Review Predator – Hunting Grounds: Eksekusi Tak Sebaik Konsep!
Presentasi yang Setia dengan Versi Film

Dari sisi visual, Predator: Hunting Grounds memang tidak bisa dibilang sebagai game yang revolusioner atau bahkan, benar-benar memanjakan mata. Namun dari sisi desain yang ia tawarkan, ia menjalankan tugasnya dengan baik – menawarkan sebuah peta pertempuran terbuka berisikan hutan belantara dan beragam fasilitas dimana sang Predator dan Fireteam mau tidak mau, akan berhadapan dengan satu sama lain. Namun jika ada satu hal yang berhasil ditawarkan oleh game yang satu ini adalah konsistensi untuk mereplika begitu banyak elemen dari versi film-nya untuk pengalaman Predator yang seharusnya.
Tentu saja, sebagian besar kualitas akurasi tersebut mengarah pada sosok Predator yang menjadi sang “bintang utama”, di luar beberapa elemen gameplay lain dari Fireteam seperti kebutuhan untuk kabur dari lokasi menggunakan helikopter dan sejenisnya. Bertahan dengan apa yang sempat ditawarkan oleh lore Predator dan sedikit bereksperimen dengan kreativitas mereka sendiri, Illfonic berhasil menawarkan sosok Predator yang seharusnya. Hal yang Anda kenal dari ras alien petarung ini disajikan dalam kapasitas seharusnya, dari desain armor, pilihan senjata yang bisa ia maksimalkan, serta beragam kemampuan yang bisa ia picu seperti kemampuan meledakkan diri atau infra-merah untuk memburu manusia-manusia dari Fireteam ini. Ekstra kreativitas dilemparkan dengan membuka opsi untuk menggunakan Predator versi perempuan (atau lebih tepatnya disebut betina?) dan tentu saja beragam fitur kustomisasi yang dijadikan pondasi motivasi untuk terus memainkannya. Sesuatu yang akan kita bahas nanti.


Apresiasi lanjutan juga benar-benar pantas diarahkan pada desain audio yang bisa dibilang memesona, baik ketika Anda berperan sebagai Fireteam ataupun Predator itu sendiri. Sebagai Fireteam misalnya, audio bisa digunakan untuk mendulang informasi apakah si Predator memang berada dalam radius misi Anda atau tidak. Anda bisa mendengar erangan khasnya di kejauhan, burung-burung yang mungkin terbang panik, ranting pohon dan daun yang bergetar karena pergerakan, hingga tentu saja – suara senjata mutakhirnya. Sementara dari sisi Predator, sang tawa khas ketika ia meledakkan diri hingga audio lebih peka yang bisa digunakan untuk mengetahui posisi pertempuran pada saat mode infra-merah diaktifkan juga kian menambahkan detail audio tersebut. Di tengah-tengahnya melebur aksi kuping-menguping antar Fireteam dan Predator dalam monolog / dialog yang juga bisa memberikan clue terkait aksi seperti apa yang tengah mereka lakukan.
Maka dengan semua kombinasi sisi presentasi ini, Predator: Hunting Grounds memang berhasil menawarkan cita rasa Predator yang seharusnya, apalagi dengan segudang item kustomisasi yang hampir tersedia untuk setiap elemen – dari jenis Biomask yang digunakan oleh si Predator hingga sekedar kacamata militer para Fireteam. Ia menawarkan apa yang Anda inginkan dari sebuah game multiplayer asimetris yang menggunakan versi filmnya sebagai pondasi untuk membangun tema dan dunia yang ada.
Berburu atau Diburu

Predator: Hunting Grounds adalah sebuah game dengan “tema” yang sederhana. Seperti game multiplayer asimetris lainnya, ini adalah soal pertempuran dua tim yang punya karakter dengan atribut dan senjata berbeda yang masing-masing harus menggunakan kemampuan dan kelebihan mereka untuk menundukkan yang lainnya. Pada akhirnya, dengan semua peralatan yang bisa Anda gunakan dan picu, misinya tetap berkutat pada konsep primal yang sudah tersedia sejak zaman purba dulu: berburu atau diburu.
Sebagai Predator, selain senjata mutakhir yang bisa Anda gunakan, Anda juga dibekali dengan kemampuan untuk tidak sekedar berjalan dan berlari di permukaan tanah saja, tetapi juga menggunakan pohon-pohon di hutan belantara ini sebagai “jalan” untuk memburu sang Fireteam. Sedikit mengingatkan Anda pada aksi Free Move di game Assassin’s Creed misalnya, si Predator akan mencari jalur pohon otomatis terdekat tanpa perlu perintah untuk melompat jika Anda butuh berganti dari satu pohon ke pohon lainnya. Ini menghasilkan pergerakan yang halus dan dinamis, yang tentu saja bisa diandalkan unutk bergerak cepat dan efektif sebagai seorang pemburu.
Seperti di versi film-nya, ada segudang teknologi dan senjata yang bisa digunakan oleh sang Predator untuk berstrategi terlepas dari fakta bahwa ia kalah dari sisi jumlah. Dua elemen terpenting yang bisa Anda gunakan adalah: infra-red dan Camo untuk membuat diri Anda sedikit membaur dengan latar belakang yang ada namun tidak sepenuhnya menghilang. Kemampuan ini tentu tidak akan bisa Anda gunakan secara terus-menerus mengingat ia akan menuntut resource baterai dari sang Predator yang untungnya, bisa beregenerasi seiring waktu. Ia juga punya satu skill khusus bernama “Audio Lockdown” berbasis cooldown yang akan membantu Anda mengunci kira-kira lokasi para Fireteam terlepas dari jarak mereka ataukah mereka sempat mengeluarkan suara atau tidak. Ini akan membantu Anda sebagai Predator untuk mulai memburu, alih-alih berjalan di pohon bak kera yang tidak punya misi jelas apapun.


Tentu saja, atas nama proses balancing, Fireteam tidak semata-mata berada di posisi lebih lemah karena dua teknologi buru milik Predator ini. Illfonic menyediakan dua sistem counter untuknya, hingga proses balancing lebih optimal. Untuk mengantisipasi infra-red yang notabene didasarkan pada fungsi baca temperatur tubuh manusia, Anda yang berperan sebagai Fireteam selalu punya opsi untuk melumuri tubuh Anda dengan lumpur yang tersedia di sepanjang peta. Aksi lumur lumpur ini akan membuat Anda sulit terbaca oleh infra-red milik Predator, dimana alih-alih kuning dan merah, Anda akan membaur dalam warna biru standar infra-red itu sendiri. Lumpur ini akan menghilang seiring waktu dan perlu diaplikasikan kembali untuk mendapatkan efek yang sama. Sementara untuk aksi Camo? Anda selalu bisa melihat pergerakan pohon yang bergetar dan daun yang berguguran tanpa alasan jelas sebagai indikasi bahwa Predator tengah bergerak dalam mode camo. Berita lebih baiknya lagi? Camo Predator ini akan otomatis mati begitu ia masuk dalam serangan melee, hingga kecil kemungkinan Anda akan diserang dan dibunuh dari jarak dekat tanpa Anda sadari.
Berhadapan dengan 4 orang bersenjata berat tentu mau tidak mau membuat Predator harus membawa persenjataan berat ke dalam pertempuran. Selain senjata melee yang kami sebut sebelumnya, yang benar-benar efektif untuk mengikis dan menghabisi manusia dengan hanya beberapa kali pukulan saja, ia juga akan diperkuat sebuah Plasma Cannon yang tersemat di bagian pundaknya. Menggunakan resource baterai yang sama dengan Camo dan Infra-red, Plasma Cannon ini juga mengusung sistem charging dimana semakin lama Anda menahan tombol tembak, semakin banyak baterai terkikis, semakin besar pula damage dan luas area yang ia usung. Jika baterai ini habis, Predator akan masuk dalam fase cooldown dimana ia tidak akan bisa menggunakan semua kemampuan berbasis resource ini hingga waktu cooldown selesai. Dari sesi gameplay kami, serangan Plasma ini memang menjadi yang paling efektif untuk menundukkan para Fireteam. Mengapa? Sesederhana karena ia bisa dipicu dari jarak jauh dan minim resiko.


Karena harus diakui, Predator memang tidak diposisikan sebagai makhluk “imbalance” di Predator: Hunting Grounds ini. Bahwa dengan 4 pasukan lawan yang kesemuanya membawa senapan mesin di slot utama dan mungkin sebuah shotgun di slot kedua, tembakan mereka akan siap untuk membuat bar HP Anda terkikis habis dalam waktu yang begitu cepat. Memang ada sistem “Second Wind” dimana pada saat hendak tewas, Anda bisa kabur untuk sedikit memulihkan diri dan mencoba kembali. Namun fakta bahwa level cedera Anda juga akan diikuti dengan bocornya darah hijau Anda di semua lokasi dan mudah untuk dilacak oleh Fireteam untuk benar-benar dihabisi, Anda tetap alien pemburu yang rentan. Karenanya pula, melompat membabi buta dan berusaha menghabisi 4 orang ini dengan serangan melee adalah strategi terbodoh yang bisa Anda ambil.
Salah satu kunci kemenangan Fireteam untuk mengunci kemenangan memang terletak pada kewaspadaan mereka dan berupaya untuk menentukan lokasi Predator sembari bertarung melawan pasukan AI lawan yang ikut membuat “sibuk”. Kewaspadaan akan sangat membantu Anda memerhatikan apakah ada laser merah bidik Plasma Cannon mengemuka dari pohon terdekat untuk membunuh Anda dengan satu tembakan atau melihat apakah pantulan cahaya sedikit terdistorsi ketika Predator mulai mengganti strategi dan berusaha mengejar Anda dari jarak dekat. Ketegangan menjadi seorang Fireteam memang lebih tinggi daripada ketika Anda menjadi seorang Predator, dan di sisi inilah Predator: Hunting Grounds bersinar.


Tentu saja, ada kesempatan untuk memperkuat diri Anda ketika Anda berperan sebagai Predator ataupun Fireteam lewat mekanik standar game multiplayer saat ini. Baik Predator ataupun Fireteam, masing-masing memiliki sistem Gear dan Perk mereka sendiri. Gear adalah item / equipment yang bisa Anda gunakan, baik untuk fungsi spesifik seperti perangkap atau item penyembuh, ataupun ekstra senjata seperti panah ataupun senjata pelempar disc untuk si Predator. Bagi Fireteam, opsi ini juga dipekuat dengan aksi modifkasi Gear yang memungkinkan Anda untuk menyuntikkan serangkaian aksesoris tambahan ke senjata favorit seperti alat bidik dan magazine lebih besar. Sementara dari sisi Perk, dari kedua pihak, ia akan mengusung beragam perk yang akan membuat aksi Anda lebih efektif. Di sisi Predator misalnya, ada Perk yang akan membuat laser merah bidik Anda untuk Plasma Cannon akan lebih sulit dikenali untuk ekstra serangan kejutan yang lebih efektif. Sementara dari sisi Fireteam misalnya, ada perk yang kini memungkinkan Anda untuk membawa lebih banyak granat, misalnya.
Berita baiknya? Sistem level untuk membuka beragam Gear dan Perk ini terikat pada satu akun yang sama. Bahwa EXP usai pertempuran yang Anda dapatkan, baik ketika menggunakan Predator ataupun Fireteam, akan ditambahkan ke pool yang sama. Bersama dengan kenaikan level tersebut, Gear dan Perk akan terbuka untuk Fireteam dan Predator terlepas dari fakta apakah Anda punya peran yang lebih Anda favoritkan ataupun tidak. Ini adalah sebuah sistem anti-grinding yang menurut kami, pantas untuk diacungi jempol. Ini berarti Anda tidak perlu memainkan hanya Predator saja untuk membuka senjata dan gear Predator yang lebih kuat.
Maka seperti game-game multiplayer lainnya, salah satu sistem lain yang terikat pada sistem level ini adalah “Kelas”. Selain kesempatan untuk mengganti jenis kelamin, Predator di game ini terbagi menjadi tiga kelas dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada limitasi Gear atau Perk apa yang bisa Anda suntikkan, namun ada perbedaan di sisi karakteristik gaya bermain dimana Hunter misalnya terhitung kelas berimbang sementara Berserker punya gerak lebih lambat namun lebih tebal di sisi HP. Konsep serupa juga didorong untuk Fireteam dimana kelas tidak menjadi limitasi soal Loadout apa yang Anda bawa ke pertempuran. Kelas apapun bisa membawa senjata, gear, ataupun perk yang mereka inginkan. Kelas akan menentukan buff seperti apa yang didapatkan, seperti Recon misalnya yang punya kemampuan untuk membuat efek lumur lumpur lebih panjang daripada kelas yang lain.


Sisa dari progress yang Anda dapatkan selain level tentu saja berujung jadi mata uang yang bisa Anda alokasikan untuk membeli item-item kosmetik baik untuk Fireteam ataupun Predator itu sendiri. Ada opsi untuk menggunakan mata uang in-game tersebut untuk membuka lootbox yang tentu saja berisikan tiga item kosmetik acak yang tidak bisa Anda kendalikan sama sekali. Namun ada juga opsi untuk langsung membeli item kosmetik yang Anda inginkan dengan harga lebih tinggi, yang tentu saja menjamin Anda untuk mendapatkan item apa yang ingin Anda pamerkan di Predator ataupun Fireteam Anda. Tenang saja, tidak ada item yang bersifat pay-to-win di Predator: Hunting Grounds ini.










