Sony Digugat Koreografer NSYNC Karena Gunakan Dance Tanpa Izin
Koreografer boys band *NSYNC menggugat Sony karena diduga gunakan dance ikonik “Bye Bye Bye” tanpa izin di film Deadpool & Wolverine dan Fortnite.
Penggunaan emote dance di dalam game, apalagi berasal dari tarian ikonik selebriti dan band, memang sering kali mengundang kontroversi. Seperti yang sempat terjadi pada Fortnite, yang sampai dibawa ke ranah hukum, kali ini menyasar Sony karena penggunaan dance dari boys band legendaris *NSYNC.
Melalui laporan dari Billboard, dikabarkan bahwa Darrin Henson, koreografer di balik tarian ikonik “Bye Bye Bye” milik *NSYNC, resmi menggugat Sony Music Holdings atas dugaan penggunaan karyanya tanpa izin dalam film Deadpool & Wolverine serta memberi izin untuk digunakan di game Fortnite.

Gugatan yang diajukan pada 27 Maret ini mengklaim bahwa Sony tidak memiliki hak untuk berikan lisensi koreografi tersebut ke pihak lain. Henson menegaskan bahwa karya tari tersebut sepenuhnya merupakan miliknya, dan ia menuntut pengakuan resmi atas kepemilikan sekaligus kompensasi dari seluruh keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan tersebut oleh Sony dan mitranya.
Koreografi “Bye Bye Bye” sendiri pertama kali diperkenalkan ke publik dalam penampilan *NSYNC di Radio Music Awards 1999, sebelum akhirnya menjadi fenomena global yang melekat kuat dengan identitas grup tersebut. Henson bahkan meraih penghargaan MTV Video Music Award pada tahun 2000 berkat koreografi tersebut, memperkuat statusnya sebagai salah satu karya tari paling ikonik di era pop awal 2000-an.
Masalah ini menjadi semakin menarik karena melibatkan Fortnite, game live service raksasa yang memang dikenal sering menghadirkan kolaborasi lintas industri, termasuk emote berbasis tarian populer. Jika klaim ini terbukti benar, maka ini bukan sekadar isu lisensi biasa, tetapi juga bisa membuka kembali diskusi panjang soal kepemilikan lisensi karya di era kolaborasi digital, yang kerap kali gunakan karya tanpa izin.
Untuk saat ini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari Sony terkait gugatan tersebut. Namun dengan nilai komersial dari dua platform besar seperti film superhero dan game global, kasus ini berpotensi menjadi salah satu sengketa hak cipta yang cukup besar.
Bagaimana menurut Anda sendiri mengenai penggunaan karya tanpa lisensi seperti itu di dalam IP besar dari perusahaan raksasa kelas dunia seperti Sony?










