Minecraft Berhasil Dimainkan di Game Boy Color
Seorang YouTuber berhasil menjalankan Minecraft di Game Boy Color, lengkap dengan fitur membangun blok dan eksplorasi Nether sederhana.
Harus diakui bahwa ada satu tradisi unik yang seolah tidak pernah hilang dari komunitas teknologi dan gaming; menjalankan game di perangkat yang seharusnya tidak mampu melakukannya. Setelah bertahun-tahun internet diramaikan oleh berbagai eksperimen menjalankan DOOM di perangkat tak lazim, kini giliran Minecraft yang mulai menjadi “korban” kreativitas para modder.
Melalui video berdurasi 3 menit, seorang YouTuber bernama Game of Tobi secara mengejutkan berhasil menciptakan versi Minecraft yang dapat dimainkan di Nintendo Game Boy Color. Yang membuat proyek ini begitu mengesankan adalah game tersebut bukan sekadar replika 2D. Tobi berhasil menghadirkan dunia bergaya 3D yang memungkinkan pemain berjalan, menghancurkan blok, menempatkan blok, hingga menjelajahi versi sederhana dari Nether; sesuatu yang terdengar mustahil mengingat keterbatasan hardware handheld keluaran 1998 tersebut.

Tentu saja, versi ini masih memiliki banyak keterbatasan. Belum ada sistem inventori, health bar, musuh, maupun mekanisme survival seperti Minecraft selayaknya. Kendalinya pun cukup unik karena keterbatasan tombol pada Game Boy Color, membuat pemain harus berganti mode untuk menggerakkan karakter dan mengatur kamera. Meski begitu, inti pengalaman membangun dan menghancurkan blok berhasil diperlihatkan di sana.
Menariknya lagi, proyek tersebut ternyata juga kompatibel dengan Game Boy generasi pertama yang dirilis pada 1989. Namun karena spesifikasinya jauh lebih rendah, game hanya berjalan dalam tampilan hitam-putih, dengan performa yang lebih lambat. Fakta bahwa perangkat berusia lebih dari 35 tahun saja masih mampu menjalankan dunia 3D bergaya Minecraft merupakan pencapaian teknis yang mengesankan.
Bagi yang ingin mencobanya, Tobi membagikan file .gbc proyek tersebut secara gratis melalui halaman Patreon miliknya. File tersebut dapat dimainkan menggunakan emulator maupun cartridge flash yang kompatibel dengan hardware asli. Ternyata, game ini bukan kali pertama sang kreator melakukan eksperimen serupa. Sebelumnya, ia telah mengembangkan berbagai proyek yang membawa game modern ke perangkat retro lainnya.
Di luar pencapaian teknisnya, proyek ini memperlihatkan satu hal yang bisa dibilang cukup menarik. Ketika industri sibuk mengejar grafis realistis dan hardware yang semakin bertenaga, selalu ada sekelompok gamer yang justru tertantang untuk melakukan hal sebaliknya, membuktikan bahwa game modern masih bisa “hidup” di perangkat yang usianya puluhan tahun.
Jika sebelumnya DOOM dikenal sebagai tolok ukur kreativitas para programmer dalam menjalankan game di perangkat yang tidak semestinya, kini tampaknya Minecraft mulai mengikuti jejak yang sama. Melihat antusiasme komunitas terhadap proyek seperti ini, bukan tidak mungkin akan muncul eksperimen lain yang lebih ekstrem di masa mendatang.
Bagaimana menurut Anda? Jika bisa memilih, game modern apa yang paling ingin Anda lihat berhasil dijalankan di console retro seperti Game Boy Color?










