Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Reading time:
July 8, 2020

Terasa Tua

“Terlalu setia” dengan seri original PS1-nya, Brigandine: The Legend of Runersia terasa “tua”.

Bisakah sebuah game yang baru saja dirilis di pasaran, yang baru dikembangkan belum lama ini, terasa tua sejak menit pertama Anda menjajalnya? Percaya atau tidak, kesan tersebutlah yang kami dapatkan dari Brigandine: The Legend of Runersia ini. Matrix Software sebagai developer dan Happinet sebagai publisher terasa tidak memperbaharui pengetahuan mereka soal bagaimana game-game strategi masa kini, bahkan yang datang dari developer Jepang sekalipun, kini mempresentasikan diri mereka. Brigandine: The Legend of Runersia lebih terasa terlalu setia dengan seri Brigandie era Playstation satu dan karenanya, menghasilkan konsekuensi presentasi yang lemah.

Cerita disajikan dalam artwork yang memesona.
God bless this character design!

Apresiasi tinggi tentu pantas diarahkan pada keputusan untuk menggunakan artwork yang dilukis super indah untuk menyampaikan cerita dengan begitu banyak elemen kompleks dan nama-nama yang harus diingat di dalamnya. Keputusan ini berhasil membuat Brigandine: The Legend of Runersia  memiliki atmosfer fantasi yang kuat, apalagi ketika ia mulai masuk bercerita soal latar belakang cerita masing-masing kerajaan dan motivasinya. Presentasi visual beragam ras yang berbeda juga diperlihatkan dengan sangat baik. Seiring dengan progress cerita bergerak, beberapa Rune Knights yang ikut bergabung dengan Anda juga disajikan dengan desain-desain unik yang kuat. Salah satunya – Leonora, yang diceritakan sebagai peneliti tekstil di Norzaleo bahkan membuat kami jatuh hati sejak pandangan pertama.

Permasalahan utama Brigandine: The Legend of Runersia dan akar rasa “tua-nya” mulai muncul ketika Anda mulai masuk ke sisi gameplay. Bahwa presentasi artwork memukau yang sudah mereka sajikan di sisi cerita, ternyata tidak banyak diterjemahkan di sisi gameplay. Sebagai contoh? Model karakter unik yang digunakan. Bahwa selain si karakter utama untuk masing-masing kerajaan, yang notabene bisa diposisikan sebagai pemegang Brigandine, hampir semua model karakter yang lain ditentukan oleh job karakter mereka alih-alih model karakter mereka di artwork. Ini berarti, terlepas dari betapa pentingnya porsi cerita mereka, karakter yang punya nama sekalipun akan terlihat sama di medan pertempuran. Ini tentu saja, mengecewakan.

Hal yang sama juga terjadi di presentasi monster yang untuk urusan varian, memang terhitung beragam. Dengan sistem evolusi yang akan kita bicarakan nanti, perubahan visual yang terjadi juga sebagian besar “terkunci” hanya pada perubahan warna saja. Sama sekali tidak ada perubahan visual signifikan yang disajikan untuk mewakili pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Hal ini juga kian diperburuk dengan fakta, bahwa tidak seperti di seri originalnya, Anda juga tidak akan bertemu dengan sistem zoom-in yang memperlihatkan detail monster dengan lebih baik pada saat bertarung. Zoom-in terdekat yang bisa Anda dapatkan tetap memperlihatkan model kecil di peta, yang kini langsung akan beraksi secara langsung. Walaupun pendekatan ini membuat pertarungan berjalan lebih cepat dan efektif, namun akan jauh lebih baik jika Matrix Software memberikan gamer opsi.

Sayangnya, desain karakter ini tidak diterjemahkan ke sisi gameplay. Visualisasi unit lebih banyak didasarkan pada job.
Tidak ada lagi aksi zoom-in untuk menikmati detail monster yang lebih baik.

Bagian terburuk dari sisi presentasi ini dan juga jadi keluhan utama kami ada juga mengakar pada gaya bercerita ala game masa lampau yang bisa dibilang, tidak lagi relevan di industri game saat ini. Gamer yang sempat mencicipi game strategi ala Fire Emblem dari Nintendo atau bahkan seri Super Robot Wars dari Bandai Namco tentu memahami bagaimana pertempuran biasanya juga diselingi dengan cut-scene kecil atau sekedar percakapan untuk mendalami cerita yang ada – yang juga terkadang memperkuat hubungan antar karakter. Selingan ini juga terkadang menyuntikkan kejutan yang membuat pertarungan terasa dinamis, dari kehadiran ancaman pasukan baru hingga pengenalana karakter yang tidak pernah Anda prediksi sebelumnya.

Brigandine: The Legend of Runersia sama sekali tidak menawarkan hal seperti ini. Game ini terus memuat pertarungan yang lugas, dimana Anda berfokus menguasai kastil demi kastil, dengan interaksi minim, dan karenanya menghasilkan sensasi yang benar-benar repetitif dan tidak terasa seperti sesuatu yang esensial untuk mendorong sisi cerita. Keputusan untuk baru menyediakan lebih banyak cerita, baik interaksi antar karakter atau pendalaman lore lebih dalam sebagai “hadiah” dari menundukkan setiap kastil yang ada tidak terasa efektif untuk membuat Anda tertarik menyelami semesta Brigandine: The Legend of Runersia lebih dalam. Ini menjadi salah satu kelemahan terbesar di mata kami.

Pertempuran berjalan terlalu lugas, tanpa banyak event kejutan, percakapan antar karakter, atau event khusus untuk memperdalam cerita. Ini membuat Brigandine Runersia mudah terasa repetitif.
Menguasai lebih banyak kastil untuk membuka lebih banyak lore juga tidak terasa seperti metode yang menarik.

Untungnya, sisi presentasi ini sedikit terobati lewat eksekusi elemen audio yang tepat sasaran. Hampir sebagian besar percakapan juga diisi dengan VA Jepang yang sejauh skenario yang kami cicipi, cukup mewakili kepribadian karakter dengan tepat. Sementara musik latar belakang juga memainkan peran yang cukup efektif untuk membangun atmosfer sesuai dengan situasi cerita yang Anda temukan. Untuk urusan yang satu ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Maka dengan kombinasi-kombinasi elemen ini, sulit rasanya untuk tidak menyebut Brigandine: The Legend of Runersia sebagai sebuah seri yang “terlalu setia” dengan seri originalnya hingga ia meninggalkan kesan lawas yang terlalu kuat untuk bisa dinikmati secara optimal di sesi gaming modern saat ini. Setidaknya elemen-elemen yang kami keluhkan ini adalah sesuatu yang bisa dibenahi oleh sang developer di masa depan, jika memang Brigandine lewat seri ini, menjadi franchise yang “hidup kembali”.

Dominasi Penuh

Sama seperti seri originalnya, menguasai dan menundukkan kerajaan lain dari satu kastil ke kastil yang lain, adalah tujuan utama.

Terlepas dari kerajaan yang Anda pilih sebagai kerajaan Anda, yang masing-masing tentu saja mengusung karakter dan latar belakang cerita yang berbeda, Brigandine: The Legend of Runersia menuntut satu misi yang sama. Bahwa satu-satunya jalur kemenangan yang bisa Anda tempuh hanyalah dengan mencapai dominasi penuh dengan menguasai wilayah kerajaan yang lain secara total. Ini berarti, Anda harus menguasai kastil-kastil mereka hingga warna kekuasaan mereka hilang dari peta. Game ini juga menyediakan setidaknya tiga tingkat kesulitan berbeda, yang masing-masing akan menawarkan perilaku AI yang berbeda sekaligus tuntutan waktu yang dibutuhkan untuk menguasai keseluruhan Runersia. Tingkat kesulitan “Easy” misalnya, tidak akan memberikan Anda batas waktu.

Maka berbeda dengan game strategi lainnya, mengikuti format yang jadi identitas Brigandine original di era Playstation pertama, game ini tidak hanya menuntut Anda untuk membangun tim dan pasukan yang solid saja, tetapi juga mengatur gerak penguasaan berbasiskan kastil-kastil kecil yang akan terhubung satu sama lain dengan sebuah garis tipis untuk mendefinisikan hal tersebut. Anda hanya bisa menyerang kastil yang berdekatan dan dihubungkan dengan garis ini. Sistemnya sederhana – memenangkan pertempuran berarti menguasai kastil yang Anda serang dan begitu pula sebaliknya, dimana Anda akan harus menyerahkan kastil Anda jika Anda berujung diserang dan kalah. Sementara kastil yang “kosong” akan bisa dikuasai secara otomatis tanpa perlawanan sama sekali.

Menyerang dan bertahan sangat bergantung pada distribusi Rune Knights Anda di kastil-kastil “penting”, khususnya di perbatasan.
Aksi menyelesaikan Quest juga membuka kesempatan merekrut Rune Knights baru.

Maka kompleksitas Brigandine: The Legend of Runersia seperti seri originalnya, juga terletak pada distribusi pasukan yang Anda miliki – yang notabene terdiri dari Rune Knights dan para monster yang berdiri di bawah-nya. Anda harus memastikan bahwa Anda menempatkan pasukan-pasukan dalam jumlah yang cukup di kastil-kastil perbatasan untuk memastikan diri Anda tidak diserang atau memastikan Anda bisa menyerang kastil terdekat dengan lebih mudah. Tenang saja, selalu ada opsi untuk memindahkan pasukan Anda dari satu kastil ke kastil lain jika dibutuhkan, namun akan membuat mereka tidak bisa dikendalikan setidaknya hingga turn selanjutnya. Selain menyerang atau bertahan, ada opsi pula bagi para Rune Knights untuk menyelesaikan quest atas nama mendapatkan equipment dan item ekstra atau bahkan, merekrut Rune Knights yang baru dan juga melakukan training atas nama EXP. Namun ingat, Rune Knights yang melakukan quest dihitung “berpergian” dan karenanya resmi meninggalkan kastil dimana mereka tinggal selama 1 turn.

Dengan sistem seperti ini, butuh pertimbangan matang untuk merencanakan distribusi pasukan seperti apa yang paling optimal, tidak hanya untuk menyerang tetapi juga bertahan. Akan menjadi aksi yang sia-sia dan percuma jika Anda terus melakukan aksi ofensif dengan tim terkuat untuk membersihkan kerajaan tertentu dan menguasai kastil mereka pelan tapi pasti, tetapi mengendurkan pertahanan di kastil perbatasan yang lain hingga gampang dikuasai oleh kerajaan yang lain. Jika gagal melakukannya, maka seperti aksi menggali lubang kematian Anda sendiri, Anda akan menemukan daerah kekuasaan yang justru semakin kecil alih-alih membesar.

Untungnya, kesempatan untuk memperkuat pasukan Anda ini bukanlah sesuatu yang kompleks untuk dikuasai. Bersama dengan jumlah Mana yang akan bertambah seiring dengan jumlah kastil yang Anda kuasai, yang setiap turn juga akan terus bertambah dan disimpan dalam bentuk “cadangan”, Anda bisa melakukan summon monster untuk dijadikan sebagai pasukan Anda. Monster-monster ini kemudian bisa Anda alokasikan untuk berdiri di bawah Rune Knights yang Anda pilih, yang juga jumlahnya akan dibatasi. Seperti yang bisa diprediksi, masing-masing monster juga memiliki spesialisasi mereka masing-masing, dimana Anda akan bertemu dengan monster yang lebih kuat di serangan fisik, kuat di serangan magic, atau yang mengusung mobilitas super tinggi. Setiap monster juga berkesempatan untuk berevolusi dengan varian lebih kuat ketika menyentuh level tertentu, yang membuka serangan lebih kuat. Karena sistem seperti ini, mengkombinasikan monster yang saling mendukung juga dibutuhkan.

Setiap monster punya serangan dan fungsi istimewanya sendiri.
Karakter Rune Knights diposisikan seimbang, dimana mereka tidak bisa berujung terlalu over-powered dan mennyelesaikan segala sesuatunya sendiri.

Mengapa? Karena untuk setiap aksi menyerang dan diserang, Anda tidak akan bisa membawa semua Rune Knights di sebuah kastil begitu saja ke dalam medan pertempuran. Anda hanya diperkenankan untuk memilih maksimal tiga tim Rune Knights untuk setiap perang, yang berarti membuat Anda harus berpikir panjang untuk memastikan tim-tim mana saja yang tinggal di sebuah kastil untuk kombinasi efektif. Bagian terbaik yang cukup kami apresiasi? Bahwa tidak seperti game strategi lain seperti Super Robot Wars atau Fire Emblem dimana karakter utama bisa berujung terlalu over-powered dan menyelesaikan pertarungan sendiri jika mereka mau, Brigandine: The Legend of Runersia berujung cukup seimbang. Ini berarti karakter utama dan pendukung yang punya porsi cerita sekalipun, tidak akan bisa maju sendirian dan berharap menang begitu saja. Mereka tetap akan rentan dan butuh membangun komposisi tim yang efektif.

Kerennya lagi, ada resiko besar jika Anda tidak memikirkan panjang kira-kira strategi apa yang Anda tempuh di pertempuran. Mengapa? Karena untuk sisi monster, game ini mengusung fitur Permadeath. Ini berarti monster Anda yang tewas di perang tidak akan bisa lagi digunakan di pertarungan-petarungan selanjutnya, setidaknya hingga aksi Anda mengejar Quest berhasil menemukan item bernama Revival Stones yang super duper langka untuk membangkitkan mereka kembali. Selalu ada ancaman bahwa monster Anda yang sudah melewati beberapa kali proses evolusi, yang selama ini selalu Anda andalkan, berujung tewas. Proses “mengisi” kembali ruang kosong mereka di bawah Rune Knights berarti membawa Anda harus berhadapan kembali dengan monster level 1 yang notabene, bisa jadi sumber masalah saat bertarung nantinya. Untungnya, sistem Permadeath ini tidak terjadi di para Rune Knights yang hanya akan berujung “cedera” dan tidak bisa digunakan setidaknya dalam 1 turn setelahnya.

Monster yang tewas akan dibuang secara “permanen” dari tim Anda hingga Anda membangkitkan mereka dengan item super langka bernama Revival Stones. Ini membuat resiko bertempur, terutama untuk unit andalan Anda, menguat.
Serangan Magic atau Skill juga terkadang menuntut Anda untuk mengorbankan kesempatan untuk bergerak.

Sisa strategi adalah menata sebaik mungkin posisi pasukan Anda di dalam arena perang, mengingat terrain juga akan memberikan buff / nerf status pada jenis monster tertentu yang untungnya, informasinya jelas tersedia di layar jika Anda membutuhkannnya. Selain serangan biasa, monster dan Rune Knights juga punya serangan spesial dalam format Skills dan Magic yang terkadang bisa dieksekusi dari jarak jauh, yang bisa berujung menjadi penunjang buff dan healing alih-alih damage, dan terkadang butuh syarat untuk bisa digunakan. Sebagai contoh? Ada banyak magic yang hanya bisa diakses jika sang monster / Rune Knights mengorbankan turn gerak mereka dan hanya bisa mengeksekusi serangan spesial ini dari titik dimana ia berdiri. Ada pula serangan Magic AOE yang hadir dalam bentuk baris ataupun yang mempengaruhi sekitar, yang notabene lebih efektif jika diposisikan di tempat tertentu. Mengingat Mana juga jadi resource penting, Anda juga tidak akan bisa mengeksploitasi serangan-serangan istimewa ini sebebas yang Anda bayangkan.

Sayangnya, selain tidak adanya event tambahan untuk memperkuat cerita di dalam medan pertempuran, Brigandine: The Legend of Runersia juga hadir dengan masalah desain level. Kita tidak bicara soal variasi saja, tetapi juga bagaimana ia didesain tidak semenarik game strategi kebanyakan, baik dari luas ataupun hambatan yang ia usung. Satu-satunya peta “unik” yang kami temui hanyalah medan yang dipisahkan oleh sungai dengan satu jembatan di tengah yang membuat distribusi pasukan mau tidak mau, harus mengalami bottle-neck, apalagi jika Anda tidak membawa monster yang bisa bergerak bebas di air. Sementara sebagian besar peta lain berujung dengan ukuran agak panjang, dengan desain serupa namun hanya berbeda di sisi terrain, yang beberapa turn awal harus Anda habiskan untuk mendekati ke posisi musuh, yang pada akhirnya dengan aksi pertempuran di tengah peta. Untuk sebuah game strategi, ini tentu saja pendekatan yang lumayan mengecewakan.

Sedikit desain peta yang mempengaruhi strategi gerak Anda. Sebagian besar pertempuran berujung dengan aksi berperang di tengah area.
Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan di sini.

Maka dibagi ke dalam dua phase berbeda di setiap turn – Organization dan Attack, Anda harus memikirkan panjang apa yang ingin Anda lakukan di setiap fase yang ada. Apakah ini saat-nya melakukan summon monster baru? Apakah Anda ingin memindahkan beberapa Rune Knights dari satu lokasi ke lokasi lain? Apakah ini saatnya memerintahkan mereka mengejar Quest atas nama item dan EXP? Apakah ini saatnya menyerang kastil musuh terdekat? Ataukah ada potensi ancaman Anda akan diserang dan oleh karenanya, saatnya memerintahkan tim terbaik yang Anda miliki untuk melindunginya? Apakah monster level tinggi yang sudah menemani Anda cukup lama pantas dikorbankan di garis depan atau saatnya mundur? Ada begitu banyak hal yang akan mempengaruhi aksi Anda memimpin para pasukan di Brigandine: The Legend of Runersia, yang membuatnya sebenarnya, tampil sebagai game strategi yang solid.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…