa dilakukan Survivors untuk mempengaruhi Master Mind hanyalah serangan ultimate January yang akan membuat Master Mind tidak bisa melihat apapun yang dilakukan Survivors selama 15 detik. Dengan kondisi seperti ini, Master Mind bisa secara konstan mengganggu perjalanan para Survivors tanpa banyak konsekuensi yang bisa dipetik.

Bermain Sebagai Master Mind

Menggunakan kamera ala FNAF, menjadi tugas Master Mind untuk mencegah para Survivors melarikan diri.

Berbeda dengan para Survivors yang dicitrakan dari perspektid orang ketiga, Anda akan memainkan Master Mind dengan perspektif kamera yang bisa Anda gonta-ganti ala game seperti Five Nights at Freddy’s atau game open-world manapun yang memungkinkan Anda meretas kamera pengintai misalnya. Untuk bisa melihat apa yang tengah dilakukan para Survivors yang terus bergerak, Anda harus secara konsisten mengatur secara manual lokasi kamera yang menjadi “mata” Anda. User-interface yang harus Anda perhatikan sebagai Master Mind hanyalah kumpulan kartu acak yang akan muncul sebagai “senjata” Anda dan juga resouce yang dibutuhkan untuk mengeluarkannya, layaknya sistem Mana di game-game pertarungan kartu.

Dengan kartu-kartu acak ini, Master Mind bisa mengganggu progress para Survivors. User-interface yang diusung juga membuatnya mudah untuk diakses dan dieksekusi. Anda hanya perlu memilih kartu yang Anda inginkan dan langsung memasangnya dimanapun Anda inginkan. Jika Anda memilih zombie / monster, Anda bisa memasang dimana kira-kira Anda ingin ia muncul, baik sebagai kejutan tak terprediksi para Survivors atau justru sebagai penghalang yang bisa mereka antisipasi ketika masuk ke ruangan tertentu. Ada alat lain seperti kamera pengintai dengan senjata yang akan memungkinkan Master Mind untuk menembak dan melukai Survivors dengan peluru dalam jumlah terbatas. Ada perangkap dan item buff yang akan memperkuat zombie dan membuat mereka lebih brutal. Master Mind juga bisa berinteraksi dengan beberapa objek via kamera, dari mengunci pintu hingga mematikan saklar lampu.

Tidak hanya dari perspektif kamera pengintai ala FNAF saja, Master Mind juga selalu memiliki opsi untuk melompat masuk dan merasuki zombie yang ia “lahirkan”. Prosesi ini akan membuat Anda mengendalikan sang zombie dan memungkinkan Anda untuk menyerang para Survivors secara langsung alih-alih mengandalkan AI yang harus diakui, kadang terkesan kurang agresif menghadapi mereka. Setiap monster yang Anda rasuki juga akan memiliki animasi dan jenis serangan spesifik mereka sendiri. Serangan ultimate Master Mind? Berdasarkan waktu cooldown yang akan terus turun sejak awal permainan, Anda akan bisa memanggil Mr. X ke dalam arena dan langsung mengendalikannya. Kuat, tahan banting, punya damage besar, dan jenis animasi serangan yang jauh lebih banyak dibandingkan zombie sekalipun, Mr. X menjadi solusi terbaik untuk membuat para Survivors kalang kabut.

Harus diakui, setidaknya dari versi demo yang kami jajal, menjadi seorang Master Mind memang masih terhitung tidak berimbang dan terlalu kuat untuk para Survivors. Bukan hanya berangkat dari fakta bahwa Survivors jarang bisa mempengaruhi apa yang bisa dilakukan Master Mind saja, tetapi juga karena resource “Mana” Master Mind yang memang tidak berbatas. Regenerasi yang terhitung cepat, membuat Anda nyaris bisa mengeluarkan setidaknya 1 zombie sekitar 20-30 detik sekali. Aksi yang pelan tapi pasti ini akan menguras ammo atau durabilitas senjata melee dari para Survivors, terlepas dari apakah para zombie ini mengancam mereka atau tidak. Dengan terus melahirkan dan memunculkan monster-monster menyeramkan yang selalu bisa dirotasi seperti ini, Master Mind punya “resep anti gagal” yang kuat di build yang kami jajal ini.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…
November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…