Roblox Diklaim Ingin “Jalan Damai” Untuk Ratusan Gugatan Keamanan Anak
Roblox diklaim ingin selesaikan lebih dari 150 gugatan terkait dugaan kegagalan mereka melindungi anak dari predator seksual di luar pengadilan.
Sebagai salah satu platform paling populer di kalangan anak-anak dan remaja, Roblox selama bertahun-tahun memasarkan dirinya sebagai ruang kreatif yang aman untuk bermain dan berinteraksi. Karena itu, setiap tuduhan yang menyangkut keselamatan pengguna muda hampir selalu menjadi isu yang jauh lebih serius dibanding sekadar kontroversi biasa. Kontroversi keamanan platform itu kini memasuki babak baru, dengan adanya klaim penyedia game itu ingin tempuh jalan damai untuk selesaikan tuntutan seputar keamanannya.
Menurut laporan terakhir, saat ini lebih dari 150 gugatan telah diajukan di tingkat federal Amerika Serikat, sementara sejumlah kasus lain juga sedang berjalan di tingkat negara bagian. Gugatan-gugatan tersebut menuduh Roblox gagal melindungi anak-anak dari predator seksual meskipun perusahaan selama ini menyatakan telah menerapkan berbagai langkah keamanan untuk mencegah hal tersebut.

Ironisnya di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, mereka juga menghadapi kritik karena berupaya mengarahkan kasus-kasus tersebut ke jalur penyelesaian di luar pengadilan. Ternyata dalam ketentuan penggunaan platform, Roblox menyatakan bahwa pengguna yang mendaftar menyetujui untuk tidak mengajukan gugatan di pengadilan maupun melalui class action. Para penggugat menilai langkah tersebut berpotensi membuat proses hukum berlangsung secara tertutup, dan mengurangi transparansi terhadap publik.
Bloomberg sempat mewawancarai salah satu penggugat dengan nama Myra. Ia menuduh Roblox berusaha menyembunyikan proses penyelesaian kasus dari perhatian publik. Sebelumnya pada Februari lalu, sekitar 800 orang tua dilaporkan mengirim surat kepada dewan direksi Roblox guna mendesak perusahaan itu menghentikan upaya memindahkan gugatan-gugatan terkait keselamatan anak ke proses “damai”. Mereka menilai isu keamanan anak seharusnya dibahas secara terbuka, bukan diselesaikan di balik layar.
Menariknya, sejumlah hakim dilaporkan telah menolak permintaan Roblox untuk memindahkan beberapa gugatan terkait predator seksual ke arbitrase. Kasus serupa juga disebut terjadi pada Discord. Meski demikian, kedua perusahaan itu masih melakukan banding atas keputusan tersebut.
Kontroversi ini menambah daftar “noda” yang dihadapi Roblox dalam beberapa tahun terakhir, termasuk larangan operasional di beberapa negara seperti Turkiye terkait kekhawatiran mengenai eksploitasi anak.
Bagaimana menurut Anda mengenai adanya usaha dari platform itu untuk menutup gugatan dari mata publik melalui penyelesaian dengan jalan damai?










