Unreal Engine 5.8 Siapkan Optimisasi Performa yang Besar
Epic Games sebutkan Unreal Engine 5.8 akan menjadi versi paling stabil, dengan optimisasi shader dan pengurangan stuttering yang signifikan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Unreal Engine 5 merupakan salah satu game engine yang paling ambisius dalam sejarah industri gaming, terutama dari sisi kualitas grafiknya. Namun di balik visual spektakuler yang ditawarkan teknologi seperti Nanite dan Lumen, engine besutan Epic Games tersebut juga terus dibayangi satu kritik yang sama sejak hari pertama, yaitu performa yang tidak bisa diandalkan.
Mulai dari PC hingga console seperti PlayStation 5 dan Xbox Series X|S, berbagai game berbasis Unreal Engine 5, seperti Stalker 2, The Lords of the Fallen, dan Ark: Survival Ascended, kerap menghadapi masalah stuttering, shader compilation, hingga frame rate yang tidak konsisten. Karena itu, ketika Epic Games memperkenalkan Unreal Engine 5.8 pekan lalu, banyak developer lebih tertarik pada peningkatan optimisasi dibanding fitur visual barunya.

Pada wawancara bersama Inven Global saat Unreal Fest 2026, Executive Vice President of Development Epic Games, Marcus Wassmer, mengungkapkan bahwa tujuan utama Unreal Engine 5.8 adalah membawa seluruh fitur utama ke status “production-ready” sekaligus meningkatkan stabilitas secara menyeluruh.
Menurut Wassmer, salah satu masukan terbesar yang diterima Epic dari komunitas developer selama beberapa tahun terakhir adalah keinginan untuk mendapatkan performa yang lebih baik dalam proyek yang mereka kerjakan. Banyak studio menganggap fitur-fitur UE5 sangat mengesankan secara teknologi, tetapi membutuhkan optimisasi yang menghabiskan banyak waktu agar dapat digunakan secara efektif dalam proses pengembangan dan menghasilkan game siap rilis.
Guna menanggapi keluhan itu, Epic mengarahkan sebagian besar pengembangan Unreal Engine 5.8 pada usaha untuk mengurangi frame drop dan stuttering yang selama ini menjadi keluhan utama pihak developer.
Salah satu perubahan terbesar datang dari sistem shader. Epic mengimplementasikan teknologi deduplikasi shader yang lebih agresif sehingga jumlah shader yang harus dipanggil oleh game dapat berkurang secara signifikan, membuat bebannya menjadi lebih ringan. Selain itu, perusahaan juga mengklaim berhasil menekan fenomena Pipeline State Object (PSO) hitch, salah satu penyebab utama munculnya stuttering pada banyak game yang gunakan Unreal Engine 5.
Bagi gamer PC, kabar ini tentu terdengar sangat menjanjikan. Masalah shader compilation telah menjadi sumber frustrasi pada berbagai game Unreal Engine 5 selama beberapa tahun terakhir. Bahkan judul game besar sekalipun sering kali mengalami gangguan performa, meskipun dijalankan pada hardware kelas atas.
Optimisme yang sama tampaknya juga dirasakan oleh Epic sendiri. Wassmer menyebut bahwa berdasarkan metrik dari pengetesan internal, Unreal Engine 5.8 berpotensi menjadi versi paling stabil yang pernah dirilis perusahaan sejauh ini. Ia juga menambahkan bahwa banyak fitur yang sebelumnya masih berada dalam status beta kini telah resmi memasuki tahap produksi penuh.
Menariknya, Unreal Engine 5.8 tidak hanya fokus pada PC dan console rumahan. Update ini juga memperkenalkan Lumen Lite Mode, versi ringan dari sistem pencahayaan global illumination milik Unreal Engine yang dirancang untuk meningkatkan performa pada perangkat dengan daya komputasi lebih terbatas, seperti Nintendo Switch 2.
Meski demikian, gamer kemungkinan masih harus bersabar sebelum bisa merasakan dampak nyata dari berbagai peningkatan tersebut. Mengingat Unreal Engine 5.8 baru saja dirilis secara publik, dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga beberapa tahun sebelum proyek-proyek besar yang memanfaatkan teknologi ini mulai memasuki tahap peluncuran.
Bagaimana menurut Anda mengenai adanya prospek game berbasis Unreal Engine 5.8 yang jauh lebih stabil?









