Pimpinan Xbox Jawab Rumor Terkait Microsoft Bisa Jual Divisi Gamingnya

Reading time:
October 2, 2026
CEO Xbox Asha Sharma menjawab rumor mengkhawatirkan terkait kelangsungan bisnis gaming Microsoft, di tengah restrukturisasi besar.

Setelah berbulan-bulan lamanya Xbox dihantam restrukturisasi, PHK, penutupan studio, dan rumor bahwa Microsoft sempat mempertimbangkan untuk keluar dari bisnis gaming, CEO Asha Sharma akhirnya memberikan jawaban langsung. Pimpinan divisi gaming Microsoft tersebut menegaskan bahwa Xbox tidak dijual atau dalam proses dijual, sekaligus menyatakan Microsoft masih melihat bisnis gaming sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

Pernyataan Sharma itu disampaikan dalam wawancara dengan The New York Times, setelah laporan pada Juni 2026 menyebut Microsoft sempat mempertimbangkan sejumlah opsi untuk divisi gamingnya, termasuk menjadikannya anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Microsoft, melakukan spin-off, atau membentuk joint venture dengan mitra lain. Opsi tersebut tidak berarti penjualan sudah diputuskan, tetapi secara teori dapat membuat divisi gaming itu lebih mudah dipisahkan di masa depan.

xbox project helix
CEO Asha Sharma

Kini Sharma mengatakan arah yang ditempuh adalah melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat Xbox kembali sukses. Ia membuka kemungkinan terhadap kemitraan baru, model operasional berbeda, dan perubahan lain, tetapi menegaskan bahwa divisi gaming itu masih memiliki masa depan bersama Microsoft. “Kami masih punya jalan panjang bersama Microsoft,” ujarnya, sambil menekankan pendekatan jangka panjang terhadap bisnis tersebut.

Pernyataan ini muncul setelah divisi gaming Microsoft itu menjalani salah satu periode restrukturisasi terbesar dalam sejarahnya. Microsoft sebelumnya mengumumkan rencana pengurangan sekitar 3.200 posisi sepanjang tahun fiskal 2027, sementara putaran terbaru pada September kembali menghapus 268 posisi.

Tidak hanya itu, Microsoft juga merombak struktur studio yang ada dengan memperluas tanggung jawab Activision ke World’s Edge dan Rare, memindahkan pengembangan Halo berikutnya ke tim baru di bawah Activision, serta menggabungkan Playground dan Turn 10 untuk menangani Forza dan Fable.

Restrukturisasi tersebut juga memperlihatkan perubahan cara Microsoft mengelola portofolio gamingnya. Beberapa studio telah dilepas atau dikembalikan pengelolaannya, sementara perusahaan itu mengurangi lapisan manajemen dan mengarahkan sumber daya ke franchise yang dianggap memiliki jangkauan lebih besar. Pada pernyataan sebelumnya, Microsoft mengatakan sekitar tiga perempat dari restrukturisasi yang diumumkan sebelumnya telah berjalan pada September.

Pada tingkat strategi, Microsoft tampaknya lebih memilih merombak Xbox dari dalam ketimbang memisahkannya dari perusahaan. CEO Microsoft Satya Nadella sebelumnya menyebut proses streamlining yang dilakukan Sharma sebagai hal yang positif, dan menekankan kebutuhan menemukan model bisnis gaming yang berkelanjutan agar game dapat menjangkau lebih banyak pemain. Ia juga mengatakan ingin Xbox tetap menjadi publisher dan penyedia platform untuk PC maupun console.

Arah tersebut sejalan dengan strategi baru platform yang sudah mulai bergerak melampaui batas console. Pada April, Sharma menyebut Xbox sedang mengevaluasi kembali pendekatannya terhadap eksklusivitas, sementara perusahaan menetapkan daily active players sebagai salah satu ukuran penting untuk arah bisnis ke depannya.

Dengan demikian, pernyataan Sharma bukan berarti masalah Xbox sudah selesai. Justru perusahaan itu masih berada di tengah proses reset yang melibatkan pengurangan biaya, perubahan struktur studio, fokus lebih besar pada franchise utama, dan pencarian model bisnis yang lebih berkelanjutan. Bedanya, untuk saat ini Microsoft secara terbuka menegaskan bahwa solusi tersebut akan dicari di dalam Microsoft, bukan melalui penjualan Xbox.

Menurut Anda, apakah strategi reset ini sudah cukup untuk bisa mengembalikan bisnis Xbox ke jalur pertumbuhan yang sehat seperti dahulu kala?

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
November 29, 2024 - 0

Palworld Dan Terraria Crossover Event Akan Hadir Pada 2025

Palworld dan Terraria umumkan event crossover yang akan digelar pada…

PlayStation

September 22, 2026 - 0

Review Dune Awakening: Selamat Datang di Arrakis! Planet Paling Berharga di Semesta Dune!

Selamat datang di Arrakis! Sebuah planet yang hampir seluruh permukaannya…
November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…

Nintendo

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 30, 2025 - 0

Review Nintendo Switch 2: Upgrade Terbaik Untuk Console Terlaris Nintendo

Nintendo Switch 2 merupakan upgrade positif yang telah lama ditunggu…
July 28, 2023 - 0

Review Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Tak Sesempurna yang Dibicarakan!

Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang tak sesempurna yang dibicarakan…
May 19, 2023 - 0

Preview Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Kian Menggila dengan Logika!

Apa yang ditawarkan oleh Legend of Zelda: Tears of the…