Review Marvel’s Iron Man VR: Perunggu untuk Si Manusia Besi!

Reading time:
July 3, 2020

Setengah Hati

Sekali lagi, visual yang Anda lihat di screenshot ini tidak merepresentasikan kualitas “Stereo” yang Anda dapatkan ketika menjajal game ini secara langsung di PSVR.

Seperti review kebanyakan game VR sebelumnya, sebelum membahas masalah presentasi, kami hendak menegaskan terlebih dahulu bahwa screenshot-screenshot yang Anda lihat di artikel ini tidak akan mewakili pengalaman visual yang Anda dapatkan ketika mencicipi gamenya secara langsung menggunakan Playstation VR. Apa pasal? Karena ia menangkap gambar hanya dari satu sisi mata saja dan tidak mewakili visual seperti apa yang Anda dapatkan di mode “stereo”. Kita harus menyingkirkan potensi kesalahpahaman ini terlebih dahulu.

Harus diakui, untuk game-game yang berjalan di Playstation VR dengan kemampuan Playstation 4 yang terbatas, ia memang tidak bisa disebut hadir dengan kualitas visualisasi luar biasa ala game-game first party Sony, bahkan dengan Playstation 4 Pro sekalipun. Memastikan bahwa game harus berjalan setidaknya di 90fps, yang notabene di-render di masing-masing sisi mata, membuat beberapa kompromi harus dilakukan, yang biasanya terlihat lewat penurunan sedikit kualitas visual atau resolusi. Di beberapa kasus seperti Astro Bot: Rescue Mission yang punya cita rasa kartun atau Resident Evil 7 yang punya atmosfer yang begitu kuat, visualisasi ini tidak kentara. Alasannya? Karena perhatian pada detail yang diperlihatkan oleh masing-masing developer, terasa membuat kelemahan ini tidak pantas dibicarakan.

Lantas, mengapa sisi presentasi ini kemudian harus dipermasalahkan di Marvel’s Iron Man VR? Jawabannya sederhana, karena sang developer – Camouflaj terasa setengah hati untuk membangun sebuah pengalaman bermain VR yang seharusnya imersif. Pujian memang pantas diarahkan pada detail armor Iron Man, yang tersedia dalam beragam varian, yang kesemuanya datang dengan detail yang pantas untuk diacungi jempol. Atau kita berbicara soal tata desain dan penempatan beragam objek yang berhasil membuat rumah atau “garasi” Tony Stark tampil dalam kapasitas seharusnya. Permasalahannya terjadi ketika Anda mulai menelusuri lebih dalam.

Kesan setengah hati muncul di banyak kasus sembari Anda menyelami kisah pertarungan antara Iron Man melawan Ghost ini. Salah satu yang cukup membuat kami kecewa di awal permainan adalah ketika menemukan bahwa sebagai Tony Stark, Anda bisa berjalan-jalan di beragam sudut rumah dan berinteraksi dengan variasi objek di sekitar. Beberapa objek tersebut merupakan bahan bacaan seperti buku ataupun koran. Jika di game lain, developer masih cukup “rajin” untuk setidaknya menuliskan kata-kata baik yang berhubungan atau tidak dengan isi judul utama media bacaan tersebut, Camouflaj memutuskan untuk hanya menyuntikkan bar hitam saja untuk bagian dimana tulisan seharusnya berada. Untuk sebuah game VR yang mengejar sensasi imersif, bahkan mereka tidak cukup peduli untuk menyuntikkan ilusi tulisan, terlepas apakah bisa dibaca atau tidak? Impresi negatif kami harus diakui, langsung menguat di titik itu.

Mereka bahkan tidak menyuntikkan teks kecil hanya untuk memperkuat ilusi bahwa ini adalah sebuah majalah.
Shanghai?

Pertimbangan pada sisi presentasi yang lemah juga terjadi di Shanghai, salah satu level yang anehnya, berujung harus Anda kunjungi di beberapa misi dengan sisi presentasi yang serupa satu sama lain. Memasuki Shanghai seperti memberikan highlight baru soal presentasi “setengah hati” yang kami keluhkan sebelumnya. Kita tidak sekadar membicarakan detail dan tekstur kota seperti game yang tertinggal dua generasi saja, tetapi juga fakta bahwa tidak ada perhatian ekstra untuk membuat level ini memang terasa seperti sebuah kota Shanghai. Semua bangunan berbentuk kotak, tata cahaya lampu yang sama, minum bentuk unik, dan hanya dijejal beragam merk dari semesta Marvel sebagai easter egg. Desain kota jelas menyiratkan pesan bahwa mereka hendak membuatnya terasa seperti kota Shanghai yang seharusnya. Ada kesan “setengah hati” menyeruak di beragam sudut.

Untungnya, sisi presentasi tersebut sedikit terobati lewat ilusi Tony Stark yang sejalan dengan karakter versi MCU, yang tentu saja lebih familiar untuk sebagian besar dari kita. Aktor suara yang dipilih terhitung berhasil “meniru” kualitas dan intonasi suara Tony Stark milik Robert Downey Jr., termasuk karakteristik kepribadian dengan humor sarkastik di situasi sulit sekalipun. Untuk urusan ini, mereka melakukan tugas yang sangat baik. Kualitas suara pada saat Anda menjadi seorang Iron Man, dengan senjata dan booster yang menemani juga berada di kualitas yang tepat sasaran. Jika harus berbicara soal kritik di sisi audio, kami mungkin lebih mengarah ke musik pengiring. Ada kerinduan untuk bisa mereplika sensasi menonton Iron Man di MCU yang diisi dengan lagu sekelas AC/DC “Shoot to Thrill” atau Black Sabbath “Iron Man” yang tidak diusung di sini. Sebagian besar aksi Anda memang lebih ditemani musik latar belakang yang tidak mendominasi. Yang di mata kami, sayangnya mengecewakan.

Untungnya, presentasi karakter dan VA Tony Stark yang ia usung, tepat sasaran.
Game ini benar-benar butuh lebih banyak OST rock n roll atau classic metal.

Bagian terburuk dari Marvel’s Iron Man VR juga muncul dari sisi teknis yang benar-benar mencabut sensasi imersif – yakni waktu loading yang menjengkelkan, bahkan ketika mencicipinya di Playstation 4 Pro sekalipun. Keinginan dan kenikmatan untuk menjalani hidup seorang Tony Stark harus dihalangi oleh layar hitam berisikan persentase loading yang muncul hampir di semua sudut progress, baik dari ketika Anda berganti level ataupun Anda tewas dan berusaha mengulang permainan di titik checkpoint terakhir. Anda yang punya kesabaran tingkat tinggi mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang bisa diabaikan. Namun untuk game VR dimana segala sesuatunya seharusnya diracik se-imersif mungkin untuk membuat Anda melupakan Anda tengah berada di dalam sebuah video game, waktu loading hingga waktu menitan ini adalah sebuah berita buruk.

LOADING GANG!

Maka dengan semua sisi presentasi ini, selain detail armor Iron Man yang ciamik dan pemilihan VA yang akan langsung memicu rasa familiaritas dengan sosok Tony Stark, Marvel’s Iron Man VR terlihat gagal memosisikan diri sebagai game VR dengan kualitas AAA yang siap untuk menandingi kaliber game sekelas Resident Evil 7, Astro Bot: Rescue Mission, Blood & Truth, atau bahkan – Batman: Arkham VR yang berhasil memosisikan banyak hal-hal teknis tersebut di level yang sepantasnya. Camouflaj sebagai developer butuh belajar untuk memprioritaskan apa yang mendefinisikan pengalaman VR yang lebih nyaman dan baik. Untuk saat ini, ia terasa seperti sebuah game yang pantas dianugerahi medali perunggu, alih-alih emas. Apalagi jika kita berbicara soal ekstra satu keluhan lainnya di sesi selanjutnya.

Terbang, Bebas, Lepas

Setidaknya Camouflaj terhitung berhasil menerjemahkan pengalaman terbang dan bertarung sebagai Iron Man.

Anda tentu saja tidak bisa membungkus game Anda dengan nama “Marvel’s Iron Man” jika Anda tidak mampu menawarkan sensasi menjadi seorang Iron Man yang keren. Berita baiknya? Untuk aspek yang satu ini, Camouflaj melakukan tugas yang benar-benar luar biasa. Dengan mengharuskan penggunaan dua buah kontroler Playstation Move yang akan mewakili masing-masing tangan Iron Man, Anda akan memanfaatkan gerak tangan untuk melakukan beragam aksi yang memang Anda harapkan dari sebuah game Iron Man.

Untuk urusan pergerakan, Marvel’s Iron Man VR untungnya, bukanlah sebuah game rail-shooter, sebuah genre dimana game mengunci pergerakan karakter layaknya Time Crisis, dimana tugas Anda hanya mawas soal posisi musuh dan menembak. Marvel’s Iron Man VR adalah sebuah game action penuh yang memfasilitasi pergerakan Anda secara bebas tanpa dikunci sama sekali. Satu-satunya yang membatasi pergerakan Anda hanya ada pada limitasi ukuran level yang tidak akan memungkinkan Anda bergerak terlalu jauh dari target atau misi yang harus Anda selesaikan. Game ini juga memberikan skema kontrol alternatif untuk memutar tubuh Iron Man dalam sudut tertentu, hingga Anda tidak perlu “bergerak gila” hanya untuk menuju kesana dan kemari.

Ingat, ini bukan game rail-shooter! Anda benar-benar bisa bergerak bebas dalam lingkup level menggunakan PS Move.
Ada level interaktivitas terhadap objek ala kebanyakan game VR, seperti membuka atau menutup sesuatu.

Pergerakan dilakukan dengan menggunakan dua buah kontrol Playstation Move dengan tombol Trigger digunakan untuk menyalakan thruster di kedua tangan. Bergantung pada posisi Playstation Move yang tentu saja mewakili tangan Anda, pergerakan Iron Man akan menyesuaikan bergantung pada arah dorong Thruster. Ini berarti, Anda harus melakukan sedikit aksi “Naruto Run” untuk bergerak terbang maju. Arah dan gerak terbang Anda akan ditentukan oleh arah pandang Anda, kemana posisi Anda melihat. Tentu saja, ada beberapa mode ekstra lainnya. Menekan tombol Trigger akan melakukan boost pendek untuk ekstra kecepatan kemanapun Anda ingin mengarahkannya. Anda juga bisa menekan tombol “X” untuk masuk ke mode Hover, dimana Iron Man akan berdiri statis di angkasa hingga Anda memberikan perintah lanjutan. Hover Mode akan sangat berguna jika di sesi gaming yang intens, Anda butuh sedikit waktu istirahat.

Dengan menggunakan mekanisme yang sama pula, bergantung pada gerak Playstation Move Anda, Anda juga dibekali dengan setidaknya dua varian persenjataan untuk menghancurkan setiap musuh yang ada. Mengarahkan telapak tangan Anda akan mengakses serangan beam untuk menghancurkan musuh, yang di salah satu variannya, juga bisa Anda tahan untuk serangan laser yang lebih kuat. Menundukkan sedikit telapak tangan Anda dan mengarahkan pergelangan Anda akan membuat Anda mengakses senjata sekunder, yang biasanya lebih kuat, namun memiliki waktu cooldown layaknya sebuah skill. Anda bisa menggunakannya untuk menghabisi musuh lebih cepat, yang bisa berisikan misil kecil, auto-cannon, hingga flamethrower.

Mengarahkan pergelangan Anda akan membuka akses senjata kedua berbasis cooldown yang lebih kuat.

Maka sebagian besar misi Anda di Marvel’s Iron Man VR bisa disebut repetitif. Bahwa terlepas dari cerita seperti apa yang ia usung, ia akan berakhir dengan meminta Anda untuk bergerak ke satu area, bertahan dan menghabisi musuh yang datang dalam bentuk gelombang, dan kemudian menikmati sesi cerita selanjutnya. Musuh yang Anda temui akan datang beragam, yang beberapa di antaranya butuh strategi tersendiri untuk ditundukkan.

Kerennya lagi? Seperti Iron Man seharusnya, Anda juga selalu punya opsi untuk menggunakan hanya satu tangan untuk terbang dan satu tangan lainnya untuk menyerang jika Anda mulai terbiasa dengan skema kontrol yang ada. Sayangnya, Iron Man sendiri tidak dibekali dengan pelindung dan sejenisnya. Satu-satunya cara untuk menghindari tembakan musuh hanyalah dengan mengandalkan thruster Anda dan berusaha menggerak menjauh dari arah gerak proyektil tersebut. Untungnya, Anda terselamatkan dengan sistem health berbasis regenerasi yang memungkinkan Anda untuk sedikit menjauh untuk memulihkan diri. Kematian memang memungkinkan Anda mengulang dari checkpoint terakhir, namun kami yakin, Anda tidak mau berhadapan dengan waktu loading yang ia usung.

Mengalahkan cukup banyak musuh, dan Anda akan bisa mengakses serangan istimewa milik Iron Man – Unibeam. Tembakan laser raksasa dari reaktor dada Anda ini akan berlangsung cukup lama hingga selalu punya banyak waktu untuk mengarahkannya ke semua musuh yang Anda temui. Harus diakui, menggunakan Unibeam boleh jadi salah satu momen terfavorit kami. Entah kenapa, walaupun kami memahami bahwa aksi lacak posisi target sepenuhnya datang dari teknologi VR, dada kami selalu ikut membusung seolah-olah menembakkan laser mematikan ini secara langsung dari tubuh kami. Terlepas dari usaha untuk menancapkan pikiran bahwa ini semua hanya ilusi, dada kami tidak bisa berhenti membusung.

Dada kami ikut membusung setiap kali mengakses Unibeam.
From downtown!

Camouflaj sendiri berusaha menawarkan sedikit permainan alternatif untuk tidak membuat pengalaman ini repetitif. Ada beberapa sesi permainan dengan cita rasa horror yang lebih kuat, dimana Anda diminta untuk melakukan proses eksplorasi dan investigasi, sembari mencari clue dan informasi dengan ekstra jump scare di sana-sini. Ada juga usaha untuk menyediakan aktivitas alternatif di hub utama – rumah Tony Stark, dengan salah satunya adalah mesin bola basket dengan akurasi gerak lumayan tinggi yang harus diakui, menjadi salah satu sumber kadar kesenangan tertinggi kami saat mencicipi game ini. Lewat hub yang sama, Anda juga bisa mengakses beragam misi tantangan yang disajikan dalam bentuk sebuah globe digital.

Bukan seorang Tony Stark namanya jika Anda tidak memiliki opsi untuk melakukan proses kustomisasi armor Iron Man Anda. Tenang saja, kesempatan tersebut tetap ditawarkan game ini. Berbekalkan resource bernama “Research Points” yang jumlahnya bergantung pada seberapa baik Anda menyelesaikan tiap misi, Anda bisa menyuntikkan atau mengganti senjata dan buff baru untuk loadout Iron Man Anda, dengan varian yang cukup banyak.

Ia juga menghadirkan fitur kustomisasi, baik senjata ataupun kosmetik.

Sementara untuk sisi kosmetik, Anda akan dituntut untuk menyelesaikan objektif tertentu untuk bisa membuka skema warna baru. Sayangnya? Sistem ini tidak bisa dibilang memesona. Alternatif varian kustomisasi, terutama untuk senajta dan buff memang banyak, namun hanya akan butuh 2-3 misi di awal untuk menentukan kombinasi seperti apa yang memang cocok untuk gaya bermain Anda. Setiap senjata ini terasa sama kuat dan menariknya, tanpa ada keharusan untuk membuka alternatif yang lebih kuat dan efektif. Pelan tapi pasti, Anda akan menemukan tidak ada alasan kuat untuk mengejar Research Points karena semata-mata Anda sudah mengaplikasikan semua kustomisasi yang Anda butuhkan. Padahal game ini akan jauh lebih bisa menciptakan ilusi progress jika saja, untuk setiap alternatif senjata dan buff, ada varian lebih kuat yang bisa dibuka dan dikejar.

Dengan semua sisi gameplay ini, Marvel’s Iron Man VR terdengar sebuah game action yang solid. Lantas, apa keluhan ekstra kami yang membuatnya pantas hanya dapat “perunggu” di mata kami?

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…
November 13, 2020 - 0

Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Kontroversial, memancing cemooh di awal rilis, namun tetap berakhir sukses…
November 10, 2020 - 0

Preview Assassin’s Creed Valhalla: Dalam Lindungan Odin!

“Ini bukan lagi seri Assassin’s Creed”, pergeseran genre dengan cita…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…