Review Voice of Cards – The Isle Dragon Roars: RPG, Kartu, dan Yoko Taro!
Dunia Kartu

Ketika kami berbicara di awal bagaimana kata “RPG Kartu” pantas untuk mendefinisikan game yang bertajuk Voice of Cards ini, kami tidak main-main. Bahwa entah untuk alasan estetika, alasan keunikan, atau siasat saat berhadapan dengan budget yang terbatas, keseluruhan presentasi Voice of Cards: Isle of Dragon Roars disajikan dalam bentuk kartu. Ini bicara soal dunia, karakter, interaksi, aksi, hingga cara cerita disajikan. Ia membuat Anda merasa tengah menikmati sebuah game kartu tabletop ber-genre RPG yang tak kalah seru.
Yang membuat sisi presentasi ini terasa fantastis karena ia datang dengan beberapa hal mengagumkan, seperti desain karakter dan monster misalnya. Bahwa terlepas dari fakta bahwa mereka semua hanya gambar dua dimensi yang tertempel pada sebuah kartu yang mungkin bergerak, berputar, atau bermanuver untuk mensimulasikan efek animasi serangan atau magic, ia tampil indah. Salah satu pesonanya datang dari desain karakter utama dan companion Anda yang hadir dengan desain armor yang tak kalah memanjakan mata. Bahkan untuk kelompok rival utama – The Ivory Order yang hadir dengan pakaian super putih, membuat Anda kian menyayangkan mereka semua hadir tanpa model 3D.


Namun sayangnya, kreativitas penggunaan visual berbasis kartu dengan desain karakter utama yang keren dan aksi gerak untuk animasi serang yang cukup efektif ini, tidak berbagi kualitas dan komitmen yang sama di sisi visual yang lain, seperti karakter NPC dan kota yang Anda temui. Bahwa alih-alih memastikan setiap karakter NPC tampil unik, Anda akan menemukan banyak kartu NPC dengan desain yang sama, bahkan di kota yang sama. Hal yang sama juga terjadi di kartu-kartu yang digunakan untuk “membangun” kota seperti jalan dan desain toko yang bisa Anda singgahi. Akan jauh lebih menarik jika ketekunan ini diekspansi lebih jauh dengan memastikan setiap NPC unik atau toko di kota berbeda terlihat tak sama untuk memberikan nilai tambah dari sisi presentasi.
Maka kartu-kartu ini juga akan menjadi basis keseluruhan user-interface Anda, termasuk pengaturan skill, menu equipment, items, hingga halaman Save-Load yang bisa Anda buka. Di awal permainan, mungkin di jam-jam pertama Anda, desain seperti ini memang bisa berujung membingungkan. Namun seiring dengan waktu permainan yang berjalan, Anda akan mulai terbiasa melakukan navigasi di barisan-barisan kartu ini. Proses pergantian skill dan equipment pun akan terasa sesederhana kebanyakan game RPG yang Anda temui selama ini.


Atas nama untuk menciptakan sensasi cerita fantasi solid dan sebuah game tabletop yang biasanya memiliki “GM” sebagai narator, Voice of Cards juga menempuh hal yang sama dari sisi audio. Bahwa alih-alih memberikan VA untuk karakter-karakter penting, Anda hanya akan bertemu dengan satu suara pria yang akan berperan sebagai narator cerita Anda dari awal hingga akhir permainan. Ia akan membaca ragam kartu yang mendeskripsikan scene yang tengah terjadi, yang mau tidak mau, juga harus mengandalkan imajinasi Anda untuk dibayangkan. Pendekatan satu VA untuk semua hal seperti ini memang terhitung efektif untuk menciptakan cita rasa game tabletop. Namun sulit rasanya untuk tidak menyayangkan potensi jika setidaknya karakterutama dan companion bisa memiliki VA-nya sendiri-sendiri, yang akan membuat interaksi di antara mereka lebih hidup dan kaya.
Untungnya, terlepas dari penampilan ala game ber-budget rendah yang terlihat di banyak sisi, Squaer Enix alias Yoko Taro di sini kembali berhasil mengunci talenta seorang Keiichi Okabe – komposer musik NieR Series untuk ikut berkontribusi juga di game ini. Walaupun tidak serta merta mengisi semua OST yang ada, namun tidak akan sulit bagi Anda untuk menemukan dan mengenali track mana yang ia racik. Berita baiknya? OST-OST ini menjalankan tugasnya dengan baik, menemani aksi RPG Anda yang penuh dengan petualangan dan pertarungan.
Sebuah game RPG yang berisikan secara total, hanya kartu-kartu yang berbaris? Percaya atau tidak, terlepas dari kegilaan konsep ini di ranah industri game digital dan bukan tabletop, ia berhasil menciptakan cita rasa yang unik dan berbeda . Di tangan Yoko Taro dan musik Keiichi Okabe, kualitas seolah mengalir kuat terlepas dari betapa rendahnya budget yang mereka persiapkan untuknya.
RPG Kartu

Semua hal yang ditawarkan oleh Voice of Cards memang datang dalam format kartu, termasuk untuk konsep gameplay utamanya yang bergerak di genre RPG. Untuk proses eksplorasi misalnya, baik di dalam kota ataupun world map, semua wilayah yang belum pernah Anda singgahi akan diwakili dengan bentuk kartu yang tertutup.
Seiring dengan langkah karakter Anda yang dipresentasikan dengan sebuah pion, wilayah-wilayah di sekitar Anda akan berujung jadi kartu terbuka. Ia bisa saja terbuka menjadi landscape yang bisa Anda lewati, pegunungan atau area air yang tak bisa Anda singgahi dan harus cari jalan memutar, dungeon misterius, hingga sekadar marka jalan untuk memberi arah ke kota terdekat. Konsep yang sama juga diusung oleh wilayah dalam dungeon yang Anda lewati, yang juga terkadang berisikan beberapa kartu peti harta karun.
Maka seperti game RPG pada umumnya, Anda juga akan menemukan sistem random encounter di sini. Bahwa selain pertarungan boss yang untungnya di beberapa skenario juga memuat kartu yang jelas terpampang di layar agar Anda bisa bersiap, Anda akan terus bertarung melawan monster-monster acak yang tidak bisa Anda kendalikan. Setiap pertarungan monster ini tentu akan menawarkan sejumlah EXP dan Gold yang berfungsi selayaknya game RPG lain. EXP akan meningkatkan level karakter yang secara otomatis menambah atribut dan di angka tertentu, akan membuka skill baru. Sementara Gold? Bisa Anda belanjakan untuk membeli beragam item dan equipment di kota yang Anda singgahi, yang variannya tentu akan menguat seiring dengan progress cerita Anda.


Sistem pertarungan Voice of Cards juga sangat sederhana. Di setiap karakter yang Anda gunakan dan di setiap musuh yang Anda temui, Anda akan langsung dihadapkan pada tiga angka besar yang tercetak di bawah setiap kartu. Di tengah dengan indikator bulatan merah adalah HP, di kiri dengan pedang adalah Attack, dan di kanan dengan perisai adalah angka Defense. Di serangan biasa, matematika adalah kunci. Damage yang menyentuh HP akan dihasilkan dari angka Attack dikurangi oleh angka Defense target. Angka ini bisa berujung lebih besar jika Anda berujung menggunakan skill alih-alih serangan biasa. Anda tentu juga bisa terkena atau justru melemparkan beragam status ailment yang kesemuanya juga dipresentasikan dengan sedikit efek visual, seperti Seal yang membuat Anda tak bisa mengakses serangan spesial atau Freeze yang membuat Anda membeku dan melewatkan beberapa turn.
Yang menjadi kunci yang harus Anda perhatikan adalah sebuah resource bernama Gem yang akan Anda dapatkan setiap turn, dengan maksimal 10 untuk Anda kumpulkan. Benar sekali, Gem adalah “mata uang” yang bisa Anda akses untuk mengakses beragam skill di luar serangan biasa, dari yang mematikan dengan damage besar, healing, ataupun yang bersifat buff. Jumlah Gems yang dibutuhkan biasanya sejalan dengan kekuatan kartu itu sendiri, dimana serangan pemungkas dengan damage besar biasanya membutuhkan 4-5 Gems sekaligus. Serangan-serangan spesial ini juga beberapa di antaranya memiliki elemen di dalamnya. Seperti yang bisa diprediksi, elemen ini juga berkaitan dengan kelemahan beberapa monster yang jika digunakan, akan menghasilkan damage lebih besar dan mematikan.


Walaupun ia adalah RPG berbentuk kartu, Anda tidak akan lantas disibukkan dengan aksi membangun Deck yang intens. Setiap karakter akan terkunci pada kartu Skill-nya sendiri-sendiri, yang terbuka dengan seiring level yang meningkat. Tidak ada kesempatan untuk menukar kartu-kartu ini antar karakter, tidak ada opsi untuk menambah kartunya dari source luar, ataupun upaya untuk mempersiapkan kartu dengan status counter / defense misalnya. Satu-satunya “Deck” yang perlu Anda persiapkan hanya datang dari sistem limitasi 4 Skill Cards / karakter yang bisa Anda bawa ke pertarungan. Ini berarti, terlepas dari berapa banyak kartu Skill yang berhasil Anda buka, Anda hanya bisa membawa 4 kartu saja yang akan bergantung pada strategi Anda. Apakah Anda perlu membawa kartu healing? Apakah Anda masih perlu mempertahankan kartu serangan biasa tanpa Gems? Kombinasi elemental apa saja yang perlu Anda persiapkan? Ini yang akan jadi kesibukan di end-game.
Berita baiknya? Aksi menggunakan item saat bertarung tidak akan membutuhkan Gems dan dihitung tak ubahnya serangan biasa atau aksi Pass. Ini berarti, dalam kondisi terburuk yang bisa terjadi di medan pertempuran dimana Anda harus menggunakan ragam item yang ada, Anda masih terus menumpuk Gems untuk kesempatan membalikkan keadaan. Tapi sayangnya, sistem Item ini juga datang dengan limitasi yang menjengkelkan. Anda berujung hanya bisa membawa 30 buah unit item saja sekali jalan. Ini berarti jika Anda tidak sengaja membuka sebuah peti saat eksplorasi dan kebetulan ia berisikan consumables, Anda akan terus dihadapkan pada kebutuhan membuang item di inventory Anda, yang membawa Anda ke layar tersebut, kembali dan kembali. Cukup untuk membuat kami membiarkan slot kosong setidaknya 5-10 unit hanya untuk mencegah hal ini terjadi.
Progress cerita yang ditawarkan Voice of Cards juga didesain linear. Ini berarti terlepas dari beberapa pilihan opsi respon pada percakapan yang muncul di sepanjang permainan, Anda akan tetap mendapatkan output sama dan bergerak ke titik yang sama. Satu-satunya yang berbeda hanyalah opsi di akhir permainan yang akan menentukan ending seperti apa yang Anda dapatkan nantinya.









