Review Predator – Hunting Grounds: Eksekusi Tak Sebaik Konsep!
Eksekusi Tak Sebaik Konsep

Dengan semua hal yang kami bicarakan di atas, Anda tentu saja penasaran mengapa Predator: Hunting Grounds berujung mendapatkan sub-judul kami di atas. Game ini memang berfungsi selayaknya sebuah game multiplayer asimetris yang seharusnya, mengusung sistem progress yang pantas untuk diacungi jempol, dan sejauh ini memang seru untuk dimainkan. Namun sayangnya, ada satu kekurangan yang dimiliki oleh game racikan Illfonic ini. Satu kata tersebut adalah: POLISH.
Jika dibandingkan dengan versi beta yang sempat dibuka untuk umum beberapa waktu yang lalu, versi final Predator: Hunting Grounds memang sudah lebih baik. Ia terasa lebih mulus untuk dimainkan, ia hadir dengan UI yang bisa dimengerti, dan sejauh kami mencicipinya – kami menemukan masalah rubberbanding yang terhitung minim bahkan di ping besar sekalipun. Walaupun demikian, bukan berarti game ini bisa dinikmati secara sempurna. Malahan di versi final ini, ada begitu banyak masalah teknis yang terjadi. Masalah-masalah yang siap untuk membuat Anda menggeram frustrasi.
Dari hal sesederhana seperti UI yang memutuskan untuk “berhenti” begitu saja di tengah layar tanpa alasan yang jelas.Kami sempat menemukan ikon permata dimana ia mengindikasikan resource yang bisa dikumpulkan in-game memutuskan untuk tidak hilang atau turun dari posisi seharusnya dan berakhir bertahan di tengah layar, dari awal hingga akhir permainan. Sebagai Fireteam dimana crosshair yang berada di bagian tengah layar adalah kebutuhan yang esensial, ini adalah kondisi yang benar-benar menjengkelkan.


Sebagai Predator? Ada bug lain yang tidak kalah membuat frustrasi. Ada kondisi konsisten ketika Predator gagal bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya dan berujung jatuh ke permukaan tanah dengan game yang masih “menghitung” Anda berada di atas pohon. Ini berarti Anda tidak bisa bergerak, berjalan, atau berlari saat Anda berada di tanah sampai Anda melakukan aksi “Dismount dari Pohon” terlebih dahulu. Di kondisi genting, terutama saat Anda lari dari kejaran dan tembakan Fireteam, bug ini bisa berujung soal hidup dan mati atau lebih tepatnya – seringkali mati. Keputusan lain yang mengganggu saat menjadi Predator? Membuatnya berganti senjata secara otomatis hingga terkadang untuk alasan yang tidak jelas, Anda tiba-tiba menyerang menggunakan senjata yang tidak Anda inginkan.
Kemudian Anda bertemu dengan masalah-masalah kecil yang mulai membuat rasa frustrasi tersebut menggila. Dari animasi serangan melee milik Predator yang terasa begitu kaku hingga Anda tidak pernah tahu apakah animasi serangan lanjutan Anda sebenarnya masuk ataukah Fireteam Anda yang Anda targetkan ternyata sudah bergerak menjauh. Atau hal kecil lainnya seperti ketika Anda masuk terakhir dalam proses matchmaking sebagai Predator dan pertempuran akan otomatis dimulai terlepas dari fakta Anda belum mengganti pilihan Loadout yang sudah Anda susun dengan rapi. Atau ketika Anda menjadi Fireteam, memilih Smoke Grenade sebagai Gear andalan Anda, dan menemukan bahwa asap yang dihasilkan granat tersebut tidak lebih tebal dari asap dapur saat Ibu atau Istri Anda memasak.


Masalah lain juga masih berkutat pada masalah balancing yang mulai terasa pada saat Anda membuka kelas Predator yang lain, terutama untuk Berserker. Walaupun pertarungan antara kelas Predator dan Fireteam “standar” bisa dibilang cukup berimbang, game ini sepertinya tidak memberikan kesempatan bagi Predator untuk mengeksekusi alternatif solusi untuk menghabisi para Fireteam. Kami sempat berusaha menempuh strategi hanya menggunakan senjata melee menggunakan Berserker, mengingat ia jadi kelas lebih “tebal” yang seharusnya cocok untuk strategi ini. Namun yang terjadi, perbedaan tebal HP ini benar-benar tidak signifikan dibandingkan dengan Hunter. Berusaha membunuh Fireteam dengan strategi melee di Berserker berujung sama tololnya ketika Anda berusaha menempuh hal yang sama dengan jelas Hunter. Ia tetap akan mudah dihabisi. Hal ini membuat bahwa satu-satunya strategi paling efektif Predator tetap berkutat pada aksi tembak dan charging Plasma Cannon, terlepas dari kelas apapun yang Anda gunakan.
Predator: Hunting Grounds sebenarnya bisa membuat strategi ini menjadi lebih efektif jika mereka membangun lebih banyak varian misi yang mengharuskan Fireteam untuk terpecah ke dalam dua tim berbeda alih-alih hanya menawarkan misi dimana ke-4 anggota tim ini selalu bisa menyelesaikannya sebagai komplotan yang terus berada dalam jarak dekat satu sama lain. Ini membuat kecil kemungkinan Predator bisa “memburu” mereka dalam kapasitas melee yang seharusnya, mengingat satu serangan tentu akan memicu sisa anggota Fireteam yang lain untuk berfokus ke Anda saja dan menghabisi Anda secara langsung. Semuanya juga diperburuk dengan fakta bahwa hampir semua Gear yang dimiliki si Predator, nyaris tak banyak berguna dan jarang sekali bisa digunakan secara optimal. Sebagai contoh? Bagaimana caranya Anda akan memasang sebuah perangkap jika Anda tidak memiliki informasi kemana objektif Fireteam selanjutnya?

Dari semua kekurangan terburuk yang dimiliki oleh Predator: Hunting Grounds? Proses matchmaking mereka yang pada saat review ini ditulis, tidak ubahnya sebuah mimpi buruk. Proses matchmaking untuk Fireteam, dengan fitur crossplay yang aktif, memang hanya membutuhkan beberapa menit saja. Anda bisa langsung meloncat masuk ketika peran ini Anda pilih. Namun ketika Anda hendak bermain sebagai Predator? Selamat menunggu selama 10-20 menit, tanpa ada kepastian apakah Anda akan mendapatkan match lengkap di akhir. Sekarang bayangkan jika Anda sudah menunggu 15 menit untuk jadi Predator, menemukan bahwa Fireteam yang Anda lawan ternyata berkoordinasi dengan bagus, dan menemukan bahwa pertempuran Anda berakhir dalam waktu 3 menit saja. Atau mungkin justru berada di pihak yang terlalu jago hingga Anda bisa menghabisi para Fireteam ini hanya dalam 2 menit saja? Membuat penantian 15 menit Anda, terlepas dari apakah Anda memang atau kalah, seolah tak terbayarkan sama sekali. Video yang kami tangkap di salah satu sesi permainan kami di atas sepertinya bisa menggambarkan betapa besarnya rasa frustrasi yang satu ini.
Dengan semua masalah ini, Illfonic memang punya tugas dan pekerjaan rumah yang berat untuk membuat Predator: Hunting Grounds untuk naik ke kelas level sebuah game multiplayer yang benar-benar bisa dinikmati. Dengan semua masalah yang terjadi saat ini, terutama yang mengakar dari sisi teknis, ia justru lebih sering meninggalkan rasa ketidakpuasan dan frustrasi alih-alih skenario pertempuran Predator dan Fireteam “sempurna” yang representatif dengan apa yang mereka usung di versi film tahun 1987-nya.
Kesimpulan

Bagi gamer yang sempat menikmati film Predator original, konsep multiplayer asimetris untuk franchise yang satu ini adalah sebuah keputusan yang rasional. Pertempuran antara sebuah alien pemburu berteknologi tinggi melawan 4 pasukan elit, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, seharusnya akan membangun sebuah game multiplayer yang seru dan intens. Apa yang dilakukan Illfonic dengan Predator: Hunting Grounds adalah membangun basis untuk pengalaman tersebut dan harus diakui, menawarkan cukup banyak skenario dan kesempatan dimana mereka bisa mengeksekusinya dengan manis. Yang menjadi masalah adalah fakta tidak terelakkan bahwa ia dipenuhi dengan begitu banyak masalah teknis yang membuat rasa menyenangkan dan puas tersebut, terkikis cepat.
Maka membaca point-point kami di atas sepertinya sudah memberikan gambaran cukup jelas soal apa yang membuat kami memilih sub-judul artikel review ini. Game yang satu ini punya begitu banyak masalah yang membuat pengalaman multiplayer asimetris yang pengalaman seru / tidaknya sudah berat sebelah karena bergantung pada seberapa baik sang Predator berperan, kini harus berhadapan dengan sumber rasa frustrasi lain seperti matchmaking, bug, dan proses balancing yang sejauh ini, mengecewakan.
Predator: Hunting Grounds memang punya masalah besar di sisi level polish yang benar-benar butuh mereka selesaikan cepat. Mengapa? Karena masa “bulan madu” ini bisa berujung singkat. Ketika komunitas memutuskan untuk menyerah dan pergi alih-alih kembali dan kembali, maka tidak bisa dipungkiri, hanya tinggal waktu hingga Predator: Hunting Grounds berakhir mati.
Kelebihan

- Sisi presentasi, terutama audio, yang keren
- Sistem progress berbasis level yang menggabungkan Predator dan Fireteam
- Sisi kosmetik beragam
- Konsep yang sebenarnya menarik
- Tanpa sistem Win-Lose definitif
Kekurangan

- Matchmaking Sampah
- Masih begitu banyak bug yang mempengaruhi kenyamanan bermain
- Butuh balancing ekstra
- Predator tidak punya banyak alternatif strategi untuk membunuh Fireteam
- Sisi visual bisa terasa ketinggalan zaman
- AI prajurit musuh yang tidak menawarkan banyak tantangan untuk Fireteam
- Animasi masih terasa kaku
Cocok untuk gamer: yang memang lebih tertarik dengan game multiplayer asimetris, penggemar berat Predator
Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan pengalaman multiplayer mulus, menginginkan lebih banyak cara bunuh yang beragam










