Petisi Menentang Kebijakan Sony Terus Mendapatkan Dukungan Besar
Petisi “Don’t Kill the Disc” terus mendapatkan dukungan besar sebagai bentuk penolakan terhadap rencana Sony hentikan game fisik mulai 2028.
Tidak semua keputusan bisnis bisa diselesaikan hanya dengan melihat statistik penjualan semata. Meski distribusi digital kini mendominasi industri game, besarnya reaksi terhadap rencana Sony untuk menghentikan produksi game fisik menunjukkan bahwa bagi banyak gamer, media fisik masih memiliki nilai yang tidak bisa diukur dari sekadar tren pasar.
Melalui petisi bernama “Don’t Kill the Disc” yang kini telah melampaui 250.000 tanda tangan, gamer menggunakannya sebagai bentuk protes terhadap keputusan Sony. Petisi tersebut diprakarsai oleh Jade Pearce, CEO retailer game asal Kanada PNP Games. Dalam penjelasannya, kampanye ini bukan bertujuan menolak distribusi digital, melainkan meminta Sony tetap mempertahankan media fisik sebagai salah satu pilihan bagi konsumen. Menurut mereka, disc memberikan rasa kepemilikan yang lebih nyata, memungkinkan jual beli game bekas, serta preservasi game di masa depan.

Kekhawatiran tersebut juga dipicu oleh sejumlah kasus yang pernah terjadi sebelumnya. Salah satu contoh belum lama ini terjadi adalah ketika Sony menghapus ratusan film yang sebelumnya telah dibeli pengguna akibat berakhirnya perjanjian lisensi. Bagi para pendukung petisi, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa pembelian digital tidak berarti memiliki, berbeda dengan media fisik yang tetap dapat digunakan selama perangkatnya masih berfungsi.
Menariknya, laju pertumbuhan petisi ini tergolong sangat cepat. Hanya dalam beberapa hari sejak diluncurkan, jumlah pendukungnya sudah menembus ratusan ribu, menunjukkan bahwa isu ini bukan hanya mendapat perhatian dari kolektor game fisik, tetapi juga pemain yang mulai mempertanyakan masa depan kepemilikan game di era distribusi digital. Hingga saat ini, Sony sendiri masih belum memberikan tanggapan resmi terhadap gelombang protes tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai kecil kemungkinan Sony akan membatalkan keputusannya. Hanya dengan melihat klaim mereka sebelumnya, yang katakan sekitar 80% penjualan game PlayStation kini berasal dari distribusi digital, arah bisnis perusahaan itu dinilai sudah terlalu jauh untuk kembali kepada media fisik, terutama melihat pabrik disc terbesar mereka saat ini sudah hentikan pembuatan media fisik game.
Terlepas dari apakah petisi ini nantinya akan mengubah keputusan Sony atau tidak, gerakan “Don’t Kill the Disc” telah menjadi simbol bahwa perdebatan mengenai kepemilikan digital dan preservasi game belum berakhir. Ketika saat ini industri gaming semakin mendorong kebijakan mereka menuju serba digital, masih banyak pemain yang menganggap media fisik sebagai bagian penting dari identitas budaya video game itu sendiri.
Bagaimana menurut Anda? Apakah petisi seperti ini masih memiliki peluang untuk mengubah keputusan Sony, atau transisi menuju era digital memang sudah tidak bisa lagi dihentikan?










