Paten Nintendo untuk Sistem Tangkap Monster via Touchscreen Ditolak
Nintendo kembali menemui penolakan terhadap paten yang diajukannya, kali ini terkait penggunaan layar sentuh untuk menangkap monster.
Upaya Nintendo untuk membuat paten terhadap mekanisme gameplay tangkap monster tampaknya kembali menemui hambatan. Setelah sebelumnya paten kontroversial terkait mekanik menangkap monster dan menggunakannya di dalam pertarungan telah ditolak, kini satu paten lain kembali ditolak oleh otoritas paten Jepang.
Informasi terbaru yang dilaporkan oleh GamesFray mengungkap bahwa paten Nintendo yang berfokus pada sistem penangkapan monster menggunakan touchscreen resmi ditolak oleh Japan Patent Office (JPO). Paten ini diyakini berkaitan dengan mekanisme gameplay yang memungkinkan pemain menangkap monster melalui interaksi langsung pada layar sentuh, sesuatu yang kini semakin sering digunakan seiring berkembangnya pasar game mobile.

Menurut laporan yang beredar, aplikasi paten tersebut diajukan pada tahun 2026 dan bahkan mendapatkan permintaan jalur pemeriksaan cepat dari Nintendo. Spekulasi yang muncul menyebut bahwa langkah ini kemungkinan berkaitan dengan kemunculan Palworld Mobile dan Roco Kingdom: World, dua proyek yang dinilai berpotensi menjadi pesaing kuat di pasar game monster catching berbasis mobile.
Namun, pemeriksa paten menilai bahwa klaim yang diajukan Nintendo tidak memenuhi syarat temuan yang baru. Dengan kata lain, teknologi yang diajukan dianggap terlalu mirip dengan konsep yang sudah lebih dulu ada, dan tidak cukup inovatif untuk memperoleh perlindungan paten.
Sebagai bagian dari proses evaluasi, JPO mencantumkan sejumlah referensi prior art, termasuk Pokemon Generations, PUBG Mobile, serta berbagai video YouTube dan halaman web lainnya yang dianggap menunjukkan konsep serupa.
Meski demikian, penolakan ini belum bersifat final. Nintendo dilaporkan telah merevisi beberapa klaim dalam aplikasinya, yang berarti perusahaan itu masih memiliki peluang untuk memperbaiki formulasi paten, dan mengajukannya kembali dalam proses lanjutan.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Nintendo memang perlu melindungi mekanisme gameplay seperti ini, atau justru pendekatan tersebut dapat membatasi kreativitas developer lain, bahkan bisa menjadi senjata untuk menekan pesaing?










