Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Reading time:
April 5, 2021

Friend’s Pass yang Fantastis

It Takes Two jagatplay 122
Lewat sistem Friend’s Pass, hanya butuh satu gamer yang membeli game ini!

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama EA? Dengan semua kontroversi yang sempat mengitari beragam kebijakan microtransactions di masa lalu, dengan kebijakan yang juga tidak banyak berubah di game-game olahraga mereka, maka “serakah” sepertinya adalah kata yang selalu diasosiasikan dengan publisher raksasa yang satu ini. Namun kasus yang berbeda terjadi dengan label EA Originals yang memang menggawangi developer-developer indie yang diyakini memang punya potensi. Kebebasan ini jugalah yang membuat Hazelight kembali mampu mengintegrasikan sistem Friend’s Pass yang berjalan tanpa masalah di It Takes Two.

Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, Friend’s Pass adalah sistem dimana Anda bisa mengundang player yang lain untuk memainkan It Takes Two ini walaupun mereka tidak membelinya. Benar sekali, ini berarti selama ada satu pihak yang memiliki It Takes Two, ia akan bisa mengundang gamer manapun (selama berada dalam satu platform yang sama) untuk bermain bersama. Gamer yang tidak memiliki game ini namun mendapatkan undangan akan secara otomatis mendapatan notifikasi soal kebutuhan mengunduh game di platform mereka. Begitu siap, sang pemilik game bisa mengundang gamer yang sama untuk bermain bersama-sama. Namun gamer yang diundang ini tidak akan bisa mengundang gamer yang lain yang tidak memiliki It Takes Two itu sendiri. Dengan sistem seperti ini, bukanlah sesuatu yang aneh jika Anda berujung “patungan” untuk membeli game keren yang satu ini.

It Takes Two jagatplay 198
Dengan tema yang ia usung, sulit untuk tidak merekomendasikan Anda untuk memainkannya bersama dengan orang yang Anda kasihi, alih-alih sekadar teman.

Terlepas dari konsep multiplayer kooperatif yang sebenarnya bisa dimainkan oleh dua orang dengan konteks hubungan apapun, orang tua – anak hingga antar teman misalnya, sulit rasanya untuk tidak mendorong dan merekomendasikan Anda untuk mencicipi It Takes Two dengan pasangan Anda – istri, pacar, ataupun gebetan terlepas apakah mereka gamer atau fakta. Mengapa? Karena tema romansa dan hubungan antar dua manusia – Cody dan May yang saling mencinta dalam konteks hubungan rumah tangga akan terasa lebih relevan. Lagipula, ia juga memuat beberapa pesan “penting” yang bisa Anda jadikan sebagai bahan diskusi dalam hubungan.

Namun tentu saja, terlepas dari mekanik dasar kooperatif yang ia usung, Anda harus menakar juga seberapa “awam”-nya pasangan yang ingin Anda ajak bermain It Takes Two. Walaupun di atas kertas konsep gameplay-nya terhitung sederhana, penguasaan sistem kontrol tetap dibutuhkan, apalagi jika Anda berada di level yang butuh aksi aiming dengan presisi tinggi atau timing eksekusi tombol yang tepat. Mengajarkan gamer yang masih awam soal apa yang perlu mereka lakukan, sembari menunggu mereka memahami dan menguasai apa yang seharusnya mereka picu, bisa berujung jadi pengalaman penuh rasa frustrasi. Apalagi dengan panjang gameplay yang butuh 10 jam untuk diselesaikan, ia juga menuntut komitmen tersendiri. Jadi, butuh sedikit pertimbangan.

Kesimpulan

It Takes Two jagatplay 163
It Takes Two adalah sebuah game multiplayer kooperatif yang seru, menyenangkan, dan mengejutkan di saat yang sama. Anda akan memahami bahwa ini adalah game yang tidak hanya dibangun dengan penuh ambisi, tetapi juga perhatian dan cinta. Cinta sama, yang menjadi pondasi cerita untuk dua anak manusia dalam dunia bak dongeng yang satu ini. Sebuah game yang benar-benar fantastis!

Terasa menyempurnakan konsep yang sudah ia bawa via A Way Out, It Takes Two tampil sebagai game multiplayer kooperatif yang memesona. Jelas ada perhatian dan cinta yang dicurahkan oleh Fares dan Hazelight di proyek yang satu ini, yang menyeruak lewat kreativitas yang tercermin di hampir semua sudut game yang butuh waktu setidaknya 10 jam untuk diselesaikan ini. Ia menawarkan begitu banyak desain level yang berbeda, mekanik unik yang menemaninya, desain puzzle super cerdas, scene cerita yang lumayan menggugah di beberapa titik, musik menarik, hingga ragam mini game yang berhasil memuaskan sedikit rasa kompetitif di dalamnya. Ia datang dengan begitu banyak pesona.

Lantas, apakah game ini bisa disebut sempurna? Kami akan menyebutnya nyaris. Satu hal yang cukup mengganggu kami berakhir di waktu gameplay yang terlalu panjang buat kami. Mungkin terdengar cukup aneh untuk mengeluh soal panjang gameplay, namun sensasi tersebut memang terasa di It Takes Two ini. Kami akan lebih puas jika game berhasil memotong dirinya menjadi game berdurasi sekitar 6-7 jam saja, apalagi mengingat beberapa level yang meluncur ternyata tidak mendorong narasi yang ada kemanapun.

Ia terasa seperti sebuah filler yang butuh waktu 1 jam tersendiri untuk diselesaikan. Hasilnya adalah sebuah kerepotan tanpa reward yang terasa pantas. Sisi lain yang sedikit mengganggu? Potret masalah rumah tangga, terutama kasus perceraian yang terlihat begitu “klise” dan sederhana. Ia gagal menangkap kompleksitas yang mungkin, bisa berujung memberikan gambaran lebih jelas dan lengkap kepada anak yang mungkin kebetulan memainkan game ini dan harus berhadapan dengan masalah yang sama di dunia nyata.

Namun di luar kekurangan tersebut, It Takes Two adalah sebuah game multiplayer kooperatif yang seru, menyenangkan, dan mengejutkan di saat yang sama. Anda akan memahami bahwa ini adalah game yang tidak hanya dibangun dengan penuh ambisi, tetapi juga perhatian dan cinta. Cinta sama, yang menjadi pondasi cerita untuk dua anak manusia dalam dunia bak dongeng yang satu ini. Sebuah game yang benar-benar fantastis!

Kelebihan

It Takes Two jagatplay 189
Variasi mekanik, level, dan desain yang diusung game ini berujung mengagumkan!

Variasi level dan mekanik yang diusung

Puzzle didesain cerdas

Kooperatif terasa menyenangkan dan menantang di saat yang sama

Memiliki beberapa momen yang menggugah emosi

Berisikan mini-game kompetitif yang seru

Kreativitas terasa kental hampir di setiap sudut

Eksekusi musik yang pantas diacungi jempol di akhir-akhir permainan

Kekurangan

It Takes Two jagatplay 116
Waktu gameplay panjang membuat ceritanya terasa bertele-tele.

Waktu gameplay bisa terasa terlalu panjang, apalagi dengan reward narasi yang terasa percuma

Potret soal penyebab perceraian terasa terlalu sederhana dan gagal memamerkan kompleksitas yang biasanya ada

 

Cocok untuk gamer: yang membutuhkan game kooperatif keren, butuh game asyik untuk dimainkan bersama orang yang dikasihi

Tidak cocok untuk gamer: yang tidak punya teman di dunia nyata ataupun maya, lebih senang berkompetisi

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…