Banyak Game Fisik PS5 dan Xbox Tak Bisa Dimainkan Tanpa Diunduh Dahulu
Laporan terbaru mengungkap 34% game fisik PS5 dan 50% game Xbox Series X masih membutuhkan proses download untuk bisa dimainkan.
Persepsi mayoritas gamer ketika membeli game fisik adalah tidak perlunya elemen download untuk bisa memainkannya. Hanya cukup beli disc dan masukkan ke dalam tray, lalu tekan start. Pada kenyataannya, game masa kini tidak seperti dahulu kala, karena game dalam bentuk fisik sekalipun ternyata tak bisa lari dari elemen terhubung ke online.
Berdasarkan studi yang diadakan oleh Does It Play via Ars Technica dengan menguji ratusan rilis fisik, sekitar 34% game fisik PS5 dan bahkan 50% game fisik Xbox Series X tidak dapat dimainkan secara utuh, tanpa mengunduh patch atau data tambahan terlebih dahulu. Bahkan pada banyak kasus, disc hanya berisi versi awal yang belum lengkap atau memiliki masalah teknis serius, sehingga koneksi internet menjadi syarat untuk mendapatkan pengalaman bermain yang semestinya.

Temuan ini memperlihatkan perubahan besar dalam filosofi distribusi game. Dahulu, disc merupakan produk final yang siap dimainkan sejak hari pertama. Kini, media fisik lebih sering berfungsi sebagai lisensi awal, sementara versi “sebenarnya” justru baru bisa ditemui setelah serangkaian patch dan update yang perlu diunduh dari internet. Akibatnya, nilai utama koleksi fisik, yakni kemampuan memainkan game kapan saja tanpa bergantung pada layanan online, mulai terkikis.
Kondisi tersebut bahkan terasa lebih mengkhawatirkan di ekosistem Xbox. Belum lama ini, gangguan layanan Xbox selama sehari penuh membuat pengguna tidak bisa mengakses game mereka, termasuk beberapa judul berbasis disc. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai seberapa besar ketergantungan game modern terhadap sistem autentikasi dan layanan online, meski pemain telah membeli salinan fisiknya.
Tren ini juga menjelaskan mengapa semakin banyak publisher berani mendorong transisi menuju distribusi digital. Ketika sebagian besar game fisik tetap membutuhkan unduhan besar pada hari pertama, perbedaan pengalaman antara membeli disc dan membeli versi digital menjadi semakin tipis. Yang tersisa dari media fisik sering kali hanyalah fungsi koleksi, nilai jual kembali, dan faktor kepemilikan disc itu sendiri.
Bagi komunitas pelestarian game (game preservation), situasi ini tentu menjadi perhatian serius. Jika suatu saat server game dimatikan atau sebuah game dihapus dari jaringan distribusi, ada kemungkinan versi yang tersimpan di dalam disc tidak lagi mampu memberikan pengalaman bermain yang lengkap, atau bahkan tidak bisa dimainkan sama sekali.
Laporan ini juga menjadi pengingat bahwa perdebatan antara format fisik dan digital kini bukan lagi sekadar soal preferensi. Yang dipertaruhkan adalah definisi kepemilikan sebuah produk, dalam hal ini adalah sebuah game. Ketika salinan fisik masih bergantung pada internet agar berfungsi sebagaimana mestinya, batas antara “memiliki” dan “sekadar memiliki akses” menjadi semakin kabur.
Bagaimana menurut Anda mengenai masih dibutuhkannya akses internet untuk bisa memainkan game fisik?










