Review Coffee Talk: Ngadem, Ngobrol, Ngopi!

Reading time:
January 29, 2020

World-Building yang Masih “Lemah”

Coffee Talk jagatplay 55 1
Coffee Talk butuh lebih banyak World-building.

Ada satu hal yang berujung masih kami sayangkan dari Coffee Talk terlepas dari potensi ceritanya yang besar. Salah satunya adalah World-Building. Bahwa alih-alih memberikan penjelasan yang lebih mendetail soal bagaimana cara dunia “nyata” yang dikombinasikan dengan elemen fantasi ini bekerja, apalagi dengan hadirnya begitu ras yang punya corak fisik dan kepribadian yang unik, Coffee Talk hanya menjadikannya tak berbeda sebagai “noise di latar belakang” yang tidak banyak dieksplorasi. Walaupun cerita untuk tiap karakter terhitung kuat dengan beberapa tema yang tidak sungkan mereka angkat, dari cinta beda ras, masalah kepemilikan senjata api, distribusi obat yang tidak merata untuk kelas sosial tertentu, hingga hal spesifik seperti sistem crunch saat pengembangan video game, Coffee Talk justru menyisakan lebih banyak pertanyaan.

Karena untuk bisa merasionalisasi sebuah dunia yang secara fiktif diracik, harus ada peraturan-peraturan jelas yang membuatnya bisa dipahami dan dimengerti. Yang terjadi dengan Coffee Talk dengan semua masalah yang mereka angkat tanpa detail cara kerja dunia yang diberikan, justru membuatnya kehilangan makna. Bahwa cerita-cerita yang disampaikan karakter-karakter ini terasa “kosong”. Kami akan memberikan beberapa contoh dari kasus world-building di Coffee Talk ini.

Pertama, persepsi waktu yang terjadi di kasus cinta beda ras antara Baileys – seorang Elf dan Lua- seorang Succubus. Cinta terlarang kedua sejoli ini terasa begitu genting ketika Anda mendengar bahwa hubungan 10 tahun mereka terancam putus karena Lua tidak ingin Baileys yang datang dari keluarga Elf rasis yang ingin menjaga kemurnian ras atas nama keabadian, keluar dari keluarga tersebut. Lua tidak ingin merasa bersalah atas konsekuensi fatal dari aksi ini, yang akan membuat Baileys kehilangan keabadiannya jika ia memutuskan hubungan keluarga. Sementara Baileys tidak berkeberatan untuk kehilangan keabadiannya tersebut atas nama cinta untuk Lua.

Cerita seperti ini memang kisah romansa yang mengakar pada kondisi di dunia nyata yang mungkin saja menjadi cermin dari kisah yang Anda hadapi saat ini, dimana Anda jatuh cinta pada seseorang yang berbeda suku atau agama dengan tanpa restu orang tua. Kami mengapresiasi keinginan Coffee Talk untuk mengangkat tema berat yang satu ini dan menyuntikkan sedikit sisi fantasi di dalamnya. Permasalahannya, ia butuh lebih banyak world-building untuk membuatnya lebih rasional.

Coffee Talk jagatplay 19
Ada banyak konflik yang terasa tidak rasional mengingat tidak ada peraturan jelas bagaimana cara dunia di luar dinding Coffee Talk ini bekerja.

Karena dari beberapa informasi di atas, Anda mungkin sudah akan menemukan keanehan jika “peraturan” dunianya belum jelas. Jika Elf adalah makhluk abadi dan Baileys tidak bisa mati, apakah hal serupa juga terjadi di Lua – sang Succubus? Jika keduanya memang abadi, bukankah hubungan “10 tahun” seharusnya terhitung sebagai hubungan yang masih terhitung “seumur jagung”? Mengapa mulai harus berkomitmen hanya dalam 10 tahun saja, yang memang terhitung panjang hanya jika kita melihatnya dari kacamata manusia? Keluar sedikit dari kafe Coffee Talk itu sendiri, jika memang Elf tidak bisa tewas dan mereka sudah eksis sejak bumi terbentuk, bukankah kita tengah berhadapan dengan masalah overpopulasi yang pelik? Mengapa karakter seperti Baileys tertarik untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan sebagai seorang freelance sejak “muda”, jika ia punya sepanjang masa untuk hidup dan melakukannya? Mengapa untuk makhluk yang abadi, ia masih terikat pada konsep kegentingan?

Coffee Talk jagatplay 46
Masalah-masalah yang dihadapi ras-ras “non-manusia” ini terlalu “manusiawi” tanpa eksplorasi lebih dalam.

Masalah world-building ini juga semakin memperluas seiring dengan lebih banyak informasi dibagi soal dunianya. Contoh, masalah kontrol senjata yang sempat tercantum di dalam koran awal chapter. Bahwa di sebuah dunia yang diisi dengan Orc, Vampire, manusia, dan Dwarf, pertempuran dengan menggunakan senjata api ternyata masih sesuatu yang “lumrah” terjadi. Konsep perang juga sempat dibicarakan, menyisakan lebih banyak pertanyaan. Apakah konflik-konflik ini berdasarkan perang antar ras? Ataukah ras-ras ini bersatu dan berperang dalam kesatuan negara-negara seperti di dunia nyata? Apakah ini berarti mereka tidak memiliki kemampuan magis apapun hingga senjata api masih dibutuhkan? Ada pertanyaan yang mengemuka seperti ini. Atau sekedar soal pertanyaan tolol seperti eksistensi Nekomini – ras humanoid yang bisa berubah menjadi kucing. Jika Nekomini memang eksis di dunia Coffee Talk, apakah berarti kucing yang sekedar kucing juga ada? Jikalau ada, bagaimana cara Anda membedakan keduanya? Atau jika memang semua ras ini hidup sejak awal dunia tercipta, apakah Neil Armstrong tetap “manusia pertama” yang mendarat di bulan? Atau ia juga mewakili semua ras juga di luar manusia? Ada begitu banyak pertanyaan.

Pertanyaan lainnya kemudian mengemuka soal peran manusia di dalam sebuah dunia, dimana ras-ras lain tentu memiliki kemampuan yang lebih mengagumkan, dari Orc yang lebih kuat, Vampire yang super tampan, hingga Elf yang abadi. Apakah manusia dihitung sebagai manusia kelas dua? Bagaimana manusia beradaptasi dengan situasi seperti ini? Karena harus diakui, dari interaksi yang Anda temui di Coffee Talk, karakter manusia yang muncul tidak banyak terlibat secara aktif dalam konflik utama yang terjadi. Mereka lebih banyak berperan sebagai pengamat, di belakang layar, dan menjadi penengah untuk masalah alih-alih terlibat di dalamnya. Menjadi pertanyaan besar apakah peran manusia di Coffee Talk ini merefleksikan kondisi manusia dalam eksosistem dunia Coffee Talk yang lebih besar.

Ada rasa dahaga yang lebih kuat untuk mendapatkan lebih banyak world-building di luar dinding-dinding kafe Coffee Talk untuk membuat beberapa interaksi terasa lebih rasional. Jika dieksekusi dengan manis, ia akan memberikan detail yang jauh lebih baik untuk mendukung kepribadian karakter pendukung yang sudah solid, memberikannya latar belakang yang lebih solid dan mengikat untuk menumbuhkan apresiasi ekstra.

Untuk saat ini, world-building yang lemah juga berujung membuat semua karakter-karakter non-manusia ini berakhir terasa seperti manusia di dunia nyata, berhadapan dengan masalah-masalah manusia, berkepribadian seperti manusia, berhadapan dengan masalah yang “sangat manusia”, hingga cukup untuk membuat fakta bahwa mereka adalah karakter-karkater non-manusia sama sekali tidak berkontribusi apapun pada cerita. Anda bisa mengubah semua karakter ini dengan manusia beda warna dan ras, dari Asia, Afrika, kulit hitam, kulit putih, dan semua cerita Coffee Talk tetap akan berjalan seperti seharusnya. Ini seperti sebuah potensi world-building yang terlewatkan.

Kesimpulan

Coffee Talk jagatplay 32

Acungan dua jempol memang pantas untuk diarahkan kepada Toge Productions dan apa yang berhasil mereka capai dengan Coffee Talk ini. Bahwa ia kembali membuktikan diri bahwa di tangan mereka yang kreatif dengan komitmen yang tinggi, sebuah game racikan developer Indonesia bisa bergerak menuju pasar global dengan kualitas yang pantas untuk diapresiasi. Ia datang dengan dialog yang terasa natural, pemilihan bahasa Inggris yang tepat, cerita yang cukup solid dan mengakar pada masalah-masalah dunia nyata yang berat, sembari membangun karakter pendukung bergerak cerita yang siap untuk membuat Anda jatuh hati sejak pandangan pertama. Ditambah dengan tata suara yang keren, Coffee Talk menjalankan perannya sebagai sebuah game visual novel “santuy” dengan tepat.

Tetapi bukan berarti game ini bisa disebut sempurna. Salah satu keluhan paling signifikan yang kami bicarakan di atas adalah masalah world-building yang bisa berujung melahirkan beberapa masalah lain. Salah satunya adalah fakta bahwa setiap karakter non-manusia ini berperan “terlalu manusiawi” hingga tidak sulit untuk mengubahnya dan menggantinya dengan manusia berbeda-beda ras sekalipun dan tetap membuat game ini akan tetap terasa koheren dari sisi cerita. Coffee Talk benar-benar butuh konflik yang memang istimewa dan berhubungan dengan cara dunianya bekerja, yang jika melihat jumlah ras yang menghuninya, harusnya penuh dengan hal demikian. World-building yang sedikit lemah juga membuat beberapa interaksi dan konflik menjadi tidak rasional atau tidak terdengar sesignifikan yang dibayangkan.

Walaupun demikian, Coffee Talk tetaplah sebuah game visual novel yang dibangun dengan penuh perhatian dan hati. Genre yang ia usung mungkin membuatnya tidak cocok untuk gamer yang lebih menginginkan sisi aksi misalnya. Namun untuk mereka yang datang untuk sisi cerita yang cukup solid, yang datang untuk karakter dengan desain unik, keren, dan menarik, atau sekedar butuh game yang lebih santai untuk mengisi waktu luang, Coffee Talk akan memenuhi kebutuhan tersebut dengan begitu baik.

Kelebihan

Coffee Talk jagatplay 44
Aqua = best gurl!
  • Visualisasi Pixel Art yang manis
  • Desain karakter yang pantas diacungi jempol
  • Aqua
  • Tata suara yang membangun atmosfer dengan tepat
  • Mekanik racik kopi dan Latte Art yang unik
  • Konflik yang mengakar pada masalah serius di dunia nyata
  • Artwork super keren
  • Percakapan dan penggunaan bahasa Inggris yang terasa natural
  • OST asyik

Kekurangan

Coffee Talk jagatplay 34
“Kucing dianggap binatang terbaik di dunia”. Apakah ini penelitian didasarkan pada kucing sesungguhnya? Atau juga melibatkan para Nekomini?
  • World-building yang masih terasa lemah
  • Minuman yang diracik tidak banyak berperan dalam cerita

Cocok untuk gamer: pencinta visual novel, menginginkan game fantasi dengan setting urban

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan sensasi aksi lebih kentara, tidak suka dengan game yang berat di teks

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…
August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…

PlayStation

September 1, 2022 - 0

Wawancara dengan Shaun Escayg dan Matthew Gallant (The Last of Us Part I)!

Kami sempat berbincang-bincang dengan Shuan Escayg dan Matthew Gallant terkait…
August 31, 2022 - 0

Review The Last of Us Part I: Lebih Indah, Lebih Emosional!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Last of Us Part…
August 26, 2022 - 0

Review Soul Hackers 2: Kumpul Iblis, Selamatkan Dunia!

Bagaimana dengan pengalaman yang ditawarkan oleh Soul Hackers 2 ini?…
August 25, 2022 - 0

Review Playstation Plus Tier Baru: Ambil EXTRA, Abaikan DELUXE!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Playstation Plus Tier Baru ini?…

Nintendo

September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…