Review Blue Reflection – Second Light: JRPG Sangat “Berbudaya”!

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama Koei Tecmo dan Gust di satu baris yang sama? Pertama-tama, besar kemungkinan ia akan berujung menjadi game JRPG yang didesain sedemikian rupa untuk tumbuh menjadi sebuah franchise tersendiri. Kedua dan yang tak terhindarkan? Ia biasanya memuat karakter-karakter wanita berparas menawan dengan desain kostum terbuka yang jelas datang dengan satu target pasti – menarik perhatian gamer-gamer pria untuk setidaknya, menoleh. Tidak hanya sekadar seri Atelier saja yang belakangan ini melonjak popularitasnya lewat Ryza, hal ini jugalah yang sempat ditawarkan Gust dan Koei Tecmo lewat seri Blue Reflection.
Informasi soal seberapa sukses sebenarnya seri Blue Reflection beberapa tahun yang lalu, memang tidak pernah mengemuka. Namun Koei Tecmo sepertinya cukup berani dan optimis untuk meracik sebuah seri sekuel untuknya, yang datang dengan pondasi nyaris serupa namun perombakan dan penyempurnaan di beragam elemen yang lain. Ia menyandang nama “Blue Reflection: Second Light” yang juga diposisikan sebagai seri sekuel langsung dari seri pertamanya. Tentu saja, daya tarik seri pertamanya yang “niche” untuk pria-pria yang datang dengan motivasi yang jelas juga akan tersedia di sini.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Blue Reflection: Second Light ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game JRPG yang sangat “berbudaya”? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda!
Plot

Terlepas dari posisinya sebagai seri sekuel, Blue Reflection: Second Light tetap tampil sebagai seri yang berdiri sendiri dimana Anda tetap akan bisa menikmati ceritanya tanpa perlu mencicipi seri pertamanya. Memang ada beberapa detail yang hilang mengingat kemunculan kembali beberapa karakter dari seri pertama, namun Anda tetap akan dengan mudah menangkap apa yang sedang terjadi.
Anda akan berperan sebagai karakter remaja wanita bernama Ao Hoshizaki yang dalam perjalanannya ke sekolah, tiba-tiba terlempar ke sebuah dunia yang tidak bisa ia mengerti. Ia tiba-tiba terbangun di dalam ruang kelas, namun bukan ruang kelas miliknya. Selidik punya selidik, ia ternyata “mendarat” di sebuah gedung sekolah besar yang di sekitarnya, hanya dikelilingi oleh lautan saja. Tidak hanya sendiri, ada remaja lain seperti Kokoro, Rena, dan Yuki yang sudah menempati sekolah yang sama terlebih dahulu.
Tidak ada yang memahami apa yang terjadi. Berbeda dengan Ao yang mengingat jelas kehidupan sebelum ia berpindah dunia, baik Kokoro, Rena, ataupun Yuki tidak pernah mengetahui masa lalu mereka, mengapa mereka bisa berakhir di gedung sekolah misterius ini, dan apa pula yang sebenarnya terjadi.


Satu-satunya hal yang mereka berempat tahu adalah bahwa perpindahan mereka ini juga diikuti dengan kemampuan untuk berubah menjadi seorang Reflector – pejuang yang tak sulit membunuh monster-monster yang hidup di Heartscape. Heartscape sendiri adalah wilayah daratan misterius yang bisa tiba-tiba muncul mengikuti mood karakter spesifik. Maka seperti yang bisa Anda prediksi, Ao pun harus mencari jawaban agar ia bisa pulang.
Lantas, apa yang sebenarnya sekolah di tengah lautan ini? Mengapa karakter-karakter wanita ini tiba-tiba berkumpul di ruang yang sama? Mengapa tidak satupun dari mereka mengingat sesuatu selain Ao? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Semua jawaban dari pertanyaan ini bisa Anda jawab dengan memainkan Blue Reflection: Second Light ini.










