Review SIFU: Makin Tua Makin Jadi!
Kung Fu yang Indah

Sebuah bukti apresiasi pada Kung-Fu sebagai bela diri adalah kalimat yang sepertinya akan keluar dari mulut Anda ketika berbicara soal sisi presentasi SIFU. Terlepas ia tetap datang dengan gaya game indie yang kental lewat sisi visual karakter dan dunia yang lebih menyerupai lukisan atau produk tanah liat alih-alih sesuatu yang realistis, Anda bisa mengerti dan memahami ambisi sang developer – SloClap untuk mewakili ilmu pertahanan diri ini dengan sebaik mungkin. Rasa cinta yang mereka tawarkan lebih varian dan detail yang ada.
Salah satu yang pantas untuk diacungi jempol adalah animasi. Kita tentu tidak hanya bicara soal serangan kombinasi yang bisa Anda eksekusi saja, tetapi juga bahwa Anda bisa mengeksekusi beragam serangan pemungkas yang variannya akan ditentukan oleh banyak hal – dari area dimana ia dieksekusi hingga senjata yang Anda gunakan. Jumlah varian animasi ini? Benar-benar banyak. Kami bahkan sempat menemukan di mana si karakter utama berujung membanting musuh dengan posisi terbalik ke arah sofa ketika animasi tersebut memang dieksekusi di dekat kursi panjang tersebut. Kerennya lagi, setiap animasi ini datang terukur dan memang terasa sebegitu destruktifnya untuk membuat lawan tak lagi bisa bangun, namun tetap di dalam ranah ilmu bela diri yang sesungguhnya.


SIFU secara mengejutkan ternyata juga game yang memiliki nilai estetika yang tinggi, terutama dari desain level yang Anda lalui. Anda akan bertarung melewati beragam lokasi, dari club malam dengan lampu neon dimana-mana, museum yang begitu bersih dengan warna kontras, hingga sekadar sebuah resort untuk menemukan ketenangan batin. Fakta bahwa situasi bertarung Anda tidak selalu monoton juga membuat SIFU tak membosankan. Nilai estetika langsung terdongkrak di beragam skenario, dari arena bertarung yang hanya memuat cahaya di tengah, aksi pukul ditemani patung-patung menggugah di museum, hingga tantangan saat Anda mengetahui dan melawan musuh hanya dari siluet mereka saja. Bagian terbaiknya? Ketika kamera ditarik mundur dan Anda bertarung dalam format “2D” yang jelas merupakan homage untuk film legendaris – Oldboy.

HUD yang cukup rapi dan jelas juga memberikan Anda lebih banyak ruang untuk lebih memerhatikan apa yang sebenarnya terjadi saat bertarung, yang notabene memang penting. Sementara itu, ia tetap menyediakan hal-hal yang memang esensial, seperti bar HP dan structure milik musuh, milik Anda sendiri, dan kira-kira kapan serangan pemungkas bisa dilakukan. Walaupun harus diakui di beberapa situasi, Anda juga bisa jadi harus “bertarung” dengan kamera yang menempatkan Anda dalam posisi tidak menguntungkan, terutama saat Anda tersudut.
Sementara dari sisi audio dan musik, SIFU juga tidak kalah memesona. Mendengar suara senjata yang Anda gunakan, terutama pipa besi dan potongan bambu mengenai tubuh lawan dan membuat mereka terkapar tidak bisa lagi lebih memuaskan dari apa yang mereka tawarkan sekarang. Walaupun harus diakui, kepuasan yang sama sayangnya tidak ditawarkan senjata tajam yang suaranya terlalu “tipis” untuk bisa dinikmati. Dari sisi soundtrack, mengingat ini adalah sebuah game aksi berbasis Kung-Fu yang melekat dengan budaya Tiongkok, sepertinya jelas dominasi musik latar belakang seperti apa yang dominan. Anda memang tidak akan mendengar bunyi kecapi di setiap sudut, namun ketika ia mengemuka, Anda tahu Anda harus mulai mempersiapkan tangan dan kaki Anda.
SIFU memang tidak datang dengan usaha untuk menawarkan visualisasi super realistis memang, namun di balik budget-nya sebagai indie yang membuat sisi grafis seperti ini bisa dipahami, ada rasa cinta dan ambisi yang mendalam pada Kung-Fu sebagai ilmu bela diri. Dilebur dengan sisi gameplay? Ia fantastis.
Bukan Game Mudah

Sebelum kita mulai memasuki lebih dalam soal mekanik yang ia tawarkan, ada satu hal yang sepertinya perlu kita tegaskan lebih dulu. Bahwa SIFU bukanlah game yang mudah. Bahwa hampir mirip dengan sebuah game Souls, tepatnya Sekiro, Anda akan tampil sama rentannya dengan musuh yang Anda hadapi dengan dua resource – HP dan Structure sebagai pondasi. Ini berarti Anda sama mudah tewasnya dengan musuh yang Anda lawan jika kedua resource ini tidak Anda jaga dengan baik. Komitmen dan konsistensi akan jadi kunci untuk mengalahkannya, sekaligus begitu banyak proses trial & error.
Maka mengikuti pakem game pertarungan melee pada umumnya, SIFU sebenarnya datang dengan mekanik yang standar. Anda punya serangan kuat dan lemah yang kemudian bisa dikombinasikan, lengkap dengan sepersekian detik istirahat, untuk melahirkan serangan panjang untuk sekadar membuka pertahanan musuh atau langsung menundukkan mereka. Jika salah satu dari dua resource mereka habis – HP ataupun Structure – Anda akan bisa mengeksekusi serangan pemungkas untuk menghabisi mereka. Sementara dari sisi Anda, HP akan menentukan nyawa. Sementara Structure? Jika habis, pertahanan Anda akan terbuka untuk serangan damage besar dari lawan tanpa langsung terikat pada instant-death.


Selain serangan ofensif, Anda tentu saja diperkuat dengan aksi bertahan yang bahkan lebih esensial lagi – Avoid dan Parry. Dengan hanya menekan tombol Block saja, yang dilakukan di timing tepat sebelum serangan lawan, Anda bisa melakukan Parry yang akan otomatis membuka pertahanan mereka dan bisa diikuti dengan serangan lanjutan yang akan mencederai Structure mereka dengan jumlah besar. Selain Parry, Anda bisa melakukan avoid dengan tombol Block + Arah mengingat setiap serangan musuh selalu bisa dikategorikan dalam dua tipe – High dan Low. Menekan tombol Block + Bawah akan menghindari serangan High dan begitu juga sebaliknya. Untuk setiap Evade yang berhasil Anda lakukan, akan ada sepersekian detik celah untuk melakukan serangan balik ke musuh. Keduanya akan membuka jendela yang Anda butuhkan untuk memenangkan pertarungan. Anda juga akan memiliki serangan spesial bernama Focus yang bisa dimanfaatkan untuk membuka celah serangan secara instan, namun tentu saja, butuh resource lain untuk dieksekusi.
Tantangan terbesar SIFU justru tidak datang dari pertarungan boss besar di akhir level yang selalu punya animasi serangan spesifik dan karenanya mudah dipelajari. Masalah terbesar SIFU justru seringkali datang dari musuh-musuh biasa yang Anda temui di sepanjang perjalanan yang terbagi ke dalam varian ataupun mini boss yang menjaga area tertentu. Mengapa? Karena didukung dengan AI yang lumayan cerdas dan menantang, setiap dari mereka akan siap membuat Anda kelabakan jika Anda tidak siap untuk menghadapi mereka. Seberapa cerdas? Secerdas fakta bahwa musuh terlemah sekalipun akan selalu melakukan Guard ketika Anda menyerang di timing yang salah atau bahkan terkadang, melakukan Parry ke Anda jika Anda lengah. Masih tak cukup cerdas? Tidak sedikit musuh yang akan bergerak cepat menyerang Anda ketika Anda hampir berhasil menghancurkan Structure musuh yang lain, membuat mereka terasa seperti “saling melindungi”.


Beragam musuh yang Anda temui ini akan menawarkan tantangan tersendiri, dari mereka yang efektif di serangan tipe grapple hingga spesifik menggunakan senjata tertentu. Yang paling jadi favorit kami sekaligus menjadi yang paling membuat frustrasi? Tentu saja musuh-musuh yang didesain sebagai satu kombinasi, dimana tim ini seringkali beranggotakan dua orang. Seperti AI yang kami bicarakan sebelumnya, kedua unit ini biasanya bertempur seolah bak satu kesatuan. Anda akan seringkali menemukan situasi dimana keduanya akan langsung menyerang Anda bersamaan atas nama untuk menghancurkan Structure Anda lebih cepat. Tidak jarang pula, keduanya menyerang bergantian untuk memberikan ruang istirahat bagi yang lain untuk memulihkan structure mereka. Memandang AI tim seperti ini bekerjasama adalah pemandangan yang memuaskan dan menjengkelkan di saat yang sama.
Tentu saja, boss di setiap level yang selalu datang dalam dua fase serangan akan tetap menawarkan tantangan ke Anda. Namun mengingat limitasi animasi serangan mereka yang terbatas, dan bagaimana mereka selalu rentan pada aksi Parry ataupun Evade, Anda sepertinya tidak akan sulit untuk menundukkan setiap dari mereka selama Anda sudah membaca pola gerakan yang ada. Sisanya adalah memasukkan kombinasi serangan paling efektif Anda setiap kali kesematan tersebut terbuka dan jangan pernah panik untuk memastikan proses Parry dan Evade Anda justru melenceng dan berujung menghasilkan damage ke Structure Anda.
Berita baiknya? Anda tetap akan memiliki kesempatan untuk memperkuat diri. Akan ada dua cara untuk melakukannya – via Shrine dan Skill Tree. Shrine yang berbentuk patung naga yang tersebar di setiap level yang Anda temui akan memberikan kesempatan untuk memperkuat diri lewat buff permanen yang membutuhkan resource spesifik yang terbagi ke dalam tiga kategori berbeda. Sementara untuk Skil Tree, terbagi ke dalam banyak fungsi baik pasif ataupun efektif, ia akan menjadikan EXP sebagai resource utama. Menariknya lagi? Setiap skill ini akan hilang begitu Anda tewas dan mengulang permainan. Namun untungnya, dengan pengorbanan lebih banyak EXP, Anda bisa membuat skill ini menjadi permanen yang membuatnya bisa terus digunakan terlepas apakah Anda tewas atau tidak. Mekanik ini juga membuat SIFU membuka ruang untuk aksi grinding, dimana Anda bisa mengejar run playthrough atas nama untuk membuat satu skill berujung permanen saja alih-alih berusaha menyelesaikannya.


Mekanik lain yang bahkan lebih membantu daripada Shrine dan Skill Tree? Tentu saja shortcut! Tingkat kesulitan SIFU memang terhitung tinggi, namun bukan berarti dia tidak memberikan fitur di sana-sini untuk membuat perjalanan kedua, ketiga hingga belasan kali menjadi lebih mudah. Dengan menemukan key-key item yang tersebar di lokasi, baik sekadar terletak begitu saja atau sesuatu yang harus Anda rebut dari mini-boss, Anda bisa mendapatkan akses ke beragam pintu baru hingga elevator yang akan membuat perjalanan ke boss lebih singkat sekaligus melewati begitu banyak area yang dipenuhi musuh dan karenanya lebih minim resiko. Asyiknya lagi? Key item ini tidak selalu hanya digunakan di area yang sama. Bukan tidak mungkin Anda justru menemukan key item di level Museum untuk digunakan di level Club dan karenanya, membuat akses ke boss di level Club menjadi lebih praktis.
Seperti yang kami bicarakan di atas, dengan kerentanan yang tersedia untuk semua pihak, SIFU bukanlah game yang mudah ditundukkan di beberapa playthrough utama. Namun begitu Anda memahami apa yang perlu Anda lakukan, terutama dalam urusan menjaga Structure sekaligus memanfaatkan celah Parry dan Evade sebaik mungkin, ia perlahan tapi pasti akan mulai terasa seperti game yang bisa Anda tundukkan. Acungan jempol memang pantas diarahkan kepada AI yang akan membuat proses ini tidak akan cepat.










